Pater Henrikus van der Grinten : Melayani Tanpa Pernah Merasa Lelah

“Setiap hari aku mengunjungi hospital yang menampung rata-rata 400 orang Eropa, hampir semua tentara; jarang sekali terjadi bahwa seorang meninggal tanpa sakramen minyak suci.” (Pater Henrikus van der Grinten, dalam sebuah surat kepada kerabatnya di Nederland)

Pagi itu, mentari bersinar cerah di atas langit Batavia (Jakarta). Seorang Pater Belanda dengan jubahnya yang berwarna hitam melangkah keluar dari area gereja Katedral ke arah Lapangan Banteng Barat. Ia berjalan dengan tenang di bawah rindangnya pepohonan yang menaungi kawasan Lapangan Banteng. Tak jarang langkahnya terhenti sejenak menyapa keluarga-keluarga tentara yang mendiami sisi barat lapangan itu.  Siapakah dia? Dan kemanakah ia akan pergi?

Ia adalah Pater Henrikus van der Grinten yang dikenal paling rajin melakukan kunjungan kepada pasien-pasien di rumah sakit militer yang bernama Groot Militare Hospital Welterveden (sekarang kita kenal sebagai RSPAD Gatot Subroto). Setiap hari ia berjalan kaki dari gereja Katedral menuju rumah sakit dengan melalui area kamp militer di Lapangan Banteng Barat. Terkadang ia tak berjalan sendirian, tetapi ditemani oleh beberapa prajurit. Mereka melangkah dengan santai sambil mengobrol dan bertukar pikiran. Kesabarannya dalam menanggapi pembicaraan para prajurit itu membuat Pater van der Grinten mendapat kepercayaan dari para prajurit yang terkenal keras dan kasar, bahkan keluarga mereka juga amat mengenal Pater van der Grinten yang memang sangat ramah dan hangat itu.

Hari masih pagi ketika ia akhirnya tiba di rumah sakit yang beberapa tahun sebalumnya masih merupakan istana Welterverden milik Jacob Mossel. Kondisi rumah sakit pada abad ke-19 amatlah berbeda dengan rumah sakit masa kini. Pada saat itu sebagian besar rumah sakit dikelola oleh pihak militer Belanda. Pasien sipil juga bisa dirawat di rumah sakit asalkan mereka membayar sendiri biaya perawatan mereka. Bagi orang Indonesia pribumi dan orang-orang Asia, rumah sakit masih merupakan suatu “keanehan”, sehingga meskipun sakit mereka amat parah, mereka tak mau dirawat di rumah sakit. Oleh karena itu, sebagian besar pasien rumah sakit adalah orang –orang Eropa. Jangan kira tak ada diskriminasi dalam perawatan dan pelayanan! Pasien yang miskin dirawat terpisah dari pasien yang kaya dan terpandang. Pasien Eropa terpisah dari pasien pribumi. Para tahanan dirawat di ruangan terpisah, begitu juga dengan pasien wanita.

Meskipun matahari belum beranjak meninggi, namun udara panas langsung menyambut Pater van der Grinten ketika ia mulai memasuki bangsal-bangsal perawatan. Ia baru saja keluar dari satu bangsal dan hendak memasuki bangsal berikutnya, ketika ia mendengar seseorang berteriak memanggilnya dalam Bahasa Perancis. Pater van der Grinten segera melangkah mendekati sumber suara itu, dan segera saja sang pasien Perancis itu mengakukan dosa-dosanya sambil berteriak. Pater van der Grinten terpaksa menegur pasien itu agar ia mengakukan dosa-dosanya dengan suara pelan-pelan saja. Namun pasien itu malah menjawab : “Masa bodoh mereka mendengar dosa-dosaku! Mereka pun bajingan-bajingan seperti aku, bahkan lebih dari itu!”

Momen kunjungan kepada pasien-pasien Eropa itu kadang menimbulkan kepedihan tersendiri. Sebagian dari mereka yang mengaku Katolik ternyata sudah begitu lama putus kontak dengan Gereja Katolik. Mereka mungkin dibaptis ketika masih kecil, dan sebagian pernah menerima komuni  pertama, namun mereka melupakan iman Katoliknya sampai ketika akhirnya mereka terbaring sekarat di ranjang rumah sakit. Sebagian lagi adalah mereka yang mendaftarkan diri mereka dalam kemiliteran untuk bertugas di tempat yang jauh dari tanah kelahiran mereka. Dalam kondisi sakit berat, mereka merasa kesepian dan seringkali putus hubungan dengan keluarga mereka di Eropa. Kadang di hadapan para pastor mereka mengungkapkan kerinduan mereka untuk pulang, dan tak jarang menangisi keputusan mereka untuk masuk dalam dinas militer. Kunjungan para pastor ke rumah sakit tak hanya bertujuan untuk melayani dalam hal kerohanian saja, tapi tak jarang juga para pastor dimintai tolong oleh pasiennya untuk menuliskan surat bagi keluarga mereka di Eropa. Bahkan mau tak mau, para pastor seringkali terpaksa menjadi pembawa kabar duka bagi keluarga-keluarga di seberang benua.

