Seorang Prajurit Setia Dari Cinere

Ibu Katharina Wahyuni Budiningsih, yang akrab dipanggil Ibu Budi, adalah salah seorang legioner senior dari Presidium Maria Bunda Kerahiman Cinere. Sosok Ibu Budi tidaklah asing di kalangan legioner Kuria Ratu Para Rasul Depok, karena saat ini beliau menjabat sebagai Bendahara 1 Kuria untuk periode 2013-2016. Dibalik sosok yang begitu ramah dan murah senyum, ternyata Ibu Budi adalah seorang legioner yang amat disiplin dan berkomitmen tinggi. Pada kesempatan istimewa ini, Ibu Budi membagikan pengalamannya sebagai legioner aktif. Semoga sharing Ibu Budi ini bisa menginspirasi rekan-rekan legioner.

 Ibu Budi dilahirkan di Magelang, tanggal 5 September 1945. Pada tahun 1965, setelah menyelesaikan pendidikan menengah atasnya, beliau kemudian melanjutkan ke pendidikan KOWAL (Korps Wanita Angkatan Laut). Setelah pensiun dari Angkatan Laut, beliau mulai  melibatkan diri dalam keaktifan menggereja sebagai pengurus rumah tangga pastoran. Hampir setiap hari beliau datang ke pastoran Paroki Santo Matias Cinere dan sering melihat suatu kelompok yang mengadakan rapat dengan perlengkapan patung Bunda Maria, lilin, dan perlengkapan lain. Mereka mengawali dan mengakhiri rapat mereka dengan berdoa sambil berlutut. Pada saat itu beliau belum tahu apa itu Legio Maria. Hingga pada suatu hari di tahun 1997, beliau memutuskan untuk menuntaskan rasa penasarannya. Beliau bertanya kepada salah satu ibu yang tergabung dalam kelompok tersebut, yaitu Ibu Lusia Siswandi (almarhum).  Ternyata Ibu Siswandi adalah ketua Presidium Maria Bunda Kerahiman. Ibu Siswandi menjelaskan mengenai Legio Maria, dan memberi tahu bahwa rapat presidium diadakan setiap Selasa. Sejak itulah Ibu Budi mengikuti rapat Presidium Maria Bunda Kerahiman hingga sekarang.

 Tahun ini, genap enam belas tahun Ibu Budi menjadi prajurit Bunda Maria. Tentunya tidaklah mudah untuk tetap setia sebagai legioner dalam kurun waktu selama itu. Namun persatuan dan kasih antar legioner dalam melayani Tuhan melalui Gereja membuat beliau bertahan. Tidak pernah terlintas pikiran atau perasaan lelah dalam melakukan karya pelayanan, malahan semakin lama beliau merasa semakin dikuatkan oleh Bunda Maria.

Banyak sekali pengalaman yang berkesan selama beliau berkecimpung dalam Legio Maria, seperti mengunjungi orang sakit, mengantar komuni ke rumah atau rumah sakit, atau mengikuti sakramen perminyakan. Hal-hal itu disadarinya sebagai hal yang istimewa dan membanggakan  karena tidak setiap umat bisa mengalami hal-hal itu. Menjadi legioner juga membawa banyak manfaat bagi beliau karena membuat beliau mendapat banyak teman dan saudara seperti satu keluarga. Selain itu, dengan menjadi legioner beliau bisa melaksanakan tugas-tugas Gereja, seperti mendampingi imam saat mengantarkan komuni. Semuanya ini  menambah pengalaman kerohanian beliau.

Seringkali saat melakukan kunjungan, Legio Maria tidak diterima oleh umat, karena banyak umat yang belum mengetahui Legio Maria. Penolakan-penolakan ini cukup menyedihkan hati beliau. Namun dengan ketekunan dan kesabaran, akhirnya kedatangan legioner bisa diterima oleh umat. Hal ini menambah semangat dan kekuatan dalam hati beliau untuk terus berjuang sebagai tentara Maria. Kadangkala kesedihan yang beliau rasakan tidak hanya dari luar, tetapi juga dari rekan-rekan legioner yang kurang disiplin waktu untuk menghadiri rapat presidium, dan juga kurang memiliki komitmen sebagai legioner. Karena itu, ketika beliau menjadi ketua presidium, beliau selalu menegur anggota yang tidak hadir rapat, dan mengingatkan agar mereka memberi informasi bila tidak bisa menghadiri rapat. Teguran ini tentunya bukan untuk menyakiti hati rekan-rekannya, namun agar mereka bisa menjadi tentara Maria yang berkualitas karena memiliki disiplin dan komitmen yang tinggi.

