Hanya Cinta yang Bisa : Kisah Seorang Tour Guide dari Gunung Papandayan

Being a hero isn’t about of letting others know you did the right thing. It’s about you knowing you did the right thing.” (Grandpa Max Tennyson).

Setiap orang pasti punya definisi sendiri tentang pahlawan. Pahlawan tak sekedar seseorang yang gugur dalam medan perang atau mereka yang gagah berani membela kebenaran seperti yang kita lihat dalam film laga. Seorang pahlawan tak harus selalu terkenal dan diberitakan dimana-mana. Seorang pria muda sederhana dari kaki Gunung Papandayan pun ternyata bisa menjadi seorang pahlawan dengan apa yang ia kerjakan selama ini.

Pria muda itu bernama Dani, tapi kami memanggilnya dengan sapaan “Kang Dani. Ia adalah pemandu wisata (guide) yang mendampingi rombongan ASEAN Youth Organization dalam upaya kami mendaki Gunung Papandayan pada Sabtu, 12 Desember 2015 lalu. Kang Dani tak hanya menjadi penunjuk jalan bagi kami, yang sebagian besar belum pernah mengenal Gunung Papandayan, tapi ia juga banyak mengisahkan berbagai hal tentang gunung stratovolcano yang berlokasi di Kabupaten Garut ini. Bahkan ia menjadi pegangan kami ketika kami harus menghadapi medan berat yang amat sulit untuk kami tempuh.

Kang Dani sudah menekuni pekerjaannya sebagai pemandu gunung sejak tujuh tahun yang lalu. Mengapa ia mau menjadi guide gunung yang notabene pekerjaannya sangat berat dan melelahkan? Jawabannya singkat saja : “Karena saya sangat mencintai gunung”. Sejak duduk di bangku sekolah, ia sudah jatuh cinta pada gunung. Ia sudah berkali-kali mendaki banyak gunung, dan salah satu yang paling sering ia daki adalah Gunung Papandayan yang lokasinya dekat dengan kampung halamannya di Samarang, Garut. Di kaki gunung ini pula ia menemukan cinta sejatinya, yakni seorang gadis yang kini telah resmi menjadi istrinya. Setelah Kang Dani menikah dengan istrinya, ia memutuskan untuk tinggal di kaki Papandayan dan menekuni pekerjaan sebagai pemandu wisata di Gunung Papandayan.

Hampir setiap hari Kang Dani menempuh satu kali perjalanan naik-turun gunung untuk mengantarkan rombongan hiker (rombongan hiker adalah rombongan pendaki non camping. Mereka naik dan turun gunung pada hari yang sama, atau lebih dikenal dengan istilah tektok.). Karena medannya yang tak terlalu berat dan treknya yang terbilang aman, maka rute pendakian Gunung Papandayan selalu dibuka sepanjang tahun, kecuali jika ada kejadian-kejadian luar biasa seperti erupsi dan kebakaran area seperti yang terjadi di Padang Edelweis pada bulan September lalu. Total ada lima belas orang guide yang siap sedia mengantarkan para pendaki untuk mengeksplor keindahan gunung ini, tanpa peduli kemarau yang menusuk maupun derasnya hujan yang membuat trek pendakian menjadi licin. Mereka sendiri tak hanya menjadi guide untuk Papandayan saja, jika ada permintaan khusus dari pengunjung mereka juga bersedia untuk menjadi pemandu pendakian ke Gunung Guntur, Cikuray, dan Talagabodas.

