Her Story about Him…

“Na udah punya pacar?”

Aduhhhhh… Kenapa sih harus pertanyaan ini yang terlontar dari bibir beliau di pagi Natal yang cerah ini…
Dengan menguatkan hati (lebay), aku mencoba menjawab pertanyaan itu dengan ‘biasa’, sebiasa menjawab pertanyaan “Apakah kamu sudah makan?” Padahal rasanya kayak ketiban sekarung rambutan, banyak semutnya pula.. (hmm…. saya juga ngga tahu sih rasanya ketiban rambutan sekarung dan banyak semutnya… amit-amit deh).

“Belum, Mak…”, itulah jawabanku yang singkat, padat, dan jelas kepada Mak Yeyen, sambil melanjutkan mencuci piring di dapurnya Mak Yeyen yang bikin betah.

Mak Yeyen adalah adik nenekku. Setiap Natal, keluargaku selalu datang ke rumah beliau. Biasanya kami datang ketika anak-anak dan cucu Mak Yeyen sudah kumpul semua. Namun Natal kali ini kami datang kepagian. Mak Yeyen sendirian di rumah. Beliau sedang masak gulai ayam dan sambal, sedangkan anak-anaknya masih sibuk dengan urusan mereka sendiri-sendiri.
“Emak udah siap lho dateng ke kawinan Na.. Mumpung Mak masih hidup dan masih sehat.. Cucu Mak Uun (nenekku) yang lain kan udah pada nikah, jadi Mak juga pengen lihat Na nikah..”

Mendengar jawaban Mak Yeyen, mataku mulai berkaca-kaca. Untunglah aku punya mata sipit, sehingga jika aku tersenyum lebar, orang-orang akan melihat mataku seperti terpejam. Nah, dalam kondisi seperti kemarin, aku cukup tersenyum lebar, supaya Mak Yeyen tak melihat air mata yang mulai mengambang di pelupuk mataku.

“Mak, doain dong biar aku cepet ketemu jodoh..”
“Iya, Na, mak doain biar Na dapet jodoh yang baik, pinter, yang sayang sama Na, yang cocok sama Na…”

Dan aku merasakan butir air mata pertama sudah jatuh membasahi pipiku.
“Tapi memang, Na, ngga ada orang yang 100 persen cocok sama kita, pasti saja ada ngga cocoknya. Dulu Mak sama Opa juga awalnya ngga cocok kok. Butuh bertahun-tahun supaya kita bisa saling cocok.”

Jawaban Mak Yeyen membuatku terkenang sosok almarhum Opa Lim, suami beliau. Dulu saat aku kecil, aku selalu takut pada Opa Lim. Opa Lim bertubuh tinggi besar dan kalau bicara, suaranya cetar membahana. Jadi hingga aku dewasa, aku selalu menganggap Opa Lim sebagai sosok yang ‘agak menyeramkan’ hehehe,,,

“Opa Lim kan asli Cirebon, Mak kan asli Bogor. Selera makannya saja beda. Memang sih lama-lama Opa Lim yang menyesuaikan selera makannya dengan masakan Mak. Tapi ngga usah suami istri yang asalnya beda, mereka yang sama-sama dari Bogor juga belum tentu cocok, kan masing-masing dididik oleh orang tua yang berbeda..”
Aku hanya mengangguk-angguk mendengar cerita Mak Yeyen tentang Opa Lim. Hmm..  serasa sedang ikut kursus persiapan perkawinan deh..

Opa Lim meninggal hampir 5 tahun yang lalu karena serangan stroke. Beberapa saat sebelum beliau pergi, ibuku pernah cerita bahwa Mak Yeyen sejak masih muda punya kebiasaan tidur yang aneh. Jadi beliau sulit untuk tidur di malam hari, dan biasanya baru bisa tidur menjelang subuh. Alhasil beliau tak pernah bisa bangun pagi, bahkan sering beliau baru terbangun setelah jam menunjukkan pukul 12 siang. Opa Lim tak pernah mengeluh tentang ini. Opa Lim tak pernah membangunkan Mak Yeyen karena beliau tahu jika Mak Yeyen dibangunkan mendadak, Mak Yeyen akan langsung kena vertigo. Opa Lim akan membiarkan Mak Yeyen tidur dan mengambil alih tugas-tugas yang harusnya dikerjakan Mak Yeyen.

