Terdampar di Jawa Timur : Surabaya – Hari Pertama

Jauh-jauh hari sebelum tahun baru, saya sudah merencanakan untuk menghabiskan tahun baru di rumah yang akan diisi dengan bangun siang, tidur siang, malas-malasan sambil baca buku, dan nonton TV (kalau ada acara yang bagus). Tapi, sebelas hari sebelum tahun baru, orang tua saya membuat suatu keputusan mendadak : mengantar adik saya balik ke Pandaan (Pasuruan), sekaligus mampir ke beberapa kota di Jawa Timur. Sebagai anak yang baik (baca : maniak jalan-jalan), saya langsung setuju saja.

Begitu rencana itu terlontarkan, kami langsung browsing dan booking tiket PP termurah. Nah karena nyari tiket termurah itu, kami jadi punya waktu mendamparkan diri selama enam hari di Jawa Timur. Tapi akibatnya, sisa cuti 2015 saya yang tinggal 2 hari plus jatah ganti hari lembur saya harus terpakai untuk acara mendadak ini, bahkan masih harus memakai jatah cuti baru tahun 2016 sebanyak 1 hari. Padahal saya paling terkenal sebagai ‘Si Pelit Cuti’ yang selalu (nyaris) kehabisan cuti mendekati akhir tahun… (semoga ada pihak-pihak yang tergerak untuk menambah jatah cuti saya setelah membaca postingan ini…)

Untuk perjalanan kali ini saya memutuskan untuk menjadi ‘pengikut’ alias ngikut aja ama ortu, kayak waktu dulu masih kecil pasrah digeret kesana kemari ama nyak babeh. Hmm… saya hanya meminta untuk mampir di Gua Maria Puh Sarang Kediri, dan berkunjung ke situs Trowulan di Mojokerto.

Menjelang berangkat, saya terkena migren berat selama berhari-hari, ditambah hape mendadak tewas. Makin pusinglah pala berbie… Udah gitu, keluarga saya (kecuali saya) kalau jalan-jalan ngga pernah nyusun itinerary, demen banget mengubah rencana di detik-detik terakhir. Sementara saya nggak bisa bertindak spontan (mungkin belum terbiasa kali yaa…). So, pala berbie makin sakit banget sampe hampir pecah (ini bukan lebay… tapi beneran sakitnya sampe ngga ketahan…). Untung ada satu benda pipih bulat berwarna orange yang bisa mengurangi derita saya : BIOGESIC. Eh…ini bukan iklan… Sebenernya saya paling ogah minum obat kalau nggak ketahuan apa penyebab sakitnya. Tapi daripada mengganggu kegembiraan, akhirnya saya terpaksa menenggak si orange itu deh.

IMG_20151230_061005
A View From The Top

Saking hebatnya kami sekeluarga, hari pertama itu kami belum tahu mau menginap dimana, bahkan setelah pesawat mendarat dan kami keluar dari bandara Juanda… Kebayanglah bagaimana senewennya saya… Setelah browsing di hostelworld.com, kami memutuskan untuk menginap di POP Hotel yang dekat dengan Stasiun Gubeng Surabaya. Kenapa disitu? Soalnya dari berbagai hotel yang ditawarkan, cuma itu yang alamatnya familiar di kuping saya. Kan Stasiun Gubeng sering banget disebut-sebut kalau lagi musim mudik. Ditambah lagi adik saya bilang daerah Gubeng itu termasuk kawasan kota yang deket kemana-mana. Dan yang paling penting harganya juga masih terjangkau.

Dari Juanda kami naik DAMRI ke Terminal Purubaya dengan tarif Rp. 25.000, lalu kami melanjutkan naik bus umum ke Gubeng. Busnya ngetem lamaaaaa bangeeeet di terminal, bikin kami resah, gerah, dan gelisah.. Singkat cerita, kami akhirnya tiba juga di POP Hotel (setelah diturunkan di jalan yang salah gara-gara keneknya kepedean… ). Untunglah kami langsung bisa check in, meskipun jam masih menunjukkan pukul 10 pagi. Dan apa yang selanjutnya kami lakukan? TIDUR… Nggak deng, saya nggak tidur. Saya malah senewen karena ngga tahu habis ini mau kemana. Soalnya saya ngga mau perjalanan jauh ini cuma diisi dengan nongkrong di hotel dan nonton TV… rugi coy…. Jadi saya malah browsing rute wisata, sementara alunan suara dengkur terdengar dari seluruh penjuru kamar.

