Kisah Sebuah Buku..

Sembilan tahun yang lalu, seorang pastor muda membawaku dari sebuah toko buku yang luas, terang, dan sejuk. Ia lalu mengajakku untuk tinggal bersamanya dalam kamar yang sempit, gelap, lembap, dan panas.
Ia membuka plastik pelindungku lalu menggoreskan nama dan tanda tangannya di halaman pertamaku.
Ia mulai membalik halaman demi halaman, dan tenggelam dalam setiap kata yang aku sajikan.

Namun ia tak bisa selalu bersamaku. Aku amat sering ditinggal sendirian di dalam kamarnya yang sumpek dan berantakan itu.
Tak berapa lama aku tahu bahwa Pastor itu adalah seorang guru, dan entah kenapa semua muridnya adalah laki-laki.
Setiap ada waktu senggang, ia selalu menghabiskan waktunya untuk membacaku, meski keasyikannya membaca selalu saja terganggu oleh murid-muridnya yang sering sekali membawa berbagai masalah ke kamar sempit ini.
Kadang aku tak mengerti mengapa ia mendadak menyingkirkanku, padahal jelas sekali aku telah berhasil memikatnya dengan rangkaian kalimat yang kumiliki.
Ah.. mungkin ia sedang terlalu sibuk dengan murid-muridnya itu..
Sering juga ia membacaku hingga terlelap, lalu tanpa sengaja menjatuhkanku ke lantai hingga beberapa halamanku terlipat.
Kadang ia kehilangan pembatas bukunya, sehingga terpaksa melipat beberapa halamanku sebagai penanda.
Kadang ia terlalu bersemangat membukaku, hingga halaman-halamanku tak semulus dulu lagi.
Tak jarang pula ia memberi catatan dan memberikan garis bawah pada bagian-bagianku yang menarik perhatiannya..

Walaupun aku tak lagi merasakan dinginnya AC dan cahaya terang, tapi aku merasa bahagia disini bersamanya, karena akhirnya aku merasa diriku berguna bagi seseorang.
Aku menemukan sahabat-sahabat baruku, buku-buku yang tersusun di rak buku Pastor itu.
Aku juga merasa tenang jika Pastor itu memainkan gitarnya dan bernyanyi sendirian.
Aku juga mulai terbiasa dengan keributan yang selalu dibawa oleh para muridnya, karena setiap hari ada saja murid yang datang ke kamar ini dengan berbagai urusannya.
Aku telah terbiasa dengan kesibukan-kesibukannya yang membuatku sering ditinggalkan sendirian.

Selama beberapa minggu, aku menjadi begitu dekat dengan Pastor itu.
Ia membacaku dengan telaten dan perlahan-lahan.
Menurut kebanyakan orang aku bukan buku yang mudah untuk dipahami, tapi ia berupaya memahami apa yang kukisahkan, dan aku begitu bahagia karena ia tak menganggapku membosankan dan tak meninggalkanku begitu saja.

Hingga akhirnya ia selesai membaca seluruh halamanku dan lalu menutupku sambil tersenyum.
Apakah aku yang membuatnya tersenyum?
Ah, alangkah bangganya diriku..

Ia lalu meletakanku di rak bukunya, bersatu dengan sahabat-sahabatku yang lain.
Tak apa, asalkan aku masih ada si dekatnya, masih bisa mendengar petikan gitarnya, nasehat-nasehat, bahkan omelannya yang tegas pada murid-muridnya.
Setiap ada kesempatan, ia akan membersihkan aku dan sahabat-sahabatku yang lain dari debu yang senang melekat pada tubuh kami.

Namun, setelah hampir lima tahun bersamanya, aku melihatnya berkemas-kemas.
Kami bertanya-tanya, apakah ia akan berpindah tugas?
Lalu mendadak ada banyak orang yang silih berganti mengunjungi kamarnya.
Dan akhirnya kami tahu, ia akan melanjutkan studinya di luar negeri.
Katanya ia akan pergi selama tiga tahun. Ah, lama sekali…
Apakah kami akan berjumpa lagi suatu hari nanti?
Apakah selamanya aku akan ditinggalkan dalam kamar ini?
Apakah ia akan melupakan aku dan sahabat-sahabatku yang lain?

