Phnom Penh dan Sebuah Hati yang Baru

Satu tahun tanpa travelling..

Satu tahun menahan diri untuk tak membuka website airline apapun..

Satu tahun hanya ingin menghabiskan waktu bersamanya..

Memanfaatkan setiap waktu, setiap kesempatan, hanya untuk di dekatnya..

Bulan Mei hampir selalu diisi oleh hari-hari yang cerah dan penuh dengan cahaya mentari. Namun bagiku, bulan Mei membawa suatu kegelisahan. Perpisahan semakin mendekat, meski hati tak ingin beranjak. Namun ketika aku berupaya mencari cara untuk menyembuhkan hati dan menghadapi kenyataan, DIA ternyata sudah mengatur setiap kejadian, bagai kebetulan, dan mengantarkanku pada begitu banyak pemahaman baru dalam hidupku.

Suatu pagi yang biasa di awal bulan Mei 2015. Tak seperti biasa, aku tak mampu memejamkan mata dalam perjalanan menuju ke tempat kerja. Padahal aku terkenal sebagai “Si Pelor”, nempel dikit langsung molor. Aku malah sibuk melamun sambil menatap ke jalan. Sebuah notifikasi dari wordpress mengusik lamunanku. Aku selalu bersemangat menyambut setiap notifikasi yang datang dari wordpress, maklum penulis amatir selalu bahagia dengan perhatian sekecil apapun yang diberikan orang pada tulisannya.

Notifikasi itu memberitahukan bahwa ada sebuah komentar  masuk pada tulisanku tentang Tuol Sleng dan Choeung Ek, dua spot di Phnom Penh yang terkait dengan sejarah gelap Kamboja dalam cengkeraman Khmer Merah (Khmer Rouge). Setiap komentar dalam tulisan ini selalu membuatku tak sabar untuk mencernanya, karena meskipun hanya sedikit namun komentar yang masuk selalu bermutu, mulai dari sharing rasa trauma yang dihadirkan oleh kedua tempat ini hingga ungkapan refleksi diri tentang kebiadaban yang pernah terjadi. Komentar yang baru hadir itu pun ternyata mengungkapkan keengganan sang komentator untuk kembali lagi ke tempat itu.

Aku tak pernah menyangka, bahwa sosok pemberi komentar itu juga meninggalkan komentarnya di tulisanku yang lain tentang Kamboja, sebuah tulisan yang sebetulnya sangat cengeng kronis tentang kerinduanku pada kota Phnom Penh. Disitulah aku sadar, aku telah menemukan seorang sahabat dan saudara, seseorang yang memahami kegilaanku tentang Kamboja, seseorang yang sama-sama punya obsesi pada negeri ini, yang menurut orang lain adalah negeri yang tidak istimewa. Seseorang yang sama-sama melihat Kamboja sebagai sebuah negara yang luar biasa. OK, mulai hari ini aku tak sendirian dicap “GILA KAMBOJA”.

Percakapan kami berlanjut melalui wordpress, email, dan kemudian whatsapp. Aku sangat surprise bisa menemukan seseorang dengan begitu banyak kesamaan denganku, diluar kegilaan dan kecintaan kami pada Kamboja. Awalnya aku menganggap pertemuan kami hanyalah sebuah kebetulan, sebuah ketidaksengajaan. Namun setelah kami berbagi lebih banyak cerita, akhirnya aku paham dengan kalimat yang tergores di dinding blognya “Semua kejadian itu bukanlah kebetulan.”

Tak perlu waktu lama hingga kami memutuskan untuk merencanakan perjalanan ke Kamboja. Entah mengapa, aku langsung bersemangat dan niat hunting tiket (akhirnya berani buka webnya Air Asia setelah menghindarinya selama berbulan-bulan). Tahun ini aku sedang dalam proyek menghemat cuti (dan uang), tapi tanpa banyak perhitungan, aku langsung mengalokasikan libur HUT RI untuk bisa berangkat ke Kamboja.