Setelah perdebatan panjang kali lebar, kami memutuskan untuk ke Jembatan Suramadu dan mencoba untuk mendekati patung Jalesveva Jayamahe yang katanya sih tertutup untuk umum. Eh iya, patung Jalesveva Jayamahe itu adalah patung perwira Angkatan Laut dengan tinggi 30.6 m dan berfungsi juga sebagai mercusuar bagi kapal-kapal di laut sekitar.  Pas kami turun untuk makan siang, di dalam lift kami bertemu salah seorang pegawai hotel. Kami yang awalnya mau tanya-tanya moda transportasi ke Suramadu, malahan ditawari untuk pakai taxi hotel yang katanya lagi promo (sepromo-promonya taxi hotel, tetep aja mahal….). Karena udah kadung bingung dan ngga enak hati, kami akhirnya pakai taxi hotel itu.

Saat kami duduk dan menutup pintu mobil, kami diberikan dua kabar buruk (sekaligus). Kabar buruk pertama : kami ngga bisa ke Jalesveva Jayamahe  karena pengunjung umum harus mengurus izin terlebih dahulu minimal satu minggu sebelumnya. Kabar buruk kedua, kami ngga bisa berhenti di tengah jembatan Suramadu untuk foto selfie, kecuali mau ditilang atau mau ditinggal di atas jembatan. Huhuhu… jadi cuma bisa lihat doang,,, lalu direkam dalam ingatan..

Jembatan Suramadu atau nama lengkapnya Jembatan Nasional Suramadu adalah jembatan yang menghubungkan kota Surabaya di Pulau Jawa dengan kabupaten Bangkalan di Pulau Madura. Jembatan ini dibangun sejak tahun 2003 dan diresmikan tahun 2009. Panjang jembatan ini sekitar 5.5 km (lumayan kan kalau jalan kaki….) dan saat ini merupakan jembatan terpanjang se-Indonesia. Kalau mau melintasi jembatan ini sebaiknya setelah petang, soalnya lampu-lampunya cantik banget (katanya….). Kami sendiri melintasinya siang hari bolong… O iya, karena jembatan ini berfungsi sebagai jalan tol, maka kami harus membayar tarif tol seharga Rp. 30.000 sekali jalan. Lajur paling kiri dan terpisah dari lajur utama adalah lajur bagi kendaraan roda dua yang tak perlu membayar tarif tol. Menurut seorang teman yang asli arek Suroboyo, kalau mau foto-foto narsis di atas jembatan, kita harus jeli mengawasi apakah ada patroli polisi atau tidak, setelah yakin kondisi aman (baca : ngga ada polisi yang patroli), baru deh turun untuk foto-foto, tapi sebisa mungkin berfotolah dalam waktu kurang dari 1 menit (hmm… ). Untuk kendaraan umum seperti taxi dan bus, bisa dipastikan tak akan mau berhenti di tengah jalan, kecuali kalau dirimu mau diturunkan dengan cara dilempar, trus ditinggal selamanya disitu… Kalau mau foto sebaiknya dari pantai sekitar saja, terus kameranya di-zoom sampai kelihatan jembatannya…

DSCN7703
Biar miring yang penting kepotret…hehehe

Akhirnya kami sampai juga di sebuah pulau bernama Madura.. ta’iye… Driver taxi yang bernama Pak Woro mengajak kami untuk makan bebek khas Madura.. haha.. padahal kami kan baru makan siang.. Tapi demi sepiring nasi bebek khas Madura yang sangat melegenda, kami rela mengatur sisa ruang kosong dalam perut. Mari kita lupakan sejenak program diet… Pak Woro merekomendasikan Bebek Sinjay, tapi ngantrinya bikin ogah… akhirnya kami memutuskan makan di Bebek Songkem (bukan sungkem lho) yang relatif lebih sepi.

