Petang di Jatinegara..

Untuk pertama kalinya aku menjejakkan kaki di stasiun ini..Jatinegara..
Mungkin kamu hanya akan menganggapnya sebagai sebuah stasiun transit biasa..
Dimana setiap harinya ratusan atau bahkan ribuan orang sekedar lewat atau singgah disini..
Namun Jatinegara bagiku memberikan rasa yang lain..

Mungkin kau pernah dengar sebuah lagu dari masa lalu yang berjudul Juwita Malam?
Lagu itulah yang terngiang di telingaku ketika aku turun dari kereta yang membawaku dari Stasiun Klender petang ini..

Suasana stasiun ini cukup ramai, karena aku singgah pada jam sibuk, ketika para pencari rejeki beranjak pulang..
Aku berdiri pada ujung peron mengamati kesibukan yang tampak wajar..
Lokomotif yang langsir, kereta-kereta yang datang dari timur dan barat..
Penumpang yang berlarian bagai mengejar kereta terakhir..

Imajinasiku bangkit membayangkan bagaimana suasana stasiun ini tujuh dasawarsa yang lalu..
Apakah begitu romantis?
Hingga seorang pujangga mengabadikannya pada lagu yang digubahnya..

Seorang pria jatuh cinta pada pandangan pertama pada seorang gadis yang dijumpainya di atas kereta api..
Entah siapa gadis itu dan hendak kemana.
Ingin hati untuk menyapa, namun tak mampu berkata-kata..
Gadis itu begitu misterius nan mempesona, hingga sang pemuja begitu yakin bahwa ia pasti berasal dari bulan..
Bagai bintang timur yang sedang mengembang, sinar matanya menari-nari menusuk jantung..
Berkali-kali matanya mencuri pandang, namun hanya sekali saja mata gadis itu balik memandang..
Bahkan dalam keremangan, ia telah merasa ditangkap oleh cahaya sepasang mata itu..
Hingga perjalanan panjang dan malam yang menjenuhkan tak lagi bisa membunuh jiwanya..

Ah, Sang Pemuja, mengapa kau tak berani mengajaknya bicara..
Jatinegara semakin mendekat..
Lampu-lampu stasiun telah terlihat..
Mungkin ia akan turun disana..
Mengapa kau masih diam dan hanya memandangnya saja..

Satu langkah pertama yang tak mudah akhirnya diambilnya..
Ia berdiri dan melangkah mendekati gadis itu..
Namun belum sempat berkata apapun, kereta telah menghentikan lajunya..
Entah apakah sang Pemuja berhasil menanyakan nama dan alamat sang Juwita..

Sang penggubah berhasil membuat banyak generasi begitu penasaran akan akhir kisah sang Pemuja dan sang Juwita Malam..
Apakah mereka akhirnya bertukar nama dan alamat?
Apakah pria itu ikut turun di Jatinegara dan mengantarkan gadis pujaannya hingga ke tujuan?
Apakah ada akhir bahagia bagi mereka berdua?
Atau apakah pemuda itu selamanya hanya bisa memiliki gadis itu dalam kenangannya?

Begitu banyak perjumpaan dan perpisahan di stasiun ini..
Ada banyak air mata kepedihan dan juga air mata sukacita telah tertumpah disini..
Stasiun..
Saksi dari begitu banyak drama antar manusia..
Stasiun ini mungkin telah menyaksikan drama yang paling romantis kronis hingga drama tragis ironis..
Semoga saja drama sang Pemuja dan sang Juwita berakhir indah..

Petang pun turun di Jatinegara..
Suara klakson kereta Argo Jati yang hendak melintas membuatku tersadar..
Kini akupun punya sepenggal kenangan disini..
Di Jatinegara..

*Menunggu kereta datang kadang tak terlalu membosankan…

image


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s