Tulisan Nggak Penting

PS : Mohon untuk tidak membaca tulisan ini dengan serius, apalagi memasukkannya ke dalam hati..

Tulisan ini dibuat di depan gate-3 sebuah bandara yang penuh sesak oleh manusia (ya iyalah… ), sambil menunggu pesawat yang jadwalnya kena delay selama 50 menit. So daripada bengong mending menuliskan sesuatu disini deh..

Semoga saya belum terlambat untuk mengucapkan Selamat Tahun Baru. Semoga tahun 2016 ini memberikan semangat dan optimisme yang baru, dan semoga kita lebih menghargai kehidupan, memaknai setiap kejadian dari sudut pandang yang positif, berani membuka diri untuk hal-hal yang baru dan berguna untuk masa depan kita, dan semakin memahami makna dari kebahagiaan sejati… Eh, kenapa jadi berat begini yaa… haduh,,,

Hari ini adalah hari terakhir dari rangkaian drama ‘mendamparkan diri’ di sebuah provinsi. Selama enam hari melompat (tolong jangan dimaknai secara harafiah deh) dari satu kota ke kota yang lain, dan berakhir dengan sebuah kata : CAPEK. Oke, boleh saya minta tambahan satu kata lagi? CAPEK BANGET.

Biasanya kenangan sebuah perjalanan akan muncul satu demi satu setelah kita tiba di rumah, dan biasanya penyesalan juga muncul setelah rasa capek hilang. Apa yang disesali? BANYAK. Mulai dari tempat yang tak dikunjungi (karena ngga keburu atau ngga ngeh ada tempat itu dalam peta), rute yang salah, waktu yang rasanya terbuang sia-sia, dan segala macam penyesalan lainnya.

Eh, kok jadi ngeluh sih….

Hmm… satu minggu sebelum keberangkatan ini, sebetulnya saya sudah diperingatkan dengan halus oleh sebuah pastor dalam homilinya di misa malam Natal. Peringatan itu berbunyi “Belajarlah untuk menerima”. Saya rasa pesan itu cocok banget untuk menjadi resolusi saya di tahun yang baru ini. Tapi suer… menerima itu bukanlah satu kata kerja yang mudah untuk dilakukan. Apalagi kalau yang harus diterima adalah kondisi buruk yang tak pernah diperhitungkan sebelumnya, plus kekurangan orang lain yang menyundut sumbu emosi jiwa. Pada empat hari pertama di tahun 2016 ini, saya sudah diuji untuk mata pelajaran ‘MENERIMA’, dan mungkin nilai saya ngga nyampe batas kelulusan. Duh, semoga masih diberi kesempatan ujian perbaikan deh.

Tapi, dalam empat hari pertama ini, Tuhan nunjukkin saya bebagai macam keajaiban, dari yang paling simple sampai yang rasanya paling impossible (kalau dipandang dari ukuran saya). Saya menyaksikan dan mengalami bahwa ada banyak sekali orang yang tulus hatinya, yang mau melakukan kebaikan tanpa meminta imbalan, yang mau tersenyum ramah ketika tak ada alasan untuk tersenyum. Saya menemukan banyak orang yang merelakan dirinya dipakai Tuhan untuk menjadi malaikat di dunia ini. Saya juga merasakan bahwa sebuah tawa mampu menghangatkan tubuh yang kedinginan akibat terkena hujan.

Kadang… kita (saya denk…) terlalu egosentris, hanya melihat diri sendiri dan berupaya memenuhi kebutuhan sendiri, tanpa menyadari bahwa ada begitu banyak kebaikan yang saya terima dari orang-orang di sekitar saya. Kadang saya merasa bahwa  apa yang mereka  lakukan adalah mutlak karena mereka memang wajib melakukannya. Tapi saya salah,  justru saya harus belajar melakukan lebih  banyak kebaikan, lebih banyak daripada yang harus saya lakukan..

Jiah… makin ke bawah malah makin serius… Kayaknya tingkat keseriusan saya berbanding lurus dengan sisa energi di otak saya deh..

Dan ternyata daripada memaknai sesuatu sebagai “kebetulan”, kini saya belajar untuk memaknainya sebagai “keajaiban”, atau “mujizat'”. Ini memberikan efek rasa syukur yang lebih besar, dan saya lebih bisa memandang apa yang saya alami sebagai hal yang sungguh diatur oleh Yang Maha Kuasa… Kadang kita selalu mengusahakan sesuatu dengan segala kekuatan kita, memikirkan dan merencanakan segala taktik dan strategi. Padahal DIA tahu dan mendengar doa-doa yang tak terucapkan, yang terpendam dalam pikiran dan benak kita, yang tak pernah kita wujudkan sebagai doa karena kita merasa hal itu tak perlu didokan, kita merasa itu urusan manusia yang bisa diselesaikan cukup dengan usaha manusia saja. Parahnya lagi, kita malah nganggap DIA ngga akan ngerti dengan urusan manusia ini. Kita lupa bahwa DIA MAHA KUASA.

Hmm.. sudah mau boarding… Saya akhiri tulisan ini sampai disini. Anggaplah ini sebagai intro dari tulisan berikutnya (semoga saya sempat menuliskan catatan dan cerita selama terdampar)


7 thoughts on “Tulisan Nggak Penting

  1. Ooh jadi ini tulisan into yang sekaligus menjadi penjelasan dari semua tulisan dalam seri terdampar itu ya… bagus banget Na.. dalem dan serius… tapi aku kehilangan grooknya…😀😀😀

    1. Hahahaa…. beberapa menit setelah tulisan itu dipublish, aku langsung beraksi zzzzz….grrroookkk…. sampe Soetta…. *trus dicela2 serumah gara2 tidurku kayak kebo…

      1. wakakakakakak… inget waktu terbang ya Na… dimana ya kita bablas ga sadar gitu pas terbang? oh pas ada orang yang pingsan waktu itu… hahaha pesawat emang enak buat tidur… oh p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s