Hanya ingin bicara…

Hai, calon pasangan hidupku..
Aku tak tahu siapa dirimu, dimana dirimu, dan apa yang sedang kamu kerjakan..
Tapi izinkan aku untuk berbicara padamu, walau mungkin hanya Tuhan yang bisa menyampaikan kata-kataku padamu..

Hai, kamu yang disana..
Apa yang sedang kau lakukan?
Apakah kamu juga sedang merayakan tahun baru imlek?
Kuharap kamu melalui hari ini dengan bahagia dan penuh sukacita..
Karena hari ini adalah hari reuni keluarga, dimana yang jauh menjadi dekat, yang lama tak bersua, kini bisa berjumpa..

Semoga kamu tak merasakan apa yang aku rasakan hari ini..
Ketika mereka memandang mataku, dan menanyakan apakah aku sudah punya calon?
Maksud mereka, apakah aku sudah menemukanmu?
Aku mencoba melontarkan kata “belum” dengan ringan, dengan riang, seolah pertanyaan itu hanya pertanyaan biasa, sebiasa pertanyaan “apakah kamu suka minum kopi?”
Lalu aku minta mereka membantuku untuk bisa menemukanmu..
Padahal pertanyaan itu begitu menyakitkan..
Apalagi pada usia yang dianggap sudah “cukup matang” bagi mereka..
Apakah kamu juga ditanya-tanyai dengn pertanyan itu?
Apa yang kamu rasakan?
Bagaimana kamu menjawab mereka?

Ternyata, hari ini aku juga dapat kejutan..
Pacar sepupuku adalah teman gerejaku..
Aku tak mengenalnya, dia juga tak mengenalku..
Tapi kami pernah saling melihat satu sama lain..
Ada banyak hal yang bisa kami bicarakan, karena kami berasal dari sekolah, kota, dan gereja yang sama.
Dan aku merasa tak bersalah jika aku bercakap-cakap tentang banyak hal dengan pria itu..
Aku tak sadar, perbuatanku itu membuat sepupuku tak suka dan cemburu…
Jujur, aku tak bermaksud melukai hatinya..
Aku hanya bahagia, bisa menemukan teman satu kota di rumah keluargaku..
Apalagi ia pun akan menjadi bagian dari keluarga kami..
Mungkin aku terlalu bodoh..
Terlalu tidak peka..
Semoga kamu jangan sampai mengalami apa yang aku alami..
Dan semoga kamu tak juga memandang buruk diriku atas kejadian ini..
Aku hanya akan menunggumu..
Sampai kapanpun akan menunggumu..
Meski aku belum tahu siapa dirimu..
Tapi aku tahu, IA akan memberikan petunjuknya padaku..
Dan aku akan tahu, bahwa itu kamu..
Karena aku sudah menyerahkan pena hidupku ke tangannya..

Bagaimana acara tahun barumu?
Apakah juga diwarnai hujan seperti disini?
Katanya kalau hujan turun pada hari tahun baru, maka rejeki tahun ini akan melimpah..
Semoga saja ya.. Aku berharap demikian..
Semoga tak hanya rejeki saja, tapi juga rasa bersyukur yang semakin melimpah dalam hati..

Aku berharap, saat ini kamu duduk di sampingku, di bangku stasiun Jayakarta yang tidak terlalu ramai..
Memandang petang yang mulai datang..
Terhempas angin dingin yang terasa menyakitkan kepalaku..
Mungkin jika ada kamu disini, aku tak akan dicurigai mau merebut pacar orang, dan tak akan ada yang penasaran dengan hidupku..

Kadang aku khawatir..
Akankah kita menua tanpa pernah saling menemukan?
Apakah kita memang selamanya tak akan pernah bertemu?

Dimanapun kamu berada, tolong jaga kesehatan ya..
Karena aku belum bisa ada di dekatmu, untuk bisa merawatmu jika kamu sakit..
Apalagi hari-hari belakangan ini dipenuhi dengan mendung dan hujan..

Hai, kamu yang ada disana..
Tetap berdoa dengan tekun ya..
Doakan kita.. doakan aku..
Dan berdoalah supaya kita bisa saling menemukan..
Aku juga akan selalu berdoa..untukmu.. dan untuk kita..

Untuk calon pasangan hidupku..
Sabarlah menunggu hari itu datang..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s