Nostalgia Sebuah Masa,,,

Buku Elementa Lingua Latinae liber primus dan liber secundus itu aku genggam di tanganku. Kubuka perlahan buku liber primus (jilid pertama), dan aku tersenyum sendiri memandang halaman 1. Isinya begitu familiar bagi mataku. Sebuah judul hitam bertuliskan “UCAPAN” menyambutku disana.
Kedua buku itu memang baru saja tiba di rumahku kemarin siang. Namun sesungguhnya, aku sudah punya versi lama buku itu, dalam bentuk foto copy.

Setelah membongkar tumpukan bukuku, aku akhirnya berhasil menemukan copy buku elementa milikku. Kupandang buku itu sambil tersenyum. Meskipun hanya sebuah buku, hasil bajakan pula, namun buku itu sudah menyimpan banyak kenangan.

Ceritaku dan buku itu berawal hampir dua belas tahun yang lalu. Kala itu, aku baru saja menyelesaikan masa SMA dan sudah diterima di Fakultas Bioteknologi Unika Atmajaya. Sambil mengisi masa menganggur, aku hampir setiap pagi mengikuti misa pagi di gereja Katedral. Disanalah setiap kali aku bertemu sahabatku, Tina, dan juga teman seangkatanku beda jurusan, Sara. Sara diterima di program studi Agama Katolik di Yogyakarta.

Suatu pagi yang cerah, Sara menghubungi Tina dan Romo Tri Harjono untuk misa diajari Bahasa Latin, sebagai bekal untuk kuliahnya nanti. Romo Tri adalah guru Bahasa Latin bagi para seminaris. Romo Tri dengan baik hati mau memberikan waktunya bagi kami (kebetulan itu masa liburan para siswa seminari), dan akhirnya Sara juga mengajak aku dan Tina.

Romo Tri mengajak kami bertiga untuk belajar di salah satu ruang kelas seminari (aku bahkan sudah lupa kelas mana yang kami pakai). Karena kami tak punya kertas dan alat tulis, Romo Tri mengizinkan kami untuk menyobek buku seminaris dan mencarikan tiga buah bolpoin untuk kami gunakan.

Pelajaran pertama yang diberikan adalah pelajaran pertama tentang posisi kata-kata yang tidak mempengaruhi makna sebuah kalimat. Kalimat Bahasa Latin pertama kami adalah : Amamus Agricolam (Kami mencintai petani), dan Amat Puellas (Ia mencintai gadis-gadis). Romo lalu menjelaskan tentang tasrif, yakni perubahan pada akhiran suatu kata seturut perubahan fungsi kalimat tersebut, dan menunjukkan juga tunggal dan jamaknya kata tersebut. Ada enam tasrif untuk kata benda. Sedangkan untuk kata kerja, perubahan akhirannya tergantung pada subjek yang mendahuluinya. Wuih,,, pokoknya keren, walaupun banyak banget yang harus dihafalkan deh..

Romo Tri juga memberikan kami tes di akhir sesi itu, yakni 8 soal latihan pada buku elementa (PS : Buku Elementa di Seminari juga foto copyan lhoo..). Dan kami dinyatakan “boleh juga” oleh Romo,, hehehe,,,

Saking kagumnya dengan Bahasa Latin, aku pinjam buku Elementa dari Romo Tri, dan mengcopynya sendiri dalam versi paling hemat, alias membuang halaman yang menurutku tak perlu. Aku juga menjilidnya sendiri untuk lebih menghemat.

Sayangnya, sesi belajar bersama Romo Tri tidak pernah berlanjut. Meski kami terus meminta beliau untuk membuka kelas lagi.. Aku mencoba belajar sendiri dari bajakan buku Elementa yang aku punya. Tapi karena belajar sendirian, alhasil aku nggak maju-maju. Sejak dua belas tahun yang lalu hingga hari ini, pembatas buku yang kugunakan tak pernah bergerak dari halaman 10. Apalagi sejak aku kuliah (akhirnya aku malah kuliah di Teknik Kimia Universitas Indonesia, dan nggak pernah ketemu dengan istilah Bahasa Latin), buku itu nggak pernah disapa, apalagi disentuh dan dibuka.

Tahun-tahun berlalu, keinginan untuk belajar Bahasa-Bahasa lain selalu menyala dalam diriku, mulai dari Bahasa Italia yang berakhir WO gara-gara sibuk dengan tugas kuliah perancangan pabrik, lalu Bahasa Korea yang kupelajari otodidak, dan akhirnya bosan sendiri (lumayan sih udah bisa baca huruf Hangul), dan pastinya Bahasa Inggris yang selalu diwarnai dengan bahasa tubuh dan bahasa kalbu.. Pokoknya prestasiku dalam belajar bahasa benar-benar memalukan deh..

Akhir tahun 2014, salah seorang penjual buku online di facebook memasang foto buku Elementa jilid satu dan dua. Kerinduan itu muncul kembali, tapi sayang buku itu sudah terjual. Namun seminggu yang lalu, beliau menawarkan buku itu kepadaku, karena beliau sudah restock. Dan tanpa pikir panjang, tanpa mempertimbangkan kondisi kantong yang sudah bangkrut, aku langsung membelinya.

Kemarin malam, buku itu tiba di tanganku. Aku memandang keduanya penuh rasa nostalgia. Aku bandingkan isinya dengan buku Elementa bajakanku, dan ternyata ada banyak perubahan. Tiba-tiba aku rindu dengan suatu pagi dua belas tahun yang lalu. Aku rindu dengan masa itu… Meski aku tak tahu apa tepatnya yang paling aku rindukan..

Dua belas tahun berlalu, tak hanya buku Elementa yang berubah. Aku pun sudah banyak berubah. Teman-temanku juga sudah banyak berubah. Tina sudah menjadi seorang Ibu. Sara tak pernah terdengar kabarnya, sedangkan Romo Tri sedang studi hukum gereja di Roma.

Buku Elementa kudekap di dadaku. Kupejamkan mata sambil mengingat masa itu. Ah, ternyata sebuah buku bisa membuatku menjadi begitu melankolis kronis..

Panjang umur… Tina baru saja mengirim pesan di facebook messengerku… Mungkinkah ia sedang mengingat masa itu?


2 thoughts on “Nostalgia Sebuah Masa,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s