Surat Untuk Seorang Kakak…

Kakak… Ini aku…

Seseorang yang pernah kausapa sebagai adik..

Hampir empat belas tahun yang lalu…

Kakak, sebelum kulanjutkan surat ini,

Aku mohon maaf, jika kata-kataku tak berkenan,

Dan aku mohon, janganlah kamu memandangku dengan tatapan dan rasa kasihan…

Karena aku tahu, aku baik-baik saja..

Entah mengapa, aku ingin menuliskan semua kalimat ini..

Mungkin karena hari ini adalah hari yang disebut orang sebagai hari kasih sayang..

Meski aku tak tahu apa korelasi hari kasih sayang dengan dirimu..

Mungkin juga karena salah seorang temanku menyebut namamu..

Walaupun mendengar namamu sudah tak memberi efek yang luar biasa bagiku..

Tak seperti dulu, ketika mendengar namamu saja sudah membuatku galau dan berair mata..

Kakak… Ini aku..

Empat belas tahun yang lalu, aku adalah seorang gadis yang baru tumbuh..

Dengan seragam abu-abu aku datang ke tempatmu, mengganggu jam kerjamu..

Aku selalu hadir membawa keluhan-keluhanku..

Dan kamu selalu ada disana, mendengarkanku, memberiku nasehat, dan tak segan-segan memarahiku..

Aku, yang pernah kau tegur dengan keras, dan kau diamkan berhari-hari, karena kamu memergokiku belum pulang ke rumah, padahal hari sudah malam..

Aku yang kamu banggakan karena aku berhasil meraih rangking pertama di kelas..

Aku yang kamu hibur ketika hanya bisa mengerjakan 35 dari total 50 soal ulangan sejarah..

Aku yang kamu ledek habis-habisan ketika aku menunjukkan pria yang aku sukai…

Aku yang selalu ingin berbagi segalanya denganmu…

Aku yang selalu datang setiap kali aku bermasalah dengan orang tuaku..

Kamu yang merangkulku saat aku menghadapi saat-saat yang sulit…

Kamu yang memperingatkanku jika kamu merasa aku bergaul dengan orang yang tak benar..

Karena… kamu kakakku….

Kini…

Aku sudah menjadi seorang gadis dewasa..

Meski jiwa remaja itu masih tersisa dalam diriku…

Aku yang sudah memiliki cara pandang baru atas hidup dan atas hubungan antar manusia..

Sudah merasakan betapa kerasnya hidup..

Sudah merasakan sulitnya mencari uang..

Sudah merasakan, bahkan membuat penilaian, bahwa sahabat yang baik sulit untuk ditemukan..

Kak, aku sudah mendapat izin untuk pulang di atas jam delapan malam..

Aku sudah bisa mandiri, bahkan hidup jauh dari rumah..

Aku sudah belajar mengambil keputusan-keputusan sulit dalam hidupku..

Dan aku belajar untuk tidak terlalu mudah mengeluh..

Kakak..

Aku sudah berbeda dengan seseorang yang kamu kenal empat belas tahun yang lalu..

Tapi ada satu hal yang tak pernah berubah..

Aku tetap menganggapmu kakakku..

Aku tetap berharap bisa memperbaiki semua kesalahanku padamu…

Aku ingin kita kembali sebagai kakak dan adik.. seperti empat belas tahun yang lalu..

Kakak,

Apakah kamu sadar, bahwa jarak kita kini hanya sejauh enam belas kilometer,

Ini jarak terdekat kita, setelah kamu pindah tugas dua belas tahun yang lalu..

Kamu berkelana, ke empat penjuru mata angin..

Aku pun berkelana,

Dan kita kini berdekatan pada suatu titik yang ditunjukkan oleh kompas sebagai arah barat..

Tapi, Kakak..

Jarak enam belas kilometer ternyata tak mengubah apapun.

Kita tetap saja berjauhan seperti dulu, seperti saat jarak kita masih ratusan kilometer..

Aku tak bisa seperti dulu,

Seenaknya saja datang ke tempatmu, duduk di depan meja kerjamu, dan menghabiskan waktumu..

Kini kamu begitu sulit ditemui..

Bahkan tak ada yang berani mengganggumu..

Setiap ingin menemuimu, mereka akan bertanya, apakah aku sudah punya janji?

Jika aku tak punya janji, mereka tak akan mau memanggilkanmu..

Katanya, kamu tidak suka diganggu..

Ternyata kamu sudah berubah ya?

Kakak…

Dulu, ketika aku masih bisa begitu mudah menemuimu,

Aku pernah mencatat sebuah lirik lagu dalam Bahasa Inggris..

“Don’t imagine, you’re too familiar, and I don’t see you anymore..”

Ternyata lirik lagu itu sekarang sudah menjadi kenyataan..

Kamu sekarang begitu sulit ditemui, kamu bagaikan artis terkenal, begitu sibuk, dikerumuni banyak orang..

Kamu memang terkenal, kamu memang hebat..

Aku bangga..

Tapi aku tak bisa di dekatmu lagi seperti dulu…

Aku tahu, Kakak…

Memang semua yang aku alami hari ini terjadi karena kesalahanku dulu..

Aku tak akan berdalih.. Memang aku yang salah…

Aku yang menarik diriku dari hubungan kita..

Dan semua yang telah terjadi tak bisa diulang lagi…

Hidup tak memberi kesempatan kedua bagi aku…

Aku tak ada pada hari istimewamu..

Aku tak hadir pada saat hidupmu begitu sulit..

Aku tak hadir ketika kamu berduka..

Aku tak memberimu dukungan ketika kamu membutuhkan..

Aku tak di sisimu ketika kamu harus berpindah dari satu kota ke kota lain..

Kakak..

Hanya kamu, satu-satunya di dunia ini yang tahu, betapa aku ingin sekali punya kakak laki-laki..

Merasakan dilindungi dan dikasihi sebagai adik perempuan..

Hanya kamu yang tahu betapa irinya aku pada mereka yang terlahir sebagai anak bungsu, pada mereka yang terlahir sebagai anak perempuan satu-satunya…

Kakak, kamu yang pertama menyebutku adik… dan itu akan selalu kukenang seumur hidupku..

Kakak…

Ada banyak hal yang terjadi dan ingin aku ceritakan padamu..

Setiap hal besar yang kualami, setiap pencapaian yang aku raih, aku selalu ingin melaporkan kepadamu..

Tapi aku tak bisa…

Aku selalu merasa takut mengganggumu..

Aku selalu takut kamu tak menanggapiku..

Aku sadar aku bukan seseorang yang menjadi prioritas di hidupmu..

Dan itulah mengapa aku tak pernah membuat janji bertemu denganmu..

Kakak…

Ini aku…

Jika aku berdiri di muka pintumu..

Apakah kamu akan menyambutku sehangat dulu?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s