Jendela Pertama…

Kali ini aku ingin bercerita tentang sang jendela pertama…

Ah,,,tak adil rasanya, selama ini aku hanya berceloteh tentang jendela kedua saja..

Rumah tua itu memiliki lima jendela,

Di sebelah jendela kedua, pastilah ada jendela pertama, meski belum tentu ada jendela ketiga..

Dan memang, jendela pertama seolah tak bisa terpisahkan dengan jendela kedua..

Jendela pertama selalu terkesan tertutup,,

Posisinya yang paling ujung memang amat sulit untuk diamati..

Dari tepi jalan, tanaman rambat menutupi pandangan dari jendela pertama dengan sempurna.

Kau harus benar-benar berdiri pada titik yang tepat, lalu kau harus sedikit membungkukkan tubuhmu, dan melayangkan matamu pada sudut yang tepat, barulah kau bisa memperhatikan jendela pertama..

Ketika jendela pertama terbuka, ia akan terlihat lebih ceria daripada jendela kedua..

Lampu di dalamnya terlihat lebih terang,

Meskipun kayu-kayu penyusunnya yang berwarna kuning tua dan coklat sudah sama lapuknya dengan empat jendela yang lain.

Harus kuakui, jendela pertama memiliki keunikan tersendiri..

Ia tampaknya tak pernah memperhatikanku saat aku berdiri di bawahnya,

Ia tak pernah mengatakan apapun..

Ia berpura-pura tak melihatku..

Ia tak pernah mendengarkan cerita-ceritaku..

Dan tampaknya ia tak pernah mempedulikanku..

Padahal sebenarnya ia sangat peduli..

Sebetulnya ia melihatku dan memperhatikanku..

Namun ia tak pernah membuka mulutnya untuk menyapaku duluan..

Dan sepertinya ia tahu bahwa aku sangat memperhatikan jendela kedua..

Namun ia hanya diam saja, bahkan tersenyumpun tidak..

Ia mendengar setiap ceritaku.. meski harus menunggu waktu yang amat lama untuk bisa mendengar komentarnya..

Kata-katanya amat sederhana, namun cukup membuatku mengetahui bahwa ia memperhatikanku..

Kata-katanya tak manis, namun yang diucapkannya benar dan tepat sasaran…

Meskipun ia tampak sebagai yang paling cerah,

Namun sebenarnya jendela pertama tidak seceria itu..

Cahaya lampunya yang begitu terang sebetulnya menutupi ketakutannya pada kegelapan..

Suasana hatinya tak pernah bisa terbaca hanya dengan berdiri di hadapannya..

Karena ia menyimpan segala perkara di dalam hatinya..

Jendela pertama peduli dengan cara yang berbeda..

Memandangku dengan tatapan yang berbeda..

Mendengarkanku bercerita dalam diam..

Ia mengungkapkan kesedihannya dengan cara yang tak terduga..

Meski ia tak segan untuk marah, menutup kedua daunnya keras-keras,,

Tapi kemudian ia akan menyesal setelah amarahnya  memudar..

Setelah semua tugasnya usai, jendela pertama akan ditutup..

Entah untuk sementara atau selamanya..

Aku tahu aku akan merasa kehilangan ketika ia sudah menyelesaikan tugasnya..

Karena ini pun tak hanya tentang sebuah jendela…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s