Pada saat itu, sejujurnya kecintaanku pada Kamboja sedang dalam titik terendah, karena hati sedang galau memikirkan masalah yang lain (baca : gagal move on). Sempat ada setitik rasa ragu setelah aku mengiyakan ajakan itu, karena aku selalu berpikir untuk menjelajah negara yang baru (jika nanti penyakit gagal move on sudah berhasil disembuhkan). Tapi sahabat baruku itu berkata, mungkin perjalanan ini bisa menjadi suatu moment untuk move on. So, beberapa hari kemudian tiket PP Jakarta-Kuala Lumpur-Phnom Penh sudah dibooking.

Nekad? Emang!! Hehehe…

Mahal? Lumayanlah… hahaha

Juni berlalu (meskipun aku melaluinya dengan terseok-seok). Juli pun terlewati. Agustus datang dan ternyata aku tak sabar menantikan tanggal 14 Agustus itu. Dua minggu sebelum keberangkatan, akhirnya kami kopi darat untuk pertama kalinya. Awalnya kami berniat membuat itinerary, tapi akhirnya kami membuat sebuah keputusan untuk jalan-jalan santai tak mengejar target. Intinya menikmati setiap moment “pulang” ke Kamboja. Akhirnya aku tahu bahwa aku sedang dalam proses menuju kesembuhan hati, ketika aku mulai berpikir tentang banyak hal menggembirakan yang akan terjadi dalam perjalanan ini.

Karena belum ada flight langsung Jakarta-Phnom Penh (semoga akan ada maskapai yang terketuk hatinya untuk membuka flight langsung rute ini), kami pun harus transit di Kuala Lumpur. Saking penasaran, kami berniat mencoba menginap di capsule hotel KLIA2 yang kamarnya terbuat dari kontainer bekas. Haha, kalau punya phobia terhadap ruang tertutup jangan coba-coba deh nginep disini. Ukuran “ruangannya” hanya sekitar 2 m x 1.5 m. Lalu, keesokan paginya kami akan menggunakan flight pertama ke Phnom Penh, dan menghabiskan dua setengah hari berikutnya di Phnom Penh (termasuk berniat ikutan upacara 17 Agustus di KBRI Phnom Penh), lalu pulang dengan flight terakhir dari Kuala Lumpur ke Jakarta. Target utama kami adalah puas-puasan di Phnom Penh, khususnya di Royal Palace. Kami juga merencanakan untuk mengunjungi Sambor Prei Kuk yang lokasinya di Kampong Thom, meskipun masih dipenuhi segala macam keraguan, karena jaraknya yang amat jauh dari Phnom Penh, waktu tempuhnya yang lama, dan transportasinya yang ribet. Intinya, kami mau “pulang” dengan sukacita. Apapun yang akan terjadi dan harus kami hadapi, pokoknya kami mau senang-senang….

Beberapa jam sebelum take off, kami sama-sama harus menerjang Jakarta yang macetnya gilee, bahkan jalanan bandara juga macet. But we’re not lucky, we’re blessed. Kami tak terlambat. Aku sendiri naik DAMRI dari Bogor dengan waktu spare 4.5 jam. Gara-gara macet, aku sampai di gerbang Soetta cukup mepet dengan waktu boarding. Untungnya ngga ada penumpang ke terminal 1 (yang entah kenapa malam itu jalanan menuju terminal 1 padat merayap nyaris berhenti), jadilah DAMRI meluncur ke terminal 3 dulu. Fyuuuh,,, thanks God, kami berdua tiba hampir bersamaan bahkan sempat makan malam dulu.

Hmm… beberapa jam sebelum take off, si oknum yang sempat bikin aku gagal move on tiba-tiba mengirim pesan di facebook messenger. Sejak dia pergi, tak ada kabar setitik pun yang dikirimnya. Email dan pesan yang kukirim tak pernah dijawab. Tak tahu ada angin apa sampai petang itu dia tiba-tiba kirim pesan di facebook messenger. Meski hanya obrolan yang sangat standar, namun cukup untuk membuatku tersenyum. Dan aku tahu aku sudah berhasil move on ketika aku tak merasa sedih saat ia mengakhiri percakapan kami. Aku bahkan merasa bahagia karena ia masih tetap bertahan dalam jalan hidup yang telah dipilihnya. Tak perlulah ia tahu bahwa aku akan menempuh perjalanan ribuan kilometer hanya untuk bisa beranjak dari dia dan semua kenangan tentang dia.

