Terdampar di Jawa Timur : Surabaya – Hari Kedua

“Jadi hari ini mau kemana?”
Babeh menyahut, “Kita keliling kota Surabaya aja yah..”

image

Setelah berbagai pertimbangan, perencanaan, dan perdebatan, kami memutuskan untuk menambah satu hari lagi di Surabaya. Efeknya : harus nambah booking satu malam lagi di POP Hotel. Tapi ingin hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai.. Kami ditolak POP Hotel… hiks..hiks…huaaaaa…. *nangis sambil jambakin rambut orang….

Hmmh… alamat beneran bakal terdampar di Surabaya dah…

Terpaksa deh sarapan pagi sambil panik nyari hotel untuk tempat beristirahat malam ini. Setelah bolak-balik mencari di booking.com, hostelworld.com, hostelbookers.com, dan agoda.com, akhirnya kami memutuskan untuk bermalam di WIN Hotel yang letaknya di dekat Gubeng. Yap… lagi-lagi Gubeng. Maklum deh, pengetahuan petanya cuma sebatas Gubeng doang… Saya langsung niat booking di hotel ini gara-gara menurut peta lokasinya dekat dengan Monumen Kapal Selam (MonKaSel). Hiks… hiks… sepertinya saya jadi salah satu bukti pendukung bahwa woman can’t read maps.

Setelah mendapat kepastian dimana kami akan tidur malam ini, kami langsung packing dan check out. Jarak kedua hotel ini tidak terlalu jauh sih, tapi kalau jalan kaki ya lumayan lah, sekitar 1-2 km. Setelah check in di WIN Hotel (dan untungnya langsung bisa check in padahal baru jam 9 pagi), kami langsung menjelajah area, mulai dari sekitar hotel hingga Monumen Kapal Selam. Baru beberapa langkah kami berjalan, kami menemukan Museum Kanker Indonesia. Nah lho… Kanker masuk museum? Karena penasaran, kami langsung masuk kesana.

image

Museum ini terletak di Jalan Kayun no 16-18, dan berfungsi juga sebagai pusat konsultasi para pasien kanker. Museum ini diresmikan pada 31 Oktober 2013 di bawah binaan Yayasan Kanker Wisnuwardhana. Di dalam museum kita bisa melihat sampel-sampel jaringan yang terserang kanker, penjelasan dan gejala dari berbagai jenis kanker, sejarah pengobatan kanker, dan tahap-tahap pengobatannya. Ternyata sejak 80 juta tahun yang lalu kanker sudah eksis di bumi ini, soalnya ditemukan sel kanker pada fosil dinosaurus. Bahkan raja Mesir sudah terkena kanker pada tahun 3000 SM. *geleng-geleng kepala…

image
Jaringan yang terkena kanker

Per tanggal 1 Januari 2016, pengunjung umum yang berkunjung dikenakan tiket masuk Rp. 50.000. Jujur ya, saya agak ngeri berkunjung ke museum ini, karena melihat awetan jaringan tubuh yang ditumbuhi sel kanker itu beneran bikin merinding. Apalagi kalau jaringannya masih bisa dikenali dan diidentifikasi bentuk dan bagian-bagiannya.

Mari kita berdoa bagi para penderita kanker yang masih berjuang melawan penyakitnya..

Kami melanjutkan langkah kami ke Monumen Kapal Selam yang terletak di ujung Jalan Pemuda, dan hanya berjarak sekitar 50 meter dari Museum Kanker.

image
Monumen Kapal Selam

Bagi yang selama ini mengenal kapal selam hanya dari tukang pempek Palembang, jangan kecil hati.. karena saya sama seperti anda. Hehehe.. Suer, saya ngga pernah membayangkan bahwa kapal selam tuh segede ini ukurannya.. *bengong terpaku… Kok dengan ukuran segede gaban begini masih juga nggak ketahuan ya oleh musuhnya? FYI, Ini kapal selam beneran lho, bukan replika dan bukan tiruan (eh emang apa bedanya replika dengan tiruan??)

