Kala Kita Bersua : Nostalgia Warung Bali dan KBRI Phnom Penh

Siang ini saya dan teman-teman seruangan makan bareng di warung tongseng sebelah pabrik. Biasanya saya, si kaku ini, hanya pesan tongseng ayam pakai nasi putih. Tapi hari ini saya request menu tambahan, yakni sate sapi. Kenapa? Alasannya simple saja! Saya lagi kangen berat dengan sate sapi Warung Bali. Sayangnya sate sapi yang tersaji di hadapan saya siang ini jauh banget dari sate sapinya Warung Bali. Alhasil, kangennya belum terobati deh..

Ketika saya berkunjung pertama kali ke kota Phnom Penh pada Januari 2013, saya sudah melihat plangnya Warung Bali ini. Tapi waktu itu saya berprinsip, masak jauh-jauh ke Kamboja makannya tetep masakan Indonesia sih? Alhasil saya sama sekali tak menginjakkan kaki kesana.

Menjelang kunjungan saya yang kedua, sahabat saya beberapa kali menyebut-nyebut nama Warung Bali pada saat kami menyusun itinerary. Ia memberikan gambaran umum tentang Warung ini, antara lain pemiliknya adalah dua pria Indonesia yang salah satunya berpengalaman menjadi chef di KBRI Phnom Penh. Terus Warung Bali ini udah kayak KBRI Phnom Penh versi informal, soalnya disinilah orang-orang Indonesia, baik yang kerja disana maupun yang berstatus sebagai turis, bertemu dan kongkow-kongkow, serasa melaporkan keberadaan diri. Nah, saya jadi penasaran, kayaknya ni Warung cetar membahana banget yak..

15 Agustus 2015

Saat kami tiba di Phnom Penh, saya baru ngeh, ternyata tempat kami menginap (Frangipani Hotel Royal Palace) letaknya persis bersebelahan dengan Warung Bali… hehehe.. mantab kan? Jadi kalau lapar tinggal ngesot aja kesini..

Warung Bali yang Cetar Mambahana
Warung Bali yang Cetar Mambahana

Siang itu, kami makan siang disana. Sahabat saya yang sudah berkali-kali mampir kesini disambut hangat oleh dua pemilik Warung Bali. Bapak yang gemuk namanya Pak Kasmin, sementara yang kurus namanya Mas Firdaos (entah kenapa sejak awal saya memanggil Pak Kasmin dengan sapaan “Pak”, dan Mas Firdaos dengan sapaan “Mas”. Padahal nggak ada maksud untuk menuakan yang satu atau memudakan yang lain. Cuma entah kenapa sapaan itu secara otomatis keluar dari mulut saya..)

Mereka berdua juga menyambut saya dengan ramah dan menyodorkan buku menu yang cantik. Meskipun namanya Warung Bali, mereka tak hanya menjual masakan Bali, tapi segala jenis masakan Indonesia, mulai dari segala jenis nasi goreng, gado-gado, tempe mendoan (mereka bikin sendiri lho tempenya. Bahkan bule-bule itu kalau kesini pasti nyari tempe, malah suka marah-marah kalau stok tempe lagi kosong), berbagai macam sate, sop, soto, tongseng, rendang, nasi gila, segala olahan seafoood, ayam, beberapa jenis chinese food, tumis kangkung, dan masakan Kamboja. Pemilknya juga bukan orang Bali.. hehehe.. Pak Kasmin asli Cilacap, sementara Mas Firdaos asli Karawang (harusnya dipanggil Kang yeee). Jadi mungkin nama Warung Bali adalah bentuk strategi pemasaran, karena mau tak mau, suka tak suka, nama Bali memang lebih dikenal daripada nama Indonesia (sedih sih,, tapi emang ini kenyataannya).