IMG_20151230_134940
Jadi laper kan???? eh…sambelnya ngga kefoto…

Nasi hangat ditambah bebek goreng plus sambel mangga bikin saya kalap… maknyusss… Tak bisa digambarkan dengan kata-kata deh nikmatnya. Selain bebek goreng, disini juga tersedia bebek kukus, ayam goreng dan ayam kukus. Tapi sedihnya kita ngga bisa milih paha atau dada, kita hanya bisa berpasrah pada kebaikan hati semesta (halah….), selamat bagi yang mendapat dada dan paha, dan jangan bersedih buat yang kebagian leher… Kami juga memesan es legen yang dibuat dari sari buah siwalan, kalau di Bogor buah ini dikenal dengan nama buah lontar.

IMG_20151230_135218
Es Legen… berhadiah kerupuk tenggiri…

Yeaaayyy… akhirnya kami menginjak Pulau Madura. Buat saya sendiri ini bagaikan sebuah torehan prestasi. Bagaimana tidak, selama ini saya hanya mengenal Madura hanya dari atlas dan dari Pak Kadir sang pelawak itu. Tapi kini saya sudah berdiri di atasnya…. Saya jadi tahu bahwa Madura juga punya batik khas dan disini ada juga yang namanya macet. Setelah jembatan Suramadu resmi difungsikan, perekonomian Madura mengalami kemajuan pesat, bahkan saat ini banyak sekali orang Surabaya yang numpang makan siang di Madura, lalu kembali lagi ke Surabaya. wow banget kan!! Oh ya, kalau mau singgah kesini, sebaiknya pada bulan Agustus, karena di bulan ini diadakan Karapan Sapi yang ngetop itu. Tapi harap maklum aja ya kalau kena macet dimana-mana.

Pak Woro bercerita bahwa di pulau ini sering sekali terjadi pertentangan antara kelompok-kelompok keluarga yang berujung pada perkelahian warga. Inilah yang sering membawa konotasi buruk ketika kita mendengar nama ‘Madura’. Di pulau ini para tetua kampung lebih disegani daripada para perangkat pemerintahan. Jadi jika kita mengurus izin untuk suatu pembangunan, kita harus mengurus izin juga ke para tetua itu.

Kami akhirnya kembali ke Pulau Jawa. Hujan rintik mulai turun ketika kami melintasi jembatan Suramadu. Saya mencoba mengambil foto dan membuka jendela mobil, langsung saja wajah saya diterpa angin yang lumayan kencang. Berasa ditampar deh..

DSCN7720
Kota Surabaya dilihat dari Suramadu

Karena hari belum terlalu sore, kami memutuskan mampir di Pantai Kenjeran. Pak Woro mengantar kami untuk melihat patung Buddha berkepala empat. Hmm… sounds familiar.. Benar saja begitu saya berdiri di hadapan patung itu, saya langsung yakin bahwa itu adalah Patung Dewa Brahma yang memang memiliki empat kepala dan delapan tangan. Saya langsung teringat patung serupa di Erawan Shrine, Bangkok, yang juga disebut sebagai Four Faces Buddha (Phra Phrom). Kok dibilang Buddha? Dewa Brahma kan berasal dari kepercayaan Hindu? Sebuah jawaban saya dapatkan dari teman blogger saya yang saya sapa sebagai Kak Gara (www.mencarijejak.com) : “Sesungguhnya Dewa-Dewa Hindu ada di dalam Buddha, dan dianggap sebagai Buddha juga (Bodhisatva). Untuk Brahma dalam Hindu memang punya empat wajah. Kesamaan itulah yang membuat ada Buddha yang digambarkan empat wajah, melambangkan Brahma” Hmm, kalau boleh saya coba jabarkan, Brahma dalam Buddha adalah dewa yang mencapai pencerahan (Buddha berarti mereka yang telah mencapai pencerahan sejati). Pada artikel tentang Gautama Buddha di wikipedia, dikatakan “Brahma dalam agama Buddha tidak hanya satu, mereka hanyalah suatu golongan dewa. Agama Buddha meyakini adanya dewa, namun para dewa tersebut bukan makhluk maha kuasa dan tidak menciptakan alam semesta.”
Pada halaman lain dikatakan bahwa four faces Buddha ini adalah Brahma Sahampati, MahaBrahma paling senior yang mengunjungi Buddha Gautama saat mendapat penerangan sempurna, mendorong beliau untuk membabarkan Dharma dan mendampingi beliau saat wafat. Brahma Sahampati ini dikisahkan sebagai makhluk suci yang anagami (tak terlahirkan lagi. Lihat sudhammacaro.blogspot.com). Anagami adalah tingkat pencerahan ketiga sebelum mencapai arahat.

