Edelweiss Field Forever..

Kembali ke cerita tentang rencana pendakian Papandayan…

Saat saya menanyakan apakah kita akan lanjut naik gunung Papandayan jika nanti Garut diguyur hujan, atasan saya langsung menjawab dengan yakin : “Lanjut dong.. kan bisa pakai jas hujan…” Hmm… baiklah kalau begitu… saya nurut aja lah bos… Saya hanya bisa berdoa semoga semua rencana ini diberkati dan bisa berjalan dengan lancar.

Lima hari sebelum hari-H, suara saya sukses hilang… hadeuh… kenapa ini… beneran deh badan saya mendadak jadi letoy banget.. Duh jangan-jangan ini pertanda bahwa saya nggak boleh ikut ke Garut nih..

Untunglah… senior saya membawakan satu tupperware sirup bandrek. Believe it or not, bandrek (plus doa) berhasil memunculkan suara saya kembali..

H-1 : Sepatu siap (pinjem), jas hujan siap (beli sendiri dong),  pakaian ganti siap, obat-obatan siap, coklat siap, kamera? Nggak usah bawa kamera yang gede-gedelah… ribeut dan berat… bawa badan sendiri aja bakalan susah, apalagi harus bawa kamera. Motretnya pakai hape aja deh. Saatnya packing… Rasanya excited banget deh.. Apalagi ketika di grup whatsapp sudah mulai ramai rencana-rencana untuk keesokan harinya..

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun datang… yeaaayyy… Rombongan kami dibagi dalam dua kloter. Saya, si bos, dan tiga teman lainnya ikut dalam kloter pertama. Kloter kedua akan berangkat dari Jakarta pukul 10 malam karena masih banyak yang kerja dan kuliah sampai malam. Jadi total rombongan yang berangkat sebanyak 13 orang. Untunglah nggak ada satupun dari kami yang masih percaya bahwa 13 adalah angka sial.

Esok harinya setelah sarapan, kami meluncur menuju Gunung Papandayan. Perjalanan dari rumah si bos di Karangpawitan menuju Gunung Papandayan sekitar 45 menit. Itupun pakai acara nyasar (gara-gara nggak merhatiin ocehan si Google Maps), dan nanya-nanya jalan.

Oh iya, sebelumnya kami sudah dibagi dalam tiga kelompok untuk melakukan inventarisir makhluk hidup yang kami temui sepanjang perjalanan kami, tapi dengan metode yang sederhana. Kami cukup memotret, mencatat ukuran, warna dan ciri-ciri umum saja. Kelompok 1 bertugas melakukan pencatatan terhadap burung, kelompok 2 mencatat serangga, sedangkan kelompok saya yaitu kelompok 3 bertugas mencatat tumbuhan. Yang bikin saya bahagia, saya menjadi satu-satunya perempuan di kelompok ini.. hehe.. jadi kalau pingsan bakal ada tiga orang cowok yang siap sedia menggotong saya, dan kalau saya keberatan beban, ada tiga cowok ini yang siap sedia bawain ransel saya… hihihi.. modus banget yak…

Setelah melalui jalan yang tak terlalu bagus dan berliku-liku, kami sampai juga di gerbang ticketing. Harga tiket masuk untuk wisatawan domestik pada saat weekend dan libur (kami naik pada hari Sabtu) sebesar Rp. 7.500, sedangkan tiket masuk mobil seharga Rp. 15.000. Kami masih harus menempuh perjalanan beberapa kilometer lagi menuju ke area parkir.

IMG_20151212_104719
Area Parkiran

Di area parkir yang juga dikenal sebagai Camp David, saya dan si bos berbagi tugas. Saya ke posko registrasi, sedangkan si bos mencari pemandu untuk perjalanan kami. Di posko registrasi, rombongan kami dicatat mulai dari jumlah orang, jumlah kendaraan yang dititipkan, apakah kami akan pulang hari (tektok) atau camping, serta barang-barang apa saja yang harus dititipkan. Kami diberikan selembar kertas yang berisi peta sederhana dan nomor telepon petugas yang bisa dihubungi jika kami tersesat atau mengalami masalah di atas nanti. Untuk proses registrasi ini setiap pengunjung dikenai biaya Rp. 3.000, sedangkan biaya parkir sebesar Rp. 20.000 per mobil.

