Setiap Hati Selalu Menyimpan Sebuah Nama

Judul di atas adalah judul sebuah buku karya Dwitasari yang diterbitkan Plotpoint. Judul lengkapnya adalah “Jatuh Cinta Diam-Diam, Setiap Hati Selalu Menyimpan Sebuah Nama”. Aku menemukan tumpukan buku itu di etalase sebuah toko buku siang ini, dan salah satu dari mereka akhirnya berlabuh di rumahku.

Pada cover belakangnya tercantum tulisan yang membuatku tanpa berpikir panjang (untuk urusan beli buku aku memang tak pernah beripikir panjang) memilih buku ini :
Setiap orang punya caranya sendiri untuk mencintai, memilih untuk diam, memperhatikan dari jauh, atau mendoakan diam-diam. Setiap orang punya caranya sendiri untuk jatuh cinta tanpa membaginya dengan orang yang dia cinta. Setiap orang juga punya cara sendiri untuk berbagi tawa dan menyembunyikan tangisnya sendiri.

Buku itu belum aku buka dari segel plastiknya, karena judul buku itu sudah membuat pikiranku melayang pada sebuah nama, dan akhirnya jariku tergelitik untuk menuliskan kisahku sendiri.

Ah, tak usah kutuliskan namanya. Biarlah nama itu tersimpan di dalam hatiku saja. Nama itu selalu berlari-lari di kepalaku, dan menyebalkan sekali melihat namanya ada dimana-mana. Kenapa pula harus namanya yang terpampang di banner iklan member card sebuah departemen store. Kenapa namanya menjadi nama pemeran utama film yang ingin sekali aku tonton. Kenapa namanya harus sama dengan nama tetanggaku. Bahkan merk gembok di rumah adalah dua suku kata terakhir namanya. Mengapa nama itu muncul begitu sering kala aku ingin menghapus nama itu selamanya dari hatiku. Mungkin berlebihan jika aku menyebut selamanya, tapi minimal saat periode libur ini aku tak ingin mendengar namanya, agar hati dan pikiranku bisa tenang sejenak untuk fokus pada hal-hal yang lain.

Nama itu bagaikan menggambarkan pribadinya. Arti nama belakangnya adalah ‘Pujangga’, sedangkan nama depannya bermakna ‘Pelindung’. Namanya adalah perpaduan nama Latin dengan nama Islami. Sangat unik seperti jalan hidup pemiliknya.

Menyebut nama itu membuatku teringat lagi pada sosoknya. Dia sempurna. Hmm, aku tahu definisi sempurna itu relatif, tapi aku akan mengambil pendekatan definisi sempurna versi umum saja, sesuai dengan hasil survey kecil-kecilan yang kulakukan. Dia tampan dengan postur tubuh bak atlet, bahkan seorang teman menyamakan bentuk tubuhnya dengan Dewa Yunani yang katanya berotot (jangan tanya aku bagaimana bentuk Dewa Yunani yah..). Karena aku selalu memegang prinsip ‘don’t judge a book by its cover’, maka aku tak akan melanjutkan pembahasan yang terkait fisiknya.

Dia cerdas, Sarjana Ekonomi dari salah satu universitas negeri terkemuka. Ia mengikuti program pertukaran pelajar ke Jepang sebelum mendapatkan gelar sarjananya. Ia menyelesaikan studi S-2 nya di tiga negara. Ia termasuk dalam kelompok polyglot, orang yang menguasai banyak bahasa (Yunani – polyglottos : banyak lidah). Yang aku tahu ia menguasai bahasa Jepang, Spanyol, Perancis, Arab, dan yang pasti Inggris. Dia tak pelit untuk membagi kemampuannya itu. Dia pernah bercerita bahwa dengan belajar banyak bahasa, ia secara tidak langsung belajar tentang budaya dari bangsa-bangsa yang memiliki bahasa tersebut. Bagaimana orang Spanyol tak punya kata yang pas untuk ‘I love you’ dan ‘I miss you’, karena budaya mereka yang tertutup, alias tak terbiasa untuk mengungkapkan perasaan-perasaan seperti itu. Atau bagaimana orang Jepang menggunakan kosakata ‘agak kasar’ kepada pasangan mereka. Kemampuan polyglotnya ini membuat otaknya seperti kamus berjalan, karena setiap ia mendengar sebuah kata dalam satu bahasa, ia langsung mencari padanannya dalam bahasa yang lain. Ia menceritakan juga cara belajarnya yang membuatku terbengong-bengong. Aku belajar bahasa dengan mengumpulkan kosa kata, sedangkan dia belajar bahasa dengan mempelajari konsepnya, lalu membandingkannya dengan konsep bahasa lain yang telah ia kuasai. Ah, aku teringat matanya yang berbinar-binar ketika ia menceritakan semua hal itu dengan penuh semangat. Itulah pertama kalinya aku menyadari bahwa ia memiliki apa yang disebut orang-orang sebagai ‘Spanish Eyes’.

