Bicara Tentang Kamboja : Sekelumit Kisah Tentang Gereja Katolik Kamboja

Sepiring nasi goreng sayur dan segelas asam juice tersaji di hadapanku. Pria Indonesia yang duduk di depanku masih asyik bercerita tentang sejarah negeri ini. Kisah-kisah yang ia sampaikan tak mengurangi nikmatnya hidangan ini, justru aku merasa malam ini begitu istimewa karena kuliah sejarah yang ia sampaikan. Belajar sejarah di luar kelas memang selalu menyenangkan. Ada keganjilan yang kurasakan dari momen ini. Kami sama-sama orang Indonesia namun kami  begitu seru membahas sejarah Kamboja. Pembicaraan kami semakin menghangat ketika kami menyadari bahwa kami sama-sama beriman Katolik. Pria itu berkisah tentang nasib umat Katolik di Kamboja yang tidak disukai karena selalu dianggap memiliki kaitan dengan Vietnam. Ia juga bercerita, dulu Phnom Penh pernah memiliki sebuah Katedral namun dihancurkan oleh Khmer Rouge hingga rata dengan tanah. Kamboja bahkan sudah pernah memiliki uskup dan imam-imam pribumi, namun mereka semua habis karena kekejaman Khmer Rouge.

Salah satu kisah yang membuatku begitu penasaran adalah kisah tentang dua orang kakak beradik. Mereka berdua adalah imam asli Kamboja, dan salah satu dari mereka kemudian ditahbiskan menjadi uskup. Oleh Khmer Rouge mereka berdua dibuang ke suatu daerah hingga wafat disana. Daerah itu kini menjadi tempat ziarah bagi umat Katolik Kamboja. Siapakah mereka itu? Rasa penasaran membawaku pada pencarian di dunia maya mengenai sejarah Gereja Katolik di Kamboja.

Agama Katolik diperkenalkan pertama kali di tanah Kamboja oleh seorang misionaris Portugal bernama Gaspar da Cruz. Pada tahun 1555 ia diundang oleh Raja Ang Chan I ke istananya di Longvek, namun undangan ini bukan atas dasar ketertarikan Raja pada iman Katolik. Raja mengundang para imam Dominikan dan Fransiskan dari Portugis (dan kemudian Spanyol) dengan maksud untuk mencari dukungan dari kedua negara tersebut dalam melawan Kerajaan Siam (Thailand). Memang ada satu anggota kerajaan yang berhasil dibaptis, akan tetapi setelah ia meninggal, kontak dengan kerajaan menjadi sangat minim.

Salah satu Raja Khmer yang bernama Raja Satha menyampaikan kepada orang-orang Spanyol bahwa ia bersedia dibaptis jika kerajaannya dalam keadaan damai (mungkin maksud dari damai ini adalah berhasil meraih kemenangan atas pasukan Siam), namun kemenangan itu tak pernah datang karena kerajaan ini diserbu dan dikalahkan oleh pasukan Siam. Bisa dikatakan kedatangan para misionaris pada pertengahan abad 16 ini tak menghasilkan apa-apa.

Pada awal abad 17, umat Katolik Jepang yang melarikan diri dari pembantaian di negerinya bermigrasi ke Kamboja dan tinggal di area Ponhea, disusul oleh umat Katolik Indonesia yang bernasib sama pada tahun 1660. Mereka tinggal di area Leu. Pada tahun 1658, Vatikan mengutus tiga misionaris Perancis untuk mendirikan Gereja Katolik di Asia. Salah satu dari mereka adalah Pierre Lambert de La Motte yang dikirim ke tanah Kamboja. Namun di tanah ini Gereja Katolik sulit tumbuh karena penduduk asli sudah memiliki kepercayaan mereka sendiri (Buddha dan Hindu). Selain itu kerajaan ini terus menerus dalam posisi bertahan dari serangan tetangganya, yakni Siam dan Vietnam.

Pada abad ke-18 sudah terdapat komunitas Katolik di Kampong Thom dan Battambang. Mereka masih dilayani oleh pastor dari Perancis, salah satunya adalah Pastor Le Van Nice.

