Hujan di Padang Edelweis

*Mohon maaf jika barisan-barisan galau berikut membuat anda ikutan galau..

Hujan mulai turun di padang edelweis, awalnya hanya rintik-rintik, namun semakin lama semakin lebat..
Aku menggigil kedinginan melihat siluetnya yang terhalang kabut..
Pada ketinggian sekitar 2.500 meter di atas permukaan laut, entah mengapa mata dan pikiranku tak bisa lepas dari dia dan bayangannya..

Dia yang memadamkan lampu itu, ketika aku terlelap kemarin malam..
Dia yang tersenyum dan menatapku hangat ketika aku terjaga dini hari itu..
Membuatku tersenyum hingga tertidur kembali..
Teriakan khasnya ketika memanggil namaku, dan langkah kakinya yang mulai kukenal..
Dia yang rela menerjang macetnya Jakarta dan menempuh jarak yang lebih panjang untuk menjemputku..
Dia dan definisinya yang unik tentang kebahagiaan..
Dia yang membuka pintu rumahnya untukku bermalam..
Dia yang membuatku berjumpa dengan sebagian kecil dari keluarga besarnya..

Dia yang memperkenalkanku pada gunung..
Dia yang mendorongku berjalan hingga sejauh ini, mencapai ketinggian ini, membuat impianku tentang padang edelweis menjadi kenyataan..
Tapi dia juga yang meninggalkanku jauh di belakang, melangkah dengan gagah tanpa peduli aku yang tersengal-sengal..
Dia yang bangga dengan pencapaianku, menyambutku dengan teriakan ceria pada setiap titik yang berhasil kujajaki..
Dia yang memayungiku, namun tak peduli apakah aku masih di sisinya atau tidak, apakah aku tetap kering atau sudah basah kuyup..
Dia yang hanya memandang dari kejauhan ketika aku terseok-seok mendaki, juga ketika aku hampir terjatuh karena batu-batu yang berguguran..
Dia yang hanya memandangku dingin ketika aku menggigil kedinginan..
Dia yang seolah menaruh kepercayaannya kepadaku, membuatku percaya diri, sekaligus merasa was-was..
Dia yang membuatku selalu merasa tak pernah jadi wanita yang anggun dan hebat..

Dia yang merelakan dirinya makan martabak, karena aku memilih martabak, padahal dia biasanya enggan makan martabak..
Membuatku menikmati apel tanpa kesulitan apapun..
Dia yang memutar akal untuk memaksaku duduk dan makan..
Dia yang dengan caranya sendiri berhasil membuatku merasa tenang, nyaman dan tak kekurangan apapun..
Dia yang menyadari bahwa aku tengah termenung menatap hujan dari balik jendela..

Hujan telah mereda, dia sudah lupa bahwa tadi ia mengajak aku berjalan di bawah payung yang sama..
Di padang ini semua kenyataan akhirnya terbuka di hadapan mataku..
Aku berharap hujan segera turun kembali dengan deras..
Agar perasaan ini ikut hanyut bersama hujan dan lumpur Papandayan..


3 thoughts on “Hujan di Padang Edelweis

  1. Lagi di atas gunung ya, Mbak? :hehe *kemudian dihajar karena tidak ikut galau*.
    Saya ngeliatnya si “Dia” yang diceritakan di sini itu antara dicinta dan dibenci, Mbak :hehe. Tapi mungkin itulah cinta kali ya, tak melulu rasa sayang, kadang juga kesal. Selama mau menerima, saya pikir tidak akan ada masalah. Mudah-mudahan yang hanyut adalah kenangan buruk dan air mata, terus meninggalkan bibit-bibit edelweis baru yang akan mekar dan bersemi abadi :)).

    Ngomong apa saya ini :haha.

    1. hahahaha… udah turun, kak… sudah kembali ke kenyataan hidup nih….
      Kak, jangan ikutan galau,,,, suer,,, rasanya nggak enak…daripada galau mendingan makan coklat deh… *apaa cobaa…
      hmmm… mungkin aku tak membenci, kak, aku hanya mencoba membuka mata terhadap kenyataan yang selama ini tak ingin aku lihat… dan menyadari bahwa kadang berhenti berharap adalah jalan yang paling tidak menyakitkan… *eh kok curcol….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s