Tentang Kehilangan..

Siang ini aku menghadiri pemakaman seorang ibu yang dulu pernah tinggal di gang yang sama dengan keluarga kami. Ada hal yang unik dari upacara pemakaman ini, karena setelah seluruh ibadat selesai, suami, sahabat, serta keponakan beliau menyampaikan kesaksian tentang beliau semasa hidup.

Dari sekian banyak rangkaian kata-kata yang mereka sampaikan, ada satu hal yang begitu mengena bagiku. Ketika orang yang kita sayangi meninggal, perasaan kehilangan yang menyakitkan akan muncul ketika kita sendirian, ketika para pelayat sudah pulang, dan rumah terasa begitu kosong. Kita yang biasanya berbagi banyak hal dan banyak cerita dengan dia kini tak bisa lagi melakukannya. Dia yang biasanya selalu ada di samping kita, kini tak terlihat lagi. Segala hal yang ingin diutarakan tak bisa lagi terungkapkan. Ia mungkin bisa mendengar segala hal yang kita katakan, namun ia tak lagi bisa berkata-kata. Kenyataan itulah yang biasanya begitu membuat mereka yang ditinggalkan merasa tertekan. Semestinya kita tak menumpahkan air mata saat melepas kepergiannya, karena ia sudah bahagia berjumpa dengan Bapanya di surga. Namun kesadaran bahwa tak ada lagi dia yang akan memperhatikan kita, dia yang menyapa kita, dia yang berbagi keluh kesah dan kebahagiaannya dengan kita, membuat kita merasakan kepedihan yang berujung pada deraian air mata. Perpisahan, kehilangan, dan merelakan kepergian orang-orang yang kita kasihi memang merupakan pelajaran yang paling berat dalam kehidupan. Segala sesuatu yang ditambahi kata “terakhir” memang selalu terlihat dan terdengar menyedihkan.

Ada banyak bentuk perpisahan yang kita hadapi dalam hidup selain kematian. Perpisahan yang singkat yang hanya memisahkan kita selama beberapa jam atau beberapa hari saja adalah perpisahan yang mungkin kadarnya paling ringan. Kita masih bisa saling berkata, “Sampai jumpa lagi nanti sore ya..” , atau “Sampai bertemu lagi minggu depan..” Masih ada janji dan harapan untuk bisa bertemu dengan orang yang kita sayangi itu pada waktu yang (hampir) pasti. Rentang waktu perpisahan yang singkat itu akan berisi penantian untuk waktu perjumpaan kembali, mungkin disisipi rasa rindu, atau rasa cemas, apakah pada waktu yang ditentukan itu kita akan berjumpa dengannya? Mungkin juga ada keinginan untuk bisa mempercepat jalannya waktu. Atau mungkin karena perpisahan jenis ini sudah terlalu biasa dijalani maka tak ada perasaan apa-apa, karena dengan mengikuti perputaran waktu, kita (hampir) pasti akan berjumpa dengannya.

Ada pula perpisahan dengan rentang waktu yang cukup panjang, bisa berbulan-bulan, atau bertahun-tahun, bahkan hingga puluhan tahun. Ada yang berbatas waktu, namun ada pula yang tidak berbatas waktu. Dengan kata lain entah kapan bisa bertemu lagi. Bahkan ada kemungkinan tak bisa berjumpa lagi dalam masa hidup yang tersisa. Mungkin perpisahan itu hanya sejauh batas kota, batas negara, atau mungkin sejauh ujung dunia, namun tak memungkinkan untuk bisa berjumpa dalam waktu yang singkat. Meskipun masih ada peluang untuk berjumpa lagi, namun tak dapat dipungkiri bahwa perpisahan fisik biasanya menjauhkan hati, merenggangkan persahabatan, membuat orang-orang yang tadinya dekat menjadi asing dan canggung, mungkin berakhir dengan saling melupakan.. Memang tak semua kejadian perpisahan akan berakhir seperti ini, buktinya masih ada banyak pasangan yang bisa bertahan dalam kondisi hubungan jarak jauh. Saat ini ada banyak sarana telekomunikasi yang bisa mendekatkan yang jauh. Tapi menurutku, semua ini bukan jaminan untuk menjaga relasi yang telah terjalin. Ah, mungkin aku saja yang terlalu pesimis ya…

