Phnom Penh : Gelang Merah dan Sejuta Kenangan

Panasnya kota Phnom Penh sedikit terobati oleh kehadiran awan gelap yang menutupi sang mentari. Hari ini adalah hari Minggu, hari keluarga. Tak heran sore ini Samdech Sothearos Boulevard dipenuhi manusia. Mulai dari anak-anak yang berlarian tanpa lelah, para keluarga yang bersantai ria, hingga para biksu yang duduk berkelompok menikmati waktu  bebas mereka.

_DSCN5531

Aku duduk di sebuah sudut trotoar. Di hadapanku Moonlight Pavilion berdiri dengan megahnya. Sepasang suami istri dan kedua anak lelakinya bermain lempar tangkap bola. Kuedarkan pandanganku ke arah lain, dan dimana-mana kulihat ekspresi ceria dan kudengar tawa lepas mereka.

_DSCN5490

Akupun terlarut dalam suasana ceria ini, apalagi ketika ratusan ekor burung merpati serempak terbang berpindah dari atap-atap istana menuju ke taman. Tak lama kemudian mereka kembali terbang bergerombol menuju atap-atap istana yang menjulang menghiasi langit Phnom Penh. Pemandangan itu begitu memukau, dan kucoba mengabadikan semua itu dalam ingatanku.

_DSCN5528

Mataku beralih lagi memandang sebuah gelang merah yang melingkar di tangan kiriku. Entah sudah berapa puluh kali kupandangi gelang merah itu hari ini. Gelang itu baru saja kuperoleh siang tadi dari seorang Biksu di Wat Ounalom. Aku tersenyum ketika mengingat rangkaian peristiwa yang kualami tadi siang.

Pagoda Utama Wat Ounalom
Pagoda Utama Wat Ounalom

Siang tadi, aku dan sahabatku mengunjungi Wat Ounalom, salah satu dari lima pagoda tertua dan kini menjadi pagoda terpenting di Phnom Penh, karena merupakan kantor dari Biksu pemimpin agama Buddha se-Kamboja. Pertama-tama kami masuk ke pagoda utama yang begitu sepi dan kosong, hingga kami begitu bebas mengambil foto di dalamnya.

_DSCN5174

Kami lalu beranjak ke sebuah stupa berwarna abu-abu yang terletak di sudut timur laut. Ketika kami ragu untuk melangkah masuk, seorang Biksu menyapa kami. Meskipun ia menggunakan Bahasa Khmer, namun kami paham bahwa ia mengajak kami masuk ke dalam stupa itu. Ia lalu memimpin doa dan memberi berkat kepada beberapa umat yang seluruhnya memakai baju putih. Karena kami tak mengerti, maka kami hanya duduk bersimpuh di dekat pintu, sambil menikmati alunan doa yang didaraskannya, seraya mengamati bagian dalam stupa ini.

Biksu ramah yang mengajak kami masuk stupa...
Biksu ramah yang mengajak kami masuk stupa…

Sebuah tangga ke bawah menarik perhatianku, ternyata lantai bawah stupa ini merupakan tempat penitipan abu. Rasa tak nyaman segera menyergapku, hingga aku segera naik lagi ke lantai atas. Rasa penasaran menuntunku untuk menaiki sebuah tangga lain yang menuju ke lantai atas. Ternyata lantai atas gelap gulita dan kosong. Kami lalu keluar dari stupa dan mengelilinginya, lalu menemukan keunikan lain dari Wat ini. Di bagian belakang stupa terdapat beberapa patung, dan pada bagian atas dindingnya terdapat ukiran patung-patung kecil.

_DSCN5253

Kami lalu memasuki sebuah bangunan yang terletak di antara Wat Ounalom dan stupa. Awalnya aku sempat merasa enggan, karena kupikir isinya akan sama saja dengan yang sudah kulihat di dalam Wat Ounalom. Akhirnya aku berpikir tak ada salahnya untuk menjelajahi semua ruang yang boleh untuk kami masuki.

The Great Stupa
The Great Stupa

Ketika kami masuk, ada seorang Biksu yang berdiri di pojok sebelah kanan pintu. Aku yang kepanasan awalnya hanya duduk bersandar pada pilar pintu masuk hingga sahabatku memanggil. Ternyata ia menyadari sesuatu yang istimewa dalam bangunan ini. Biksu yang duduk di pojok itu sepertinya  memiliki sebuah hubungan istimewa dengan kerajaan. Benar saja ketika kami perhatikan, dinding di bagian atas pintu masuk berisi foto-foto beliau dengan Raja dan keluarga kerajaan, sejak era King Father Norodom Sihanouk, hingga masa King Sihamoni. Jadi Biksu itu bukan Biksu biasa, mungkin bisa dikatakan beliau adalah Biksu kerajaan. Sahabatku lalu mengingat, wajah Biksu ini pernah ia lihat dalam upacara-upacara keagamaan bersama King Sihamoni.