Sekarang saatnya kita memulai pendakian.. Eh, sebelumnya kami sempat dibuat terkejut dengan sensasi air panas di toilet. Hmm.. gak usah diceritain deh, soalnya memalukan banget.. Tapi yang pasti tragedi air panas ini bikin suasana awal pendakian jadi penuh tawa, terutama bagi kami para wanita..

Sebelum memasuki area pendakian, saya ingat pesan kakak saya, dan mulai berdoa, “Tuhan aku tak ingin menaklukkan gunung ini. Aku hanya mohon izin untuk menikmati karya ciptaanMu. Semoga Engkau mengizinkanku..”

Kami disambut oleh jalan berbatu yang cukup lebar (sekitar 2 meter lah..). Di awal pendakian treknya masih lumayan datar, namun cukuplah untuk membuat saya berkeringat hingga make up luntur.. Padahal teman-teman yang lain masih kinclong dan manis… huuuh…

Makin lama, jalanan semakin menanjak. Pada beberapa bagian kami harus memilih pijakan yang paling mantab dan terpaksa berhenti sejenak untuk bergantian jalan dengan mereka yang turun. Pohon cantigi/ suagi yang berpucuk merah mirip pohon kayu manis namun kayunya tak mengelupas, menemani perjalanan kami. Pohon ini amat istimewa karena dia sanggup tumbuh di tanah yang berbatu dengan kandungan sulfur cukup tinggi. Pada bagian kaki gunung, sebagian besar pohon suagi berukuran pendek karena mereka baru saja ditanam hampir sepuluh tahun yang lalu untuk reboisasi lahan yang terkena dampak erupsi pada tahun 2002.

IMG_20151212_110846
Pohon Suagi/ Cantigi. Meskipun pendek, namun pohon ini berusia hampir sepuluh tahun lho

Tak lama kemudian, kami menyaksikan area kawah Gunung Papandayan di sebelah kiri kami.. wow… beneran deh speechless.. Beneran berasa udah di gunung (eh…emang dari tadi teh ada dimana? kan dari tadi juga udah di gunung kan…)

IMG_20151212_113108
Kawah yang waaahhh….
IMG_20151212_113309
Mak…aye dah nyampe gunung….

Hmm… semakin lama semakin terasa bahwa jalan yang kami tempuh semakin menanjak. Beberapa kali saya sudah harus minta bantuan karena jarak antar pijakan yang cukup jauh. Kami sepakat untuk beristirahat di bunderan. Disini ada beberapa warung milik penduduk, yah lumayanlah untuk duduk sejenak menyeka peluh dan meluruskan kaki. Saya ingat pesan kakak saya untuk tidak minum terlalu banyak, jadi saya hanya minum seteguk saja disini, padahal rasanya udah bisa menghabiskan satu ember…

Karena medan yang semakin berat, para pria yang baik hati mulai menawarkan punggung mereka untuk membawakan ransel dan bawaan kami… hehehe..

Di bunderan ini ada dua percabangan. Jalur yang ke kanan adalah jalur pendakian resmi yang melewati Hober Hoet, sedangkan jalur yang ke kiri melewati Hutan Mati, dan sebetulnya tak boleh sembarangan dilalui karena rawan longsor. Jika kita melalui rute Hober Hoet, kita membutuhkan tambahan minimal satu jam perjalanan, sedangkan dengan melalui Hutan Mati, kita bisa menghemat waktu perjalanan, namun treknya lebih curam. Waduh… tadi aja saya udah kuyup keringat dan megap-megap, padahal katanya itu belum ada apa-apanya dibandingkan dengan yang akan saya hadapi berikutnya…

