Bicara Tentang Kamboja

Kamboja.

Apa yang ada di benakmu ketika mendengar nama negara ini?

Pol Pot? Khmer Merah? Sihanouk? Norodom? Ranjau Darat? Mekong? Killing Fields?

Sebagian besar orang masih menghubungkan Kamboja dengan rezim Khmer Merah dan Pol Pot. Tak sedikit juga yang masih menganggap Kamboja sebagai negara berbahaya dan penuh ranjau darat.

Jangan khawatir!! Kamboja sekarang sudah aman. Mungkin masih ada sisa-sisa ranjau darat yang belum dibersihkan di area-area tersembunyi, khususnya di kawasan barat laut. Tapi selama kita berkunjung ke tempat-tempat umum, bisa dipastikan area itu bersih dari ranjau darat. Memang sisa kekejamannya masih terlihat jelas. Ketika kita datang ke area candi di daerah-daerah di luar Phnom Penh, tak jarang kita melihat para korban ranjau darat yang kehilangan anggota tubuhnya dan berakhir menjadi peminta-minta.

Setelah perang sipil, era Khmer Merah, invasi Vietnam, pemilu pertama, dan beberapa kekacauan sesudahnya, kini bisa dikatakan bahwa Kamboja relatif aman dan damai. Salah satu indikatornya adalah jumlah kedatangan turis asing yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Setidaknya itulah yang terlihat dari luar. Namun apakah yang terlihat di permukaan itu mencerminkan kondisi yang sesungguhnya?

Ketika Raja Norodom Sihanouk wafat pada tahun 2012, negeri ini larut dalam dukacita mendalam seperti anak-anak yang kehilangan ayahnya. Media massa menampilkan halaman depan Royal Palace yang dipenuhi oleh warga yang ingin mendoakan Raja dan menunjukkan rasa dukacita mereka. Kamboja seolah bersatu dalam menghadapi masa-masa duka ini.

Tak sampai satu tahun kemudian, sebuah survey menunjukkan hal yang sangat mengejutkan. Kamboja mendapatkan predikat sebagai negara terkorup se-ASEAN. Korupsi dijalankan dengan begitu terbuka dan bersama-sama. Ini sudah menjadi rahasia umum.

Kemiskinan juga masih menjadi salah satu masalah besar di negeri ini. Jika kita naik bus ke luar kota Phnom Penh, kita masih bisa melihat rumah-rumah gubuk yang  gelap gulita di malam hari karena belum ada aliran listrik di daerah itu. Atau jika kita berkunjung ke tempat wisata, ada banyak anak-anak kecil yang meminta uang 1 US$ pada para turis. Ada yang meminta dengan sopan, namun ada pula yang keterlaluan : menguntit, memaksa, menarik atau mengintip isi tas.

Pemilu yang diadakan pada bulan Juli 2013 membawa pergolakan di negeri ini, ketika Sam Rainsy dengan CNRP nya hanya kalah tipis dari Hun Sen dengan CPP nya. Sam Rainsy sendiri baru saja mendapatkan pengampunan dari Raja pada bulan Februari 2013, setelah menjalani hukuman pengasingan karena tuduhan korupsi yang dilontarkannya terhadap Perdana Menteri Hun Sen, CPP, Funcinpec, dan juga atas tuduhannya bahwa Hun Sen terlibat dalam pembunuhan Chea Vichea tahun 2004. Hun Sen sendiri adalah perdana menteri yang sudah memegang jabatan sejak 30 tahun yang lalu. Bisa jadi saat ini ia adalah perdana menteri yang terlama menjabat di dunia.

Dua tahun berlalu dari hari-hari pemilu yang menegangkan. Satu hari sebelum ulang tahun kemerdekaan Indonesia, kami berkeliling Phnom Penh dengan diantar oleh seorang sopir tuk-tuk . Ia mencurahkan isi hatinya ketika kami bertanya bagaimana kondisi negerinya saat ini. Bisa dikatakan sopir tuk-tuk ini masih dalam kategori generasi muda, usianya mungkin sekitar 30 tahun. Dia bilang bahwa rakyat Kamboja sangat mencintai Raja Norodom Sihamoni, namun mayoritas rakyat tidak menyukai pemerintah. Mengapa? Karena pemerintah melakukan korupsi dan memanfaatkan jabatan mereka hanya untuk kepentingan mereka sendiri, bukan untuk rakyat. Menurut saya ini adalah curahan hati yang cukup berani!

Di depan Stasiun Kereta Api Phnom Penh, lagi-lagi ia berkeluh kesah tentang pemerintah yang “dibeli” oleh China. China seolah-olah memberikan banyak bantuan, padahal sebetulnya China menguras isi perut bumi Kamboja, mulai dari minyak hingga batu mulia. Kami menyimak ceritanya sambil memandang sebuah lokomotif hitam yang terparkir di dalam stasiun. Kamboja memiliki jalur kereta api sepanjang 612 km yang dibangun pada masa pendudukan Perancis. Karena perang sipil dan pendudukan Khmer Merah, jalur ini diabaikan hingga rusak berat. Sejak tahun 2009 semua layanan kereta api dihentikan. Sebagian kecil dari rel memang sudah diperbaiki dan dibuka lagi namun bukan untuk kereta penumpang, melainkan untuk kereta pengangkut barang.

Ceritanya berlanjut lagi di halaman Wat Koh. Kali ini tentang nasib para guru. Pada era keemasan sebelum Perang Sipil, gaji seorang guru bisa membiayai sepuluh keluarga. Bayangkan! Sepuluh keluarga! Tapi kini, gaji guru bahkan tak sanggup membiayai satu keluarga inti, alhasil banyak guru yang jadi diktator : jual diktat beli motor. Sounds familiar? Mereka melakukan banyak pekerjaan sampingan yang seringnya mengganggu pekerjaan utama mereka sebagai seorang guru.