Kami sempat bingung mau makan apa, hingga akhirnya Pak Kasmin menawarkan fish amok, sejenis kari ikan khas Kamboja. “Pokoknya enak deh”, kata Mas Firdaos meyakinkan kami. Saya lalu memesan hot teh tarik sebagai pendamping menu kami (aneh banget yak, siang-siang panas begitu malah pesan hot teh tarik). Tak lama kemudian teh tarik datang.. rasanya nikmat banget, kerasa banget susu dan tehnya, mirip rasanya dengan Nu Milk Tea. Amok pun menyusul bersama dua piring nasi hangat yang porsinya gede.

Fish Amok
Fish Amok

Tanpa basa basi, saya langsung menuang kuah amok di atas nasi putih itu, dan rasanya… maknyus, cetar membahana, top markotop, pokoknya susah banget dijelaskan dengan kata-kata. Padahal nih, sebelumnya, saya sempat ragu ketika ditawari amok ini, soalnya saya agak malas berurusan dengan ikan, apalagi yang dimasak pakai kuah. Tapi saya nggak nyesel mengambil tawaran ini (ciyee…) soalnya beneran enak… Ikannya digoreng dulu sehingga terasa garing di luar dan lembut di dalam (dah kayak iklan banget deh). Tak berapa lama, sepiring mentung nasi sudah berpindah ke dalam perut saya. Sahabat saya sampe terkejut dengan kecepatan makan saya yang abnormal ini (hehehe). Doyan atau lapar?? Dua-duanya…. hehehe

Sambil makan, Mas Firdaos menceritakan bahwa dua minggu sebelum kedatangan kami, mereka mengalami kebanjiran sampai sebetis (itu lho pas di Myanmar juga kejadian banjir besar), akhirnya warung terpaksa tutup untuk bersih-bersih. Siang itu ada seorang warga Indonesia juga disana. Ia sedang mengecek gula darahnya Mas Fir. Ternyata gula darahnya Mas Fir sempat tinggi, jadi sekarang dia hanya makan nasi merah yang dicampur nasi putih sedikit, lauk secukupnya dan sambel. Sambelnya ini nih aromanya… wuih.. langsung bikin lapar lagi. Bapak yang bareng Mas Fir itu ternyata umat Katolik. Dia ngajak saya untuk ke gereja bareng (Mas Fir nyeletuk, “Ah, kamu mah pasti lebih berat ke shopping daripada ke gereja. Soalnya miikirnya lama banget sih..” Ah, tau aja diaa….)

Mas Fir juga cerita tentang kunjungan Presiden SBY ke Kamboja tahun 2012. Seluruh warga Warung Bali ikut rempong. Mereka memang selalu jadi andalan untuk menyediakan makanan setiap ada acara di KBRI, termasuk dalam moment HUT RI setiap tahunnya. Nah waktu presiden datang itu, mereka harus masak tiga kali sehari untuk sekitar 200 orang, selama 4 hari. Mereka harus bangun pagi-pagi banget dan hanya tidur beberapa jam saja. So.. setiap hari mereka harus ngedoping minum vitamin biar nggak terkapar. Kami kepo banget, pengen tahu berapa bayaran yang mereka terima. Dan kami sangat terkejut ketika Mas Fir menyebut satu angka. What!!! menurut kami itu sih kecil banget!! Kami langsung menghitung biaya per piring untuk makan prasmanan di Jakarta. Nah kan, itu sih kecil banget. Mas Fir cuma ketawa saat kami spontan berseru, “Yah.. kok kecil banget…” Emang sih ada tambahan hadiah lain : salaman dengan Bapak Presiden dan ucapan terima kasih dari Pak Dubes. Hmm, mungkin ini salah satu  bentuk bakti pada nusa dan bangsa ya… Siang itu kami pamit dari Warung Bali sambil ngedumel, “Kok tega amat sih!!”