 Sejak tahun 1993, Ibu Budi membesarkan tiga orang putranya seorang diri, karena suaminya, Bapak Yohanes Budiyantoro, dipanggil menghadap Bapa di surga. Namun kesibukan beliau sebagai ibu rumah tangga tidak menyurutkan semangat dan ketekunannya. Ketiga putra mereka (Thomas Aquino Raspati Ariyanto, Alexander Aria Sasongko, dan Aloysius Raditya Anggoro) sudah mengerti bahwa setiap Selasa, ibu mereka akan disibukkan dengan kegiatan Legio, mulai dari rapat presidium,  kemudian dilanjutkan dengan kunjungan, dan pelaksanaan tugas-tugas lainnya.

Sebagai perwira Kuria, Ibu Budi memiliki kewajiban untuk hadir dalam rapat Komisium pada minggu kedua setiap bulan. Tentunya hal itu tidaklah mudah, mengingat rumah beliau di Cinere berjarak cukup jauh dari  tempat rapat komisium di area Seminari Stella Maris Bogor.  Namun beliau tidak pernah menganggap hal itu sebagai beban atau kesulitan. Beliau menganggap kehadiran beliau dalam rapat Komisium merupakan salah satu bentuk komitmen seorang perwira. Padahal untuk datang ke Bogor, beliau harus berganti angkutan umum sebanyak empat kali, dan seringkali harus berangkat sendiri. Di usia beliau yang tak lagi muda, beliau rela melalui tantangan-tantangan itu untuk tetap berdisiplin menghadiri rapat Komisium. Ketekunan beliau ini patutlah dicontoh oleh para legioner lain, khususnya para perwira.

Selama ini kita sering mendengar jargon bahwa Legio Maria hanya diisi oleh orang tua dan orang suci saja. Ibu Budi menolak dengan tegas jargon ini. Bagi beliau Legio Maria bisa saja diikuti semua umat Katolik yang menjalankan kewajiban agamanya. Tentu saja seorang calon legioner harus melalui masa percobaan selama tiga bulan dan harus mengucapkan janji yang harus dilaksanakan dengan penuh komitmen. Jadi tidak hanya orang tua saja yang bisa menjadi legioner, tapi juga orang muda, laki-laki, perempuan, besar, dan kecil. Beliau berkata, kita tidak tahu perbuatan masing-masing orang, tapi setiap orang yang ingin masuk Legio Maria harus melalui proses dan sistem yang ada. Ia harus bersikap patuh dalam doa, karya, dan perbuatan baik, karena Legio Maria salah satu sarana untuk menguduskan anggotanya dengan memuliakan Allah.

Pada momen ulang tahun emas Legio Maria di Keuskupan Bogor, beliau menyampaikan pesan bagi rekan-rekan legioner agar selalu berkomitmen dalam menjalankan kewajibannya, juga harus hidup dalam kerendahan hati, penuh kasih, serta selalu bersyukur akan kasih Tuhan. Beliau juga mengingatkan agar para legioner jangan saling bersaing antar anggota atau antar presidium.   Sebaliknya prajurit-prajurit Bunda Maria harus bersatu, berjuang, dan bertempur, dengan bersenjatakan doa dan karya. Beliau yakin Bunda Maria selalu membimbing dan mendoakan kita agar kita selalu dikuatkan untuk bersikap rendah hati dan penuh kasih seperti Yesus Kristus, Puteranya, sehingga akhirnya mendapat keselamatan abadi dalam peziarahan hidup ini. Untuk lima puluh tahun Legio Maria di Keuskupan Bogor, beliau berharap agar semua legioner Bogor semakin mantap dalam menjalankan tugas sebagai prajurit Bunda Maria.

Itu adalah tulisan yang saya susun pada awal bulan November 2013, sebagai salah satu artikel yang akan dimuat pada buku kenangan “Perayaan 50 Tahun Legio Maria di Keuskupan Bogor”. Ketika itu kami mencari beberapa sosok legioner inspiratif untuk membagikan kisah perjalanan mereka sebagai legioner. Ketua komisium kami mengajukan nama Ibu Budi, dan setelah disetujui oleh panitia buku kenangan, saya membuat daftar pertanyaan untuk beliau, lalu ketua kami mengadakan wawancara dengan beliau pada sekitar bulan September 2013. Saya tak pernah menyangka, bahwa proses mengolah hasil wawancara dengan Ibu Budi  ini dapat mengubah sudut pandang saya terhadap Ibu Budi.