Kapal selam ini bernama KRI Pasopati 410, termasuk dalam tipe SS Whisky Class, dibuat di Vladiwostok, Uni Soviet pada tahun 1952 (jadi saya harus manggil dia : Uak). Kapal selam ini mulai difungsikan di ALRI sejak 29 Januari 1962 sebagai anti-shipping, patroli, dan untuk melakukan penggerebekan secara diam-diam. Nih detail spesifikasinya :
Panjang : 76.6 m. Lebar : 6.30 m. Kecepatan di atas permukaan : 18.3 knot. Kecepatan di bawah permukaan : 13.6 knot. Berat penuh : 1300 ton. Berat kosong : 1050 ton. Senjata : 12 torpedo gas. Awak kapal : 63 orang. Ruangan : ruang haluan torpedo, ruang komandan, jembatan utama dan pusat komando, ruang awal kapal dan dapur, ruang mesin, kamar mesin, dan ruang torpedo buritan.

Monumen ini buka setiap harinya dari pk. 08.00 hingga pk. 22.00, dengan harga tiket Rp. 10.000. Tiket ini sudah termasuk tiket untuk menonton film tentang kapal selam yang diputar pada pk.12.00 (huu.. kami datang kepagian dan malas nunggu,,, akhirnya saya kalah suara dan ngga jadi nonton film kapal selam…). O Iya, kita bisa masuk ke dalam ruangan kapal selam ini lho. Bagi yang punya fobia ruang tertutup sebaiknya berpikir dua kali deh untuk masuk, karena meskipun di dalam ada pendingin ruangan, suasananya tetap saja akan bikin sesak.

image

Saat hendak keluar dari monumen ini, saya melihat sebuah slogan yang tertulis di belakang papan gapura monumen. Tulisannya : “TABAH SAMPAI AKHIR”. Menohok sekali bukan!?!? Silakan direnungkan…

Tujuan berikutnya adalah stasiun Gubeng.. Iyalah, masak namanya aja yang disebut-sebut tapi ngga dikunjungi. Perjalanan dari MonKaSel ke Gubeng melalui  jembatan Sungai Brantas yang asri banget. Hmm.. bener ya yang dibilang orang-orang, kota Surabaya sekarang rapi, hijau, dan bersih…

wp-1452223042398.jpeg
Di Tepian Kali Brantas…

Next stop : Gubeng Train Station. Stasiun Gubeng merupakan stasiun kereta api terbesar di Jawa Timur dan merupakan tempat keberangkatan kereta api utama dari Kota Surabaya untuk rute ke jalur selatan dan timur. Bagian yang saya foto adalah stasiun Gubeng Lama yang didirikan oleh perusahaan kereta api Staats Spoorwagen (SS) pada 1878, sebagai stasiun untuk mobilisasi tentara Belanda. Ketika kami masuk ruangan lobby, wuih… rame banget booo… hmm.. efek libur panjang akhir tahun kali yaa…

wp-1452223352431.jpeg
Stasiun Gubeng Lama

Dari stasiun Gubeng, kami lalu memutuskan untuk melihat Stasiun Pasar Turi. Nah, masalahnya harus naik apa kesana? Dari hasil tanya kesana kemari, ternyata dari seberang Stasiun Gubeng, kami bisa naik angkot line F, turun di lampu merah jalan Ambengan, lalu naik angkot orange sampai pasar turi. Tapi menurut orang yang lain, mendingan kami jalan kaki aja ke lampu merah. Deket kok… (aktualnya : jauuuhh…). Nah, deket lampu merah, kami nanya lagi ke seorang bapak yang lagi nongkrong, jreng jreng… menurut beliau ngga ada angkot yang lewat Pasar Turi.. alamakkk… udah sejauh ini kok jadi salah sihhh….

Akhirnya kami mencari orang lain.. Kali ini korban kami adalah tukang es kelapa. Dia bilang naik angkot warna orange aja. Nah, beneran kan ada angkot ke Pasar Turi…
O iya, populasi angkot di kota ini saat ini lumayan sedikit, dan diperkirakan semakin sedikit karena tergerus kendaraan roda dua. Hmm.. iya sih, kalau pakai motor memang bisa lebih menghemat, soalnya ongkos angkot sekitar Rp. 5.000 – Rp. 6.000 sekali jalan. So, jangan kaget kalau di beberapa tempat kita harus agak lama menantikan kedatangan angkot-angkot.