Antara tahun 1858 hingga 1862 banyak orang-orang Katolik Vietnam yang melarikan diri ke Kamboja untuk menghindari penganiayaan Kaisar Tu Duc, hingga sebagian besar umat Katolik Kamboja pada abad ini adalah orang-orang Vietnam. Pada tahun 1869, Raja Norodom meminta komunitas Katolik Khmer untuk meninggalkan area Leu di Phnom Penh. Mereka diberikan sebuah lahan untuk membangun gereja di Prek Luong. Pada masa kolonial Perancis (1863-1953), Gereja Katolik tumbuh subur di tanah Kamboja. Tahun 1850 Vikariat Apostolik* Kamboja didirikan dan terlepas dari Cochin Barat. Vikariat Apostolik ini berganti nama menjadi Vikariat Apostolik Phnom Penh pada 3 Desember 1924, dan pada 26 September 1968, dibentuk Prefektur Apostolik* Battambang dan Kampong Cham, sebagai hasil pemekaran Vikariat Apostolik Phnom Penh.

Katedral Phnom Penh mulai dibangun tahun 1951 dan diberi nama Katedral Notre Dame. Sebagian besar dana pembangunannya dibiayai oleh pemerintah Perancis. Bangunan Katedral ini dikatakan sangat megah, fondasinya tersusun dari 328 pilar, memiliki dua menara setinggi 60 meter, dan dapat menampung 10.000 orang. Jendela-jendelanya diimport dari Belgia, sedangkan lima loncengnya diimport dari Perancis. Katedral tersebut berdiri di Monivong Bolevard antara Hotel Le Royal dan Lycee Descartes, dan bekas lokasinya saat ini dijadikan town hall. Salah satu loncengnya kini diletakkan di dekat pintu masuk National Museum.

Imam pertama asli Khmer, yakni Pastor Simon Chhem Yen ditahbiskan pada 7 November 1957 di Katedral Phnom Penh yang baru saja selesai  dibangun tahun 1955, dan disusul oleh Pastor Paul Tep Im Sothajan pada tahun 1959 di Paris. Kedua imam ini menyelesaikan pendidikan imamat mereka di Perancis karena di Kamboja sendiri belum ada seminari.

Pada awal tahun 1970, jumlah umat Katolik Kamboja ada sekitar 61.000 orang, dimana 56.500 di antaranya adalah orang Vietnam, dan 1.500 orang adalah keturunan Cina. Pada saat perang sipil ketika Lon Nol mengkudeta Sihanouk, antara bulan Mei hingga Agustus 1970, ada sekitar 40.000 umat Katolik Vietnam yang meninggalkan Kamboja karena sentimen anti Vietnam yang dihembuskan Lon Nol. Pada masa perang sipil ini sudah banyak imam, biarawan, biarawati, dan awam yang menjadi martir. Mereka ini  adalah para misioner Perancis, para imam Vietnam, dan para katekis Khmer.

Masa paling berat bagi Gereja Katolik Kamboja adalah ketika rezim Khmer Rouge berkuasa sejak 17 April 1975 hingga awal tahun 1979. Rezim ini melarang berbagai praktek religius dan menghancurkan berbagai rumah ibadat, baik kuil, gereja, maupun mesjid. Katedral Phnom Penh menjadi target pertama untuk dihancurkan pada tahun 1976 karena Katedral ini selain merupakan tempat kegiatan religius juga dianggap simbol kapitalis, imperalis Vietnam, dan dianggap lambang kolonialisme Perancis. Selama tiga tahun delapan bulan dan dua puluh hari, rezim ini menghancurkan 73 gereja di seluruh Kamboja, membunuh para imam dan biarawan biarawati Kamboja, serta mengusir para misionaris asing. Menurut kisah yang beredar, meskipun umat Katolik dilarang untuk merayakan ekaristi, mereka masih bisa menyelundupkan hosti dari Vietnam dan membagikannya secara sembunyi-sembunyi.

Tiga hari menjelang 17 April 1975, hari ketika Khmer Rouge mengosongkan Phnom Penh, Pastor Joseph Chhmar Salas ditahbiskan sebagai uskup koajutor* untuk Vikariat Apostolik Phnom Penh di gereja sederhana Russei Keo. Saat itu Gereja Katolik Kamboja dikepalai oleh Uskup Yves Ramousse, seorang imam asal Perancis. Statusnya sebagai orang asing membuatnya diusir oleh Khmer Rouge pada 30 April 1975.

Mgr. Joseph Chmmar Salas lahir di Phnom Penh pada 21 Oktober 1937 dari keluarga Jean You Chhmar dan Marguerite Thong Trakhoun. Ia ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1964 setelah menjalani masa formasi di Paris. Setelah ditahbiskan ia ditugaskan di Battambang dan tak lama kemudian ia kembali ke Paris untuk melanjutkan studinya. Salah satu adiknya, Joseph Chhmar Salem terpanggil pula untuk menjadi imam dan ditahbiskan di Paris.