DSCN7732
Aduh, saya sangat tak layak untuk menjelaskan hal ini.. Mohon koreksi dan penjelasan dari rekan-rekan yang mengerti yah…

Kembali ke patung Brahma setinggi 9 meter di Pantai Kenjeran.. Patung ini memiliki empat pasang tangan yang masing-masing memegang tasbih, sendok, kendi, rumah kerang, kitab Veda, tongkat, bendera, cakram, dan satu tangannya diletakkan di depan dada sebagai lambang berkah dan belas kasih. Patung ini dilapisi oleh emas, berdiri atas takhta setinggi 9 meter, serta dilindungi oleh stupa. Hmm,, rasanya betah deh disini, entah kenapa ya…

DSCN7763.JPG
Tampak Depan
DSCN7741.JPG
Tampak Belakang
DSCN7759.JPG
Sisi Kanan

Setelah puas berfoto, kami melanjutkan perjalanan ke Tugu Pahlawan. Tugu ini dibangun untuk mengenang pertempuran 10 November 1945 yang terjadi di area tersebut. Pada bagian belakang tugu terdapat monumen makam pahlawan yang tak dikenal. Tertulis disana “Disini kau tidur dalam keabadian tanpa batas sebagai pahlawan tak dikenal karena gugur saat berjuang tanpa pamrih membela bangsa dan negara menjadi satu dalam pusara tanpa nama

Di luar area tugu yang berbatasan dengan kantor gubernur, terdapat jembatan rel kereta api yang dulu menjadi area pertempuran yang paling berdarah. Setelah pulang saya baru ngeh di bawah tugu ini terdapat museum perjuangan. Yahhh.. beginilah kalau jalan-jalan ngga pake belajar dulu… Ketika kami kesana suasana sedang sepi sekali, nyaris tak ada pengunjung. Mendung semakin tebal dan hujan mulai turun. Kok rasanya mencekam yaa… Terbayang betapa mengerikannya keadaan di sekitar area ini tujuh puluh tahun yang lalu.

DSCN7805
Tugu Pahlawan
DSCN7818
Monumen Makam Pahlawan Tak Dikenal

Belum sempat saya merenung lebih jauh, hujan deras telah turun tanpa ampun. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang ke hotel sambil disertai macet parah karena kami pulang tepat pada jam pulang kerja karyawan.

Tiba di hotel, muncul lagi pertanyaan : “Besok mau kemana?”
Tak ada yang mau menjawab, dan tak ada yang melontarkan ide..
Senewen mode ON lagi deh…

 

 

Apa kabar handphoneku?
Masih tewas seperti kemarin. Dinyalain sebentar, langsung panas, dan mati lagi.. Hadeuh…


4 thoughts on “Terdampar di Jawa Timur : Surabaya – Hari Pertama

  1. Hee… ada nama saya disebut di dalam tulisan ini, senang banget deh. Terima kasih, ya :)).
    Saya belum pernah eksplor Surabaya dan Madura dengan serius jadi saya belum pernah berkunjung ke semua tempat yang dijelaskan dalam tulisan ini :hehe. Tapi saya lumayan dapat pencerahanlah setelah membaca postinganmu ini Mbak :hehe. Duh, pengen ke Suramadu… makan bebek Madura langsung di Madura… halan-halan ke Kenjeran dan Tugu Pahlawan, wawawa. Mudah-mudahan suatu hari nanti bisa kesampaian :amin.

    Soal Bodhisatva, saya setelah membaca kutipan dari Wikipedia itu jadi berasa mengerti apa motif Buddha Awatara turun ke dunia (eh saya berkomentar ini dari sudut pandang seorang Hindu ya). Ya beliau memang ‘memurnikan’ agama, sih… :hehe.

    1. Ups…. maaf, Kak…belum sempet minta izin, eh…pemiliknya udah muncul disini… maafkan kelancanganku ya, kak… :’-(

      Kak…kemarin itu juga judulnya bukan mengeksplor… masih banyak yang kelewat dan ngga dikunjungi… mungkin ini tandanya harus balik lagi kesana nih…hehe…

      Kak… boleh tanya tidak… ’memurnikan agama’ itu maksudnya gimana ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s