Di dalam angkot kami menemukan salah satu keunikan warga Surabaya. Penumpang satu angkot yang awalnya tidak saling mengenal bisa mengobrol dengan seru gara-gara nanya rute angkot. Bahkan mereka bisa lanjut ngobrolin hal lain, dan setelah ngobrol kesana kemari, dua orang ibu dalam angkot itu ternyata berasal dari satu SMK yang sama… Mantaabbb….
Mereka semua yang meyakini kami adalah turis, kompak sekali bilang “Hati-hati yaa.. Tasnya jangan ditaroh di belakang, takut disilet..” Saya sampai terharu banget.. Nggak pernah nih saya nemuin kejadian begini di kota saya sendiri… Terbukti kan, masih banyak orang yang baik dan penuh perhatian di dunia ini.

Eh. ternyata stasiun Pasar Turi tuh udah modern yaa… Yah… ngga jadi foto-foto deh.. Kami kan pemburu bangunan tua… hehehe… Udah gitu kami malah direkomendasikan masuk ke pusat grosir gitu… Ah, malas lah… takut kalap… hihihi…
So, kami malah melangkahkan kaki ke arah Tugu Pahlawan. Padahal matahari lagi sangar banget, ditambah perut lapar dan keringat yang mengucur deras.
Begitu tiba di depan Tugu Pahlawan, saya hanya bisa meringis doang. Beneran deh saya butuh seorang pahlawan di kota pahlawan ini, buat ngegendong saya yang udah lemah lesu dan lunglai… Please send me a heroooooo…… *pingsan

image
Jembatan Kereta Api ini pernah menjadi area pertempuran paling berdarah pada 10 November 1945.

Kami melanjutkan perjalanan sambil terseok-seok melewati Kantor Gubernur Jawa Timur yang masih berarsitektur kuno, lalu terus menyusur bangunan-bangunan tua nan antik…

image

Kantor gubernur Jawa Timur ini adalah saksi perundingan antara Presiden Soekarno dengan Jenderal Hawthorn untuk mendamaikan pertempuran yang terjadi pada Oktober 1945. Disini pula Gubernur Soerjo pada 9 November 1945 menolak ultimatum tanpa syarat Jenderal Mansergh, sehingga meletuslah pertempuran 10 November 1945. Gedung ini mulai dibangun pada tahun 1929 dan selesai pada tahun 1931, dirancang oleh arsitek Belanda bernama  Ir. W. Lemci.

image

Nah kalau gedung ini adalah Gedung Pelayanan Perizinan Terpadu Surabaya yang disebut juga Gedung Brantas didirikan tahun 1912 dan  terletak di samping kantor PELNI.

Kami melanjutkan perjalanan lagi dan menemukan gedung antik milik Bank Mandiri.

image

Gedung Bank Mandiri ini dulunya adalah milik NV Lindeteves Stokvis, salah satu perusahan konglomerasi milik Belanda yang menguasai perdagangan, produksi, dan distribusi baja. Gedung ini dibangun dari tahun 1911 hingga 1913 dan dilengkapi oleh menara jam yang konon loncengnya bisa menyanyikan lagu Westminster. Katanya sih lagu ini sama dengan lagu yang dikumandangkan di stasiun-stasiun kereta api. Hmm… cobalah dicari mp3 nya. Pada masa pendudukan Jepang, gedung ini digunakan sebagai bengkel kendaraan perang Jepang, dan pada 1 Oktober 1945, gedung ini direbut oleh arek-arek Surabaya yang berhasil merampas persenjataan yang tersimpan disini.