Pesawat kami delay sekitar setengah jam. Jadi kami tiba di KLIA2 setelah hari berganti. Udah gitu KLIA2 itu guede banget, so, kami sampai di Hotel Capsule menjelang jam 1 dini hari. Setelah mandi dan beres-beres tetek bengek, kami baru siap-siap tidur sekitar jam 2. Padahal kami harus check in lagi jam 6 pagi. O iya, jangan lupakan ukuran KLIA2 yang segede gaban.. Alias untuk jalan ke gate aja kami butuh waktu sekitar 30 menit. Malam itu entah kenapa aku kehilangan kemampuanku sebagai Si Pelor..

Saat kami menunggu boarding di KLIA2, kami bertemu seorang Ibu Khmer yang membawa anaknya yang ndut dan gemesin banget.. Saking nggemesinnya, pramugari-pramugari aja sampe mau gantian gendongin (meskipun akhirnya mereka kelihatan pegel..hehe). Meskipun kami tak bisa berkomunikasi lisan karena kendala bahasa, namun terbukti bahwa senyum adalah bahasa universal. Sebuah senyum mampu mendobrak perbedaan bahasa dan budaya.

Saking kurang tidur dan mulai puyeng, aku menghabiskan separuh perjalanan di pesawat dengan tidur, bahkan sampe ngga inget lagi bahwa kita harus ngisi immigration card untuk bisa masuk Kamboja. Penumpang di sebelahku adalah seorang pria Malaysia yang beberapa kali (terasa) nyikut-nyikut tanganku. Aku sempat kesel, ngapain dia nyikut tanganku, dan akhirnya aku sikut balik dengan telak. Eh, gara-gara nyikut balik dengan nafsu itulah, aku malah kagak bisa tidur lagi. Pas membuka mata (dengan jaim), ternyata semua lagi pada sibuk ngisi immigration card, dan aku panik harus minta immigration card kemana, apalagi semua pramugari ada di luar pandangan mata. Tapi ternyata sodara-sodara, immigration card sudah terselip rapi di kantong depan kursi. Wuih,,, kayaknya si Mas Malaysia ini deh yang narohin disini.. *Speechless n ngga berani ngomong apa-apa (termasuk bilang terima kasih) sama dia. Maaf ya, Mas….

Saat aku masuk bandara Pochentong (Phnom Penh International Airport) melalui belalai gajah, aku mulai mencium aroma khas Kamboja, aroma masakan berkaldu dengan tambahan aroma daun ketumbar. Langsung terasa pulang ke rumah.. Tapi kami masih butuh perjalanan ke pusat kota, karena lokasi bandara masih sekitar 11 km dari hotel kami (kurang lebih 30 menit pakai tuk-tuk), ditambah lagi kami masih harus berurusan dengan tukang sim card QB yang lamaaaa banget nyetting internet di handphone kami.

Tugas selanjutnya adalah tawar menawar tuk-tuk bandara yang bikin bingung.  Mereka buka harga mulai dari 20 US$, padahal seharusnya hanya seharga 7 US$ aja. Dah gitu kami sempat terancam digabung dengan penumpang lain (yang bawa barang-barang buanyak banget). Setelah gombal-gombal dikit (sama seorang sopir tuk-tuk asal Kampong Thom sambil bilang kami mau ke Sambor Prei Kuk), akhirnya kami bisa dapat private tuk-tuk seharga 7 US$.

Phnom Penh International Airport
Phnom Penh International Airport

Kami sempat mengalami macetnya kota Phnom Penh, walaupun ngga separah macetnya Jakarta sih. Terus kami beruntung banget bisa dapet early check in di hotel Frangipani padahal kami kepagian. Awalnya kami pikir paling hanya bisa nitip tas aja, eh tapi kami malah udah bisa masuk kamar, ganti tas, dan leha-leha bentar. Bahkan ngga usah pake sakit punggung, tas kami diantar sampai kamar, plus dikasih welcome drink n handuk basah pas nunggu check in.. pssst… kenapa ya handuk basahnya beraroma Rhemason? Untung panasnya kagak kayak Rhemason.