Setelah istirahat sebentar di hotel, kami mampir lagi di Warung Bali untuk menyerahkan oleh-oleh sahabat saya, yaitu taplak bergambar peta Indonesia. Kereen banget. Sebelum berangkat dia sudah mewanti-wanti, jangan membawakan pajangan untuk Warung Bali, soalnya dindingnya udah penuh banget dengan lukisan dan foto. Memang sih, warung ini relatif mungil, hanya ada tujuh meja di dalam ruangan, dan satu meja di luar. Tapi warung ini selalu ramai dan penuh. Pengunjungnya tak hanya orang Indonesia saja, tapi bule-bule pun pada senang makan disini. Justru mungilnya warung inilah yang membuat setiap pengunjungnya mudah untuk merasakan kedekatan dan keakraban satu sama lain.

Malam itu, kami lagi-lagi makan disana. Alasannya karena masakannya sudah pasti enak, halal, porsinya besar, dengan harga relatif murah, ditambah suasananya pewe banget, serasa di rumah. Pak Kasmin dan Mas Fir sedang tidak ada disana, katanya ada acara di rumah salah satu warga Indonesia. Kami lalu memesan sate sapi, tumis kangkung, tempe mendoan, udang goreng mentega, dan nasi putih. Buset banget kan, kayak orang kalap. Tak lupa saya juga memesan ice teh tarik.. Hahaha,,, gagal move on deh dari teh tarik sini. Dan akhirnya kami kekenyangan banget, sampe ngga bisa beranjak. Beneran rasanya Indonesia banget. Apalagi sate sapinya.. gede-gede, daging semua, bumbu kacangnya gurih dan banyak.. (duh, perut saya langsung kerucukan saat menulis ini…). Pokoknya bumbunya kerasa banget lah.. Kami ngobrol seru disana hingga lebih dari satu jam. Untuk makan sekalap dan sebanyak itu, kami hanya perlu membayar 13.5 US$. Lumayanlah ngga terlalu mahal.

IMG_20150815_191738

IMG_20150815_192028

Sate sapi yang bikin saya kangen...
Sate sapi yang bikin saya kangen…

O iya, kami baru ngeh bahwa pegawai-pegawainya adalah orang-orang asli Kamboja. Hebat ya, mereka bisa memasak masakan Indonesia dengan rasa yang Indonesia banget. Hebat juga Pak Kasmin dan Mas Fir yang berhasil menurunkan ilmu mereka tanpa ada kendala bahasa. Para pegawai ini juga sudah bisa berbahasa Indonesia sedikit-sedikit, seperti : “Mau pesan apa?”, “Berapa”, dan “Terima kasih”, dan mereka juga udah ngerti kalau kita minta bon pakai bahasa Indonesia. Keren kaaaannn…

16 Agustus 2015

Makan siang hari kedua, lagi-lagi kami ke Warung Bali. Karena trauma kekenyangan sampe ga bisa jalan, akhirnya saya hanya pesan nasi gila dan lagi-lagi ice teh tarik. Kami juga lagi-lagi lengket di kursi.. soalnya kami bertemu dengan warga Indonesia dan langsung terlarut dalam obrolan yang seru. Yang pertama, kalau tak salah namanya Pak Aji, yang bercerita pengalamannya bersama warga Warung Bali naik bus pulang pergi ke Saigon, pake acara macet berat dan paspor yang ketinggalan di imigrasi (kebayang paniknya kayak apa). Dia ini kerja sebagai purchasing di salah satu perusahaan garment dan sering survey supplier di kawasan Asia Tenggara. Karena pengalamannya itu, dia ngerti banget dengan kualitas bahan pakaian, dan paham abis merk-merk apa yang bagus plus berapa harga pasarannya. Dia bisa bedain mana barang yang original berkualitas dengan barang yang KW. Dia cerita bahwa di Kamboja ini pasar-pasarnya menjual banyak pakaian (khususnya celana jeans) dengan merk dan kualitas yang bagus tapi harganya lebih murah daripada di Indonesia. Kenapa? Pertama, konon katanya, barang-barang ini memang barang-barang ori yang dicuri oleh karyawan pabrik pada saat proses pencucian. Kedua, mungkin pakaian ini memang kualitas KW (ada cacat sedikit). Tapi menurut dia, barang-barang ini memang ori dan kualitasnya bagus kok, jahitannya rapi, bahkan segel merknya masih terpasang dengan baik. Ketiga, karena sebagian besar pakaian ini dibuat di Vietnam. Bagi orang Kamboja, segala sesuatu yang dibuat bukan di Kamboja (apalagi di Vietnam) dianggap “tidak ori”. Alhasil walaupun kualitasnya bagus dan murah, orang Kamboja nggak berminat beli. Hmm.. mungkin karena luka di masa lalu juga kali yaa..

