Will You Wait For Me?

Hujan deras dan petir yang bersahutan menyambut kedatanganku di Bogor..
Sejenak aku singgah untuk berteduh, dan akhirnya tersadar bahwa tempat ini amat dekat dengan tempat terakhir kali kita berjumpa. Kebetulan? Tak ada yang kebetulan..
Mungkin Tuhan ingin agar aku membuka kembali kenangan terakhir kita, yang sedang aku coba lupakan selama dua hari ini.
Mungkin dengan mengingat semuanya, aku akan dapat menghadapi sisa hari ini dengan tegar..
Meski aku tak mengerti, namun aku harus percaya bahwa rencana Tuhan adalah yang terbaik bagi kamu, bagi keluargamu, dan bagi kita semua..
Dua puluh tahun mengenalmu membuatku yakin bahwa kamupun pasti akan mengamini itu..

Albert..
Aroma kertas ulangan hasil stensil masih kuingat dengan jelas..
Aku juga masih ingat kejadian pagi itu, ketika akhirnya aku pindah ke mejamu karena sudah tak tahan dengan teman semejaku..
Jelas aku tak sekuat apa yang guru kita pikirkan..
Itulah awal dari pertemanan kita.
Dua puluh tahun yang lalu..

Kemudian kita menjadi lebih dekat, sejak kita sama-sama ikut Legio Maria.
Aku ingat waktu itu kamu masih katekumenat, dan kita sama-sama mewawancara Suster dan Romo untuk tugas kamu.
Kita selalu bersama-sama dalam rapat mingguan, kadang menyempatkan diri hadir dalam rapat komisium..
Kita mengerjakan laporan dan tugas-tugas bersama. Menjual lilin paskah, menyiapkan altar Legio, latihan koor dan tugas lainnya.
Kita sama-sama ikut rekoleksi ke rumah Romo Fabi.
Kita sama-sama diomeli di kapel waktu menolak ikut latihan koor.
Kamu ingat tidak? Ketika kita berhasil membuat Bapa Uskup tertawa dengan drama kita, padahal kita baru bikin skenario dan latihan sehari sebelumnya
Lalu kita begadang di gereja menjelang milenium baru tahun 2000..

Albert,
Aku ingat betapa aku sangat mengandalkanmu,
Kamu selalu mau diajak hadir ke acara-acara gereja, termasuk novena keluarga, yang membuat kita benar-benar terlihat sebagai anak kecil di antara orang-orang tua.
Kamu adalah satu dari sedikit pria yang mau diajak ikut kegiatan gereja.
Kamu selalu bersedia maju duluan saat aku tak berani melangkah dalam berbagai momen dan juga kesempatan..

Kemudian kita memasuki babak baru hidup kita, masa putih abu-abu..
Kita sekolah di sekolah yang sama,
Namun kita akhirnya berjumpa dengan teman-teman baru dan menjalin persahabatan dengan orang-orang yang baru.
Kita memilih ekskul yang berbeda, kamu memilih opera, PMR, dan wushu, sedangkan aku cukup di KIR saja.
Kita tak lagi dekat seperti dulu, namun aku tahu, kamu selalu ada disana, kapanpun aku membutuhkanmu..
Aku melihat sisi lain kehidupanmu, kamu yang dulu pendiam ternyata sekarang bisa menjadi bintang panggung dan membuat orang tertawa terbahak-bahak..
Mereka bahkan selalu merindukan kehadiranmu di atas panggung, Bert..

Bert,
Selamanya aku tak akan lupa, ketika kita bersiap untuk ujian akhir praktikum Fisika.
Kita beramai-ramai duduk di depan kantor kepsek.
Punggung kita saling bersandar dan menopang.
Hebatnya tak ada yang melihat hal itu sebagai hal yang janggal atau menggunjingkan kita.
Karena mereka tahu, kita bersahabat. Ya…selamanya kita adalah sahabat…
Bahkan kita selalu menganggap diri kita sebagai kakak beradik yang hanya terpaut usia 6 hari..

Kemarin pagi, aku terhenyak dan menangis tersedu-sedu ketika membaca kabar itu.
Aku sudah tak ingat lagi bahwa aku berada di tengah keramaian.
Aku tak peduli begitu banyak mata yang memandangku prihatin, ketika aku terbata-bata menyampaikan kabar ini via telepon ke ibuku “Albert meninggal..”

Bert…
Sejak lulus SMA, kita hampir putus kontak. Kita punya kehidupan masing-masing dan kita punya impian yang berbeda.
Bertahun-tahun kemudian kita malah berjumpa di atas bus Pusaka yang mengantar kita pulang dari Tangerang.
Kau bercerita tentang pekerjaanmu yang sangat sibuk, namun kau juga bilang kau amat mencintainya..
Dua jam perjalanan jadi tak terasa karena kita sibuk mengobrol dan berbagi kisah.
Dua jam tak cukup untuk mengulang semua yang terjadi ketika kita berjauhan..