IMG_20151212_115200
Kami memilih yang sebelah kiri…

Hober Hoet itu bukannya adek ipar Melly Goeslaw loh… Soalnya si Hober ini gak ada hubungan apa-apa sama Anto Hoed… *halah…apa sih.. Hober Hoet atau Hoogbert Hut dulunya adalah tempat peristirahatan pengunjung pada masa penjajahan Belanda. Jika kita melewati jalur ini, kita akan berjumpa dengan lawang (pintu) angin, yaitu celah yang membelah punggung gunung. Sesuai namanya, disini katanya anginnya gede banget…

Kami memilih rute dead forest alias hutan mati. Hutan mati ini dulunya adalah hutan hidup yang dipenuhi oleh pohon-pohon suagi dengan ketinggian hingga mencapai 2 meter. Erupsi besar pada 11 November 2002 menghasilkan awan panas yang menghanguskan pohon suagi. Setelah tiga belas tahun berlalu, ekosistem ini masih belum bisa memulihkan dirinya.

Perjalanan dari bundaran menuju dead forest lumayan berat (menurut saya), trek mulai curam dan menyempit, kami melewati kawah aktif yang mengeluarkan suara… hmm… mirip suara panci tukang mie ayam… hihihi…

Saya mulai megap-megap, dan jadi bete banget waktu lihat ada seseorang yang jalan dengan santai nggak pakai keringetan apalagi ngap-ngapan… Maklum olahragawan seh.. Hujan rintik-rintik mulai turun mengiringi perjalanan kami, bergantian dengan kabut yang cukup tebal dan beberapa kali menghalangi pandangan. Menjelang dead forest saya sudah benar-benar lemas, enggan melangkah dan nafas saya serasa habis. Saya sudah melihat beberapa teman duduk-duduk di lantai hutan, tapi entah kenapa pikiran saya blank. Ketika ada seseorang yang meneriakkan nama saya, barulah kesadaran saya kembali. Dan dengan sisa-sisa napas, akhirnya saya mencapai titik pemberhentian kedua : Dead Forest.

IMG_20151212_121754
Cocok bener yak buat shooting film horor

Baru beberapa menit saya duduk tenang mengatur nafas, eh teman-teman yang lain memutuskan untuk jalan. Tega bener dah… tegaaaaa…. apakah mereka nggak tahu saya hampir tewas… *lebay… Untunglah sebagian besar dari mereka masih pengen foto-foto, jadi saya masih bisa memperpanjang nafas…. *hirup.. lepaskan.. hirup.. lepaskan.. saya bernafas sepuasnya seolah itu nafas terakhir saya… Ternyata empat minggu lari rutin 30 menit sehari ngga memberi efek apapun buat saya…

Kabut tebal mulai turun membuat suasana di hutan mati semakin mistis saja. Apalagi matahari betul-betul tak menampakkan dirinya. Keren? banget… Serem? juga banget…

IMG_20151212_122347
Saya cuma bisa bilang : How great Thou art…

Untuk naik ke Tegal Alun (padang edelweiss), kami akan menempuh medan yang lebih curam lagi.. alamak… dan menjelang akhir pendakian, kami akan bertemu dengan tanjakan yang sangat curam sepanjang sekitar 30 meter. Kalau di jalan lurus seh, 30 meter itu nggak ada apa-apanya deh. Tapi kalau menanjak? 30 meter itu serasa siksaan tanpa akhir…

Si bos memberikan opsi. Mereka yang sudah tak sanggup, silakan menepi di Pondok Saladah. Mereka yang masih kuat, silakan ikut ke atas. Saya termasuk yang mengacungkan jari dan melambaikan tangan ke arah kamera, alias MENYERAH. Tapi, ketika saya memutuskan menyerah, ternyata teman-teman saya menyuarakan protesnya. Mereka menyesali keputusan saya.. Jiah..mereka sih enak aja nyuruh naik.. Nggak liat apa nafas saya udah senin kamis…