Nasi Gila
Nasi Gila

Bapak itu lalu pamit undur diri, dan kursinya ditempati oleh seorang bapak dan seorang ibu (eh,, itu istri atau anaknya ya?). Mereka diantar oleh sopir tuk-tuk kesini. Sahabat saya menyapa mereka dan lagi-lagi kami langsung larut dalam obrolan. Mereka berdua merencanakan perjalanan ke Siem Reap dan Thailand. Sebelum ke Phnom Penh, mereka singgah di Saigon, dan sempat terpisah dengan bagasi mereka yang entah bagaimana malah mendarat di Changi. Alhasil hari-hari mereka di Saigon terisi kepanikan karena bagasi yang terpisah ribuan kilometer. Percakapan kami berlanjut ke banyak hal, bahkan hingga ke masalah politik, bunga bank, dan harga dolar yang melambung tinggi. Hahaha, kalau percakapan begini terjadi di sebuah restoran di Jakarta, mungkin kami udah dipelototin, diusir keluar, atau mungkin sudah bisa ada lempar-lemparan piring kali ya.. Ada satu hal yang bikin saya nyesek waktu ngobrol dengan mereka ini. Kami berdua punya pengalaman traumatis dengan Killing Field dan Tuol Sleng. Kedua tempat ini bagi kami amat mengguncang jiwa, sementara si Bapak ini bilang, kedua tempat itu “biasa saja”.

Siang berganti malam, kami sudah berkeliling kesana kemari, tapi saat makan malam tiba, kami tetap saja kembali ke Warung Bali. Karena malam itu warung sedang penuh, maka kami makan di meja luar (horeee). Kami pun berkenalan dengan Pak Petrus dan Pak Jeffri. Pak Petrus ini bekerja di sebuah developer milik Ciputra, sedangkan Pak Jeffri memiliki keluarga di Phnom Penh.

Saat makan malam inilah akhirnya saya berhasil beranjak dari teh tarik dan beralih ke asam juice (kalau disini kita nyebutnya gula asam). Sampe nambah pula. Doyan atau haus?? Dua-duanyaa… hehehe

Malam itu saya merasakan bahwa Warung Bali ini beneran kayak KBRI. Warung ini berhasil mengumpulkan warga-warga Indonesia dari segala penjuru Phnom Penh, apapun latar belakang, pekerjaan, suku, dan agamanya. Tanpa perlu birokrasi apapun, cukup duduk, makan, dan percakapan akan segera mengalir dengan akrab dan hangat. Mau cerita apapun, mau berpendapat apapun, atau sekedar bertukar kabar tentang Indonesia, disinilah tempatnya. Semua bagai tanpa jarak dan sejenak bisa melupakan perbedaan. Disini juga saya merasakan kebanggaan sebagai orang Indonesia. Indonesia punya kekayaan kuliner yang tiada tandingnya. Warga Indonesia disini juga amat membanggakan (terlepas dari kasus orang Indonesia yang ditangkap gara-gara judi yeee) dengan berbagai pekerjaan mereka, dan bagaimana mereka berjuang di negeri orang dengan budaya yang berbeda dan bahasa yang sulit dipelajari. Di sini pula kami merasa bagai saudara sebangsa yang saling menjaga dan memperhatikan.

