Nyaris Berpindah Dunia…

Kejadiannya baru dua hari yang lalu.. Masih takjub dan speechless kalau diingat-ingat..

Begini ceritanya..
Jumat sore, seperti Jumat-Jumat yang lain, saya pulang dari pabrik ke Bogor bersama teman-teman yang pulang ke arah Tangerang. Kami naik mobil pabrik. Saya duduk di samping pak kusir… eh, maksudnya duduk di depan, di sebelah teman saya yang bertugas menyetir.

Semua berjalan baik-baik saja, sampai kami tiba di km.54 tol Merak-Jakarta. Sebenernya sih, saya juga gak konsen dengan detail kronologisnya.. Kalau menurut teman saya yang menyetir, kami sedang melaju cukup kencang di lajur kiri, dan mendadak ada sebuah mobil box yang pindah dari jalur cepat ke jalur kami, tanpa menyalakan lampu sign.. Hmm..nyalain sih, setelah dia pindah jalur…

Singkat cerita, temen saya refleks ngerem habis (sampai bunyi ciiiittttt… kenceng banget…). Entah gimana judulnya mobil makin mengarah ke kiri (padahal udah direm habis dan nggak banting stir). Makin lama makin ke kiri. Kami sudah melewati garis akhir jalan tol, masuk ke area parit berumput dengan kedalaman sekitar 2 meter, kemiringan sekitar 45 derajat dan lebar sekitar 2 meter. Kebayang? Kalau ngga kebayang, gih sonoh, langsung aja ke TeKaPe..

Mobil akhirnya berhenti dalam kondisi miring di pertengahan tebing parit, nyaris terbalik jika ada perubahan titik beban sedikit saja. Kami berenam turun perlahan-lahan tanpa suara karena takut kalau kami grubak grubuk akan membuat mobil terguling. Teman saya masih memaki-maki mobil box yang membuat kami menjadi bernasib seperti itu. Padahal mobil box itu sudah melaju entah kemana.

Terima kasih Tuhan, kami tak terluka sedikit pun. Mobil tak kenapa-napa. Masalahnya sekarang bagaimana menaikkan mobil sampai ke atas..

Tak lama setelah kejadian, datanglah beberapa orang pemuda yang berniat baik. Mereka sedang nongkrong di bengkel (tepat dibalik tembok pembatas tol) ketika mendengar suara decit rem. Mereka khawatir ada kecelakaan dan berniat menolong. Ketika mereka melihat kondisi kami, mereka mencoba mendorong mobil naik ke atas. Berkali-kali kami mencoba, namun tak berhasil karena terlalu curam.

Akhirnya mereka menyerah, kami juga. Sebagai jalan terakhir, seorang teman menelepon petugas tol MMS untuk minta didatangkan derek.

Oh iya, salah satu pemuda itu menceritakan bahwa sepanjang jalan itu memang area rawan kecelakaan. Ia pernah berusaha menolong mobil pengantin yang terperosok dan terbalik. Namun gagal, seluruh penumpang dinyatakan tewas.

Lama kami menunggu derek datang.. Sambil menunggu, kami mulai mengumpulkan ingatan kami untuk merekonstruksi kejadian yang baru terlalui itu. Kami juga menyusuri jejak hitam ban di atas jalan sepanjang hampir 100 meter.

Setelah hampir 45 menit menanti, datanglah satu mobil patroli MMS, disusul dengan satu mobil patroli lainnya. Tak lama kemudian datang juga ambulance, mobil polisi, dan akhirnya mobil derek.

Setiap petugas yang menemui kami memastikan bahwa kami baik-baik saja serta apakah kami memerlukan pertolongan pertama. Mereka cukup terkejut ketika melihat kondisi mobil dan kami yang baik-baik saja, padahal menurut analisa jejak ban, kejadian itu cukup parah dan sangat beresiko membuat mobil terbalik.

Setelah memastikan kami baik-baik saja, tibalah saat kami “diurus” polisi. Tadinya STNK mobil itu hampir dikirim ke head office untuk pembayaran pajak tahunan, namun untungnya dibatalkan. Coba kalau STNK jadi dikirim dan kami hanya bawa STNK versi copy.. Bisa makin panjang urusan sama polisi.. Bisa jadi sudah jatuh tertimpa tangga…
Karena tidak ada korban dan tidak ada kerusakan (mobil masih bisa berjalan normal tanpa ada kerusakan apapun), maka kami akhirnya “dilepas”. Mobil diderek ke atas (salut sama petugasnya yang bisa mengendalikan mobil saat diderek). Akhirnya selesailah urusan kami, dan kami melanjutkan perjalanan pulang.

Dalam perjalanan pulang, barulah kami tersadar bahwa kejadian tadi benar-benar hampir mencelakakan kami bahkan mungkin bisa merenggut nyawa kami. Apalagi ketika mengingat analisa petugas tol.. Kami juga mengingat kemiringan mobil kami saat berhenti di tebing parit, ketika kami harus turun perlahan-lahan untuk mencegah perpindahan titik berat. Kalau mobil sampai terguling, mungkin saya yang akan pertama kali tercatat menjadi korban..

Akhirnya kami sampai pada suatu kesimpulan : kami masih diizinkan hidup oleh Tuhan. Malaikat Pelindung kami berenam betul-betul terjaga dan tak lengah menjaga kami.
Amazing? Yes.. Indeed…
Kami tak henti-hentinya bersyukur mengenang kejadian itu..

Sekarang yang jadi masalah adalah : menutupi kejadian itu dari teman-teman yang lain dan dari keluarga kami..
Jangan sampai mereka tahu, lalu jadi khawatir, dan akhirnya parno sendiri…


2 thoughts on “Nyaris Berpindah Dunia…

    1. mbaaaaaa…. iya.. Puji Tuhan banget kami baik-baik saja. Tuhan mungkin sedang menegur aku untuk lebih menghargai kehidupan yaa…. tetap semangat dan selalu berhati-hati juga ya, mbak…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s