Perjumpaan saya pertama kali dengan beliau adalah pada bulan Mei 2013. Ketika itu saya adalah seorang perwira baru Komisium yang bertugas mengunjungi rapat Kuria di Depok. Mungkin sebelumnya saya pernah bertemu beliau, namun saya tak pernah menyadarinya karena tak pernah ada interaksi langsung dengan beliau. Kesan pertama saya tentang Ibu Budi adalah beliau begitu tegas dan tampak galak. Beliau membacakan laporan keuangan dengan suara lantang. Jujur, saat itu saya enggan untuk berkenalan lebih dekat dengan beliau.

Namun, beberapa bulan kemudian ketika saya menyusun artikel tentang beliau, seluruh anggapan saya tentang beliau langsung runtuh dalam sekejap mata. Saya mengerti bahwa beliau begitu tegas karena beliau adalah seorang pensiunan KOWAL. Pantas saja beliau membacakan laporan keuangan dengan lantang bak tentara, karena beliau memang seorang tentara. Kedisiplinan yang ditanamkan pada diri beliau selama berdinas dalam ketentaraan ternyata terus beliau bawa dalam melaksanakan tugas sebagai tentara Bunda Maria. Kedisipilinan itu memang kadang tampak dalam bentuk yang tidak menyenangkan, namun saya akhirnya paham bahwa setiap teguran yang ia layangkan dan setiap sikapnya yang kadang terlihat keras kepada rekan-rekannya, tidak bermaksud untuk menyinggung  atau merendahkan kami, namun agar kami bisa menjadi pasukan Bunda Maria yang berkualitas, yang tidak mudah dikalahkan oleh pasukan iblis.

Setelah momen perayaan itu, saya beberapa kali bertemu Ibu Budi dalam kunjungan-kunjungan ke Kuria, maupun dalam rapat-rapat Komisium. Seiring berjalannya waktu, saya akhirnya mempunyai keberanian untuk berinteraksi lebih dekat dengan beliau. Saya akhirnya merasakan bahwa beliau adalah pribadi yang hangat. Beliau mau menyapa duluan, meskipun usia saya jauh lebih muda daripada beliau, bahkan lebih muda daripada anak-anak beliau. Beliau selalu tampak sehat dan bersemangat, dan satu hal yang saya tak akan lupakan adalah penampilan beliau yang selalu rapi.

Pertemuan terakhir saya dengan beliau adalah pada Reuni Tahunan Senatus di Marsudirini Parung, 28 September 2014. Saat itu beliau bertugas menjadi MC (master of ceremony). Pada saat gladi resik petang sebelumnya, beliau hadir dengan berdandan cantik dan rambut yang sudah disanggul, karena kalau tak salah, beliau baru saja menghadiri sebuah resepsi pernikahan. Sore itu, beliau duduk menyendiri di deretan kursi bagian belakang sambil membuat coretan-coretan di selembar kertas. Ternyata beliau sedang mempersiapkan rangkaian kata-kata yang harus beliau ucapkan di panggung. Beliau kemudian pindah ke tempat yang lebih sunyi, dan masih terus berkutat dengan coretan konsepnya.

Keesokan harinya beliau juga tampil anggun dengan mengenakan kebaya biru muda dan rambut yang disanggul  rapi. Beliau membawakan acara dengan gaya khasnya : resmi, sistematis, namun tidak kaku. Setelah rangkaian perayaan ekaristi selesai dan para peserta bergerak menuju ke tempat makan siang, saya duduk berdampingan dengan beliau dan rekan-rekan panitia yang lainnya. Saya sempat menyandarkan kepala saya yang lelah ke bahu beliau yang mungil. Sambil duduk, beliau tetap meneruskan tugasnya memberikan pengarahan kepada para peserta yang sedang makan melalui microphone yang dipegangnya. Saat itu beliau mengeluh haus, maklum sejak pagi beliau harus banyak berbicara sebagai MC. Namun saya begitu egois. Saya tidak bergerak untuk mengambilkan beliau minum, saya kemudian malah sibuk dengan kepentingan dan urusan saya sendiri.

