Jendela Pertama

Jendela pertama pada sebuah rumah berjendela lima..

Sering sekali ia luput dari penglihatanku..

Karena posisinya yang paling ujung, membuatnya tertutup oleh pepohonan rambat..

Jika kau ingin melihatnya, kau harus berjuang ekstra mencari posisi yang tepat..

Jendela pertama..

Tampaknya jendela yang paling kokoh dibanding keempat jendela lainnya..

Ketika ia terbuka, tampaknya ia yang paling terang..

Seolah lampu di dalamnya tak pernah dipadamkan..

Ia yang selalu tampak paling ceria..

Dari baliknya akan selalu terdengar musik-musik gembira..

Meski juga tampak tak peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya..

Tapi…

Terkadang kayu-kayu penopangnya merasa begitu lelah menanggung beban..

Dan jendela pertama akhirnya terpaksa harus membagi beban itu,

Agar tekanan pada tulang-tulangnya tidak menghancurkannya..

Entah mengapa, ketika ia berkeluh kesah, selalu saja hujan mengiringi suaranya..

Seperti petang itu.. Dan seperti siang itu..

Seolah hujan memahami rasa sakit dalam dirinya..

Jendela pertama..

Di balik kayu-kayu dan bingkainya yang lapuk,

Sebetulnya ada batu cadas yang keras..

Di balik terang sinar lampunya,

Sebetulnya ia menyembunyikan beban dalam kegelapan..

Di balik tanaman rambat yang menutupinya,

Ia penuh dengan idealisme yang kadang tak bisa diterima..

Dan musik-musik ceria itu,

Menutupi perasaannya ketika ia merasa tak disukai dan dibenci..

Ia bertahan dari terpaan hujan, meski tak ada yang peduli ketika ia menggigil kedinginan..

Ia tetap bersabar, meski merasa panas karena disengat mentari..

Ia mencoba menikmati pemandangan yang terhampar di hadapannya, meskipun banyak hal yang menutupi pandangannya..

Ia tetap berdiri tegar, meskipun tulang kayunya digerogoti dan mulai terasa rapuh..

Ia tetap bertahan, menunggu waktunya tiba..

Jendela pertama..

Kadang bagai tak bermulut, karena ia hanya diam saja..

Kadang bagai tak bertelinga, seolah setiap kata-kata yang kuucapkan hanya berlalu saja pada celah-celahnya..

Kadang bagai tak punya hati dan tak punya perasaan..

Tapi… Sebetulnya ia tak begitu…

Ia peduli meski kadang luput dari penglihatan..

Ia mendengar, dan menyimpan semuanya dalam hatinya..

Ia berbicara, meski hanya singkat dan hemat kata-kata..

Ia mengeluh, ketika bebannya tak tertahankan lagi..

Ia tertawa, ia bercanda, meski kadang hanya untuk menyembunyikan luka hatinya..

Ia punya rasa, ia punya hati, dan ia bisa tersakiti..

Jendela pertama..

Peduli dengan cara yang unik..

Berkata-kata sederhana, namun mengena..

Memberi nasehat tanpa terbantahkan..

Berusaha selalu ada..

Mendengar tanpa banyak bicara..

Bersikap keras, tanpa bermaksud untuk melukai..

Mengeluh tanpa bermaksud membebani..

Meski kadang ia luput dari perhatianku,

Namun akhirnya aku sadar ia memperhatikanku..

Menjawab pertanyaan dan keluhanku..

Menanamkan prinsip baik dalam diriku..

Jendela pertama..

Setiap saat akupun siap berdiri di bawahnya..

Melakukan apapun agar ia tetap tegar berdiri..

Karena ini tak hanya tentang sebuah jendela…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s