Sebenernya kami agak sedih siy, soalnya pas buka jendela kamar, pemandangannya adalah rumah tetangga sebelah, plus pemandangan dapurnya.. hehehe.. Tapi tak apalah, karena kamarnya pewe, dan yang terpenting deket sama Royal Palace. Nginep disini rasanya bagaikan naik pangkat dari backpacker ke pelancong.. hehehe.. selain kamarnya yang mewah banget plus dapet breakfast setiap pagi, kita juga bisa menikmati pemandangan dari sky bar di lantai 8. Bahagia banget bisa lihat pemandangan Sungai Mekong dan Royal Palace dari atas.

_DSCN5042

Setelah selonjoran bentar di kamar kami memulai penjelajahan kami di kota Phnom Penh. Sepanjang hari kami menghabiskan waktu di Royal Palace dan Silver Pagoda, bahkan menemukan spot-spot baru di dalamnya. Karena kedua tempat itu tutup mulai dari jam 11 sampai jam 2 siang, alhasil kami digebah-gebah sama petugasnya yang jutek abis. O iya, tiketnya ngga bisa dipakai untuk sepanjang hari, jadi siangnya, kami harus beli tiket lagi seharga 6.5 US$ untuk bisa masuk lagi.

Preah Tineang Tevea Vinichay
Preah Tineang Tevea Vinichay

Sambil menunggu waktu istirahat Royal Palace, kami makan enak di Warung Bali dengan Mass Firdaos dan Pak Kasmin yang sangat ramah dan hangat. Pokoknya bikin betah dan berasa di rumah deh. Kami disajikan amok, sejenis sup ikan khas Kamboja. Aku yang biasanya malas berurusan dengan ikan (apalagi dalam bentuk masakan berkuah), ternyata bisa makan dengan rakusnya. Enak banget lho. Nasi sementung aja bisa dihabiskan dalam waktu singkat. Disini pula kami bertemu dan sharing dengan warga Indonesia di Phnom Penh. Karena suasananya yang serasa di rumah dan makanannya yang maknyus, kami jadi gagal move on dari Warung Bali. Sejauh-jauhnya kaki melangkah, setiap waktu makan kami pasti ke Warung Bali.

Mas Firdaos bilang orang yang sudah pernah minum air Mekong pasti bakalan “dipanggil” balik dan balik lagi ke Kamboja.. Hahaha… ini terbukti benar.  Buat sahabatku, ini adalah kali ke-8 ia mengunjungi Kamboja.  Dan buatku sendiri? Inilah perjalanan keduaku, dan semoga ada perjalanan ke-3, 4, 5, dan seterusnya…

Kota Phnom Penh di bulan Agustus ternyata panas banget kayak oven. Padahal harusnya Kamboja sudah memasuki musim monsoon, alias musim hujan. Memang sih katanya, dua minggu sebelum kami tiba, Phnom Penh dilanda hujan cukup deras yang menyebabkan Warung Bali kebanjiran hingga sebetis. Setiap menjelang petang kami memang melihat awan mulai menebal. Tapi selama dua hari kami disana, kami hanya disapa oleh gerimis singkat, dan hujan deras yang tak kalah singkatnya. Sisanya : panase poool…. Panasnya itu selain menyengat (kayak ada dua matahari), juga bikin keringat mengucur deras. Alhasil kami harus mengatur ritme langkah, tanpa jaim membuka payung, banyak duduk (walaupun di sembarang tempat), banyak minum dan rajin hunting tempat berteduh. Soalnya panasnya bikin lemes deh. O iya, kami beruntung banget bisa menyaksikan arah aliran Sungai Tonle dan Mekong yang sudah berganti. Normalnya, alirannya adalah dari Utara ke Selatan, alias dari Danau Tonle Sap ke Mekong, tapi pada musim hujan, curah hujan yang tinggi akan membuat ketinggian air Mekong menjadi lebih tinggi daripada Tonle Sap, sehingga aliran air akan berbalik dari Mekong ke Tonle Sap. Ajaib kan?

