Dua Cerita Untuk Kalian..

Kembali ke rumah mereka, meski tanpa kalian..
Ada yang hilang, sungguh terasa hampa tanpa kehadiran kalian..
Kami sadar kami harus mulai membiasakan diri, untuk mulai melangkah tanpa kalian..
Kalian akan pergi.. Jauh.. Dan kami harus tetap disini.. Melanjutkan apa yang telah kami mulai..
Namun izinkan aku berbagi kisah hari ini untuk kalian…

Kisah pertama..
Untuk kakakku yang beruban.. hehe..
Kembali di rumah itu tanpa kamu..
Rumah di atas tepi Sungai Ciliwung..
Aku ingat, rumah inilah yang pertama kali kamu kunjungi bersama kami..
Pertama kali pula, aku berkenalan denganmu setelah tragedi salah telepon..
Kamu yang tenang, tak banyak bicara, sehingga aku mati gaya..
Aku ingin membuatmu bicara, dan akhirnya aku seperti burung sumbang yang terlalu banyak berkicau..
Aku tak menyangka, bahwa dibalik ketenanganmu, ternyata kamu sangat berkualitas..
Dan aku tak menyangka, kamu bisa bergurau.. nyeletuk dengan kocak.. Hingga aku terkejut, bingung, apakah kamu serius, atau bercanda?
Siang tadi, ketika kami berbincang di ruangan mungil itu,
Aku teringat kamu berdiri dengan tenang di dekat pintu, dan aku duduk di atas kayu yang sama seperti waktu itu..
Ketika itu kamu masih tak banyak bicara, hanya menyimak setiap kata yang dengan sulit dilontarkan satu persatu oleh sang penghuni rumah..
Lalu kamu mendoakan beliau, dengan gayamu yang khas..
Dan membuatku kagum..
Hingga saat ini..
Andai saja tadi kamu ada disana..
Melihat sang penghuni rumah yang sudah jauh membaik..
Beliau menyambut kami dengan ramah, dengan senyum yang hangat, dan wajah yang cerah..
Tidak sedih dan muram seperti waktu itu..
Kaki beliau yang sakit juga sudah membaik, bahkan beliau hendak beranjak dari tempat duduknya untuk membuatkan kami minum..
Kamu pasti senang melihat beliau yang begitu penuh senyum..
Aku percaya, doamu berkontribusi untuk kesembuhan beliau..
O iya, kamu tahu tidak, beliau memasang kalender dengan foto kalian tepat di atas tempat duduknya.
Kami tunjukkan fotomu, dan kami ingatkan beliau bahwa kamu pernah datang ke rumah beliau..
Di sela-sela keheningan percakapan kami,
Aku ingat setelah kunjungan kita waktu itu, kamu akhirnya membuka mulut,
Membahas tentang kesetiaan, dan kebahagiaan orang tua atas kesetiaan anak-anaknya..
Menceritakan masa lalumu, ketika kau hampir tak setia..
Ketika kau hampir menukar imanmu dengan sebuah cinta..
Ketika kau akhirnya berbalik arah, bahkan memilih jalan hidup yang benar-benar tak pernah kau sangka..
Semoga ceritamu akan selalu mengingatkanku agar tetap setia..
O iya, ketika melihat Tugu Kujang yang berdiri tegak disitu,
Aku ingat kata-katamu : “Kota penuh kenangan…”
Aku tahu, setelah kau pergi nanti, kenangan tentangmu akan mengisi setiap sisi kota ini…

Kisah Kedua..
Untuk kakakku yang sehangat mentari pagi..
Kembali ke rumah itu, meski tanpa dirimu..
Rumah ini adalah rumah pertama yang kau kunjungi bersama kami beberapa bulan yang lalu..
Sang pemilik rumah menanyakan mengapa kamu tak datang..
Terbata, aku menjawabnya..
Rasanya begitu menyesakkan memandang kursi yang pernah kau duduki..
Karena aku sadar, kau tak akan lama lagi ada disini..
Beliau menyediakan secangkir teh manis hangat, tak lagi kopi dingin, yang membuat kita meringis, karena maag kronis..
Ah, andai saja dua Minggu lalu beliau menyajikan segelas teh hangat..
Mungkin saja bisa menolong maagmu yang mendadak kambuh waktu itu..
Memandang kursi kosong itu, dan aku teringat ketika kau duduk di situ..
Kita bernyanyi, berbagi cerita, dan aku tak sengaja menyentuh kepalamu… Maaf…
Hari ini, kami tak diajak duduk di halaman belakang..
Tak ada senandung maupun petikan gitar..
Tak memandang pohon durian yang sedang tak berbunga..
Tak ada anak-anak yang berlatih balet, ditemani oleh orang tua mereka…
Andai saja tadi kamu hadir disana, mungkin kamu akan sama terkejutnya dengan kami, ketika mendengar segala impian, niat, dan cita-cita beliau..
Semua terdengar wajar, seolah tak ada masalah..
Ah.. hanya kamu yang tahu, dan hanya kamu yang bisa berpikir logis atas semua ini..
Kami hanya sejenak mampir di rumah itu..
Karena waktu begitu cepat berlalu…
Menatap jalan raya di depan rumah beliau..
Teringat kau yang berjalan perlahan menahan sakit..
Teringat kau yang berjalan bersamaku..
Teringat dirimu yang menatap aku dari kejauhan..
Teringat cerita-ceritamu yang membuatku kagum padamu..
Aku membeku sejenak..
Perasaan kehilangan itu telah terasa..
Padahal kamu masih ada di kota ini..
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kembali ke rumah mereka tanpa kalian..
Belajar bertahan tanpa kehadiran kalian..
Belajar tertawa, meskipun tak ada kalian yang melontarkan canda..
Begitu sulit, meski aku tahu, kalian masih ada disini..
Pasti akan semakin berat bila nanti kalian sudah tak ada di sini lagi..

Tinggallah terus dalam kenanganku dan kenangan kami…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s