Lagi-Lagi Tentang Jendela Kedua

Siang kemarin..
Aku berdiri tepat di bawah jendela kedua..
Memandang setiap sudutnya, memperhatikan setiap detailnya..
Tapi sesungguhnya aku menunggu ia dibuka..

Hujan mulai turun..
Setetes demi setetes..
Hingga akhirnya turun tanpa ampun..
Namun jendela itu tak kunjung terbuka..

Aku menunggu dan menunggu..
Di bawah jendela kedua..
Di bawah guyuran hujan yang semakin deras..
Dan mungkin akan ada yang memandangku dengan bingung..
Mengapa aku terus berdiri di bawah jendela itu..

Jendela kedua yang tertutup,
Selalu membuatku khawatir dan takut..
Mengapa? Ada apa?
Namun jendela kedua tak bisa bercerita..
Jendela kedua tak bisa menjawab pertanyaanku,
Meski ia punya jawaban atas semuanya itu..
Jendela kedua tak bisa berbicara,
Ia hanya bisa memandangiku,
Basah di bawahnya..
Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa..
Karena ia tertutup rapat..

Hujan terus turun,
Jendela kedua tak kunjung dibuka..
Namun sebuah bisikan memintaku untuk pulang..
Karena semuanya baik-baik saja,
Dan aku tak perlu menggigil kedinginan berdiri disana..
Ternyata itu adalah suara jendela keempat..

Aku melangkah meninggalkan jendela kedua..
Dan menitipkannya pada jendela keempat..

*Karena ini tak hanya tentang dua buah jendela..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s