“Untung ada Na yang bantuin Mak di dapur, jadi Mak ngga sendirian”, Mak Yeyen mengembalikan diriku ke masa saat ini.
“Hehehe.. Mak, aku mah ngga bisa masak..”
“Mak juga dulu ngga bisa masak. Waktu Mak mau nikah, Mamanya Mak bilang, ‘kamu mau nikah udah bisa masak belum?’, Mak jawab belum, dan jadilah Mak dipaksa belajar masak. Awal-awal nikah, Mak ngga bisa masak, apalagi kalau mau ngegoreng ikan, Mak paling takut, sampe masang handuk di kepala, terus kedua tangan dililit handuk. Mak takut kecipratan minyak. Opa sampai ketawa, mau masak ikan aja sampai segitu hebohnya, padahal kalau kecipratan juga kan jauh dari usus (maksudnya nggak akan bikin mati). Sejak itu Mak dan Opa bagi-bagi tugas, kalau mau masak ikan, Mak yang ngasih bumbu, Opa yang masak.”

Aku memandang Mak Yeyen yang sedang asyik mengaduk sambal di atas kompor. Matanya mulai berkaca-kaca..

“Sekarang semuanya harus dikerjakan sendiri, termasuk menggoreng ikan. Itu yang bikin Mak sedih. Setiap mau goreng ikan, Mak selalu ingat Opa.”

Aku ingat kata-kata Ibuku, Mak Yeyen memang sangat tergantung pada Opa Lim, meskipun mereka sudah berpuluh-puluh tahun menikah. Mak Yeyen sangat mengandalkan Opa Lim dalam segala hal, bahkan sampai hal yang paling sederhana sekalipun.

“Mak juga paling takut kalau mati lampu. Mak paling takut sama gelap. Dulu waktu masih ada Opa, Mak pernah bikin kepala Opa benjol besar gara-gara Opa buru-buru mencari lilin buat Mak pas mati lampu. Begitu  Opa kembali bawa lilin, ternyata di dahinya sudah ada benjol sebesar telur.” Mak Yeyen tertawa mengingat kejadian itu.

“Sekarang anak-anak sudah menyiapkan segalanya di dekat Mak, senter, lilin, lampu emergency, supaya kalau mati lampu, Mak ngga usah panik..”

Ah, mata Mak Yeyen semakin basah. Semoga itu karena sambal yang sedang dimasaknya..

“Padahal waktu itu kami sudah mau merayakan perkawinan emas. Mak dan Opa sudah sering membicarakan rencana-rencana untuk perayaan itu. Eh, Opa malah pergi duluan. Yah, itu yang terbaik, supaya Opa ngga ngerasain sakit lagi.”
“Iya, Mak, Tuhan lebih sayang sama Opa..”, hanya itu jawaban yang bisa kuberikan pada Mak Yeyen.

Aku sendiri sibuk menghapus air mataku yang sudah mengalir deras dan berbaur dengan tetesan keringat dari dahiku.

Ketika aku kembali ke ruang tamu, aku memandang sebuah bingkai dengan foto tua di dalamnya. Itu foto Opa Lim dan Mak Yeyen ketika mereka baru menikah. Mereka tak hanya berbagi hidup sebagai sepasang suami istri, tapi juga sebagai kakak dan adik, dan juga sebagai sahabat yang sejati.

Cerita cinta yang indah, yang romantis, dan abadi, tak hanya ada dalam dongeng pangeran dan putri. Tak perlu jauh-jauh mencarinya. Tanyakan saja pada orang tuamu, pada kakek nenekmu, dan ciptakan kisah-kisah indah itu pada kehidupan cintamu sendiri.

“For this moment and forever, you are my love.” (Debaish Mridha)’

See also https://celina2609.wordpress.com/2011/03/07/saat-fajar-terbit-esok-pagi/
https://celina2609.wordpress.com/2011/03/07/pria-tegar-itu/


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s