Setelah mengunjungi seluruh bangsal di rumah sakit besar itu, Pater van der Grinten berjalan pulang ke gereja Katedral, angin meniupkan debu dan debu itu menempel pada wajahnya yang berkeringat. Jubahnya yang panjang dan berwarna hitam membuat tubuhnya semakin terasa kepanasan. Ah, rasa panas ini tak berarti apa-apa dibandingkan dengan derita dan kepedihan orang-orang sakit yang membutuhkan pelayanannya. Cuaca dan alam Indonesia memang amat berbeda dengan kampung halamannya di Belanda sana. Cuaca disini amat panas dan menyiksanya, bahkan sudah banyak rekannya yang tak mampu bertahan dengan kondisi ini. Namun ia telah mengatakan “ya” untuk menjadi seorang misionaris di tanah ini. Ia akan berjuang dan bertahan hingga akhir. Tanah Hindia Belanda (nama Indonesia ketika masih dikuasai oleh Belanda) ini begitu subur, baik untuk menumbuhkan tanaman palawija, maupun untuk menumbuhkan benih kabar sukacita.

Hidupnya Penuh dengan Cinta

Pater van der Grinten dilahirkan di Eindhoven, Belanda pada 2 November 1811, dari pasangan Willhelm Guillaume van der Grinten dan Elisabeth van de Gevel. Tak banyak catatan mengenai kisah awal hidupnya, namun pada tahun 1846-1847 ia tengah bertugas menjadi seorang pastor pembantu di provinsi Braband (Belanda bagian selatan), ketika ia mendengar adanya tawaran untuk menjadi misionaris di Hindia Belanda. Ketika itu kondisi Gereja Katolik di Indonesia tengah mengalami kekacauan karena Monseigneur Yakobus Groof sebagai vikaris apostolik* Batavia dipecat oleh Gubernur Jenderal Belanda, Jan Jacob Rochussen. Ketika itu pemerintah kolonial masih sangat ikut campur dan membatasi segala hal urusan Gereja di Indonesia, oleh karena itu ketika pimpinan Gereja membuat kebijakan yang tidak sesuai dengan selera pemerintah, pemerintah memiliki hak untuk memecat imam, bahkan uskup, dan memulangkan mereka ke Belanda.

Pater van der Grinten mempertimbangkan tawaran menjadi misionaris itu matang-matang. Menjadi misonaris saja bukanlah hal yang mudah, apalagi di Hindia Belanda yang begitu jauh dari Belanda, dengan iklim yang terkenal jahat, dan kondisi umatnya yang sedang terpecah belah. Namun akhirnya ia berani mengatakan “YA”, dan pada tanggal 15 Juni 1847, bersama dengan Pater Jan Sanders dan Pater Norbertus Moonen, ia meninggalkan tanah airnya untuk menuju ke Hindia Belanda. Mereka memilih jalan darat dan singgah sementara waktu di Mesir. Disinilah Pater van der Grinten untuk pertama kalinya menyaksikan praktek perbudakan. Hatinya begitu tergoncang ketika melihat budak-budak yang menggali tanah di sungai dan membawanya ke sebuah desa. Mereka harus membawa tanah itu sambil berlari, dan pada jarak tertentu mereka harus melewati orang Mesir yang akan memukul mereka dengan cemeti. Banyak juga anak-anak dan perempuan yang harus bekerja seperti itu. Ia tambah terkejut ketika melihat banyak budak Arab yang berbaring di geladak kapal dengan diborgol tangan dan kakinya. Ia menilai bahwa perbudakan dan perdagangan manusia adalah hal yang amat sangat tidak manusiawi.