Hari itu pun datang, ketika ia memandangi kami begitu lama sambil tersenyum sendu, lalu tanpa berbicara sepatah katapun ia menyeret kopernya keluar, dan kami pun ditinggal di dalam kamar yang gelap itu.
Apakah kami akan melihatmu lagi, Pastor pecinta buku?

Waktu berlalu. Datang pastor lain yang mengisi kamar ini.
Silih berganti, datang dan pergi.
Tiba-tiba saja ada seseorang yang memindahkanku dan beberapa sahabatku dari kamar ini ke ruang perpustakaan.
Perpustakaan ini tak terlalu besar, tapi terang dan rapi.
Lalu tak lama kemudian seorang murid membawaku keluar dari perpustakaan.
Ia membawaku ke tempat tidurnya, namun ternyata ia tak sanggup membacaku hingga habis.
Aku berpindah tangan lagi ke murid yang lain, begitu seterusnya, hingga aku tak bisa mengingat lagi siapa saja yang pernah menyentuh dan membacaku.
Yang aku ingat, mereka tak pernah bisa membacaku hingga usai.
Dan tak ada yang menutupku sambil tersenyum seperti sang Pastor pecinta buku.

Akupun diabaikan.
Aku tak tahu aku berada dimana, tapi yang pasti aku tak lagi berada di perpustakaan.
Aku merasa tak nyaman karena debu semakin tebal melekat di kulitku.
Ingin sekali aku meminta tolong agar seseorang dapat membersihkan tubuhku.
Tapi tak ada seorangpun yang peduli padaku.
Aku kesepian bagai tak terlihat lagi.
Aku menanti.. Begitu lama.. Mengapa Pastor itu tak kunjung kembali?
Aku harap saat ia pulang nanti, ia akan mengajakku kembali tinggal di rak buku dalam kamarnya..

Penantianku seolah tanpa akhir dan tanpa kepastian.
Hingga beberapa hari yang lalu aku ditemukan oleh seorang murid.
Betapa bahagianya diriku..
Namun ternyata aku tak dikembalikan ke rak buku Pastor itu, dan juga tak dikembalikan ke dalam perpustakaan.
Aku ditumpuk bersama sahabat-sahabatku yang lain, lalu kami diikat dengan seutas tali plastik.
Rasanya begitu menyakitkan, meskipun ikatan itu tak terlalu kuat menahan kami.
Kami lalu dimasukkan ke dalam karung, dan diletakkan di atas lantai yang dingin.
Aku memandang sekelilingku. Ada banyak sahabatku yang bernasib sama denganku.
Ada lima karung besar terkumpul di pojok dekat toilet, dan banyak pula buku yang tergeletak begitu saja di atas lantai.

Hatiku begitu pedih..
Aku merasa takut..
Aku mendengar mereka berkata-kata,”Buku bekas”, “Tukang loak”, “Dijual kiloan”, “Dibuang”, “Dipisahkan”,
Ah, apa yang akan terjadi padaku dan sahabat-sahabatku?
Aku tak mau berakhir di tempat sampah.
Aku tak mau menyaksikan halaman-halamanku dipisahkan satu sama lain, dan berakhir hanya sebagai kertas pembungkus.
Aku tak mau berakhir di pinggir jalan, menghadapi debu, hujan, dan terik matahari.
Aku tak mau menyaksikan kertas-kertasku disobek-sobek lalu kami dijual sebagai kertas kiloan.
Aku tak rela..
Mengapa Pastor itu tak datang untuk menyelamatkan kami?
Beberapa sahabatku mulai berteriak.
Percuma saja, tak ada yang bisa mendengar dan merasakan ketakutan kami.

Pagi itu, seorang pegawai duduk di hadapan kami.
Ia merapikan kami, tapi bukan untuk menyelamatkan kami.
Buku-buku yang tergeletak di lantai ia masukkan ke dalam sebuah karung yang baru.
Ada beberapa buku yang ia pisahkan, mungkin buku-buku itu masih dianggap bisa terpakai.
Apa yang akan terjadi padaku?
Apakah aku akan termasuk buku yang ia selamatkan?
Atau apakah aku akan menjadi yang tersingkirkan?