Perpisahan yang paling berat adalah kematian, ketika kita harus merelakan orang yang kita kasihi pergi untuk selamanya dari kehidupan kita. Berbeda dunia dan tak bisa dihubungi dengan alat komunikasi apapun. Memang sebagai orang beriman kita diajarkan bahwa suatu hari nanti kita semua akan berkumpul kembali dalam kerajaan dan keluhuran Allah. Tapi kapan? Apakah pasti akan bertemu lagi? Apakah kami akan saling mengenal bila nanti berjumpa di sana? Hampir seluruh aspek tentang kematian dan kehidupan yang akan datang tak bisa dijelaskan dengan logika, dan harus dipandang dari kaca mata iman. Sedangkan manusia begitu haus akan penjelasan logis atas segala sesuatu. Intinya dari sudut pandang manusiawi, perpisahan karena kematian begitu menyakitkan karena sepanjang sisa hidup ini tak akan ada kemungkinan lagi untuk berjumpa dengannya, untuk melihatnya, untuk berbicara dengannya, untuk menyentuh dan memeluknya. Tak ada lagi suaranya, tak ada lagi sosoknya yang bisa terlihat, tak ada lagi senyumannya, dan tak ada lagi perhatian dari dirinya. Segala rutinitas yang biasa dialui bersamanya, kini tak bisa dilakukan lagi bersamanya.. Semakin berarti seseorang itu bagi kehidupan kita, maka kita akan semakin berat untuk merelakannya pergi, dan semakin besar pula kehilangan yang harus kita rasakan.
Peristiwa siang tadi juga membuatku berpikir tentang “kehilangan”. Ternyata besarnya kadar kehilangan dipengaruhi oleh banyak hal. Ikatan relasi yang sangat dekat dan interaksi yang intensif akan membuat kadar kehilangan menjadi begitu besar. Ketika seorang ibu meninggal, mungkin tetangganya yang setiap hari berinteraksi dan sering bertukar cerita akan merasakan rasa kehilangan yang lebih besar jika dibandingkan dengan anaknya yang selama ini tinggal di negara yang berbeda. Mungkin.. ini hanya mungkin lho..

Dulu aku selalu berpikir, timbunan kenangan bisa mengobati rasa kehilangan. Hingga akhir-akhir ini, ketika aku sudah hampir mencapai titik perpisahan dengan beberapa sahabatku, aku malah berpikir sebaliknya. Segala kenangan yang tersusun, segala foto, rekaman suara, dan benda-benda pengingat lainnya malah memperparah rasa kehilangan itu. Meski aku tak berniat untuk memusnahkan semua kenangan itu, namun entah mengapa aku merasa bahwa kenangan-kenangan yang tersimpan malah membuatku menjadi tak rela untuk melepaskan mereka pergi. Segala kenangan itu malah terasa membebani kakiku untuk melangkah maju.
Iman dan kepasrahan juga bisa meringankan rasa kehilangan. Seorang yang percaya bahwa perpisahan yang ia hadapi adalah jalan yang terbaik yang diberikan Tuhan, mungkin akan lebih cepat pulih dari rasa kehilangan itu. Ketika kita bisa melihat perpisahan dari sudut pandang positif, ketika kita bisa melihat harapan bahwa suatu hari akan berjumpa lagi dengan dia yang pergi (entah di dunia ini maupun di surga), dan ketika kita bisa melihat bahwa semua orang di dunia ini pernah merasakan kehilangan, dan menyadari bahwa kita tak sendirian di dunia yang begitu luas ini, biasanya kepedihan hati itu akan bisa terobati sedikit demi sedikit.

Orang bijak berkata bahwa perpisahan membuat kita menghargai setiap pertemuan, membuat kita menghargai setiap waktu yang tersisa. Tuhan memang begitu bijak dengan membuat segala sesuatu ada batasnya. Sering kita memohon agar waktu dihentikan, sering kita bertanya mengapa tak ada keabadian. Tanpa kita sadari keabadian hanya akan membuat kita tak menghargai waktu dan orang-orang yang kita jumpai dalam hidup ini.

* Mungkin aku tak bisa melihatmu, namun semoga doaku selalu bisa memelukmu dari kejauhan..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s