Pohon Kelapa Penyelamat Keluarga…

Ini adalah kisah engkong dari engkongku, alias kongcoh dari papiku.. Aku tak tahu harus memanggil beliau dengan sebutan apa, mungkin kongcocoh? Bahkan papi dan saudara-saudarinya pun tak tahu apa panggilan yang tepat dari kami untuk beliau..

Cerita ini dikisahkan turun menurun, dari beliau, kepada putranya (yang kupanggil kongcoh), lalu diceritakan kembali kepada generasi selanjutnya, yakni engkongku, papiku dan saudara-saudarinya, dan kepada generasiku. Kisah ini mungkin tampaknya seperti dongeng mengerikan yang berakhir bahagia. Tampak sebagai kebetulan, namun sebetulnya semua yang terjadi adalah mujizat bagi keluarga kami.

Kongcocoh Tjia adalah generasi pertama keluarga kami yang tiba di Indonesia. Beliau beserta saudara-saudaranya yang lain konon berasal dari Provinsi Fujian yang terletak di bagian selatan Cina. Tak ada yang tahu kapan tepatnya beliau tiba di Indonesia, dan kemudian tinggal di area Mauk, Tangerang. Kami pun tak tahu berapa banyak rombongan yang bermigrasi bersamanya dari Cina daratan menuju Indonesia. Hmm, andaikan saja ada mesin waktu yang bisa mengembalikan aku ke era ketika Kongcocoh masih hidup, pasti aku akan pergi menemuinya dan menyiapkan sederet pertanyaan untuk mewawancarainya. Tapi, beliau bisa Bahasa Indonesia gak ya?

Ketika Gunung Krakatau meletus dengan dahsyat pada tahun 1883, tepatnya tanggal 26-27 Agustus 1883, kawasan Pantai Mauk hancur lebur dan porak poranda akibat gelombang tsunami yang ditimbulkan sebagai efek letusan Krakatau. Pada beberapa tempat, gelombang tsunami mencapai ketinggian 30 meter.

Ini sekilas kisah tentang letusan Krakatau tahun 1883 itu : (diambil dari http://nationalgeographic.co.id/berita/2012/08/27-agustus-1883-krakatau-memperlihatkan-kedahsyatannya)

27 Agustus 1883, Krakatau Memperlihatkan Kedahsyatannya

Krakatau saat itu melepaskan energi satu juta lebih besar dari pada bom hidrogen.

27 Agustus 1883, Gunung Krakatau meletus. Besarnya kekuatan daya ledak membuat suara letusan Krakatau terdengar hingga radius hampir 5.000 kilometer.

Gunung yang terletak di antara Pulau Sumatra dan Jawa ini memuntahkan 13 kubik mil isi perut bumi. Sepertiga bagian jatuh di sekitarnya, lainnya dalam radius 32 kilometer. Sisanya sebanyak empat kubik mil mengelilingi Bumi di lapisan atmosfer sampai beberapa tahun berikutnya. Menyebabkan perubahan cuaca di beberapa tempat di dunia.

Dalam Data Dasar Gunung Api di Indonesia hasil rangkuman dari Departemen Pertambangan dan Energi, Direktorat Jenderal Pertambangan Umum, dan Direktorat Vulkanologi, Krakatau saat itu melepaskan energi satu juta lebih besar dari pada bom hidrogen.

Dahsyatnya kekuatan ini menimbulkan tsunami yang diperkirakan mencapai lebih dari 36 meter dan menyebabkan kematian bagi puluhan ribu manusia.

Sebelum ledakan ini, Krakatau sudah menunjukkan gejala sejak 20 Mei 1883. Saat sebuah kapal perang Jerman yang melintas melaporkan adanya awan debu dan asap setinggi 11 kilometer. Sekitar dua bulan kemudian, letusan lebih kecil terjadi. Disaksikan oleh warga lokal di Sumatra dan Jawa.

Warga —buta akan bencana alam yang akan terjadi di hadapan mereka— menyambut letusan tersebut dengan perayaan. Namun, perayaan berubah menjadi tragedi di 26-27 Agustus 1883 ketika Krakatau memuntahkan isi bumi dengan kekuatan terbaiknya.

Ledakan awal di 26 Agustus sore meluluhkan dua pertiga bagian utara dari pulau. Menghasilkan serangkaian aliran piroklastika dan tsunami. Empat ledakan susulan terjadi lagi pada 27 Agustus pukul 05.30 pagi, mencapai puncaknya pada pukul 10.02.

Dentuman yang menyertai ledakan terdengar hingga ke Singapura dan Australia. Selama itu, batu apung dan abu halus dihembuskan hingga ketinggian 70-80 kilometer, menutupi daerah seluas 827.000 kilometer persegi.

