Setia…

Aku tak pernah menyangka bahwa menghadiri Perayaan Pengikraran Profesi Sementara (Pengucapan Kaul Pertama) bisa membuatku begitu terharu sekaligus merasa kagum.

Hari ini  adalah hari yang istimewa bagi empat orang sahabatku, Tarsi, Clement, Cici, dan Patris, karena mereka berempat mengucapkan kaul pertama mereka dan resmi diutus menjadi seorang misionaris. Mereka telah menjawab “Ya” atas panggilan Tuhan bagi mereka. Mereka siap menjadi mempelai Kristus hingga akhir hayatnya.

Beruntung sekali aku mendapatkan tempat duduk di balkon kapel FMM Regina Pacis, sehingga aku bisa menyaksikan semua prosesi tanpa terhalang orang di depanku. Menyaksikan mereka mengikrarkan kaul mereka, menyaksikan mereka mendapatkan salib identitas FMM, dan akhirnya mereka diberikan selubung sebagai mempelai Kristus, membuatku begitu terharu, hingga mataku berkaca-kaca. Betul-betul sebuah peristiwa ,yang amat istimewa, karena mereka telah berhasil melalui masa pendidikan dan formasi mereka, mulai dari masa menjadi aspiran, postulan, novis, dan akhirnya hari ini mereka mengucapkan kaul untuk menepati tiga nasehat injili, yakni kemiskinan, ketaatan, dan keperawanan.

Ada satu kata yang terus menerus mengisi benakku sepanjang acara pengikraran ini yakni : SETIA. Setiap pesan yang disampaikan, setiap doa yang diucapkan, setiap harapan yang dilontarkan pasti mengandung kata SETIA.

SETIA adalah kata sederhana, mudah untuk diucapkan, tapi begitu sulit untuk dilaksanakan. SETIA pada masa sekarang ini sudah bagaikan barang langka, yang sulit ditemui. Seorang imam, biarawan, biarawati harus setia pada kaul yang telah diucapkannya, harus setia pada pilihan yang telah diambilnya, dan harus setia pada apapun konsekuensi dari pilihan tersebut. Seorang awam berkeluarga juga harus setia kepada pasangannya, kepada janji yang diucapkannya di hadapan Allah. Dan tentunya sebagai seorang beriman kita memiliki keharusan untuk setia pada iman kita.

SETIA tentu akan lebih mudah dilakukan dalam kondisi bahagia tanpa tantangan, tapi akan menjadi begitu sulit jika kondisinya berat, menderita, dan tengah menghadapi permasalahan. Lebih sulit lagi ketika kita kehilangan motivasi, merasa berjalan tanpa arah, atau merasa ditinggalkan. Atau ketika kita menemukan hal yang lebih bagus, lebih mudah, dan lebih menggiurkan daripada apa yang kita miliki dan kita jalani saat ini. Intinya banyak hal yang membuat kita menjadi meninggalkan kesetiaan kita dan akhirnya berpaling, memilih jalan lain.

Aku doakan agar empat sahabatku itu tetap setia menjadi mempelai Kristus sepanjang hidupnya. Semoga mereka tidak meninggalkan apa yang telah mereka pilih.

Hmm,, kembali ke prosesi kaul pertama sahabatku ini. Aku merasa begitu terharu, karena mereka di usia yang begitu muda, apalagi mereka selurunya putri pertama di keluarga mereka, berani untuk memilih jalan hidup yang begitu ekstrem dan tak mudah. Betapa mengharukan melihat mereka begitu cantik menggunakan selubung putih.

Tiba-tiba… Pikiranku melayang pada sahabat-sahabatku yang lain, empat orang biarawan yang saat ini sedang tugas orientasi pastoral di Seminari Menengah. Pasti mereka juga mengalami prosesi ini beberapa tahun yang lalu. Mereka mendapatkan jubah yang baru, mendapat salib identitas tarekat, mengucapkan kaul pertama, menandatangani janji mereka. Aku mambayangkan hari bahagia itu, ketika mereka akhirnya dianggap layak menjadi anggota tarekat mereka. Ketika mereka mungkin mencium jubah mereka dengan penuh kebanggan.

Lalu aku berpikir lebih jauh lagi, mereka pasti mengalami sebuah proses yang mungkin tidak mudah untuk berkata “YA” menanggapi panggilan Tuhan itu, dan juga tidak mudah untuk menjalani masa pembinaan yang begitu panjang dan berliku. Begitu pula dengan jalan yang mereka tempuh hingga mencapai tahun pastoral ini, pastilah penuh tantangan, dan banyak hal yang menantang kesetiaan mereka. Intinya, mereka bagaikan batu permata yang amat berharga. Dibentuk dengan proses yang panjang dan rumit. Dan karena mereka begitu berharga, maka mereka harus dijaga, mereka harus banyak didoakan agar tetap SETIA, dan dijauhkan dari segala mara bahaya.

Salah satu dari empat sahabatku itu, kini tengah berdiri tepat di bawahku. Ia menggunakan jubah kebanggaannya yang berwarna hitam dengan salib merah putih. Ia tampak gagah dan berwibawa. Dalam momen ini, ia memang menjadi pembimbing rohani bagi para novis FMM yang berkaul sementara. Sekaligus ia juga menyumbangkan suaranya dalam paduan suara yang amat merdu.

Aku memandang dia tepat dari atas kepalanya. Aku juga memandang Yesus yang tersalib di depan altar. Tuhan Yesus.. tolonglah agar ia tetap setia. Karena beberapa kali aku menangkap ada sedikit keraguan dalam kata-katanya. Semoga dalam hatinya hanya ada DiriMU, dan tak ada yang lain. Semoga dalam pikirannya tak ada keinginan untuk pergi menjauh dari apa yang ia jalani saat ini. Semoga Engkau membimbing langkahnya, melindunginya dari segala bahaya dan godaan, agar ia bisa mencapai cita-citanya yang mulia menjadi seorang imam.

Semoga momen ini menguatkan dan memurnikan kembali panggilannya. Memotivasinya lagi agar ia kembali semangat. Menuntunnya kembali dalam kenangan masa lalu, ketika ia untuk mengucapkan kaul pertamanya… Membawanya kembali kepada rasa bangga ketika ia pertama kali mengenakan jubahnya.. Dan mengingatkannya kembali akan janjinya untuk taat dan setia.

Proficiat, sisters…

Be strong, brothers…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s