Sebuah Impian Tentang Padang Edelweiss

Entah siapa yang pertama kali mencetuskan ide jalan-jalan ke Garut saat kami training dua bulan yang lalu..
Dan entah bagaimana mulanya hingga pada akhirnya ada banyak agenda yang dimasukkan ke dalam rencana jalan-jalan itu, mulai dari training pembuatan kompos, pembuatan biopori, bertemu karang taruna, menanam edelweiss, kunjungan ke Kampung Naga, naik Gunung Papandayan, book donation, dan banyak lagi rencana lainnya..

Eh… naik gunung??? tunggu… emang saya kuat gitu???

Dalam meeting bulanan kami, satu setengah bulan sebelum hari-H, saya menyatakan bahwa saya tak akan ikut naik ke gunung. Alasannya? Karena saya sadar diri lah.. Dengan body yang agak over weight ini, tubuh saya kurang fleksibel. Jalan di medan yang datar aja udah ngos-ngosan, apalagi harus mendaki dan menuruni gunung… Wedeh.. jangan-jangan saya malah pingsan. Terus emangnya ada yang mau gotong kalau saya pingsan? Saya sih sudah memutuskan untuk ikut ke Garut, tapi tidak akan ikut naik gunung. Saya jaga rumah aja atau masak buat semuanya (walaupun masakan saya juga beresiko membahayakan peserta lainnya sih…). Ketika saya mengutarakan hal itu, teman-teman saya yang lain hanya tertawa, namun saya mendapatkan teman seperjuangan yang sama enggan naik juga seperti saya… Heheheh… lumayan…

Atasan saya yang adalah seorang Garutman dan pernah naik Papandayan menceritakan tentang Padang Edelweiss di Papandayan yang merupakan padang edelweiss terbesar se-Asia Tenggara. Ceritanya membuat saya terkenang tangkai-tangkai edelweiss yang diselundupkan kakak sepupu saya dalam senter saat ia turun dari Gunung Gede sekitar 10 tahun yang lalu. Untung saja selundupannya itu tak ketahuan ketika ia digeledah di pos kaki Gunung Gede. Lagian dia nekad banget nyelundupin bunga yang jelas-jelas dilindungi, padahal kan saya hanya iseng waktu bilang minta dibawain edelweiss dari Gede..

Seusai meeting, atasan saya duduk di samping saya dan bertanya dengan halus, mengapa saya tak mau ikut naik gunung? Saya jawab dengan jujur gak pakai jaim, saya takut pingsan dan nggak kuat. Dia hanya menjawab, “Kamu pasti bisa! Kamu harus mencoba supaya kamu tahu apakah kamu sanggup atau tidak.” Dalam perjalanan pulang dari meeting, saya menimbang-nimbang dan berpikir-pikir. Sungguh, saya ingin sekali melihat edelweiss di habitat aslinya. Bunga yang dibawakan kakak saya sepuluh tahun yang lalu masih tertata indah di kamar saya. Bentuknya tak berubah, tetap indah meskipun mengering. Melihat edelweiss di tempat aslinya pasti akan memberikan pengalaman tak terlupakan. Teman saya yang lain juga berkata bahwa saya masih punya banyak waktu untuk melatih diri. Kan masih ada satu setengah bulan sebelum perjalanan. Apalagi ternyata kami seluruhnya (kecuali atasan saya) belum pernah naik gunung sama sekali. Jadi kami akan sama-sama berjuang dari nol..

Dulu… dulu sekali… Saya pernah punya impian untuk naik gunung, gara-gara baca buku harian Soe Hok Gie. Namun impian itu tetaplah hanya impian tanpa pernah diupayakan untuk menjadi kenyataan. Malah pada sekitar tahun 2005, kakak sepupu sayalah yang mulai rutin naik gunung. Mulai dari Gunung Gede, Pangrango, Salak, Semeru, dan entah gunung-gunung apa lagi. Setiap pulang, ia pasti membawa banyak kisah seru dan seram. Saya paling kesal ketika ia menutup ceritanya dengan kalimat, “Kamu harus naik sendiri kesana untuk bisa merasakan keindahannya. Kalimat sepanjang apapun tak akan mampu menceritakan dan menggambarkan dahsyatnya berada di puncak gunung.” Ngeseliiiiinnnn.. Dia kan tahu saya nggak mungkin naik gunung!!

Entah bagaimana judulnya, akhirnya saya memutuskan akan ikut naik Gunung Papandayan. Horeeeeeeee….. Padahal dalam hati saya merasa takut, khawatir, resah, gelisah, dan segala macam perasaan campur aduk deh….