Tiba-tiba terdengar suara langkah seorang perempuan.
Ia menyapa pegawai di depanku ini dengan ramah.
Ketika melihat kami, ia terperangah dan bertanya, “Mau dikemanakan buku-buku ini?”
Pegawai itu menjawab bahwa kami akan dijual kiloan ke tukang loak.
Gadis itu hanya diam mengamati kami semua dengan tatapan takjub bercampur sedih.
Aku tahu sejak pertama kali ia berdiri disini, ia sudah memperhatikan diriku.
Ada untungnya juga aku diciptakan berwarna kuning terang, sehingga aku mudah menjadi pusat perhatian.
Aku merasa matanya sejak tadi tak lepas dariku.
Ada sedikit percikan harapan bagiku ketika ia berkata, “Bolehkah aku meminta beberapa buku?”
Pegawai itu mengizinkan gadis itu memilih kami.
Tahukah kalian apa yang selanjutnya terjadi?
Gadis itu segera mengulurkan tangannya untuk melepaskanku dari ikatan tali plastik.
Akulah yang pertama dipilihnya!
Lalu ia memilih beberapa buku lain, bahkan pegawai itu memberikan beberapa buku lain ke tangannya.
Meskipun gadis itu tak memilih buku-buku itu, namun ia menerima mereka dengan tatapan penuh suka cita.
Aku bisa merasakan bahwa ia seorang pecinta buku seperti Pastor kami, maka aku berharap ia bisa menyelamatkan sebanyak mungkin dari kami semua.
Sayang sekali, tangannya hanya dua, tasnya hanya dua. Meski ia ingin menyelamatkan kami semua, tapi ia tak bisa, apalagi ketika beberapa orang murid datang membantu tugas sang pegawai. Gadis itu segera undur diri dari tempat penampungan kami.
Ada delapan buku yang berhasil ia selamatkan. Mulai dari buku yang sangat tua, hingga sebuah novel yang sebetulnya kurang ia sukai isinya.

Ia memeluk kami dengan hangat.
Ia memperkenalkan kami sebagai “harta karun” pada teman-temannya.
Meski kami masih tak tahu apa yang akan terjadi, namun kami merasa aman di dalam genggaman tangan gadis itu.
Kami merasa bahwa ia akan menyayangi kami seperti Pastor kami.

Tangan gadis itu begitu lembut menyentuh diriku.
Ia terhenyak ketika melihat halaman pertamaku.
“Ah.. buku ini ternyata milik Pater John..”
Lho.. ternyata gadis ini kenal dengan Pastor kami?
Aku masih penasaran, namun gadis itu tak berkata apa-apa lagi.
Ia malah mulai menyampulku dengan sampul plastik.
Aku merasa diperlakukan dengan begitu istimewa, apalagi ketika ia dengan telaten membersihkan diriku dan meluruskan halaman-halamanku yang terlipat.
Setelah sekian lama terabaikan dan dipenuhi debu, ia membuatku sekali lagi merasa dicintai.
Ia memandangku sambil tersenyum, dan tatapan matanya seolah berkata bahwa aku amat berharga.

Malam ini..
Gadis itu telah membaca beberapa halamanku.
Aku tahu ia mengalami kesulitan ketika mencerna kalimat-kalimatku.
Tapi aku merasa bahwa ia tak akan menyerah meski harus beberapa kali kembali ke halaman sebelumnya dan membaca ulang agar ia bisa memahami maksudku.
Ia tersenyum lagi, entah apa yang tersembunyi di benaknya..
Apakah aku yang membuatnya tersenyum?

Akhirnya aku tahu. Aku berada di tangan yang tepat.
Gadis pecinta buku ini adalah salah satu sahabat Pastor John di masa lalu.
Entah ia akan mengembalikanku ke Pastor John atau tidak, yang pasti aku tahu aku tak akan bermuara di tempat sampah atau dijadikan kertas pembungkus.
Aku akan terus menyemangati gadis ini, agar ia tak putus asa untuk berupaya memahamiku hingga akhir kisahku..

Malam ini, ia membacaku hingga terlelap, dan tak sengaja menjatuhkanku ke lantai hingga membuat sampul dan beberapa halamanku terlipat..

Namun aku tetap tersenyum menunggu mentari terbit dan tak sabar menantikan kedua tangan lembut itu meraihku lagi..

image


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s