Seharian di Royal Palace, kami tak jemu menanti-nanti kapan bendera di depan kantor Raja dikibarkan. Katanya kalau Raja sedang ada di istana, bendera kerajaan akan berkibar. Sebaliknya jika Raja tak ada, maka tiang bendera akan dibiarkan kosong melompong. Hari berikutnya pun kami masih menanti bendera berkibar, tapi hingga pulang hasilnya tetap nihil. Setelah pulang, kami baru tahu bahwa Raja sedang medical check up di China, dan berangkat satu hari sebelum kami tiba di Phnom Penh. Huaaaa…. nangis sambil jambakin rambut..

Miniatur Angkor Wat di depan Silver Pagoda
Miniatur Angkor Wat di depan Silver Pagoda

Tapi… bisa masuk ke Royal Palace itu bagaikan anugerah. Ketika aku ke Phnom Penh pada Januari 2013, Royal Palace ditutup karena jenazah King Father Sihanouk sedang disemayamkan disana. Sekarang di Silver Pagoda kami bahkan bisa melihat stupa tempat penyimpanan abu King Sihanouk. Aku bahkan menemukan spot-spot baru disini. Beneran tak ingin beranjak keluar dari sini, apalagi enak banget duduk di selasar hall yang mengelilingi Silver Pagoda sambil menikmati angin sepoi-sepoi. Sayangnya petugasnya sangat on time dan berwajah sangar.

Stupa of King Father and Norodom Kantha Bopha
Stupa of King Father and Norodom Kantha Bopha

Kami akhirnya menggagalkan rencana ke Sambor Prei Kuk, karena rasanya sayang juga menghabiskan waktu yang cukup lama untuk perjalanan kesana untuk mengexplore satu objek saja. Sebagai gantinya kami mau menikmati hari Minggu di kota Phnom Penh saja.

Hari kedua kami lewatkan untuk mengexplore Phnom Penh. Kami ke Wat Ounalom dan dapat amazing surprise disana.. Kami lalu menghabiskan satu jam naik tuk-tuk keliling Phnom Penh (hmm,, acara negonya sangat alot, memancing emosi, dan sempet bikin pengen kabur. Akhirnya sih deal 10 US$ berdua untuk satu jam. Dia pake bilang please please segala, soalnya bulan-bulan ini turis lagi sepi..).

Train Station (Foto hasil colongan dari atas tuk-tuk)
Train Station (Foto hasil colongan dari atas tuk-tuk)

Perjalanan satu jam itu dimulai dari Wat Ounalom, Post Office (yang di sekitarnya masih dipenuhi bangunan bernuansa Perancis), lewatin Wat Phnom, Raffles Hotel, Former Buddha Stupa (yang katanya berisi relikwi Buddha), Train Station (eh.. nggak boleh motret di depan stasiun ini, jadi kalau mau nekad motret harus ngumpet-ngumpet n pasang muka polos), Gedung barunya council of ministers (alias gedung kabinet), Sorya Shopping Center, China Town, Wat Koh, dan akhirnya berakhir di National Museum. Pas banget 1 jam (kok bisa yaaaa…..). Walaupun singkat, tapi aku sih cukup puas, karena si driver tuk-tuk bukan hanya mengantar kita keliling saja, tapi juga banyak cerita tentang sejarah dan tentang Kamboja saat ini, bahkan menurutku si driver ini termasuk anak muda golongan oposisi yang cukup keras mengkritik pemerintah Kamboja saat ini, dengan segala keprihatinan dan idealismenya.

A new Council of Ministers Office
A new Council of Ministers Office

Di Wat Koh, kami diperkenalkan dengan spesies bunga khas Kamboja yang namanya Phka Raing Phnom (Phka artinya bunga, Raing artinya kekeringan, dan Phnom artinya bukit. Jadi apa artinya phka raing phnom? Tebak ndiri aja ya). Bunga ini juga ada di halaman Silver Pagoda, dekat pintu keluar yang menuju ke arah Taman Wat Botum.  Wanginya khas, agak menusuk seperti cempaka. Warnanya merah dengan bentuk mirip bunga jambu air cuma ukurannya besar.