Ia mapan. Tolong jangan anggap aku sebagai cewek  matre ketika aku mengatakan hal ini. Ia menjadi salah satu pimpinan di perusahaan keluarganya. Tapi ia menjalankan tanggung jawabnya ini dengan sungguh-sungguh, tak hanya sekedar menyandang gelar yang diberikan padanya. Beberapa kali kami berbagi cerita tentang pekerjaan kami yang sebetulnya bergerak dalam bidang yang sama walaupun terlihat tak saling bersinggungan. Kami berbagi keprihatinan tentang krisis ekonomi yang sedang melanda bidang pekerjaan kami. Ia mengungkapkan kesulitan ekonomi yang dialami perusahaannya hingga ia sudah lama tak berpikir tentang gajinya sendiri. Berkali-kali ia harus menggunakan dana pribadinya untuk membiayai kebutuhan operasional perusahaan keluarganya. Ia seorang pekerja keras dan selalu berupaya mencari peluang bisnis. Ia berpikir cepat dan taktis. Jauh lebih cepat dari aku yang seorang lulusan teknik. Ia bahkan mengalahkan kecepatanku menghitung, dan semakin membuat aku merasa sebagai engineer gagal. Ia seorang pemimpin yang tak segan menerima masukan dari anak buahnya, meski kadang ngotot dengan prinsip-prinsipnya. Ia selalu mau direpotkan kapan saja, mengenai apa saja, dan mau mengulurkan tangan tanpa diminta.

Bagiku (dan bagi kami, para wanita yang bekerja bersamanya), ia bagai seorang kakak yang melindungi, seorang sahabat yang penuh perhatian, dan seorang mentor yang tidak menggurui. Ia selalu berusaha agar kami tak pulang malam, dan jika terpaksa ia akan memastikan sarana kami untuk pulang masih tersedia. Suatu kali dalam perjalanan pulang ke Jakarta, kami singgah di sebuah rest area tol untuk makan malam. Jam sudah menunjukkan hampir pukul 10 malam. Kami sudah memesan makan duluan dan ia tak kunjung muncul. Ternyata ia mencari informasi tentang bus-bus yang singgah di rest area itu, apakah ada yang bisa aku tumpangi untuk pulang atau tidak. Aku sampai terperangah mendengar hasil investigasinya itu. Tak menyangka ia sampai seniat itu mencari informasi. Akhirnya karena sudah terlalu malam, ia membuka pintu rumahnya untuk kami semua menginap semalam. Ia pun meminta kami membangunkannya kapan saja kami hendak pulang. Karena tidak tega membangunkannya yang baru saja tertidur 2 jam, akhirnya salah seorang teman memutuskan untuk pulang duluan naik grab bike. Hasilnya? Dia kecewa, walaupun hanya dia ungkapkan padaku via whatsapp.

Aku percaya, sembilan dari sepuluh wanita yang ada di sekelilingnya (kecuali ibu dan kakak-kakaknya) pasti akan jatuh hati padanya, yah minimal kagum. Ini sudah terbukti dari survey kecil-kecilan yang kulakukan pada teman-teman perempuanku. Semua (!!) berkata dia memang mengagumkan, beberapa menyatakan dengan jujur mereka jatuh hati padanya. Dan aku? Mau tak mau kuakui aku termasuk kelompok yang kedua.

Aku masih sering tersenyum sendiri mengingat dua potong apel yang ia sodorkan ke tanganku setelah kami selesai makan. Apel itu sudah dipotong dan dikupas dengan rapi, membuatku tak tega memakannya. Atau caranya memaksaku menyerahkan gelasku agar ia bisa mengisinya lagi dengan es kelapa muda. Caranya ‘memperdayaku’ dengan halus agar aku mau duduk dan makan ketika aku tak punya selera makan. Dia yang mau makan martabak, padahal itu salah satu makanan terlarang baginya, asalkan aku mau makan. Ia yang mau menerjang macetnya Jakarta dan menempuh perjalanan lebih panjang untuk menjemputku di Stasiun Sudirman, padahal ia tak perlu melakukan itu. Ia yang sadar bahwa aku sedang melamun dan menatap hujan dari balik jendela. Bagaimana aku tidak tersentuh dengan perhatian seperti itu?  

Apalagi yang harus kukatakan untuk menggambarkan kesempurnaannya. O ya, ada satu yang terlewatkan, ia peduli pada lingkungan, pada manusia dan pada alam. Ia mendefinisikan bahagia sebagai sesuatu yang sederhana : bisa berkumpul dan makan bersama dengan orang-orang yang kita sayangi. Tak perlu makan mewah, tak perlu mahal, asalkan bersama orang yang kita sayangi. Ia menceritakan kebahagiaan anak-anak di kampungnya yang setiap pulang sekolah mencari keong sawah sebagai tambahan lauk mereka. Keprihatinannya kepada para petani yang terlalu banyak menggunakan pupuk kimia dan pestisida. Kesedihannya karena tanah yang semakin rusak, banyaknya kendaraan yang semakin menambah polusi udara, ketertutupan  suatu suku yang mengakibatkan banyak penyakit tak dapat dideteksi dan disembuhkan. Keinginannya untuk pulang ke kampungnya dan memperbaiki nasib warga disana. Ia juga sempat menjadi relawan di sebuah kamp pengungsian di Yordania selama beberapa bulan, dan menyaksikan sendiri betapa menderitanya anak-anak korban perang.

