Cerita Berat Pagi Ini…

Tadi pagi dalam perjalanan menuju pabrik kami semobil mendengarkan siaran radio. Penyiarnya membahas suatu hal yang cukup menggelitik, yakni mengenai riwayat perhutangan.. hehehe.. maksudnya selama tahun 2015 ini adakah hutang atau kredit yang baru dibuat atau berhasil dilunasi? Saya tersenyum simpul ketika penyiarnya menyebutkan salah satu jenis hutang, yakni hutang untuk pesta perkawinan. Karena saya belum pernah menikah (dan belum terlihat adanya rencana kesana), so saya iseng saja bertanya pada teman saya yang duduk di sebelah saya dan sedang bekerja mengendarai kuda supaya baik jalannya.. hey…

“Pak, dulu waktu mau nikah nabung gak?”, saya bertanya pelan-pelan karena takut dikepret.. nggak deng… temen saya itu baik banget kok… Apalagi dia tahu yang nanya anak kecil banget (pssst… padahal usia kami cuma berselisih satu tahun lho….)
“Sempet nabung sih, tapi duitnya kepake.. Akhirnya buat nikahan malah ngutang…hehehe”
“Ngutang ke?”, saya bertanya lagi.. Duh, kok kayaknya kepo banget yak.. dah kayak mau nikahan minggu depan aja deh…
Dia menjawab pertanyaan saya dengan sabar, plus akhirnya bercerita panjang tentang pernikahannya yang digelar sekitar 3 tahun yang lalu.
“Ngutang ke bank, lewat tante saya yang dekat dengan direktur sebuah bank. Tapi sekarang sudah lunas lho, karena saya punya prinsip, hutang itu harus segera dilunasi, apalagi dalam kasus saya, hutang saya juga membawa nama tante saya. Jadi saya harus jaga nama baik beliau juga.”
Saya hanya mengangguk-angguk dan mengamini prinsip yang sangat baik ini. Dia lalu melanjutkan ceritanya,

“Waktu mau menikah, saya sudah wanti-wanti dengan (calon) istri, kita nggak akan bulan madu, karena tak ada dananya. Toh kalau jalan-jalan akan bisa dilakukan kapan saja, tak perlu langsung sesudah menikah. Setelah menikah, uang angpao saya pakai untuk melunasi cicilan motor, dan membayar cicilan hutang bank untuk satu tahun, jadi semua hutang untuk nikahan itu bisa dilunasi dalam waktu dua tahun saja. Kadang kita suka menyepelekan hutang-hutang, dan malah memakai uang angpao untuk bulan madu, padahal kita kan ngga tahu apa yang akan terjadi ke depan. Saya waktu itu hanya berpikir, jika Tuhan langsung memberikan kami anak, maka kemungkinan besar istri saya harus berhenti bekerja, dan artinya penghasilan keluarga kami juga semakin berkurang. JIka kami tidak merencanakan keuangan kami matang-matang, bisa jadi kami akan kesulitan untuk membayar hutang nikahan ke bank itu. Padahal kan saya bawa nama tante saya waktu pinjam uang itu”

Wow… nggak nyangka juga orang di sebelah saya ini bijak juga yaa…

“Saya juga selalu menekankan ke istri saya untuk bersyukur dan hidup bahagia dengan apa yang kita punya sekarang. Toh dengan gaji saya yang seadanya ini, kita tidak hidup kehujanan meskipun masih numpang, masih bisa makan selama satu bulan, masih bisa membelikan istri saya baju baru walau tak rutin setiap bulan, masih bisa jalan-jalan setiap minggu walau hanya ke mal dekat rumah. Memang sih saya akui untuk beli rumah saya masih belum sanggup. Tapi pelan-pelan pasti bisalah. Saya bilang ke istri saya, jangan dengarkan kata-kata orang lain, jangan pernah membanding-bandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain. Lihatlah masih banyak orang yang harus tidur di emperan jalan dan susah untuk makan. Bersyukurlah dengan apa yang sudah kita miliki sekarang. Inilah saya, kalau kamu mau dengan saya, terimalah saya apa adanya..”

Duileh… hari masih pagi, tapi udah dapet cerita ‘seberat’ ini…

“Jadi, kalau kita tidak bersyukur, sebanyak apapun yang Tuhan kasih ke kita, selamanya kita tak akan pernah merasa cukup..”, Ia mengakhiri ceritanya saat kami memasuki gerbang pabrik..

Hmm.. jadi ingat potongan lagunya Adam Levine yang Locked Away :
‘If I couldn’t buy you the fancy things in life
Shawty, would it be alright?
If I didn’t have anything,
I wanna know would you stick around?
All I wanna is somebody who really don’t need much,
A gal that I know I can trust,
to be there when money low.
If I got locked away, and we lost it all today,
Tell me honestly would you still love me the same?
If I showed you my flaws,
If I couldn’t be strong
Tell me honestly would you still love me the same?”

Sok atuh, buat yang sudah menikah, mangga dishare ceritanya… Buat bekal hidup bagi para jombloer… hehehe


4 thoughts on “Cerita Berat Pagi Ini…

  1. Pas banget kemarin saya baru dengar teman cerita soal ini. Katanya, kalau bisa, jangan memulai pernikahan dengan utang, ya masa sih menikah saja sampai berhutang. Lebih baik mengadakan upacara yang sangat sederhana tapi lunas ketimbang bermewah-mewah tapi setelahnya harus repot membayar utang kan ya. Masalahnya kehidupan pernikahan tidak berakhir di acara pernikahan, justru baru dimulai setelah acara pernikahan itu… :hehe.

    1. Betul, kak… terjadi sama salah satu kerabatku, hutangnya belum lunas sampai setelah 10 tahun pernikahannya, malah sampai ribut dengan pemberi pinjamannya.. Aku sendiri berprinsip mending nikahan yg sederhana, mending dananya dialokasikan untuk beli rumah dan keperluan primer lainnya… hehe

      1. Ribet ya jadinya kalau diawali dengan utang itu… jadi yang sederhana saja deh :hehe. Mudah-mudahan tidak ada masalah ya terkait hal itu, jika kita melakukannya nanti di masa depan :amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s