Pkha Raing Phnom
Phka Raing Phnom

Setelah makan siang kami mengunjungi Psar Russei. Mantablah merasakan sauna di Pasar ini. Hayo, mau cari apa? Kaos, celana, rok, baju anak-anak, kain, pashmina, dompet, gantungan kunci, dan segala perintilan aneh, termasuk bendera segala ukuran dan bendera bordir juga ada. Suasananya? Rame dan panas. Cocok banget buat yang lagi program diet, soalnya disini udah serasa sauna. Pasarnya lumayan bersih, dan pedagangnya bisa diajak nego. Di depan pasar kami beli kue mirip crepes. Dengan 6000 Riel dapat 10 gulung. Manisnya bikin ngilu. Akhirnya karena udah ngga tahan, kami hanya makan 4 potong, dan sisanya kami kasih ke sopir tuk-tuk. Kami lalu lanjut hunting foto di Independence Monument dan Norodom Sihanouk Memorial.

Independence Monument and Norodom Sihanouk Memorial
Independence Monument and Norodom Sihanouk Memorial

Sebelum kami berangkat ke Kamboja, kami sudah berniat membawa alat-alat tulis untuk anak-anak yang biasanya suka minta 1 US$ di sekitaran Sambor Prei Kuk. Tapi karena ngga jadi kesana, alat tulis itu kami bagikan pada anak-anak yang kami temui di Wat Koh, Psar Russei, depan Independence Monument, Taman Wat Botum, dan depan Royal Palace. Gara-gara ini, kami jadi menemukan anak-anak Kamboja mulai dari yang paling polos sampe yang paling ngeselin bahkan minta dipentung. Keluar deh ekspresi nenek sihir gara-gara ketemu tiga anak yang ngeselin banget di halaman istana.

O iya, dua pagi di Phnom Penh aku selalu sibuk mengejar sunrise. Meskipun langit di atas Mekong berawan, tapi tetep aja aku bisa menyaksikan pemandangan pagi yang menawan. Pada pagi pertama aku terpaksa lari dari depan sungai ke hotel dan balik lagi ke depan sungai, gara-gara batere kamera ketinggalan di kamar hotel, padahal matahari udah berpose cantik di atas Mekong. Sambil menunggu mentari terbit, aku juga sibuk nyari tangkai-tangkai bunga teratai yang sebetulnya masih bagus tapi entah kenapa dibuang di bak sampah depan Dorngkeur Shrine. Gerombolan burung merpati membuat suasana pagi menjadi semakin lengkap. Ada juga banyak lansia yang senam pagi di tepi Mekong ini, malahan aku sempat mendengar satu lagu dangdut Indonesia yang diputar dengan cetar membahana.. Ternyata ini hasil karyanya Mas Firdaos Warung Bali. Hebat yah….

Good Morning, Phnom Penh
Good Morning, Phnom Penh

Sayangnya… tepi sungai Mekong ini berbau pesing. Bahkan hidungku yang cukup dablek aja sampe tak bisa menahannya. Pusing deh membidik sunrise sambil diganggu aroma yang menusuk ini. Haduh, kok banyak orang yang masih tahan yah duduk di tepi Mekong serasa nggak ada bau apa-apa. Menjelang siang sih aku melihat ada petugas yang menyiram gazebo dan area pedestrian di tepi Mekong ini. Bau pesing ini juga merambah hingga ke taman dan trotoar Royal Palace. Haduh… jokri sekaleee… Parah bener ya, pipis sembarangan di depan istana Raja, bahkan di depan kuil… haduh,,,

Victory Gate
Victory Gate

Di pagi kedua, aku datang ke tepi Mekong ketika Dorngkeur Shrine dibuka. Aku tak pernah menyangka bangunan kecil di samping gazebo itu adalah kuil. Di dalamnya ada patung bertangan enam. Karena penasaran, aku browsing di google dan menemukan sejarah kuil ini. Kuil ini dikenal dengan nama Preah Ang Dorng Keur atau Preah Ang Dorng Tung. Biasanya orang yang ingin membuktikan suatu kebenaran akan berani ditantang untuk mengucapkan sumpah di kuil ini (meskipun Buddha tidak membenarkan sumpah semacam ini). Konon sosok patung itu adalah Preah Ang Dorng Keur, yakni master yang mengatur roh-roh di seluruh Kamboja. Pagi itu, saat aku mengintip ke dalam kuil, aku langsung ditawari bunga teratai dan beberapa tangkai dupa. Tapi karena aku tak mengerti cara mereka berdoa, akupun menolaknya. Alhasil petugasnya mandangin setiap gerak-gerik yang kubuat disana… setelah lepas dari pengawasan petugas kuil, aku dikejar-kejar seorang ibu yang jual makanan burung dan diajak ngomong pakai bahasa Mandarin.. Haduh..mendadak jadi pengen ngilang ditelan bumi…