Empat bulan lalu,
Kita bertemu lagi dalam reuni SMP.
Bert, kamu tampak baik-baik saja, kamu terlihat gemuk dan sehat, meski kamu bilang kamu sangat sibuk hingga tak sempat pulang ke rumah.
Kita tertawa, kita bercanda, kita berbagi banyak kisah yang terlalui..
Tanpa pernah menyangka bahwa itu pertemuan terakhir kita..

Air mataku jatuh lagi saat aku memandang tubuhmu yang terbaring kaku..
Aku tak percaya, tapi aku harus percaya..

Bert, kamu ingat frame dino yang kamu hadiahkan saat ulang tahunku yang ke-15?
Sebulan lalu, frame itu jatuh dan pecah berkeping-keping,
namun akhirnya aku berhasil menggabungkannya dan menjadikannya utuh kembali.
Mungkin itu pertanda buatku bahwa kamu akan pergi, Bert..

Albert… selamat jalan..
Kepergianmu mengantarkan kami pada sebuah reuni singkat tanpa canda tawa..
Suatu hari kita akan reuni lagi, Bert..
Di tempat dimana kita tak akan berpisah lagi..

I need to talk with you again,
Why did you go away?
All our time together still feels like yesterday

I never thought I’d see
A single day without you,
The things we take for granted,
We can sometimes lose

And if I promise not to feel this pain,
Will I see you again? Will I see you again?

[Chorus]
‘Cause time will pass me by,
Maybe I’ll never learn to smile,
But I know I’ll make it through,
If you wait for me

And all the tears I cry,
No matter how I try,
They’ll never bring you home to me
Won’t you wait for me in heaven?

Do you remember how it was?
When we never seemed to care,
The days went by so quickly,
‘Cause I thought you’d always be there

And it’s hard to let you go,
Though I know that I must try,
I feel like I’ve been cheated,
‘Cause we never said goodbye

And if I promise not to feel this pain,
Will I see you again? Will I see you again?
Cause I miss you so,
And I need to know,
Will you wait for me?

(Kavana – Will You Wait for Me)

image


11 thoughts on “Will You Wait For Me?

  1. Na, saya turut berdukacita atas kepergian sahabat kecilmu. Pasti tidak mudah bagimu mengikhlaskan sedikit orang yang ada di hatimu untuk pergi walaupun itu harus ya. Tetapi kita selalu harus percaya bahwa itulah yang terbaik untuk semua, lagipula Albert telah berada dalam Tangan Yang Paling Hebat. Dan yang paling penting, secara fisik Albert terpisahkan darimu, tetapi dalam hati dan kenangan dia akan hidup selamanya.
    Be strong ya Na…

    1. makasih banyak ya, mbak… akhirnya aku baru bisa sedikit merasa ringan setelah lihat ketegaran mamanya… Tuhan lebih sayang sama Albert dan IA pasti bisa menjaga Albert lebih daripada yang kita lakukan di dunia… thanks ya, mbak.. tetap jaga kesehatan.. Albert awalnya sakit maag, tapi ngga pernah dihiraukan, akhirnya sampai ke infeksi pankreas dan ginjal…

      1. mbak,,, mamanya kemarin ngingetin aku (dan kita semua) untuk nggak memforsir badan kita, dan harus lebih peka mendengarkan suaranya tubuh… jangan capek2 ya, mbak,,,,

  2. Eh ini betulan? Bukan cerita? Waduh, saya turut berduka cita ya Mbak, semoga semua akan memperoleh indah pada waktunya. Tuhan sudah mengatur semuanya dalam kitab zamannya yang tebal itu, tidak ada yang meleset dan tidak ada yang terjadi tanpa suatu maksud. Berat pasti, tapi saya yakin Mbak pasti kuat menjalaninya. Semangat :)).

    Ngomong-ngomong, saya turut terhanyut dan bisa membayangkan kebersamaan kalian. Persahabatan sejati! :)).

    1. kak Gara… terima kasih banyak.. betul ka, kalau kita hanya melihat dari sudut pandang manusia, pasti selamanya nggak akan bisa terima kenyataan.. thanks banget buat supportnya.. tetap jaga kesehatan ya, kak… kadang kita suka lupa dan nggak mau mendengarkan keluhan tubuh kita….

      1. Iya sih, tapi biarpun kita menolak kenyataan, kenyataan itu tetap ada di sana, jadi mau tak mau harus kita hadapi… yang jadi masalah mungkin cuma soal “kapan”-nya saja, sebab kecepatan semua orang untuk siap kan berbeda-beda ya.

        Terima kasih ya sudah diingatkan :hehe. Mbak juga jaga kesehatan :)).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s