31.000 dari 36.000 warga yang tewas merupakan korban tsunami ketika sebagian besar pulau yang didiami Krakatau tenggelam ke Selat Sunda. Sedangkan 4.500 orang lainnya tewas terpanggang karena aliran piroklastika.

Letusan ini tidak berhenti dalam hitungan hari. Karena hingga periode September-Oktober di tahun yang sama, terjadi letusan lumpur dalam skala kecil.

44 tahun setelah ledakan ini, Krakatau mulai membangun diri kembali dengan beberapa letusan antara 29 Desember 1927 dan 5 Februari 1928.

(Zika Zakiya. Sumber: History Channel, Data Dasar Gunung Api di Indonesia)

Keluarga Kongcocoh yang tinggal di kawasan Pantai Mauk juga terkena imbasnya. Kami tak pernah tahu bagaimana detail yang terjadi di Mauk ketika Krakatau sudah mencapai puncak amarahnya, namun dari catatan sejarah, kerusakan disana termasuk salah satu yang terparah, mengingat jaraknya yang tak terlalu jauh dari pusat letusan. Langit begitu gelap karena tertutup abu, matahari tak terlihat, debu dan abu berjatuhan bagaikan hujan. Penduduk tak bisa lagi membedakan siang dan malam. Gemuruh dan bunyi letusan seperti letusan meriam terdengar begitu jelas di telinga.

Pada masa itu, penduduk belum terbiasa menghadapi bencana alam, apalagi dengan yang namanya tsunami. Mereka belum belajar prosedur tanggap darurat, mereka belum paham, bahwa runtuhan dari letusan gunung dapat mengakibatkan gelombang pasang yang bisa menyapu pemukiman mereka. Mereka tak tahu ketika air surut dan garis pantai menjauh, mereka harusnya segera lari ke daerah yang lebih tinggi. Ketika air naik dan memukul area pesisir, mereka pun sudah terlambat untuk melarikan diri.

Kongcocoh termasuk salah satu korban yang tersapu air laut. Tubuhnya terbawa arus dan ia merasa bertabrakan dengan benda-benda keras. Kondisi itu akhirnya membuat ia tak sadarkan diri. Entah berapa lama ia dalam kondisi pingsan, dan terombang ambing antara batas kehidupan dan kematian.

Ia berhasil bertahan hidup. Ini bagaikan sebuah keajaiban. Ketika ia membuka matanya, ia merasa janggal. Ia merasa berada di tempat yang aneh. Betul saja, ketika ia berhasil mengumpulkan segenap kesadarannya, ia baru sadar bahwa ia sedang berada di atas pohon kelapa yang tingginya sekitar 7 sampai 8 meter dari atas permukaan tanah. Ternyata ia terbawa arus laut dan tersangkut di pohon kelapa itu. Rasa terkejut dan heran bercampur dengan rasa syukur karena ia masih hidup di tengah kampungnya yang sudah porak poranda dan rata dengan tanah. Ia tidak tahu bagaimana nasib sanak saudaranya. Kampung begitu sepi, seolah tak ada sisa kehidupan di dalamnya.

Dengan segenap kekuatan yang tersisa, ia berhasil turun dari pohon kelapa yang telah menyelamatkan nyawanya. Menurut cerita yang aku dengar, Kongcocoh adalah satu-satunya yang hidup dari keluarganya.  Kami tak pernah tahu apa yang terjadi setelah Kongcocoh berhasil menyelamatkan diri, bagaimana dia bertemu dengan Macocoh, menikah, dan kemudian meneruskan generasi keluarga Tjia.

Coba bayangkan… kalau pohon kelapa itu tak ada disitu, bisa jadi Kongcocoh sudah tersapu ke laut lepas dan menghilang ditelan laut. Bisa jadi Kongcocoh mati tenggelam di tengah air pasang yang begitu besar. Kalau Kongcocoh tidak tersangkut ke pohon kelapa itu, maka tak akan ada kongcoh, engkong, papi, dan pastinya akupun tak akan ada di dunia ini.

Pohon kelapa di tepi Pantai Mauk itu telah menyelamatkan satu-satunya nenek moyang keluarga Tjia..

…Dan pastinya bukan kebetulan, bahwa ia juga telah menyelamatkan kelangsungan generasi keluarga Tjia.

Notes :

Catatan lengkap mengenai letusan Krakatau pada tahun 1883 dapat dilihat disini : http://volcanoindonesia.blogspot.com/2013/10/krakatau-1883.html

* Kongco : ayah dari kakek.

* Engkong : kakek.

* Kongcocoh : kakek dari kakek.

* Macocoh : istri dari Kongcocoh.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s