Preah Ang Dorng Keur
Preah Ang Dorng Keur

Setiap sore kami habiskan dengan duduk di trotoar depan Royal Palace. Memandangi langit dan awan yang begitu semangat mengubah bentuknya. Ngobrol dengan gerombolan Biksu di depan istana, walaupun sama-sama kehabisan kata karena kendala bahasa. Menunggu gerombolan merpati yang terbang berpindah dari taman ke atap-atap istana. Merasakan kebahagiaan keluarga-keluarga yang menghabiskan petang di depan istana. Menunggu lampu-lampu istana dinyalakan sambil membayangkan kehidupan seperti apa yang terjadi di dalamnya. Mencerna kembali cerita orang-orang tentang negeri ini, sambil memandang tawa dan keceriaan di wajah setiap orang yang kutemui disini. Dan aku sadar, negeri ini telah membuatku jatuh cinta lagi.

Preah Tineang Phhochani
Preah Tineang Phhochani
Time to go home...
Time to go home…

Di hari terakhir, setelah upacara bendera di KBRI Phnom Penh (yang sukses membuatku nangis bombay saat mendengar Indonesia Raya), aku menghabiskan waktu yang tersisa untuk menyusuri kembali jalanan kota Phnom Penh sekedar mengulang sebuah kenangan. Aku memulai langkahku dengan memutari Royal Palace, menyusuri belakang National Museum, belakangnya Wat Ounalom, Kandal Market, masuk ke Central Market yang bangunannya bundar khas itu (dan tersesat di dalamnya..), lalu ke street 108 ngintip Hostel Nomads (kok udah berubah banyak ya? Martin mana ya? Kok sekarang hostel ini nuansanya Chinese banget dengan meja abu di luarnya?), mampir sebentar ke halaman Wat Phnom, mampir ke kios-kios stationary di depan night market (terus beli foto Raja seukuran poster,,, hihihihihi.. harap maklum ya,,, saya ABG sekali), beli minum di kedai mie instan street 106 (dulu aku dan bokap seneng banget makan disini, soalnya murah meriah, pake daging, dan porsinya banyak, walaupun aroma daun ketumbarnya bikin meringis). Terakhir aku setor muka di kantornya Virak Buntham yang penuh kenangan.. hehe. Dari situ barulah aku pulang ke hotel naik Tuk-tuk.

Central Market
Central Market

Setelah makan siang di Warung Bali, sekitar jam 2 siang kami naik tuk-tuk ke bandara, meskipun kami baru boarding jam 4 sore. Takut macet.. Apalagi katanya lalu lintas Phnom Penh tak bisa diprediksi. Sialnya, ternyata penerbangan kami delay satu jam lebih, padahal kami masih harus mengejar flight dari Kuala Lumpur ke Jakarta. Selain panik takut ketinggalan pesawat di KL, kami kesal bukan kepalang. Tahu delay lama begini sih, kami tadi mampir dulu aja sebentar ke Royal Palace, daripada garing di bandara. Huh…

But we’re not lucky, we’re blessed. Kami masih keburu mengejar pesawat di Kuala Lumpur dan tiba dengan selamat di Jakarta sambil membawa sejuta cerita bahagia.

Aku tahu aku akan kembali. Karena aku sudah minum berliter-liter air Mekong. Karena aku  sudah kejatuhan daun Bodhi di halaman Silver Pagoda. Karena aku sudah diperciki air suci oleh Biksu Tep Vong. Karena aku sudah menemukan teman-teman baruku. Dan karena hatiku sudah tertinggal disitu.

_DSCN5670

Dan aku benar-benar sudah berhasil move on. Seminggu setelah pulang dari Phnom Penh, tanganku sudah gatal untuk mencari tiket promo.. hihihi..