Pada tanggal 13 Agustus 1847, mereka bertiga tiba di Batavia, dan harus mulai berkarya di tengah umat yang sedang kacau tanpa gembala. Tak lama setelah tiba di Batavia, Pater van der Grinten langsung berangkat ke Padang untuk menggantikan Pater Staal yang baru saja dibunuh. Ia ikut berlayar dengan kapal Arab, dan mengalami cuaca amat buruk ketika melalui kawasan Selat Sunda. Ini adalah pertama kalinya Pater van der Grinten mengalami kondisi laut Indonesia yang tidak bersahabat. Hampir saja kapal yang ditumpanginya tenggelam karena kemasukan air, namun untunglah ia dapat tiba dengan selamat di Padang. Beberapa tahun kemudian dalam perjalanannya bersama Mgr. Vrancken dari Padang, kapal yang ia tumpangi juga hampir tenggelam di sebelah selatan Bengkulu, tapi untunglah sang kapten berhasil mengandaskan kapalnya di pesisir Teluk Pulu sehingga mereka bisa selamat dari bencana.

Pada tahun 1848, Vatikan mengangkat Monseigneur Petrus Maria Vrancken menjadi Vikaris Apostolik Batavia. Mgr. Vrancken memanggil pulang Pater van der Grinten dari Padang, dan ia diutus ke Semarang untuk bertugas disana selama enam tahun dan menjadi kepala rumah yatim piatu Katolik disana. Meskipun disebut sebagai rumah yatim piatu, sebetulnya kebanyakan anak-anak yang dirawat disana bukanlah anak yatim piatu, namun akan-anak gelap dari hubungan-hubungan yang tidak sah. Ketika itu, para tentara, pegawai perkebunan, dan pegawai pemerintahan dilarang membawa istri mereka dari Belanda, sehingga sering terjadi mereka melakukan hubungan luar nikah dengan para perempuan pribumi dan akhirnya memiliki anak. Anak-anak ini kadang dikirim ke Belanda, namun tak sedikit pula yang ditinggalkan dengan ibu pribumi mereka, padahal kondisi ibu itu juga tidak mampu. Pater van der Grinten amat menyayangi anak-anak itu dan menyebarkan cintanya kepada mereka. Tak hanya kepada anak-anak, ia pun menghibur orang-orang sakit, membantu orang miskin, serta berteman dengan para prajurit.

Enam tahun kemudian, ia dipanggil pulang ke Batavia untuk mendampingi Mgr. Vrancken dan mewakilinya sebagai pemimpin misi selama beliau berada di Eropa. Di Batavia ia setiap hari mengunjungi para pasien di rumah sakit militer, dan seringkali mengunjungi sekolah Katolik khusus untuk anak-anak lelaki. Pada 9 September 1855, Pater van der Grinten yang saat itu menjabat sebagai pastor kepala paroki Katedral berinisiatif mengundang beberapa tokoh awam untuk mendirikan Dana Bantuan Santo Vincentius a Paulo untuk membantu anak-anak luar nikah keturunan Belanda yang saat itu juga menjadi masalah sosial di Batavia. Karya mereka dimulai dengan cara yang sederhana, yaitu dengan menitipkan anak-anak yang membutuhkan bantuan kepada keluarga-keluarga Katolik (home care).

Karyanya tak dibatasi oleh area Batavia saja, namun ia harus siap dengan berbagai tugas khusus yang dipercayakan kepadanya. Ia pernah menemani para tentara yang dikirim ke Banjarmasin ketika ada pergolakan disana. Perjalanan ini juga membuatnya ingin mendalami kemungkinan untuk menyebarkan benih injil kepada orang Dayak di tanah Kalimantan yang masih penuh dengan misteri.

Akhirnya kesempatan itu datang pada tahun 1862. Ia memulai pelayarannya dari Batavia ke Pontianak, lalu pindah ke sebuah perahu besar yang membawanya menyusuri Sungai Kapuas dan terus masuk ke pedalaman Kalimantan Barat yang masih diselimuti oleh hutan rimba yang lebat. Sepanjang jalan ia tak menemui orang-orang Dayak asli, karena mereka telah terdesak oleh orang Melayu. Tiga hari kemudian ia singgah di Sanggau, dan lalu melanjutkan perjalanan ke Sekadau, dan lalu Sintang. Di Sintang, ia begitu kagum menyaksikan keindahan alam yang luar biasa, dimana ia melihat pertemuan Sungai Melawai dan Sungai Kapuas. Ia juga bertemu dengan empat kebudayaan : Dayak, Melayu, Tionghoa, dan Belanda. Namun ia menyadari bahwa sebagian orang Dayak sudah meninggalkan daerah ini, maka ia melanjutkan perjalanan ke Smitau, dan Putusibau untuk mengunjungi suku Punan. Total selama enam minggu ia melakukan perjalanan dan penyelidikan bagian utara Sintang lalu ia kembali ke Batavia.