Kami lalu menantangnya untuk mengantarkan kami ke daerah paling kumuh di Phnom Penh. Apa reaksinya? Ia tertawa nyinyir sambil berkata bahwa hal ini adalah hal yang lucu sekaligus menyedihkan. Kenapa? Karena tidak ada area kumuh di Phnom Penh. Bagus dong? Tidak! Karena semua penghuni area kumuh sudah digusur ke luar kota Phnom Penh. Mereka diberi ganti rugi tak sepadan, dan tanah bekas area tinggal mereka dijual ke investor China. Jadi Phnom Penh adalah ibukota tanpa area kumuh!! Kami tak tahu harus bereaksi apa atas fakta ini.

Malam harinya, cerita lain mengalir dari seorang warga Indonesia yang sama-sama makan malam di Warung Bali. Kami tercengang karena ia berani berkata bahwa suasana duka cita yang nampak ketika Raja Sihanouk mangkat tidak serta merta menjadi bukti bahwa rakyat mencintai beliau. Itu hanya yang tampak, itu semua hanya yang diberitakan oleh media. Kenyataannya? Banyak generasi tua yang membencinya karena pernah merasakan kebijakan-kebijakan mendiang yang seolah plin plan, terlalu banyak intrik dan akhirnya bermuara pada kekacauan. Perang sipil dan era Khmer Rouge adalah buktinya. Meskipun keluarga Raja Sihanouk juga menjadi korban dari situasi ini. Lima anaknya dan empat belas cucunya tewas atau hilang pada masa suram ini. Mereka yang saat ini berusia 50 tahun ke atas mungkin memiliki kebencian yang terpendam pada King Father ini. Hanya saja mereka tak berbicara, dan tak ada yang mau mendengar mereka berbicara.

Ia juga berbagi kisah tentang suasana pemilu tahun 2013 lalu. Kisah ini menjawab rasa penasaran kami tentang apa yang terjadi kala itu. Ia bercerita tentang betapa mencekamnya kota Phnom Penh saat itu. Kondisinya mirip dengan suasana Jakarta pada pertengahan Mei 1998. Norodom Boulevard sudah dipenuhi panser dan petugas bersenjata lengkap. Pada awalnya suasana pemungutan suara di kota Phnom Penh berjalan relatif aman. Namun rupanya di Takeo terjadi huru-hara karena ada warga yang namanya tak terdaftar dalam daftar pemilih, hingga menyebabkan status keamanan Phnom Penh dinaikkan menjadi siaga satu. Hasil pemilu pun tak diumumkan dengan transparan di media. Ada dua stasiun TV yang menampilkan hasil suara yang berbeda. Siaran TV yang menayangkan kemenangan pihak Sam Rainsy tiba-tiba saja black out dan ketika menyala kembali, hasilnya berubah menjadi kemenangan bagi Hun Sen.

Hasil pemilu diragukan kebenarannya. Konon katanya kemenangan ada di pihak Sam Rainsy, namun ketika pengumuman resmi dikeluarkan tiga bulan kemudian, bisa ditebak hasilnya seperti apa! Ia berpendapat memang saat ini sebagian warga Kamboja sudah tidak menyukai Hun Sen, namun jika terjadi kudeta terhadap Hun Sen, bisa jadi akan timbul kerusuhan besar karena ia masih memegang kekuasaan tertinggi Angkatan Bersenjata. Selain itu apakah Kamboja sudah memiliki kandidat pemimpin sekuat Hun Sen? Katanya lagi, saat ini Hun Sen sedang mempersiapkan anaknya untuk menjadi pengganti dirinya. Teman kami itu bilang, “Semua tinggal menunggu waktu”, dan jika waktu itu tiba, ia harus bersiap meninggalkan Kamboja.

Mengapa masa depan negeri ini terlihat begitu suram? Tak sadarkah mereka negeri ini begitu indah?

Seorang Biksu berparas lembut tersenyum hangat sambil menganggukan kepalanya. Ia mengizinkan aku memotret dirinya dan teman-temannya yang sedang duduk di trotoar Royal Palace sambil menikmati Minggu sore yang berawan. Aku mendekatinya dan duduk bersimpuh di sampingnya. Dengan segala keterbatasan bahasa, kami mencoba berbincang-bincang. Biksu itu bernama Bobo, usianya baru 18 tahun, dan masih menjadi biksu yunior di biaranya. Ia berasal dari sebuah keluarga miskin di Kampong Cham. Kami mengawali percakapan kami dengan membicarakan cuaca. Phnom Penh baru saja dilanda banjir dua minggu sebelum kedatanganku di kota ini. Bobo bilang, saat ini cuaca di Kamboja memang kacau, ini mungkin akibat deforestasi di negara ini yang lajunya cukup cepat.  Aku mencoba menceritakan tentang Indonesia, dan ia menceritakan tentang kehidupannya di biara. Setiap Biksu diwajibkan untuk belajar Bahasa Inggris, dan karena ia masih junior, Bahasa Inggrisnya masih belum terlalu bagus. Ia bilang ia ingin bercerita banyak tentang sejarah Kamboja di masa lalu, namun pastilah akan butuh waktu sangat panjang, apalagi dengan Bahasa Inggrisnya yang seperti itu. Aku bertanya bagaimana pendapatnya tentang situasi negeri ini, dan akhirnya aku menangkap sebuah harapan optimis dari warga Kamboja, yang mengalir dari bibir seorang biksu muda dan tidak mengenal politik.

Aku meninggalkan negeri ini dengan sebuah doa : semoga sejarah gelap di masa lalu tak akan pernah terulang kembali..


3 thoughts on “Bicara Tentang Kamboja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s