14 thoughts on “Phnom Penh dan Sebuah Hati yang Baru

  1. Halooo..saya suka bgt baca blognya.
    Kebetulan saya sekarang lagi di Phnom Penh. Sudah dsini dari tanggal 19 nov kemarin dan pulang tgl 16 besok. Masih ada waktu tersisa. Berkat blognya saya jadi ada gambaran mau kemana lagi hehehe..
    Oh ya,.kalau kita mau visir S21, pagoda tapi kita sedang datang bulan, itu bolehkah? Takut aja ternyata ga boleh hehehe..
    Sekali lagi terimakasih udah share pengalamannya yaa…
    Rasanya kayak punya teman baru..hahahaha

    Cheers,
    Kei

    1. Hai, Kei.. salam kenal yaa…. sepertinya tak ada larangan seperti itu disana, yang terutama pakai pakaian yang sopan dan tertutup. Kalau ke S-21 (Tuol Sleng) juga tak ada larangan seperti itu, jangan lupa sekalian ke Choeung Ek yaaa… Wow, Kei lama sekali di Phnom Penh. Sudah kemana saja?

      1. Waah..trimakasih yaa sudah dijawab. Karena kakak kebetulan bertugas dsini jadi dikasih rejeki.
        Sudah ke phsar2, ke istana, main dengan merpati2, lalu sudah ke Siem Reap. Tuol Sleng masih agak ragu karena takut serem hehe..
        Ada rencana mau k Thailand tapi kalau 12 jam via jalan darat, ngg.. nanti dl deh hihihi..kakinya kurang bebas bergerak krn duit yg terbatas dan cuaca yg panas bgt. Kalau siang maunya diem aja nyari angin hehee.. ada rekomendasi lagikah? (Walau dari blog udah cukup sangat jelas) Actually, i started feeling homesick heuheu..

      2. Hehe.. kalau udah ke Phnom Penh, ngga afdol kalau ga ke Tuol Sleng dan Choeung Ek… agak merinding sih, kalau bisa jangan sendirian, dan datangnya pagi-pagi. Suka baca buku ga, Kei? udah ke toko buku bajakan belum?hihihi.. Ke Oudong juga katanya bagus tuh, itu ibukota yang lama… aku belum pernah kesitu… Ke Ho Chi Minh City (Vietnam) aja, naik bus dr phnom penh sekitar 6 jam (kalau lancar), sebisa mungkin naik bus yang pagi, supaya ngga nunggu perbatasan dibuka. BIsa ke Cu Chi Tunnel dan Cao Dai Temple (pakai tour aja) dan bisa keliling kota HCMC yang cukup indah menurutku. hehehe… dari HCMC bisa lanjut juga naik bus atau kereta ke arah tengah (Danang/ Hue), cuma waktu tempuhnya lumayan…

      3. Jangan sendirian (check)
        Pagi2 (check)
        Hehehehe
        Sukaaa baca buku! Kalau gt spt yg aku baca. Mst liat2 jfmg nih hihhii..
        Kakak mmg ada rencana ke Vietnam. Hanya blm tau apa sblm sy pulang atau sesudah (😩)
        Seneng bgt nemu blog Celina dari gugel..heuheuu..
        Dr kemarin nyari2 malah ga ketemu. Aneh sekali deh..
        Terimakasih lagiii

      4. Hehee…aku yang makasih banget Kei sudah mampir kesini.. Monggo diubek2 aja yang di kategori my journey.. Aku pernah nulis tentang city tour di HCMC, dan tentang bus vietnam-kamboja… (atau jangan2 malahan udah baca ya…hehehe).

      5. Sudah dan sedang kok.. (re-reading sambil dicatet mana yg penting).
        Taunya penting smua..jgn2 perlu di print 😄
        Dan saya suka gaya nulisnya.. ringan. Enak bacanya.
        Ga pusing. Suka..hahhaha

      6. eh iya, Kei… kalau ke HCMC siy menurutku relatif aman kalau sendirian.. asalkan hati2 di busnya.. kalau sendirian mending ikutan tour aja di HCMCnya…

      7. Sepertinya kota ini tau kok Celina kangen..makanya kei nemu jg hihihi..
        Sudah disampaikan.. dan katanya “segera kembali! Segera jelajahi aku lagi!” Hehehee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s