Nasi goreng sayur yang saya pesan malam itu saya nikmati sambil terperangah mendengar cerita Pak Petrus. Ia bercerita tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan Kamboja. Meskipun “baru” sembilan tahun bekerja disini, namun ia sangat hafal dan paham dengan sejarah Kamboja. Ia berkisah tentang Raja Sihanouk, tentang Om Benny Widyono, orang Indonesia yang pernah menjadi gubernur Siem Reap saat UNTAC secara de facto memegang pemerintahan di Kamboja (baca di https://en.wikipedia.org/wiki/United_Nations_Transitional_Authority_in_Cambodia).  Ia juga menceritakan tentang sejarah gereja Katolik di Kamboja, tentang umat Katolik yang mengalami diskriminasi, tentang katedral Phnom Penh yang dirobohkan oleh Khmer Rouge, dan tentang dua orang kakak beradik yang menjadi uskup dan imam, dan menjadi martir saat rezim Khmer Rouge berkuasa. Ia juga mengisahkan betapa mencekamnya keadaan kota Phnom Penh saat pemilu 2013 yang lalu. (Kami yang di Indonesia juga sangat tegang dengan pemilu Kamboja pada saat itu). Percakapan ini bagaikan kuliah sejarah gratis bagi saya. Memang yah, belajar sejarah di luar kelas itu selalu menyenangkan dan ngga bikin ngantuk.

Karena esok harinya kami berencana ikut upacara bendera HUT RI di KBRI, kami pun janjian untuk berangkat bareng dari Warung Bali. Tuh kan, warung ini beneran multi fungsi…

17 Agustus 2015

Menjelang pukul 8, kami sudah dandan cantik, pakai batik, dan duduk manis di Warung Bali. Disitu sudah ada Pak Petrus, dan bapak ibu yang kemarin itu. Seorang pegawai menyapa kami, “Mau minum teh hangat?” nah kan… dia udah bisa ngomong Indonesia… Tak lama Pak Kasmin muncul dengan batik dan bros berlambang Garuda di dadanya. Hingga menjelang pukul 08.30, kami masih menunggu Mbak Ellena. Sambil menunggu kami bertanya bagaimana caranya Pak Kasmin belajar Bahasa Khmer. Soalnya mereka berdua udah jago banget ngomong Bahasa Khmer, bahkan logatnya pun udah kayak orang Kamboja asli..

Ternyata dulu ia diajarkan bahasa Khmer oleh seorang tentara Indonesia yang dinas disana. Karena sulit untuk menulis huruf-huruf keriting itu, akhirnya ia hanya belajar mengucapkan saja. Lalu ia juga belajar pada pegawai KBRI yang asli Kamboja. Ia memperagakan suatu gerakan atau menunjuk suatu benda, lalu pegawai yang lain akan menyebutkan bahasa Khmernya. Jadi awal belajarnya pakai bahasa tarzan deh… Hmm, jadi ingat ceritanya Pak Petrus tentang seorang imam Jesuit asli Indonesia yang berhasil menguasai Bahasa Khmer hanya dalam waktu 1 bulan.. Padahal imam itu usianya sudah tak lagi muda lho.

Tak lama berselang Mas Fir akhirnya pulang dari pasar (habis belanja buat persiapan masak untuk acara selamatan malam nanti), lalu memakai baju antik yang etnik banget. Katanya kain ini diperoleh dari sebuah daerah di perbatasan Thailand-Kamboja (lupa namanya, dan sekarang daerah ini jadi milik Thailand), terus ada cerita kocak di balik baju ini. Baju ini aslinya berlengan panjang, tapi karena digigit tikus akhirnya dipotong jadi lengan pendek. Sisa kekejian tikus itu masih terlihat di kantongnya Mas Fir yang bolong… Eh buset… tikus Kamboja ganas juga yaa…

Tepat pukul 08.30 kami berangkat dengan dua tuk-tuk. Jalanan ramai dan macet di sekitar Independence Monument. Saya sendiri deg-degan, karena untuk pertama kalinya saya masuk KBRI dan untuk upacara pula. Inilah upacara bendera pertama saya setelah sekian belas tahun nggak pernah upacara. Sebenernya kami sempat malas ikut upacara, soalnya kebayang deh perjuangan untuk berdiri dalam kondisi cuaca yang panasnya ampun-ampun. Tapi untuk sebuah pengalaman yang tak terlupakan dan untuk memperdalam rasa cinta tanah air dan bangsa, akhirnya kami berangkat pula ke KBRI.