Pemberhentian berikutnya : makan bakso di depan Kantor Pos Surabaya

wp-1452228542980.jpeg
Kantor Pos Besar Surabaya

 

Karena perut sudah mengamuk minta diisi, kami berhenti di depan kantor pos dan makan bakso disana. Hehehe… Gedung ini dibangun pada tahun 1880 dan pernah menjadi kantor kabupaten Surabaya serta Hogere Burgerschool (HBS). Kantor Pos Besar Surabaya baru menempati gedung ini sejak tahun 1926 hingga hari ini. Sayangnya gedung ini tak terlihat dari luar karena terhalang para pedagang kaki lima yang mangkal di trotoar (termasuk tukang bakso yang kami kunjungi). Dari halaman kantor pos terlihat dua menara khas gereja. Karena penasaran saya segera menghabiskan bakso di mangkok saya (sebenernya sih karena lapar, bukan karena penasaran-penasaran banget…)

DSCN7924
Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria Kepanjen

Nah, kan beneran itu adalah menara gereja.. Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria, atau yang lebih sering disebut sebagai gereja Kepanjen (karena lokasinya di Jalan Kepanjen) dibangun sejak 1899 dan diberkati oleh Mgr. Prinsen pada 5 Agustus 1900. Awalnya saya mengira gereja ini berfungsi sebagai Katedral bagi Keuskupan Surabaya, mengingat ukuran gereja ini sebesar Katedral Bogor. Tapi saya salah! Saat saya bercakap-cakap dengan beberapa orang bapak yang sedang duduk-duduk di depan gereja, barulah saya tahu Katedral Surabaya sendiri terletak di Jalan Polisi Istimewa. Salah seorang bapak bahkan bermaksud mengantarkan saya ke Katedral.. Wow, lagi-lagi bertemu orang baik… Tapi dengan berat hati saya menolak kebaikan itu, karena harus diskusi dulu kan dengan nyak babeh yang masih ada di depan kantor pos… Sampai hari terakhir saya tak berhasil mengunjungi Katedral ini… *tanda-tanda harus balik lagi ke Surabaya nih… hehe…

Mereka juga mengajarkan saya untuk mencapai gereja Kristus Raja yang lokasinya paling dekat dari Gubeng. Beneran yah… banyak banget orang yang peduli asal kita mau membuka diri…

Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke hotel… soalnya udah capek banget, apalagi matahari benar-benar bersinar dengan sadisnya… Kami naik angkot hingga ke MonKaSel, dan lanjut jalan kaki menuju hotel sambil terseok-seok..

Baru kali ini nih ngalamin hampir terkapar karena jalan kaki di bawah sengatan matahari… hiks..hiks…

Hi, handphoneku.. apa kabar?

*mencoba nyalain bentar.. eh.. langsung panas dan mati total.. hiks.. hiks… kamu sepertinya harus masuk RS (Rumah Servis) ya… *pasrah

Hari itu ditutup dengan percakapan :

“Besok kita mau kemana?”

“Ke Kediri tapi pulang balik yaa…”

“Selamat tahun baru…”

“Zzzzzz…. grrookkk…”

…Akhirnya kami punya rencana perjalanan yang (agak) jelas….


8 thoughts on “Terdampar di Jawa Timur : Surabaya – Hari Kedua

  1. Hahaha.. Kalau aku selalu punya chorus zzz grook, mba…..
    Nah itu mbak, dari perdebatan panjang lebar, yg lain ngga mau ke house of sampoerna itu, soalnya isinya (katanya) tentang sejarah rokok…

      1. Huhuhu….aku kalah suara mba.. *yuk kesana yuk mbak… Hehehe… Anterin aku…
        Aku ngga pake benang, mba,,, tapi pake suara hati… Uhuyyyyyy.…

  2. Hai Celina.. artikelmu menarik sekali. Informatif dan menghibur.
    Aku lihat foto-fotomu juga pada bagus semua. Kalau aku minta ijin ambil foto Gereja Kepanjen saja boleh nggak?
    Foto itu mau aku buat bahan blog juga. Nanti aku tempelin tulisan sumber dari blogmu ini koq..
    Kalau kamu keberatan, ya nggak apa-apa.
    Tapi kalau kamu kasih ijin, aku seneng sekali. Apalagi bisa bantu sesama blogger🙂
    Kapan-kapan kamu bisa cek foto itu di gerejakatolikkita.blogspot.com, kalau aku sudah post artikelnya.
    Ok deh sekian dulu aja, terima kasih atas perhatian dan kerjasamanya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s