Saya tak pernah menyangka, pertemuan itu adalah pertemuan terakhir saya dengan beliau. Beliau tak hadir dalam rapat komisium, dan ketika saya kunjungan ke kuria pada bulan Desember 2014, beliau pun tak hadir karena sedang mempersiapkan Natal di paroki Cinere.

Menjelang akhir bulan Januari 2015, grup whatsapp Komisium Bintang Timur mendapat kabar bahwa Ibu Budi harus menjalani cuci darah di sebuah rumah sakit di BSD. Kami semua merasa terkejut, karena Ibu Budi tak pernah terlihat sakit. Bu Budi memang sejak lama menderita diabetes, namun beliau selalu tampak segar. Ternyata penyakit diabetesnya sudah menyerang hingga ke ginjal, sehingga beliau  terpaksa harus menjalani cuci darah sebanyak dua kali dalam seminggu.

Hari-hari pun terlalui. Saya menerima kabar bahwa kondisi beliau sudah membaik meskipun masih harus terus menjalani cuci darah. Ada kemungkinan beliau tidak perlu rutin cuci darah lagi. Kami semua merasa optimis mendengar kabar itu, berharap Ibu Budi bisa pulih kembali, dan bisa bertugas lagi bersama-sama dengan kami..

Namun, Minggu pagi tanggal 15 Februari 2015, kabar duka menyebar cepat di grup whatsapp komisium. Ibu Budi sudah menyelesaikan tugasnya sebagai prajurit di dunia ini, dan Sang Kepala Pasukan sudah memanggil beliau pulang dari medan tugasnya.

Pertemuan saya dan beliau memang amat singkat. Saya pun merasa belum mengenal beliau secara mendalam, namun sharing beliau satu tahun yang lalu telah mengajarkan saya banyak hal. Beliau mengajarkan saya menjadi legioner yang disiplin, rendah hati, tangguh, dan tidak mudah mengeluh. Ketika saya dan teman-teman menuju Cinere untuk melayat beliau, kami merasakan betapa sulitnya perjalanan yang beliau tempuh untuk bisa hadir pada rapat komisium di Bogor. Waktu yang diperlukan dalam perjalanan lebih panjang daripada waktu rapat itu sendiri. Belum lagi beliau harus menghadapi jalan raya yang macet dimana-mana, angkot yang sangat hobby ngetem, kereta yang kadang bermasalah, cuaca yang sering tak bersahabat, dan macam-macam kesulitan lainnya. Kami bahkan merasakan bahwa perjalanan dari Bogor ke Cinere dan sebaliknya bagaikan perjalanan tanpa ujung, karena begitu panjang dan lama. Tubuh kami begitu pegal karena duduk berjam-jam di dalam angkot dan kereta. Ibu Budi, dalam usia beliau yang sudah tak lagi muda, menempuh semuanya itu tanpa pernah mengeluh. Dalam rapat-rapat komisium, saya lebih sering merasa kecewa apabila ada perwira presidium yang tak hadir rapat. Sejujurnya saya seringkali kurang menghargai mereka yang sudah hadir dalam rapat itu. Ibu Budi mengingatkan saya untuk menghargai setiap kehadiran, karena ternyata untuk bisa hadir di sana dibutuhkan perjuangan yang tidak mudah.

Selamat jalan, Ibu Budi.. Terima kasih atas teladan dan pengabdian Ibu.. Kami akan selalu merindukan Ibu..

“Perjuangan seorang legioner telah berakhir dan ia terbaring terhormat. Sekarang akhirnya ia diteguhkan dalam pengabdian Legio. Sepanjang segala masa, ia akan menjadi legioner, karena Legio telah membentuk kekekalan itu baginya. Legio telah menjadi bahan dan cetakan dari kehidupan rohaninya. Kekuatan doa yang disatukan dan dipanjatkan setiap hari dengan kesungguhan hati olehnya sebagai anggota aktif maupun auksilier, ditambah dengan perjumpaan dalam rapat meskipun ada yang telah tiada, telah membantunya melewati bahaya dan kesulitan sepanjang perjalanannya yang jauh. Alangkah bahagianya bayangan semacam ini bagi semua legioner, bagi yang meninggal maupun bagi yang berdoa.” (Buku Pegangan Bab 17, halaman 114)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s