_DSCN5800

Kami tiba di KBRI beberapa menit sebelum upacara dimulai. Beberapa wajah yang kami jumpai disana sudah tak asing lagi karena pernah kami temui di Warung Bali. Ternyata ada banyak juga warga Indonesia di Phnom Penh ini, dan yang hadir upacara ini tak hanya warga Indonesia saja. Ada juga beberapa orang warga Kamboja yang ikut serta, termasuk para tentara kopasus dan paspampres yang asli Kamboja itu.

Beberapa menit sebelum upacara dimulai
Beberapa menit sebelum upacara dimulai

Karena lapangan upacaranya berbentuk huruf L, kami tak bisa melihat siapa pemimpin upacaranya. Kami juga hanya bisa melihat sekilas saja saat bendera merah putih dinaikkan. Sayang sekali lagu Indonesia Raya yang mengiringi penaikan bendera ini hanya rekaman instrumental saja, tidak ada aubade yang menyanyikan lagu Indonesia Raya, jadinya suasananya kurang gereget dan kurang sakral. Tapi tetep aja sih, saya harus meringis menahan tangis saat mendengar lagu Indonesia Raya, juga ketika saya menundukkan kepala untuk mengheningkan cipta, dan saat saya melihat bendera Merah Putih berkibar jaya di langit Kamboja. Saya menginjak tanah Kamboja, namun dalam hati saya bergumam, “Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku. Disanalah aku berdiri, jadi pandu ibuku. Indonesia kebangsaanku. Bangsa dan Tanah Airku.” Beneran ini akan menjadi pengalaman tak terlupakan sepanjang hidup. Coba deh, kalau kita lagi di Indonesia dan disuruh ikutan upacara HUT RI, pasti belum tentu mau kan? Tapi ketika kita ada di negara orang, momen ini bisa membangkitkan kembali rasa cinta dan bangga pada Indonesia, sekaligus jadi ajang silaturahmi bagi warga Indonesia.

Sang Merah Putih berkibar di langit Kamboja
Sang Merah Putih berkibar di langit Kamboja

Seusai upacara saya sempat memotret para pembesar KBRI. Pak dubes yang mana ya? Mbuhlah, pokoknya foto dulu deh. (Setelah pulang saya baru sadar bahwa dubes RI untuk Kamboja adalah ayah dari adik kelas saya waktu kuliah. Dan saat saya buka kembali foto upacara, saya tak menemukan beliau dan istrinya dalam foto tersebut). Saya juga sempat iseng menanyakan pada dua orang tentara, apa bedanya tentara berbaret biru dan tentara yang berbaret merah. Mereka lalu pasang muka bingung, dan berbicara satu sama lain dengan Bahasa Khmer. Untung atasan mereka datang dan beliau ini fasih sekali bicara Bahasa Indonesia. Bapak ini lalu menjelaskan bahwa yang berbaret biru adalah paspampres, sedangkan yang berbaret merah adalah kopasus, walaupun mereka berlatih bersama-sama.

_DSCN5824

Kopasus dan Paspampres
Kopasus dan Paspampres

Karena tak banyak yang kami kenal, dan karena kami sudah semaput kepanasan (plus menderita dalam batik yang kesempitan), maka kami pun memutuskan pulang duluan tanpa ikut ramah tamah dan makan-makan. Hmm.. walaupun ngaku cinta Indonesia, tapi kok saya malah membayangkan serunya kalau kerja disini.. hehehe..

