Merasa Bersalah…

Bertahun-tahun merasakan jadi bawahan, tapi baru kali ini saya merasakan rasa bersalah yang sedemikian besar kepada seseorang yang jadi atasan saya.

Pernah ngga ngalamin hal kayak begini : bos menanyakan sebuah pertanyaan di whatsapp (WA). Pertanyaannya sederhana dan sangat mudah dijawab, tapi radar curiga langsung naik dan langsung merasa bahwa di balik pertanyaan itu ada “sesuatu”.

Dan saya bertanya balik padanya : “Ada apa?”

Jawabannya sangat datar bagai tak ada masalah, tapi saya tahu ada masalah. Karena masalah itulah yang beberapa hari ini saya pikirkan meski rasanya enggan banget untuk menyelesaikannya… ditunda…ditunda.. dan terus ditunda.. hingga malam ini..

Saya jelaskan tentang masalah itu. Termasuk permintaan maaf karena belum sempat mengerjakannya (baca : malas…). Dan dia menjawab singkat : “gapapa”. Dia bilang dia sudah menyelesaikan masalah itu dengan orang yang terkait. Saya tutup pesan whatsapp saya dengan terima kasih dan mohon maaf karena saya selalu merepotkan dia.

Dari teman saya yang lain, akhirnya saya tahu, bahwa atasan saya adu urat di Line dengan orang tadi. Teman saya itu mengirimkan potongan percakapan mereka yang terlihat sekali penuh emosi. Kedua pria itu tak mau kalah dengan argumen mereka masing-masing. Untung saja semua hanya terjadi di Line. Kalau di dunia nyata mungkin mereka bakal terlibat baku hantam deh.

Ada satu baris yang membuat saya tertegun…

Dia membela saya.

Padahal semua terjadi karena kesalahan saya.

Bagaimana saya tidak merasa bersalah padanya?

Rasanya berkali-kali meminta maaf pun tak bisa menebus rasa bersalah ini.

Dan dia hanya bilang “Hehe. Santai aja. Jangan merasa bersalah.” (Dengan ketikan typo yang menandakan dia sudah ngantuk berat)

 

Jawaban itu tidak berhasil membuat rasa bersalah ini menghilang. Jawaban itu malah membuat rasa kantuk yang sempat muncul jadi lenyap entah kemana.

May God bless you, my best boss in the world…

This note is dedicated to our head of OD. Don’t give up on me yaa…


12 thoughts on “Merasa Bersalah…

    1. yang kuceritain di email, mbak… iya..kapok deh mba… ngga lagi2 nunda… kelihatan simple tapi jadi masalah besar…
      kalau yg di pabrik mah kayaknya ngga pernah bikin aku merasa bersalah sampe sebegininya, mba… *uppsss….

  1. Bosnya baik banget, kayaknya langka deh bos seperti itu. Beruntungnya dirimu Mbak, baik-baik selalu ya dengan Pak Bos ini :hehe. Iya permintaan maaf adalah yang terbaik, yang penting dirimu menyesali semuanya dan tak akan mengulangi lagi. Maafkan diri sendiri juga, jangan terlalu merasa bersalah :hehe.

    1. iya, Kak… andai semua bos seperti ini yaa… :’-)
      Beneran nyesel banget deh, kak… suer… ternyata ketika kita melakukan kesalahan dan dimaafkan tuh malah lebih “kena” daripada kita diomelin ya…

      1. Iya. Lebih berasa. Tapi bagus juga, kita jadi lebih komitmen buat tidak mengulangi lagi. Ketimbang kalau dimarahin, kita berpotensi mengulangi soalnya kita akan berpikir, “Ah cuma dimarahin ini” :hehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s