Kang Dani, guide kami, akhirnya buka suara. Dia bilang dia yakin seyakin-yakinnya kami semua bakal bisa sampai Tegal Alun dengan selamat. Nah kan.. lagi-lagi dilema.. naik…nggak… naik… nggak… Saya tanya Kang Dani, apakah di medan terberat nanti akan ada pohon-pohon untuk pegangan? *saya tahu ini pertanyaan yang konyol banget… Dan Kang Dani bilang : ADA…

Okelah… saya putuskan untuk naik.. Sudah tanggung sampai disini, masak saya menyerah sih…Beberapa teman yang sempat mau menyerah pun akhirnya memutuskan naik dengan syarat : mereka jalan duluan bersama Kang Dani tanpa ada yang boleh mendahului.. *jangankan mau mendahului, buat jalan aja udah susah,,,

Istirahat saya terpaksa diakhiri karena hujan deras mulai turun di hutan mati… Mari kita jalan lagi…

IMG_20151212_122627
Cakep banget yaa…

Kami semua sudah lupa dengan tugas kami mencatat makhluk hidup.. Kegiatan foto memfoto juga sudah semakin berkurang.. Kami hanya fokus dengan langkah kaki kami saja.. hehehe…

“Kamu hebat…sudah bisa sampai disini…”, itu yang atasan saya katakan ketika kami meninggalkan hutan mati… yaa..yaa.. saya akan buktikan saya bisa, Bos… *sambil nyengir nggak yakin… “Kamu pasti bisa… pasti bisa…”, dia mencoba menghipnotis saya…

Trek berikutnya semakin muantab… terjal, sempit, bahkan sedikit tricky. Kita harus sedikit cerdas memilih langkah jika tak mau terperosok. Kondisi ini bikin serba salah, beristirahat nggak nyaman, jalan terus bakalan capek banget, apalagi pada beberapa tempat, kami harus melangkahkan kaki setinggi-tingginya untuk bisa mencapai pijakan berikutnya.

Saya bisa mendengar nafas saya bergemuruh… berisik banget dah… bikin malu… Kayaknya cuma saya doang yang heboh begini… Di sebuah lokasi yang cukup landai kami beristirahat sejenak, it’s a chocolate time… Dan ternyata benar banget apa yang kakak saya bilang, makan coklat memang bikin energi serasa dipulihkan kembali… Lumayan juga bisa sejenak meluruskan kaki yang rasanya udah mati rasa…

Tibalah kami pada posisi terberat : Tanjakan Mamang. Hanya sepanjang 30 meter tapi paling curam.. Katanya sih tanjakan ini memiliki kemiringan lebih dari 45 derajat… *silakan ambil busur derajat kalau belum terbayang,, Maaf nggak ada fotonya yah… boro-boro mau motret, mau jalan aja udah ripuh,,, hehehe… Kenapa namanya Tanjakan Mamang? Konon dulu ada seorang guide yang namanya Mamang yang tak bisa melalui tanjakan ini karena kehabisan tenaga. Nah loh… guidenya aja nggak sanggup,,, gimana kami ya? Kang Dani menghibur kami dan mengatakan si Mamang ngga bisa naik karena memang ukuran badannya yang besar.. Hmm… jadi penasaran deh.. body saya lebih kecil kan dari si Mamang?

Para pria yang gentleman itu stand by mengulurkan tangan bagi kami yang rempong melangkahkan kaki. Sebuah uluran tangan.. Mungkin sederhana.. Tapi memberikan perasaan aman.. Mengembalikan kepercayaan diri dan membawa sebuah keyakinan.. Bahwa saya tak akan ditinggalkan sendirian..

Setelah berjuang melalui Tanjakan Mamang, kami sampai di hutan terakhir sebelum Tegal Alun. Kami menyempatkan diri untuk istirahat sejenak, tanpa sadar kami hanya tinggal beberapa langkah dari Padang Edelweiss terbesar se-Asia Tenggara..