Kami lalu bersepakat mohon berkat dari beliau, dan melangkah mendekati tempat beliau duduk. Setelah kami berkata, “Please bless us..”, beliau lalu mendaraskan doa-doa bagi kami dalam Bahasa Pali. Meski aku tak mengerti apa yang ia doakan, tapi aku sangat yakin bahwa ia mendoakan segala yang baik bagi kami. Lalu beliau mereciki kami dengan air suci, dan meminta kami membuka tangan dan merecikkan air suci di kedua telapak tangan kami. Beliau memberi tanda supaya kami membasuh wajah dengan air itu. Lalu, beliau mengambil gelang warna merah dari sebuah kantong plastik, dan memakaikan gelang itu di tangan kiri kami. Kami lalu meminta izin untuk memotret beliau, dan beliau mengizinkan.

Samdech Preah Agga Mahā Sangharājādhipati Tep Vong
Samdech Preah Agga Mahā Sangharājādhipati Tep Vong

Bagiku ini sebuah ritual pemberkatan yang luar biasa, karena untuk pertama kalinya aku didoakan dan diberkati oleh seorang Biksu. Apalagi Biksu ini begitu istimewa karena beliau seorang Biksu kerajaan.

Sahabatku kemudian menunjukkan sebuah foto kepada beliau. Foto itu adalah foto King Sihamoni sedang mencium tangan seorang Biksu, yang wajahnya mirip sekali dengan Biksu di hadapan kami. Sahabatku mengkonfirmasikan apakah beliau yang ada dalam foto tersebut. Biksu di hadapan kami tersenyum menganggukan kepala dan mengucapkan sebuah kata dalam Bahasa Khmer yang tak kami pahami. Jadi kami telah diberkati oleh seorang Biksu yang tangannya dicium oleh Raja Kamboja. Betul-betul sebuah kejutan yang luar biasa.

Kami keluar dari bangunan itu sambil tersenyum bahagia. Meskipun kami tak bisa melihat Sang Raja, namun kami telah diberkati dan diberi gelang oleh seorang Biksu yang amat dihormati oleh Raja. Kami bahkan kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan perasaan kami.

Gelang merah itu... hari ini..
Gelang merah itu… hari ini..

Sepanjang hari gelang merah itu tak henti-henti kupegang dan kupandangi, bagai harta karun yang tak boleh hilang. Bagiku sendiri, gelang itu bagai memberikan sebuah ikatan antara aku dengan kota ini. Seperti yang Mas Firdaos Warung Bali katakan, “Mereka yang sudah pernah minum air Sungai Mekong, pasti akan ‘dipanggil’ untuk kembali lagi dan lagi ke Kamboja.” Mungkin bagiku gelang merah ini yang akan membuatku selalu merasa terpanggil untuk ‘pulang’ ke Kamboja.

Langit semakin gelap, Samdech Sothearos Boulevard mulai tampak lengang. Para Biksu sudah beranjak pulang ke biara mereka masing-masing. Aku melangkah pelan seolah ingin memperlambat waktu. Ah, itu hanya tindakan yang sia-sia. Apapun yang kulakukan, waktu akan terus berlari. Petang ini adalah petang terakhirku. Meski aku tak rela, besok aku harus pulang ke negeriku sendiri. Sampai jumpa lagi, Phnom Penh..

Catatan Celina :

Bangunan asli Wat Ounalom didirikan pada tahun 1431, namun mengalami kehancuran pada masa Khmer Rouge. Bangunan yang ada sekarang adalah hasil pembangunan kembali ketika Vietnam menginvasi Kamboja pada tahun 1979. Dulunya Wat ini adalah perpustakaan bagi Institut Buddha, dengan jumlah koleksinya hingga 30.000 judul. Salah satu hal istimewa dari Wat ini adalah Patung Patriarch Huot Tat yang terletak di pagoda utama, di sebelah kiri altar, dan relikui alis mata Buddha (ounalom)  yang (konon katanya) terletak dibagian belakang pagoda utama. Patriach Hou Tat adalah pemimpin agama Buddha yang dibunuh oleh Khmer Rouge antara tahun 1975-1978. Wat ini merupakan kantor pusat dan tempat tinggal bagi Great Supreme Patriarch Leader, atau bisa dikatakan pemimpin tertinggi agama Buddha di Kamboja (penjelasan detail mengenai ini bisa dibaca di https://en.wikipedia.org/wiki/Supreme_Patriarch_of_Cambodia). Supreme Patriarch ini memiliki kursi di Royal Court Kamboja dan berhak memberikan suara dalam pemilihan Raja Kamboja.

Biksu yang memberikan kami gelang merah adalah Samdech Preah Agga Maha Sanharajadhipati Tep Vong. Beliau lahir pada 12 Januari 1932, dan sejak tahun 2006 ditetapkan oleh Raja sebagai Great Supreme Patriarch Leader. (https://en.wikipedia.org/wiki/Tep_Vong)

_Screenshot_2015-08-19-10-19-07

Screenshot_2015-08-19-21-24-09Screenshot_2015-08-19-21-25-03Screenshot_2015-08-19-21-35-35Screenshot_2015-08-19-21-35-59

51610555-cambodias-new-king-norodom-sihamoni-is-gettyimages


4 thoughts on “Phnom Penh : Gelang Merah dan Sejuta Kenangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s