Berbincang dengan Waktu..

Malam sudah beranjak larut..
Aku menatap jarum jam yang tak lelah bergerak..
Aku bertanya pada jarum detik, mengapa akhir-akhir ini ia berjalan lebih cepat daripada biasanya, hingga waktu berlalu bagai dalam kerjapan mata..
Jarum detik berkata bahwa ia tak pernah mengubah kecepatan berjalannya.. Ia tetap melangkah seperti yang telah ditugaskan padanya..
Aku mencari pembenaran pada jarum menit, benarkah ia berjalan lebih cepat daripada biasanya, karena aku merasa siang dan malam berganti begitu cepat..
Jarum menit merasa yakin, bahwa tak sekalipun ia mengubah kecepatan langkahnya..
Namun aku berkeras bahwa aku merasa hidupku berjalan begitu cepat akhir-akhir ini.
Dalam hati aku yakin mereka pasti telah mempercepat langkahnya tanpa sepengetahuanku..

Lalu aku menatap lembaran kalender..
Rasanya belum lama penanggalan itu aku buka pada halaman pertama..
Namun kini separuh putaran bumi telah hampir tercapai..
Aku bertanya pula pada penanggalan itu, mengapa ia begitu cepat mengganti hari menjadi minggu dan minggu menjadi bulan..
Kukatakan padanya, bahwa aku merasa bulan-bulan berganti bagai para pelari estafet..
Melaju kencang tanpa bisa dihentikan..

Lembaran kalender itu menjawabku dengan tegas, bahwa ia tak pernah dan tak akan pernah melanggar aturan Sang Waktu.
Setelah 24 jam, ia akan mengganti hari, dan setelah 7 hari, ia akan mengganti minggu, demikian pula dengan bulan, juga tahun..
Tak pernah sekalipun ia berani melawan hukum alam itu..

Lantas, jika kalian semua merasa tak mempercepat langkah kalian, mengapa aku merasa waktu begitu cepat berjalan?
Mengapa hari-hari dan kebersamaan ini selalu bergegas dan berlalu…
Mengapa aku merasa batas waktu yang aku miliki telah hampir tercapai, sementara aku masih begitu menikmati hari-hari ini…

Jarum penunjuk jam akhirnya bersuara, setelah ia berdiam lama seolah tak peduli..
“Saudariku, tahukah kamu, bahwa bukan hanya kamu yang mengeluhkan hal ini..
Miliaran orang di dunia memandangi kami seakan menuduh, bahwa kami mempercepat atau memperlambat langkah kami..
Kukatakan sekali lagi, menegaskan kata-kata sang jarum detik dan jarum menit, juga sang penanggalan..
Kami tak pernah mempercepat waktu, apalagi membuatnya berjalan lambat..
Kami bergerak dan melangkah dalam kecepatan konstan..
Tak pernah sekalipun melanggar aturan dan harmoni alam..
Semua itu hanya perasaanmu saja,
ketika kau merasakan hari-hari cepat berlalu..
Juga jika kau merasa waktu enggan beranjak..
Percayakah kamu, bahwa kamu akan merasa waktu lekas berlalu ketika kamu merasa bahagia, juga ketika merasa dirimu begitu sibuk..
Sedangkan ketika kau merasa sedih, sepi, dan dalam kerinduan, kamu akan merasakan bahwa kami enggan melangkah..
Itu hanya perasaanmu saja..
Berbahagialah ketika kau merasa waktu bagai berlari, karena itu menunjukkan bahwa dirimu punya sesuatu untuk menyibukkan dirimu,
bahwa dirimu tengah merasa berbahagia atas hidupmu, atau kamu sedang berada di tengah-tengah suasana dan orang-orang yang membuatmu ceria..
Saat itu, kamu akan merasa kami bagai tak terkejar, meskipun kau berlari, meskipun kau memohon agar kami berhenti berputar..

Tak jarang manusia meminta agar waktu cepat berlalu ketika mereka dalam masa-masa sulit,
Tak jarang pula mereka meminta agar waktu berhenti pada moment-moment yang membuat mereka bergembira dan terkesan..
Tapi, kami selalu berlaku adil.. Kami memberikan kecepatan langkah yang sama, baik bagi mereka yang bersedih, bagi mereka yang bahagia, bagi mereka yang sedang jatuh cinta, bagi mereka yang mengalami pedihnya rindu, bagi mereka yang kesepian, bagi mereka yang sibuk, bagi mereka yang tak melakukan apa-apa, bagi mereka yang mencintai hidupnya, dan juga bagi mereka yang membenci hidupnya..
Tak ada waktu yang terlalu singkat, juga tak ada yang terlalu lambat..
Itu semua hanya karena perasaanmu semata..
Kami hanya ingin kamu belajar sesuatu, bahwa tak ada yang abadi di dunia ini..
Segala kepedihan dan kebahagiaan, semuanya akan berlalu..
Seiring kami melangkah maju, tak akan ada yang bertahan kecuali kenangan..
Karena kami melangkah maju, maka nikmatilah setiap momen dalam hidupmu…
Kami tak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, namun kami terus melangkah dengan kecepatan konstan, tanpa pernah sedikitpun berpikir untuk berhenti atau menahan langkah kami..”

Aku menjawab sang jarum jam bahwa aku tak rela melepas hari-hari bahagia ini..
Aku tak rela berpisah dengan mereka yang aku sayangi..
Aku tak ingin tawa ini berlalu..
Dan aku tak ingin merasakan kesepian lagi..

Jarum penunjuk jam tersenyum bijak menatapku,
“Maka nikmatilah hari-hari bahagiamu..
Bersyukurlah atas perpisahan,
Karena dengan perpisahan, kau akan menghargai setiap kebersamaan..
Dengan perpisahan kau akan menyadari bahwa tak ada yang abadi..
Namun dengan perpisahan, kau memiliki kesempatan untuk bertemu orang-orang baru dalam hidupmu..
Yang mungkin memberikan warna lebih cerah bagimu..
Relakanlah perpisahan, seperti kami merelakan detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, dan tahun yang berlalu, tanpa pernah merasa kehilangan..”

Merekapun kembali pada keheningan, karena mereka semua bersiap-siap menyambut pergantian hari..
“Setiap hari adalah anugerah istimewa, saudariku… Berbahagialah karenanya…”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s