IMG_20151212_130117
Hutan Terakhir…

Tak lama kemudian terdengar teriakan ceria dari teman-teman yang berada di depan… Terima kasih Tuhan… akhirnya saya mencapai Tegal Alun… Padang Edelweiss terbesar di Asia Tenggara.. Suara teriakan yang sangat familiar menyambut langkahku disana.. Rasanya tak bisa dikatakan dengan kata-kata.. Betul sekali yang kakak saya bilang, kita harus menjalaninya dan menyaksikannya sendiri untuk mengetahui rasanya..

IMG_20151212_145159

Sudahlah saya tak perlu banyak cerita lagi.. Silakan dinikmati saja foto-fotonya..

IMG_20151212_131743

Sayangnya bulan Desember bukanlah waktu berbunga bagi Edelweiss.. Jadi kami hanya bisa melihat kuntum-kuntum pucuk edelweiss saja.. But it’s more than enough.. For your info, edelweiss biasanya berbunga antara April hingga Agustus. Kami juga tak jadi melakukan penanaman edelweiss karena musim hujan akan membuat batang tak bisa berdiri tegak serta menghambat pertumbuhan akar.

IMG_20151212_132328
Kabut mulai turun di padang edelweiss

O iya, Tegal Alun adalah daerah konservasi, so dilarang keras berkemah disini.

IMG_20151212_133936

IMG_20151212_142339

Tegal Alun terletak pada ketinggian sekitar 2.500 mdpl, dan bukan merupakan puncak dari Gunung Papandayan. Jika kita ingin ke puncak yang berketinggian 2.622 mdpl, kita harus menempuh rute dari Tegal Alun ini dan menempuh trek yang lebih sadis, dimana lutut dan perut akan melangkah berdampingan bak bayi kembar siam.

Kami memutuskan mengakhiri pendakian kami sampai di Tegal Alun saja, karena inilah spot yang menjadi target dan impian kami semua. Disini kami membuka bekal yang langsung disantap ludes dalam waktu sesingkat-singkatnya.. hehehe.. Hmm… di pojokan sana ada yang sedang menulis surat cinta buat pacarnya tuh.. Buat yang lagi patah hati, suasana disini membuat kita merasa lebih dekat dengan Tuhan dan makin jauh dari mantan… *eh atau terbalik ya? Buat yang lagi pedekate, Tegal Alun memang lokasi yang paling romantis untuk menyatakan cinta. Buat yang suka mellow mellow, silakan bikin puisi galau disini..

TAPI…. INGAT!!! JANGAN AMBIL APAPUN KECUALI GAMBAR!! JANGAN TINGGALKAN APAPUN KECUALI JEJAK!! JANGAN BUNUH APAPUN KECUALI WAKTU!!

IMG_20151212_145013

Hujan mulai turun ketika Kang Dani mengajak kami melihat mata air awet muda. Perjalanan kesana melewati bagian padang edelweiss yang terbakar pada bulan September lalu. Sedih sekali menyaksikan batang-batang edelweiss yang hangus terbakar.. Kami bertanya-tanya apakah mereka akan menjadi hutan mati yang kedua? Namun pucuk-pucuk hijau yang mulai muncul membawa optimisme di hati kami.. Semoga mereka mampu meregenerasi diri mereka dan kembali asri seperti semula..

IMG_20151212_140612
Hiks.. mereka menghitam

Setelah kami puas beristirahat dan bernarsis ria, saatnya kami harus menghadapi bagian tersulit perjalanan ini : MENURUNI GUNUNG.

Gak percaya kalau menuruni gunung jauh lebih sulit daripada mendakinya? Cobain aja sendiri deh! Apalagi kalau diiringi hujan deras. Rasanya cetar membahana, kaki sudah mati rasa, ujung jari sakit menahan tumpuan badan, betis dan paha terasa gemetaran. Ditambah lagi dengan resiko nyusrug karena tak bisa mengerem dan licin.

Untung ada seorang teman yang sangat setia, dia memegangi tangan saya saat menuruni Tanjakan Mamang, dan terus menjadi tumpuan saya (plus menahan badan saya agar tidak menggelinding ke bawah) hingga area kawah yang sudah mulai datar.