Aku kagum padanya, dan aku akui aku jatuh hati. Aku terhanyut pada kalimat “I Love You” yang ia tuliskan, meski merasa ragu pada makna sejati dari kalimat itu. Aku bahagia setiap ada di dekatnya, tapi aku mencoba menyembunyikan semua perasaan ini. Aku mencoba profesional, tak ingin terbawa perasaan. Aku tersenyum melihatnya dari jauh, aku menikmati siluet bayangannya. Untuk pertama kalinya aku membawa nama seorang pria dalam doa-doa harianku, dan untuk pertama kali aku menyebut namanya juga di hadapan nisan kakek nenekku. Mungkin terdengar konyol, namun itulah yang sungguh terjadi. Di hadapannya aku selalu jadi seorang wanita dengan ekspresi ‘bahagia melihatmu bahagia’, padahal dalam hati aku tak rela. Ketika ia menuliskan surat cinta untuk kekasihnya di depan mataku, aku hanya tersenyum mendukung seolah tak ada rasa apa-apa.

Kini aku tahu selamanya aku tak akan pernah ada di hatinya. Ia telah menentukan pilihannya, sekaligus jalan hidupnya.
Ia sempurna hingga aku tahu surat cinta yang dituliskannya.. Ternyata ditujukan kepada seorang pria…


5 thoughts on “Setiap Hati Selalu Menyimpan Sebuah Nama

  1. Apa yang dituliskan di buku yang masih tersegel itu asik ya.. sangat aku banget hihihi (sangat perempuan), tp mungkin semua orang yg jatuh hati itu begitu ya…
    Dan ceritamu itu, bagaimana dirimu menggambarkan sosok dia, terus terang Na, aku ngeriiii sekali. Sepanjang perjalanan hidupku, aku tak pernah bersinggungan dg orang yang sesempurna itu. Dan mungkin aku juga orang yang sangat realis, sehingga aku tak pernah percaya ada manusia yang terlalu sempurna. Too good to be true hahaha. Tapi itulah, jadi aku selalu ngeri sama orang yang terlalu sempurna, karena biasanya sisi lainnya bisa juga sangat ekstrim. Dan akhirnya hmm, aku sangat mengerti situasinya.
    Dan setelahnya, mungkin ada baiknya melakukan pelepasan mumpung akhir tahun sdh dekat. Jd tahun baru dg situasi baru. Hehe..

    1. Mbak…bener banget…ini jadi pelajaran buat aku… ketika seseorang tampak terlalu sempurna, sebetulnya itu adalah alarm peringatan untuk waspada.. Pasti ada sesuatu yang ekstrem, yang nggak kelihatan, seperti yang mbak bilang…
      Inipun kali pertama dalam hidupku, mbak, ketemu sosok yang kayaknya sesempurna patung dewa Yunani *apaseh… dan masih suka ngga percaya dengan sisi ketidaksempurnaanya itu…
      Jadi inget sosok pembunuh psikopat yang biasanya selalu kelihatan sebagai perfect guy ya, mbak.. *amit-amit sambil getokin meja…
      Yup, mbak… akhir tahun, saatnya menutup cerita sendu.. semoga ini jadi posting terakhir tentang dia itu…
      mbak…nanti kalau kita ketemuan kubawain novelnya… segelnya udah dibuka dan udah dilalap separo… bener banget mbak… ini perempuan sekaleee… hehehe… *padahal biasanya aku agak ogah baca novel… hehehe

  2. Saya percayanya tidak ada orang yang sempurna. Pasti ada kekurangan yang dimiliki. Cuma memang ketika seseorang sudah dibutakan dengan berbagai kesempurnaan mereka, jatuhnya pasti akan ekstrem… alamak, dalam hal ini ekstremnya memang gila-gilaan sih Mbak :hehe. Tapi yah, manusia memang demikian, penuh dengan ketidaksempurnaan. Ketika seseorang bisa menerima ketidaksempurnaan itulah baru sebuah hubungan yang bagus menurut saya bisa terbentuk.

    1. hehehe…iya, aku kaget banget, kak…. nggak nyangka aja.. maybe I was blind… and I have to learn from this… *tapi kayaknya itu orang emang ngga ada cacatnya…hehehehehe…
      Bener, Kak, salah satu hal yang penting dalam suatu hubungan apapun adalah penerimaan… kalau kata Billy Joel “I love you just the way you are…”, dan yap, aku sudah bisa menerima keadaan itu… and trying to be a good friend for him..
      Inilah warna warni hidup ya, kak….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s