Packing…

Beberapa bulan lalu, saya diminta menemani seorang sahabat yang sedang berkemas-kemas. Dia baru saja menikah, dan akan pindah ke kota tempat suaminya bekerja. Awalnya kami kira proses berkemas ini hanya butuh beberapa jam saja, toh hanya memasuk-masukkan barang ke dalam koper, tas, dan beberapa kardus saja. Apalagi kamar sahabatku tidak terlalu besar, hanya berukuran 3m x 2m saja, jadi kami mengganggap pekerjaan ini sebagai hal yang mudah dan ringan.

Tapi ternyata kami salah besar!

Tak semua barang bisa dibawa karena mobil mereka tak akan cukup untuk menampung semuanya, bahkan mungkin butuh satu truk untuk mengangkut seluruh isi kamarnya ini. Seluruh pakaian dan  pernak-perniknya sudah masuk ke dalam sebuah koper besar. Ukuran koper itu saja sudah memenuhi bagasi mobil mereka, ditambah dengan perlengkapan rumah tangga dari ibunya. Masalah berikutnya adalah barang-barangnya yang lain, mulai dari buku-bukunya (yang jumlahnya bejibun), perlengkapan rajut, hingga ke tumpukan kertas-kertas dan printilan-printilan yang entah mengapa tak pernah dia buang. Memang sih, sahabat saya ini punya prinsip “Dibuang sayang”. Ia senang sekali berkata, “Siapa tahu nanti bisa digunakan lagi..”, atau “Siapa tahu nanti aku masih memerlukannya..”, atau “Siapa tahu nanti masih bisa diperbaiki..”, padahal jelas banget barang-barang itu sudah tak pernah dia gunakan, atau sudah usang dan tak bisa digunakan lagi.

Ternyata proses packing bisa menjadi moment yang menguras emosi dan mengaduk-aduk perasaan..

Untuk setiap barang yang masih tersisa, ia akan memandangnya, membuat penilaian apakah barang ini masih berguna atau tidak? Penting atau tidak? Lalu ia akan membuat keputusan apakah barang itu perlu dibawa? Atau ditinggal? Dibuang? Atau disumbangkan? Ada banyak barang yang diletakkan kembali karena ia tak bisa membuat keputusan hendak diapakan barang itu. Barang-barang itu bagai mampu memanggil kembali segala macam kenangan dari masa lalu. Hmm.. mungkin ini yang disebut sebagai “terjebak nostalgia” kali ya… Memang barang-barang penuh kenangan ini yang membuat proses packing menjadi begitu lama dan jalan di tempat. Benda-benda inilah yang paling sulit dilepaskan meskipun sudah usang dan tidak bisa digunakan lagi. Bahkan aku pun ikut terhanyut bernostalgia bersama sahabatku. Ketika kami menemukan banyak benda-benda dari masa lampau dan membuka album foto, kami mulai mengulang dan mengungkit setiap kisah yang pernah kami alami bersama. Tak jarang kami hanya diam, seolah dengan diam kami bisa membawa diri kami melintasi waktu dan kembali ke masa itu. Beberapa kali kami tertawa terbahak-bahak, juga menghapus air mata yang mulai mengalir dari sudut mata.

Akhirnya, yang bisa kita lakukan hanya merelakan dan melepaskan…

Sudah hampir dua belas jam sejak kami mengawali proses ini, namun lantai kamar sahabatku masih penuh dengan tumpukan barang yang belum disortir. Kami sadar bahwa kami harus bergerak cepat karena esok siang ia sudah harus berangkat. Akhirnya kami berdua berkomitmen untuk lebih berani dan lebih cepat membuat keputusan. Keterbatasan waktu ini membuat kami menjadi sedikit lebih “sadis” dan mengabaikan sisi perasaan kami. Barang-barang yang tersisa kami nilai berdasarkan manfaatnya. Jika sahabatku tidak akan memerlukannya di rumahnya yang baru atau hanya akan memakan tempat saja, maka barang itu akan ditinggal. Itupun ternyata tak semudah yang dikatakan, karena pada dasarnya kita ingin membawa sebanyak mungkin barang karena takut kekurangan sesuatu di kemudian hari, juga untuk menciptakan rasa aman dan nyaman di dalam hati. Kita begitu sulit melepaskan dan meninggalkan sesuatu.