Saya ingat kakak saya setiap mau naik gunung pasti lari keliling komplek. Jadi saya mencanangkan target : lari selama 30 menit sehari.
Hmm, kayaknya saya harus segera minta restu, petuah, tips dan trik nih dari kakak saya deh. Nah kan ternyata dia malah kaget ketika saya bilang mau naik gunung. Bebagai nasehat langsung mengalir lewat pesan-pesan whatsapp : lari setiap pagi dan sore cukup 15 menit, packing senyaman mungkin, tas harus balance, minum hanya untuk membasahi kerongkongan. Bawa jaket tebal, jangan pakai jeans, bawa kaos kaki 2 pasang, mending pakai celana pendek saat jalan, bawa coklat dan permen untuk sumber energi, tapi selama sebulan sebelum naik jangan kebanyakan makan makanan manis, dan jangan meneriaki teman dengan panggilan nama, tapi panggil dengan “Kiw”. Lho kenapa? takut ada makhluk lain yang ikutan manggil nama dia. wew…

Dia lalu bertanya kemana saya akan naik. Ketika saya jawab Papandayan, dia menyambung, “Jangan takut, bisa ditempuh pulang pergi kok, ada leadernya kan? Kalau kamu yakin dia bisa, silakan ikut. 2.600 mdpl, lumayan tinggi, tapi jangan takut. Kalau kamu bukan perokok pasti akan kuat kok.. Sekali jalan memang akan menyesal (karena capek), tapi setelah sampai rumah pasti akan pengen naik lagi…”

Rentetan pesan dari kakak saya itu berhasil membuat saya lega, tenang, percaya diri, dan saya jadi yakin bahwa saya bisa. Saya sudah yakin akan ikut naik, mumpung masih bisa, masih muda, dan ada kesempatan. Semoga saya bisa turun dengan selamat dan menceritakan pada anak dan cucu saya nantinya bahwa saya pernah naik Gunung Papandayan dan menyaksikan kebesaran Tuhan sepanjang perjalanan. Ciyeeeee…. anak cucu booo…. jauh bener yaaa….

Kakakku tersayang itu juga memberikan nasehat tambahan yang sangat penting : Hargai dimana kita berdiri, jangan mengambil sesuatu, jangan membuang sesuatu. Gunung itu benar-benar wilayah Tuhan, kalau kita menghargai, kita akan mendapatkan hadiahNya. Kebanyakan orang yang tidak sampai tujuan adalah orang yang sompral, sembarangan ngomong.

Keesokan harinya, saat saya membuka facebook, saya menemukan foto ini di wall Pesona Indonesia. Pas bener ya melengkapi nasehat kakak saya itu.

image

Sejak hari itu saya punya rutinitas baru : lari keliling komplek selama 30 menit, bahkan saya menambahkan latihan renang supaya paru-paru saya lebih kuat.
Tapiiii…. itu hanya berlangsung selama 4 minggu pertama saja. Setelah saya pulang tugas dari Pontianak, saya harus menghadapi tumpukan tugas laporan yang dikejar deadline, plus entah kenapa badan jadi letoy, gampang banget kena flu dan batuk. Alhasil dua minggu terakhir saya tidak berolah raga sama sekali. Nekad bener yak…

Satu minggu sebelum naik, atasan saya menunjukkan foto-foto Padang Edelweiss.. gileeee… baru lihat fotonya saja sudah bikin saya terpukau.. Saya semakin yakin untuk ikut naik Papandayan. Entah siapa yang menghembuskan keberanian itu dan entah siapa yang berhasil membawa kekhawatiran saya pergi jauh. Kami menyusun rencana detail untuk keberangkatan kami, dan rasanya semuanya akan baik-baik saja hingga kami tersadar bahwa ada masalah lain yang selama ini tak kami perhatikan :  HUJAN.

Menurut atasan saya, sejak awal Desember hujan turun hampir sepanjang hari di Garut. Waduh mak…. Nggak hujan aja udah rempong, gimana kalau hujan? Duh,,,rasanya semangat dan keberanian yang sudah ditanam dalam hati jadi runtuh lagi tertimpa hujan…

Naik, nggak, naik, nggak, naik, nggak… Naik nggak ya?

*to be continue yaahh… jam istirahat udah habis neh… Bos udah nanya-nanya, “kamu lagi bikin apaan sih?”
byeee…..


10 thoughts on “Sebuah Impian Tentang Padang Edelweiss

  1. Mudah-mudahan jadi naik dan kayaknya memang jadi, soalnya di postingan kemarin kan ada teaser soal Papandayan ya Mbak :hehe. Saya juga jadi terpacu buat ikut naik gunung nih setelah baca ini. Tak ada yang tak mungkin. Kita bisa melakukan apa pun selama kita yakin dengan niat yang kuat dan berusaha terus. Saya pun membayangkan bagaimana indahnya padang edelweiss di sana… ah mudah-mudahan di postingan depan ada gambarnya :hehe. Terima kasih buat ceritanya, ya :)).

    1. hahaha… jadi ngga penasaran ya, kak…gara2 postingan yg kemarin… huhuhu… Kak…beneran deh… setelah pulang jadi pengen lagi…padahal pegelnya belum hilang dan masih ditempel koyo disana-sini… ayo…ayo…mendaki gunung….😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s