Pater van der Grinten akhirnya dirobohkan oleh penyakit flu menjelang Natal 1863. Namun kondisi tubuhnya yang melemah tak menghalanginya untuk terus melayani. Ia masih memberi pelajaran kepana murid-murid perempuan di asrama Noordwijk (sekarang Jalan Juanda Jakarta), dan pada hari Natal 1863, ia masih merayakan Ekaristi di susteran Ursulin Noordwijk dan di Katedral. Menjelang tahun baru 1864, kondisi kesehatannya semakin memburuk, dan ia terpaksa melalui hari pertama tahun 1864 di tempat tidur. Salah seorang tamu yang menjenguknya bertanya dengan hati-hati : “Seandainya Tuhan memanggil pastor, apa yang nanti sebaiknya dipahat pada batu nisannya?” Pater van der Grinten menjawab dengan penuh humor, “Tulislah begini : di bawah batu ini berbaring seorang yang sebenarnya lebih suka duduk di atasnya..”

Tahun 1864 baru saja berjalan selama 23 hari, harapan baru masih mewarnai hati umat Katolik Batavia, namun mendung dan hujan air mata harus membasahi hati mereka karena Pater van der Grinten yang amat mereka kasihi telah mengakhiri perjuangannya dalam usia 52 tahun. Ribuan orang mengantarnya ke pemakaman Tanah Abang, tak hanya umat Katolik saja, tapi juga orang non Katolik. Tak hanya orang kaya dan berpengaruh, tapi orang yang miskin dan sederhana menangis atas kepergian pastor yang amat mereka cintai itu.

Di atas makamnya dibangun sebuah monumen dengan tiga relief yang indah. Relief yang terletak di sisi kiri menggambarkan seorang pastor sedang duduk di tepi ranjang rumah sakit. Relief yang terletak di sisi kanan menggambarkan seorang pastor yang sedang bercengkerama dengan anak-anak, sedangkan relief di bagian belakang menggambarkan Yesus yang sedang menggendong seekor domba di pundakNya. Pada bagian depan nisannya terdapat kutipan dari 1 Kor 9 : 22 dalam Bahasa Belanda : “Ik ben alles voor allen geworden” (Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya).

“Hidup kita itu pertama-tama bagi mereka yang ditolak oleh orang lain; orang-orang baik dan mereka yang mempunyai kawan akan ditolong oleh teman-teman itu, akan tetapi bagi mereka yang terbuang, kitalah yang menjadi harapan; jika kita memperhitungkan rasa terima kasih, dimanakah jasa dan cinta kita?” (Pater Henrikus van der Grinten)

Nisan Pater van der Grinten di Museum Taman Prasasti Tanah Abang
Nisan Pater van der Grinten di Museum Taman Prasasti Tanah Abang
Bagian depan nisan Pater van der Grinten
Bagian depan nisan Pater van der Grinten
Relief di sisi kiri : Seorang Pastor sedang duduk di sisi ranjang pasien rumah sakit.
Relief di sisi kanan : seorang pastor sedang bercengkerama dengan anak-anak.
Relief di sisi kiri : seorang pastor duduk di tepi ranjang pasien rumah sakit.
Relief di sisi kiri : seorang pastor duduk di tepi ranjang pasien rumah sakit.
Relief di bagian belakang : Yesus menggendong seekor domba di pundakNya.
Relief di bagian belakang : Yesus menggendong seekor domba di pundakNya.

*vikaris apostolik : adalah pimpinan dari wilayah Vikariat Apostolik (otoritas untuk suatu kawasan dalam Gereja Katolik Roma yang dibentuk dalam wilayah misi dan di negara yang belum memiliki keuskupan) dalam hirarki Gereja Katolik.

REFERENSI :

Kurris, R. SJ. 2013. Sejarah Seputar Katedral Jakarta cetakan 3. Jakarta : Penerbit  OBOR.

-. 2010. Perhimpunan Vincentius Jakarta. http://kdanp.com/?ForceFlash=true#/blog/panti-asuhan-perhimpunan-vincentius-jakarta.html, (diakses 9 Maret 2015).

-. Henricus van der Grinten. http://www.biografischportaal.nl/persoon/39785561, (diakses 9 Maret 2015).


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s