Sebetulnya nggak tega juga sih sama dia. Hmm,, bayangkan saja sebatang tusuk gigi disandingkan dengan sebatang cotton bud. Saya yang segede cotton bud itu ditopang sama orang segede tusuk gigi.. Energi potensial saya kan pasti lebih besar daripada dia (hmm,,,kalau bingung apa hubungannya, monggo ditanyakan pada guru fisika terdekat di kota anda). Beberapa kali kami hampir jatuh barengan, beberapa kali dia yang hampir jatuh karena tak bisa mengerem. Tapi lebih sering saya sih,,, Dia juga yang mencari jalan terenak untuk bisa saya jalani. Jadi saya bener-bener ngga pakai mikir.. Jalan ditunjukkin, dipegangin pula.. Tapi teuteup aja ribeut… Bener-bener deh badan saya kagak fleksibel…

Sampai di dead forest, saya menyaksikan pemandangan yang bikin bulu kuduk naik :

IMG_20151212_153013

beberapa menit kemudian kami menoleh ke belakang dan pemandangan ini sudah lenyap ditelan kabut tebal… hiyy… serem…

Di tepi kawah kami beristirahat sejenak sambil menikmati pisang dan tempe goreng hangat.. Hmm.. benar-benar nikmat.. Hujan tampaknya tak ada tanda-tanda hendak mereda. Setelah sekitar 15 menit beristirahat, kami akhirnya memutuskan untuk turun.

Teman saya, si tusuk gigi itu (upss…maaf brooo), akhirnya meninggalkan saya, dan pada bagian akhir perjalanan ini, saya mulai berpikir sendirian untuk mencari pijakan termudah dan terlandai, belajar menyeimbangkan diri saya, dan yang penting menenangkan diri ketika melihat di sisi kanan saya ada lembah yang cukup dalam menuju ke kawah..

Rombongan kami sudah terpencar, untungnya Kang Dani tetap mensupervisi dan menunjukkan jalan dari belakang. Semakin lama rasanya tubuh kami semakin kedinginan, tangan kami semakin mati rasa, begitu juga dengan otak kami yang sudah malas berpikir… halah… Untunglah kami semua bisa tiba dengan selamat di Camp David, meskipun dengan insiden terpeleset dan jatuh terduduk…

Kami langsung menyerbu warung terdekat untuk memesan mie rebus dan teh manis.. Benar-benar deh, inilah mie rebus dan teh hangat ternikmat dalam sejarah… Gemeletuk gigi kami menambah semarak petang itu. Yap, kami kedinginan kronis. Namun kebersamaan, tawa dan rasa syukur kami telah membuat dingin itu terhalaukan. Tubuh boleh kedinginan tapi hati tetap harus merasa hangat kan…

Saat baru turun dari gunung, saya hanya sibuk menghangatkan diri, meluruskan kaki dan meredakan kelelahan fisik saya. Saya tak banyak berpikir atau mengenang perjalanan yang saya telah tempuh selama sekitar 8 jam. Tapi setelah pulang, barulah potongan-potongan kenangan sepanjang jalan muncul satu persatu ke permukaan ingatan. Kenangan demi kenangan datang dan memberikan kesan yang mendalam, bahka membawakan seulas senyum dan rasa rindu pada Papandayan..

Tepat sekali yang dikatakan oleh Lin Yutang : “No one realizes how beautiful it is to travel until he comes home and rests his head on his old, familiar pillow.”

Terima kasih teman-teman, kalian telah membuat mimpiku tentang padang edelweiss menjadi kenyataan…

Yuk kita balik lagi ke Papandayan…. hehehe *belagu mode ON

 


4 thoughts on “Edelweiss Field Forever..

    1. Mbak… kalau waktu itu ngga ketemu Mbak di blog ini… mungkin sampai hari ini aku masih gagal move on dan nggak kemana2… jadi aku bersyukur banget… Tuhan sudah membuatku ditemukan sama mbak… Thanks a lot ya, mbak..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s