Cintanya pada gunung membuatnya tak pernah merasa lelah menekuni pekerjaan ini. Cintanya juga yang membuatnya bersedih melihat Gunung Papandayan yang mulai rusak disana-sini karena ulah para pendaki yang tidak bertanggung jawab, serta kurangnya perhatian dari pemerintah melalui Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA). Setiap Senin, ketika jumlah pengunjung tak terlalu banyak, para guide dan para relawan melakukan operasi bersih. Mereka menyisir seluruh area Papandayan untuk mengangkut sampah-sampah yang ditinggalkan oleh para pendaki. Sungguh ironis, para pendaki yang mengaku sebagai pecinta alam malah meninggalkan sampah di tempat yang katanya mereka cintai. Area dengan sampah terparah adalah Pondok Saladah. Pondok Saladah adalah areal padang rumput seluas 8 hektar dengan ketinggian 2.288 di atas permukaan laut dan digunakan sebagai tempat berkemah bagi para pendaki (camping ground). Nama saladah diambil karena banyak pohon saladah yang tumbuh di aliran air dan selokan si sekitar lokasi ini. Di area ini tersedia fasilitas MCK yang memadai, air yang melimpah, mushola, dan juga deretan warung milik warga untuk memenuhi kebutuhan logistik para pendaki. Sedihnya, warga yang membuka warung belum punya kesadaran untuk menjaga kebersihan area ini. Mereka membuang berbagai jenis sampah dan limbah langsung ke tanah. Kang Dani berkisah, salah satu area yang membuatnya miris setiap melalukan operasi bersih adalah Pondok Saladah ini. Kenapa? Karena sampah tersebar dimana-mana sejauh mata memandang, ditambah lagi dengan sikap warga sekitar yang kurang bersahabat pada para guide dan volunteer.

Beberapa tahun yang lalu, para pemandu dan volunteer meminta kepada BBKSDA untuk melarang warga berjualan di area Pondok Saladah ini karena tindakan mereka yang mencemari tanah, namun ternyata warga malah marah dan menantang mereka. Warga merasa berhak untuk melakukan apapun, termasuk berjualan dan membuang sampah sembarangan karena mereka adalah pemilik dari Gunung Papandayan. Mereka belum sadar bahwa ulah mereka saat ini akan berdampak merugikan mereka sendiri di masa yang akan datang. Bukankah jika mereka merasa memiliki gunung ini, mereka akan menjaga miliknya yang sangat berharga ini? Suatu hari jika sampah menutupi keindahannya, bukankah para pendaki juga akan enggan singgah di area ini?

Para pemandu dan volunteer juga pernah menyampaikan permintaan mereka kepada BBKSDA agar diberlakukan pembatasan jumlah pendaki yang camping dalam satu hari. Namun permintaan mereka ditolak oleh BBKSDA. Menurut BBKSDA, selama masih ada area, maka tak perlu ada pembatasan jumlah pendaki. BBKSDA bagai tidak menyadari bahwa ketika ada semakin banyak pendaki yang camping, maka akan muncul kebutuhan untuk memperluas lahan camping yang sudah ada, dengan kata lain area sekitar Pondok Saladah yang dulu masih tertutup kini sudah mulai terbuka dan dijadikan lahan berkemah. Pastinya ada banyak tanaman yang telah dan akan dikorbankan, ada lebih banyak area yang tercemari, dan semakin lama kondisi ini akan mengancam kawasan yang terlindungi. Lama-kelamaan gunung ini akan kehilangan wajah aslinya dan bukan tak mungkin dalam beberapa puluh tahun lagi akan berganti wajah menjadi gunung yang gundul serta kehilangan kecantikannya. Ketika kami tanyakan apakah BBKSDA melakukan patroli rutin di area gunung, Kang Dani menjawab bahwa sudah bertahun-tahun tidak ada patroli dari BBKSDA. Justru para guide dan volunteerlah yang menjadi penjaga dan pengawal utama bagi kelestarian gunung ini.