Tanggal 18 April 1975, hanya empat hari setelah tahbisan uskupnya, dan dua belas hari sebelum Uskup Yves diusir dari Kamboja, Mgr. Salas beserta keluarganya (termasuk Pastor Salem), dan beberapa orang imam dikirim ke kamp kerja paksa di Taing Kok. Mgr. Salas mempercayakan cincin uskup dan kalung salibnya kepada sang ibu yang kemudian menguburkannya di bawah kandang ayam.

Satu tahun kemudian Mgr. Yves mengundurkan diri dari jabatannya sehingga Mgr. Joseph Chhmar Salas secara otomatis menggantikannya sebagai uskup dan menjadi kepala Gereja Katolik Kamboja meskipun ia sedang dalam kondisi menjalankan kerja paksa di Taing Kok.

Pastor Salam kemungkinan dieksekusi sebelum tahun 1977, sedangkan Mgr. Salas kemungkinan tewas karena kelaparan dan siksaan brutal Khmer Rouge pada September 1977. Mereka dan para imam lainnya yang menjadi kurban dikubur dalam kuburan masal. Tempat dimana keluarga Mgr. Salas dan para imam dibawa untuk kerja paksa dan dieksekusi itulah yang sekarang menjadi gereja Katolik Taing Kok.

Selain Mgr. Salas dan Pastor Salem, martir Kamboja yang lain adalah Mgr. Paul Tep Im Sothajan. Ia dilahirkan pada tahun 1934, dan ditahbiskan menjadi imam di Paris pada tahun 1959 setelah menyelesaikan studi di seminari St. Roch Montpellier sejak tahun 1947. Pastor Tep Im memiliki pengetahuan yang luas mengenai budaya Kamboja dan agama Buddha, karena ia berteman dengan banyak umat Budha dan juga para Biksu. Ia bahkan bercita-cita untuk mempererat hubungan persahabatan antara umat Kristiani dengan umat Buddha. Salah seorang Biksu sahabatnya membantu untuk menterjemahkan tata perayaan ekaristi dan teks-teks liturgi ke dalam Bahasa Khmer. Terjemahan itu kemudian disempurnakan dan disederhanakan oleh Pastor Tep Im agar bisa dipahami oleh seluruh orang Khmer. Ketika Vatikan membentuk Prefektur Apostolik di Battambang, Pastor Tep Im diangkat menjadi prefek apostolik bagi prefektur tersebut, padahal usianya masih 35 tahun. Ia bahkan lebih muda dari imam termuda di prefektur tersebut yang berusia 37 tahun. Pada hari Minggu terakhir sebelum 17 April 1975, ia memimpin perayaan ekaristi dan memberikan general absolusi* kepada seluruh umatnya, baik yang hadir dalam perayaan ekaristi, maupun yang tidak hadir.

Mgr. Tep Im bersama Pastor Jean Badre (seorang imam Benediktin), Arnoldo Marini (seorang Australia) dan istrinya (yang seorang Khmer) kemudian berupaya untuk mencapai perbatasan Thailand. Seorang tentara Khmer Rouge membawa mereka ke perbatasan, namun ketika mencapai Spean Youn (jembatan Vietnam), mereka diminta turun dari mobil dan berjalan ke arah sungai. Tentara itu kemudian menembak mereka dari belakang. Kejadian itu kemungkinan terjadi pada awal Mei 1975.

Tercatat ada 35 orang imam, uskup, biarawati, dan awam Katolik yang menjadi korban selama perang sipil hingga rezim Khmer Rouge berakhir (1971-1978). Proses beatifikasi mereka telah dimulai sejak 1 Mei 2015. Daftar nama mereka dapat dilihat di http://newsaints.faithweb.com/martyrs/Cambodia.htm.

Pada tahun 1990, umat Kristiani Kamboja untuk pertama kalinya merayakan perayaan Paskah secara publik. Sebuah seminari tua di dekat National Road no. 5 dijadikan sebagai gereja paa tahun 1992, yang kini dikenal sebagai gereja St. Joseph. Pada 6 Juli 1992, Mgr. Yves Ramousse ditunjuk kembali sebagai uskup atas Vikariat Apostolik Phnom Penh. Ketika upacara pelantikannya, ibu dari Mgr. Salas hadir dan menyerahkan kalung salib uskup milik Mgr. Salas kepada Mgr. Yves. Namun sang ibu mengakui bahwa ia terpaksa menjual cincin uskup milik Mgr. Salas untuk menyelamatkan diri pada masa kelaparan. Tiga tahun kemudian, imam Khmer pertama ditahbiskan setelah periode perang berakhir.