Satu semi satu barang mulai berpindah dari lantai kamar ke dalam tas, ada pula yang dibuang ke tempat sampah, dan barang-barang yang akan diberikan kepada orang lain dimasukkan ke dalam kardus khusus. Dan akhirnya kami berdua terkapar kelelahan di lantai yang kini sudah tak dipenuhi barang lagi.

Setelah semua proses yang melelahkan itu…

Kami mendadak menjadi dua wanita yang (sok) bijaksana, yang mencoba mengambil hikmah dari proses packing yang telah kami lalui. Kami memandang proses berkemas ini seperti proses dalam perjalanan hidup kami.

Seringkali kita berupaya menyerap dan memasukkan banyak hal ke dalam pikiran dan perasaan. Kita berupaya membawa banyak hal sepanjang perjalanan kehidupan kita. Memikirkan banyak hal, mengkhawatirkan dan takut pada banyak hal, merencanakan segalanya dengan begitu detail, serta merasa semuanya begitu penting. Kita juga menyimpan dan menumpuk banyak kekecewaan, luka, amarah, dendam, harapan yang terlalu berlebihan, asumsi-asumsi tanpa dasar, perasaan kehilangan orang-orang yang kita kasihi, dan berbagai kenangan dari masa lalu. Tak semua hal itu berguna, sebagian besar malah membebani perjalanan hidup kita. Kita bagaikan petualang-petualang yang membawa terlalu banyak barang di dalam ranselnya, sehingga membuatnya terlalu lelah dan tak bisa berjalan lebih jauh lagi.

Ada banyak hal yang tak berani kita lepaskan dan tinggalkan. Kita tak mau memaafkan dan melepaskan masa lalu, kita tak mau menyerahkan kekhawatiran kita kepada Tuhan, kita tak mau berpasrah padaNya, kita tak mau  meninggalkan asumsi-asumsi dan kebiasaan-kebiasaan buruk, tak mau merelakan segala hal yang telah terjadi, tak mau merelakan kehilangan, tak mau melepaskan keterikatan, dan tak mau melepaskan hubungan yang tidak sehat. Akibatnya beban hidup kita semakin lama semakin berat dan menjauhkan kedamaian dari hati kita. Beban itu membuat kita tak bisa melangkah lebih jauh, tak mampu memandang keindahan di depan mata kita karena kita terus menundukkan badan menahan beban yang mendesak punggung kita. Kita terus terjerat dalam kenangan masa lalu, terjebak dalam masa kini dan masalah yang itu-itu saja. Bahkan setelah beban itu menjadi terlalu berat dan rasanya tak bisa tertanggungkan lagi, kita masih juga tak mau datang pada Dia yang bisa meringankan semuanya itu..

Sepanjang perjalanan hidup kita, ada banyak titik dimana kita harus menghadapi perubahan besar dan harus membuat langkah maju. Itulah saatnya untuk berkemas, meninggalkan hal-hal yang tidak diperlukan serta membuang hal yang berpotensi menjadi beban. Kita harus belajar berani untuk memutuskan dan meninggalkan. Kenangan masa lalu janganlah dijadikan hal yang menghambat langkah kita. Cukuplah membawa hal-hal positif yang berguna dan diperlukan bagi kedamaian hati kita sehingga langkah kaki kita menjadi ringan untuk melambaikan tangan pada masa lalu dan memulai fase kehidupan yang baru.

“Proses mengemas buat saya selalu menarik. Dan ini membutuhkan seni tersendiri. Kita harus memilih mana yang penting dan mana yang kurang penting. Kita belajar memutuskan. Belajar berani meninggalkan dan yakin tidak akan membutuhkannya ketika kita memutuskan, ‘Yang ini tidak perlu dibawa’. (Windy Ariestanti-Life Traveler)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s