Pembicaraan kami dengan Kang Dani terhenti sejenak ketika kami mendengar bunyi guruh di kejauhan. Kami sudah tiba di lokasi Tegal Alun yang berada pada ketinggian sekitar 2.500 meter di atas permukaan laut. Tanaman edelweis terhampar sejauh mata memandang. Dengan luas sekitar 45 hektar, area Tegal Alun ini seolah tak memiliki batas. Edelweis (Anaphalis javanica) adalah salah satu tumbuhan endemik Indonesia (Tumbuhan endemik adalah tumbuhan yang hanya ada pada suatu wilayah atau daerah tertentu saja dan tidak ditemukan di wilayah lain). Mungkin kita pernah mendengar juga tentang tanaman edelweis yang tumbuh di pegunungan Alpen. Ternyata mereka berbeda. Edelweis Eropa (Leontopodium alpinum) memang masih berkerabat dengan edelweis Indonesia, namun memiliki ukuran bunga yang lebih besar dan mahkota lebar berwarna putih. Karena merupakan tanaman endemik, maka edelweis Indonesia dilindungi oleh hukum dengan landasan Peraturan Pemerintah no. 7 tahun 1999. Meskipun tanaman ini akan beregenerasi dengan cepat setelah dipetik, namun keserakahan manusia dapat membuat populasinya semakin berkurang, bahkan punah, seperti yang telah terjadi di Taman Nasional Gunung Bromo Tengger. Ini menjadi tambahan tugas bagi para guide untuk mencegah para pendaki memetik bahkan memotong tanaman edelweis, karena tidak ada pengawasan dan pemeriksaan yang ketat dari BBKSDA terhadap barang bawaan pendaki yang turun gunung. Entah sudah berapa ribu pendaki yang berhasil menyelundupkan bunga abadi ini untuk dibawa sebagai buah tangan dari pendakian mereka. Ironis sekali bukan? Kejadian yang paling menyedihkan terjadi pada bulan September lalu, ketika sebagian area padang edelweis di Tegal Alun ini terbakar. Para guide, volunteer, petugas BBKSDA, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan warga sekitar bahu membahu berupaya memadamkan api yang terus membesar karena cuaca panas yang kering dan angin besar yang berhembus. Setelah dilakukan investigasi, kemungkinan besar penyebab kebakaran ini adalah ulah pendaki yang lupa memadamkan api unggun. Padahal di area Tegal Alun tidak boleh mendirikan tenda, apalagi menyalakan api unggun.

Di tempat yang indah ini, Kang Dani mengungkapkan kekhawatirannya tentang masa depan Taman Wisata Alam Gunung Papandayan. Mulai Januari 2016, taman ini akan dikelola oleh pihak swasta. Pada akhir tahun ini, sebagian jalur berbatu yang menandai titik awal pendakian sudah diberi patok berwarna biru. Menurut Kang Dani, jalur itu akan diubah menjadi jalan mulus oleh pihak pengelola. Bukan tak mungkin lama-lama Papandayan akan kehilangan kealamiannya. Suatu saat nanti bisa jadi kita tak akan mengenalinya lagi, karena ia telah banyak diubah. Jalur trek yang sulit akan dipermudah agar lebih banyak pengunjung yang datang. Jumlah pengunjung yang lebih banyak pastinya akan menghasilkan pemasukan yang lebih besar, tapi apakah harus mengorbankan kelestarian dan keaslian alam? Mungkin kami termasuk rombongan yang beruntung masih bisa menyaksikan keaslian trek Papandayan sebelum ia mengalami modifikasi di berbagai tempat.

Lantas bagaimana dengan nasib para guide jika taman wisata alam ini dikelola swasta? Kang Dani menuturkan bahwa para guide sudah mendapatkan surat pengangkatan dari pengelola yang baru, ini artinya mereka akan tetap berprofesi sebagai guide di gunung ini. Namun Kang Dani pesimis dengan masa depan mereka. Memang ada persyaratan yang harus dipenuhi pihak pengelola, yakni harus mempekerjakan warga asli (sebagai guide, security, juru parkir) di taman wisata. Tapi dari hasil pengamatan Kang Dani pada beberapa taman wisata yang dikelola swasta, kondisi ini hanya ideal terjadi pada beberapa tahun pertama saja. Lama kelamaan mereka cenderung merekrut pekerja dari luar daerah, dan dengan mudah melepas para pekerja dari penduduk asli. Yang ia bisa lakukan adalah terus berupaya sebaik-baiknya menjadi pemandu agar bisa terus bekerja di tempat yang sangat ia cintai ini.
Ketika kami tanyakan apakah ia tidak pernah merasa bosan setiap hari mendaki dan menuruni gunung yang sama dengan trek yang sama selama bertahun-tahun, Kang Dani dengan tegas menjawab bahwa cintanya pada Papandayan membuatnya tak pernah merasa bosan dan lelah. Gunung Papandayan bagaikan membalas cintanya dengan menyajikan pemandangan dan pengalaman yang selalu baru setiap harinya. Cintanya yang amat besar membuatnya merasakan rindu yang mendalam jika sehari saja ia tidak menaiki gunung ini. Kami terperangah mendengar jawaban ini. Di tengah dunia yang semakin mementingkan materi dan orang-orang yang bekerja hanya untuk menggugurkan kewajiban saja, ternyata masih ada orang yang bekerja dengan hati yang penuh cinta.