Jumlah umat Katolik Kamboja saat ini adalah sekitar 20.000 orang, sekitar dua pertiga dari jumlah ini adalah orang-orang Vietnam, sedangkan sisanya adalah orang asli Khmer serta para pendatang. Inilah yang menyebabkan agama Katolik selalu dikaitkan dengan orang Vietnam. Sejak dulu orang Kamboja memiliki kecenderungan untuk menganggap orang Vietnam sebagai musuh bagi tradisi (catatan sejarah tentang hubungan kedua bangsa ini amat panjang). Selain itu, orang-orang Vietnam awalnya dibawa oleh pemerintah kolonial Perancis ke Kamboja sebagai pegawai rendahan, sehingga selalu dianggap sebagai rakyat kelas dua. Agama Katolik juga selalu dianggap sebagai agama penjajah, karena agama ini dibawa oleh bangsa-bangsa yang notabene pernah menjajah Kamboja dan kawasan Asia Tenggara, seperti Perancis, Portugis, dan Spanyol.

Akhirnya sebagian besar rasa penasaranku telah terjawab. Kakak beradik yang menjadi martir itu adalah Mgr. Joseph Chhmar Salam dan Pastor Joseph Chhmar Salem. Tempat ziarah yang dimaksud adalah gereja Taing Kok. Proses pencarian ini telah membawaku pada banyak kisah lain yang mengharukan sekaligus mengerikan. Darah para martir telah membasahi tanah Kamboja dan memberikan semangat dalam perjuangan umat Katolik untuk kembali menghidupkan Gereja mereka, meskipun harus dari titik nol. Kini, meskipun tak menumpahkan darah, umat Katolik Kamboja tetap menjadi martir atas diskriminasi yang mereka alami karena iman mereka.  Mgr. Tep Im Sotha, Mgr. Joseph Salas, para martir Kamboja doakanlah kami dan seluruh umat Katolik Kamboja.

Referensi :

http://www.rachanadcinternshipblog.com/2010/10/it-is-better-for-you-that-one-man.html

http://newsaints.faithweb.com/martyrs/Cambodia.htm

https://en.wikipedia.org/wiki/Joseph_Chhmar_Salas

http://www.phnompenhpost.com/national/vanquished-70s-catholic-church-still-mend

http://www.phnompenhpost.com/national/heretics-and-heritage-destruction-catholic-church-phnom-penh-1975-1979

http://www.phnompenhpost.com/national/hideous-cathedral

http://www.battambangparish.org/uploads/1/…/bio_of_bishop_paul_tep_im.pdf

http://www.catholiccambodia.org/commnunity-history (diterjemahkan dengan menggunakan google translate)

Catatan Celina :

Vikariat Apostolik : bentuk otoritas untuk suatu kawasan dalam Gereja Katolik Roma  yang dibentuk dalam wilayah misi dan di negara yang belum memiliki keuskupan. Status wilayah ini lebih berkembang dibandingkan dengan status perfektur apostolik tetapi masih di bawah status keuskupan. Vikariat apostolik dikepalai oleh seorang vikaris apostolik yang merupakan wakil paus. Seorang Vikaris Apostolik memiliki kuasa jabatan sama seperti seorang uskup, namun terbatas pada bidang atas wilayah tertentu

Prefektur Apostolik :  bentuk otoritas rendah untuk suatu wilayah pelayanan dalam Gereja Katolik Roma yang dibentuk di sebuah daerah misi dan di negara yang belum memiliki keuskupan. Prefektur apostolik dipimpin oleh seorang Prefek Apostolik, yang biasanya adalah seorang pastor dan bukan uskup.

Uskup Koajutor : Uskup Bantu yang punya hak  mengganti Uskup diosesan. Bila uskup diosesan wafat, mengundurkan diri atau pindah ke keuskupan lain ia langsung diangkat menjadi  uskup diosesan.

General Absolusi/ Absolusi Umum : pengakuan dosa tanpa pengakuan perorangan. Para petobat mengaku dosa secara umum (bersama-sama), lalu langsung menerima pengampunan. Dalam keadaan mendesak sekali, imam dapat, bahkan perlu untuk memberikan absolusi umum kepada sejumlah petobat tanpa harus didahului pengakuan perorangan, misalnya dalam kasus bahaya mati.


8 thoughts on “Bicara Tentang Kamboja : Sekelumit Kisah Tentang Gereja Katolik Kamboja

  1. sedih…😥
    Kalau ke Kamboja lagi, cobalah utk menapaktilas kisah ini, walaupun sekarang mungkin sudah berubah wajah. Menjadikan perjalanan yang luar biasa berkesan tapi sangat pribadi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s