Siang itu, kami membawa ransel-ransel kami dan makan siang di Warung Bali untuk terakhir kalinya sebelum kami pulang. Lagi-lagi kami bertemu dengan bapak dan ibu yang waktu itu (kagak tau namanya siy), plus Pak Nelson (warga Indonesia yang jadi managing directornya Nikon di Phnom Penh), dan Mba Afni. Menu terakhir saya adalah nasi gila plus asam juice (hihihi,,,, gagal move on babak kedua nih).

Rasanya berat banget untuk pamitan ke mereka… Huhuhu… udah berasa kayak di rumah sih….

Sorenya di airport, kami bertemu dengan satu keluarga Indonesia yang hendak pulang juga ke Jakarta. Sahabat saya mengenali batik sang ibu, sementara saya mengenali hak tingginya (soalnya waktu mengheningkan cipta pas upacara, saya membatin, ibu ini kuat banget ya upacara pakai hak tinggi.. hehehe). Saat nunggu pesawat yang delay akhirnya saya malah sempat ngobrol dengan sang bapak, dan minta doa pada sang ibu ini (supaya kami jangan ketinggalan pesawat di Kuala Lumpur.. hehe). Manjur deh doanya, kami ngga ketinggalan pesawat…

Dalam perjalanan pulang, saya merefleksikan hal-hal yang terjadi selama tiga hari di kota ini. Jujur, saya biasanya enggan bertemu orang-orang baru, enggan duduk berlama-lama untuk sekedar ngobrol, dan enggan pula berada di keramaian. Tapi di Warung Bali ini saya menemukan diri saya yang beda dari biasanya. Kali ini saya tidak kabur dari tengah keramaian, berani menyapa dan berbincang dengan orang-orang yang belum pernah saya kenal. Kali ini saya bahkan merasa santai dan nyaman di tengah-tengah teman-teman baru saya, mendengarkan setiap obrolan dan cerita mereka, ikut merasa excited dengan kisah-kisah mereka, bahkan bisa duduk tenang ngobrol selama berjam-jam, meskipun saya sendiri memang masih lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Saya bisa ikutan heboh bersama mereka, dan saya merasa diri saya menjadi lebih terbuka.. Wow,,, it’s a big surprise for me…

Beberapa hari setelah pulang, saya dipinjami bukunya Paulo Coelho yang berjudul “Ziarah”, dan saya menemukan paragraf ini :

 “Ketika kau melakukan perjalanan, kau akan merasakan suatu kelahiran kembali dalam bentuk paling sederhana. Kau berhadapan dengan situasi-situasi baru, harimu akan berjalan lebih lambat, dan dalam sebagian besar perjalanan ini, kau akan menemui orang-orang yang berbahasa asing. Jadi kau bagaikan bayi yang baru keluar dari rahim. Hal-hal di sekitarmu akan menjadi lebih penting, karena kelangsungan hidupmu tergantung pada hal-hal tersebut. Kau juga akan lebih terbuka terhadap orang lain karena mungkin mereka akan bisa membantumu dalam kesukaran. Dan kau akan menerima setiap karunia Tuhan dengan kebahagiaan tiada tara, seakan-akan karunia itu salah satu episode hidupmu yang terpenting. Di saat yang sama, karena segala sesuatu terasa baru, kau hanya akan melihat keindahan, dan kau akan merasa bahagia bisa hidup.”

Hmm…. Mungkin ini yang saya alami ketika bertemu dengan mereka semua di Warung Bali…

Nih, alamatnya Warung Bali :

25Eo, street 178 Phnom Penh. Tel +855-12967480/ +855-12831523. Lokasinya ada di sebelah Frangipani Hotel Royal Palace, di seberang tanah lapang depan National Museum. Jam buka 09.00-21.00

Selamat menikmati pengalaman dan masakan yang luar biasa di sini yaaa,,,,


4 thoughts on “Kala Kita Bersua : Nostalgia Warung Bali dan KBRI Phnom Penh

  1. Trimakasih mbak info di blognya sangat membantu. Kemungkinan maret 2106 saya dan 2 teman backpacker mau ke Kamboja selama 3 hari. Ada rekomendasi tempat wisata yang wajib dikunjungi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s