Kami juga bertanya apakah penghasilannya sebagai pemandu cukup untuk membiayai kehidupan keluarganya sehari-hari? Menurut Kang Dani, penghasilannya sebagai pemandu jauh lebih baik jika dibandingkan dengan penghasilan mereka yang berprofesi sebagai buruh tani. Ia bisa menyekolahkan anak laki-lakinya yang sudah duduk di bangku SD, membelikan mainan untuk anak perempuannya yang masih berusia 2 tahun. Ia juga bisa memenuhi kebutuhan dasar keluarganya, meski ia akui tidak ada sisa uang yang bisa digunakan sebagai tabungan.

Menjadi seorang guide gunung tak hanya bertugas untuk mengantar para pendaki dan menujukkan jalan. Seorang guide juga harus memastikan keselamatan rombongan yang didampinginya, dan sekaligus menjadi polisi hutan agar para pendaki tak bertindak seenaknya merusak kelestarian alam. Mereka juga harus mencari pendaki yang tersesat, serta menolong pendaki yang sakit atau terkena hipotermia (penurunan suhu tubuh hingga di bawah 35 C). Kang Dani sendiri pernah mengalami kejadian yang membuatnya menangis dan hampir putus asa. Dalam perjalanan turun bersama para pendaki dari Singapura, mereka singgah ke danau vulkanik Papandayan. Ketika itu hujan turun dengan deras dan membuat aliran sungai belerang menjadi begitu deras dan tak bisa diseberangi, dengan kata lain mereka terancam tak bisa pulang. Para turis mulai gusar dan marah-marah. Sinar matahari mulai menghilang dari langit. Kang Dani sudah kehabisan akal. Akhirnya mereka bahu membahu melemparkan batu-batu besar ke arah sungai agar bisa menyeberanginya. Meskipun sudah ditimbun batu tapi kedalaman air masih sedengkul mereka. Dengan perlahan-lahan mereka meniti batu-batu tersebut dan akhirnya bisa tiba dengan selamat di kaki gunung.

Bagi kami, Kang Dani tak hanya sekedar seorang guide, tapi juga seorang motivator yang ulung. Ia meyakinkan kami bahwa meskipun kami adalah pendaki pemula, tapi kami pasti bisa mencapai Tegal Alun. Ia memberikan kami kepercayaan diri ketika kami harus mendaki Tanjakan Mamang yang sangat curam. Ia yakin dan percaya pada kekuatan kami ketika kami sendiri sudah meragukan kemampuan kami. Ia mengulurkan tangan ketika kami merasa tak sanggup lagi melangkah dan ketika rasa takut mulai menyergap kami. Kang Dani telah membuat mimpi kami tentang Padang Edelweis menjadi kenyataan.

Mungkin dunia tak kenal Kang Dani, dan mungkin banyak orang yang meremehkan pekerjaannya. Tapi ia tak membutuhkan pengakuan dari dunia. Ia hanya ingin melestarikan dan menjaga Gunung Papandayan yang amat dicintainya.


6 thoughts on “Hanya Cinta yang Bisa : Kisah Seorang Tour Guide dari Gunung Papandayan

  1. Miris banget bacanya. Alam padahal tidak salah tapi diperlakukan seolah-olah seorang penjahat. Yah, sekarang memang alam masih menerima semua yang dikerjakan manusia padanya, tapi berhati-hatilah, suatu saat alam akan menuntut balas :hehe.
    Saya miris juga membaca pola pikir masyarakat yang “mentang-mentang memiliki, maka saya berhak melakukan apa saja”. Itu pola pikir eksploitatif yang sangat salah. Tapi saya juga bisa merasa bahwa pola pikir itu tidak bisa diubah dengan mudah. Yah, mungkin gunung itu mesti menghilang dulu baru disadari betapa berharganya bagi orang-orang itu, ya.

    Hastagah, tak tahu mau mengetik apa lagi nih :hihi.

    1. Kak… aku jadi ingat sebuah pepatah Amerika kuno :
      When the last tree is cut down, the last fish eaten, and the last stream poisoned, you will realize that you cannot eat money..

      Sedih ya, kak, ketika orang hanya berpikir tentang uang, uang, dan uang.. Mereka merasa alam selalu jadi atm tanpa limit, ngga mikirin anak cucunya mau hidup dimana dan makan apa..

      Gemesin yah….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s