Handphoneku hilang….

Jam sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam ketika saya tiba di rumah dan menyadari bahwa ada yang tak ada di saku jaket saya. Oh My God!! handphoneku hilang..
Saya lalu menggeledah semua tempat yang mungkin jadi tempat persembunyian si handphone bercover merah itu. Mulai dari tas, saku baju dan celana hingga seluruh bagian mobil. Namun hasilnya NIHIL..

Saya mencoba mengingat-ingat lagi kapan terakhir kali handphone itu dikeluarkan dari saku jaket. Tapi otak tak mau diajak kompromi, seakan buntu. Alamak… bagaimana ini?!?!
Saya kemudian mencoba menghubungi nomor telepon yang terpasang pada handphone itu. Masih tersambung, namun tak ada yang mengangkat. Entah apakah dia sudah ditemukan orang lain namun orang itu tak berhasil mengeluarkan sim cardnya, atau mungkin juga ia masih belum ditemukan siapa-siapa. Setelah beberapa kali usaha, akhirnya panggilanmu dijawab suara mbak-mbak cantik. Yup.. yang menjawab adalah suara mbak-mbak yang dengan manisnya berkata “Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan..”
Kemungkinannya hanya dua : baterenya habis (memang saya ingat seharian itu si handphone merah belum dikasih makan), atau jangan-jangan dia sudah ditemukan orang dan sim cardnya sudah berhasil dikeluarkan..

Akhirnya.. saya merasa sudah habislah harapan untuk bisa menemukan si handphone itu..
Saya pun langsung melakukan tindakan-tindakan pengamanan dengan mengubah berbagai password akun yang bisa dilog-in dari handphone itu.
Sebelum tidur, saya berdoa melalui pengantaraan Santo Antonius, siapa tahu Tuhan masih berkenan mempertemukan saya lagi dengan si merah itu. Atau jika tidak bisa berjumpa lagi, semoga Tuhan bisa membuat saya merelakannya..
Masalahnya dalam handphone itu ada banyak data dan foto penting, yang saya khawatirkan bisa disalahgunakan (eh..eh.. jangan curiga dulu.. ga ada foto dan data terlarang kok…hehe). Jangan-jangan nanti foto-foto bersama teman sepresidium dan APR kami melanglang buana di dunia maya.. Kacau kan?!?!

Malam itu, Puji Tuhan, saya bisa tidur dengan nyenyak. Saya merasa bahwa Tuhan tengah mengajarkan saya tentang bagaimana merelakan. Waktu itu saya memang sedang merasa tak bisa merelakan seorang sahabat yang akan melanjutkan studi ke luar kota. Saya merasa begitu berat melepas kepergiannya, meski saya tahu kepergiannya adalah yang terbaik bagi masa depannya..

Pagi berikutnya saya bangun dengan perasaan yang berbeda. Rasanya saya sudah yakin bahwa saya tak akan bisa berjumpa lagi dengan handphone itu, dan saya sudah merasakan kerelaan dalam hati. Saya bersiap-siap untuk pergi kunjungan bersama teman sepresidium saya. Dalam perjalanan saya memegang medali wasiat yang menggantung di leher saya. “Bunda, aku sudah rela,

semoga handphone itu bisa berguna bagi yang menemukannya. Aku

mohon bantuanmu agar jangan sampai ada data-data yang disalahgunakan..”

Kami kemudian kunjungan ke rumah seorang Oma. Di tengah kunjungan, ada panggilan masuk di handphoneku yang lain. Ternyata itu dari handphone saya yang hilang itu. Ketika saya hubungi balik (panggilannya keburu ditutup karena saya terlalu lama mengangkatnya), yang menerima adalah seorang Bapak. Ternyata beliau adalah seorang petugas security yang menemukan handphone saya. Memang semalam sebelumnya saya mampir makan di tempat beliau bertugas jaga.
Rasa kaget dan syukur bercampur jadi satu, karena tak menyangka handphone itu jatuh ke tangan orang yang begitu jujur dan berniat baik.

Malam itu saya menempuh perjalanan panjang dari Bogor ke Serpong untuk menemui Bapak itu. O iya, beliau bernama Pak Kasir, komandan regu perumahan Anggrek Loka, BSD.. Ketika bertemu beliau, tanpa syarat dan ketentuan apapun, handphone saya langsung dikembalikan ke tangan saya.

Menurut analisa beliau, handphone itu jatuh ketika saya membuka pintu mobil setelah parkir (saya teledor banget ya, sampe handphone jatuh aja nggak nyadar). Si merah baru ditemukan pk. 05.30 alias sekitar 10 jam setelah saya meninggalkan area itu. Ketika ditemukan, si merah dalam kondisi tak bernyawa karena baterenya habis, hingga Pak Kasir mengisi daya dulu untuk bisa menghubungi saya. Hebatnya meski jatuh agak di tengah jalan dan banyak kendaraan lalu lalang, namun handphone saya masih sehat walafiat, tak ada tanda-tanda terlindas atau apapun.
Dan ajaibnya lagi, meskipun handphone itu saya kunci dengan menggunakan rangkaian huruf-huruf password, namun entah bagaimana Pak Kasir (dengan bantuan anaknya) bisa menghubungi saya.
Seluruh file data, kontak, dan foto tak ada yang hilang. Benar-benar saya merasakan sebuah keajaiban dari Tuhan.

Mujizat itu sungguh nyata adanya lho.. Namun kadang mujizat itu membutuhkan perpanjangan tangan manusia untuk bisa terwujud. Dalam kasus handphone saya yang hilang, Tuhan menggunakan kepedulian dan kebaikan hati Pak Kasir dan anaknya untuk membuat mujizat itu jadi nyata.

Tuhan menyadarkan saya bahwa kepedulian dan kebaikan hati kita bisa menjadi saluran mujizat Tuhan bagi orang lain. Masalahnya, maukah kita peduli dan berbuat baik untuk bisa mewujudkan mujizat bagi orang-orang lain?

Tuhan juga mengajarkan saya tentang sebuah pelajaran bernama merelakan. Pelajaran ini menurut saya adalah pelajaran yang paling berat sepanjang hidup. Tuhan menunjukkan bahwa ketika kita kehilangan sesuatu atau seseorang, serahkanlah perasaan iti kepadaNya.. Ia sendiri yang akan menyembuhkan hati kita, hingga kehilangan itu lama-lama akan berubah menjadi keikhlasan…


4 thoughts on “Handphoneku hilang….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s