Terdampar di Jawa Timur : Trowulan – Part 1

Happy new year…
Matahari sudah meninggi ketika kami terjaga (baca : bangun kesiangan…)

Kami sarapan dan packing, lalu check out dan hunting taxi di pinggir Jalan Pemuda. O iya, kami dapat surprise dari WIN Hotel : free menginap satu malam dan bisa dipakai hingga Februari 2016. yeaaaaaayyyy….. Senang banget sih, cuma kami bingung kapan hadiah itu bisa dipakai, soalnya kami kan ngga ada rencana balik ke Surabaya lagi dalam waktu dekat ini. Akhirnya kami merelakannya buat cowoknya adik saya, siapa tahu dia mau ke Surabaya kan.. Hmm.. nantikan cerita berikutnya tentang nasib free compliment ini (yang akhirnya ngga beranjak kemana-mana…)

Tekad kami di pagi hari ketiga ini masih bulat : Kediri. Lalu malamnya balik ke kosan adik saya di Pandaan (Pasuruan).

Eh..tunggu.. Ke Kediri sambil bawa gembolan yang bejibun begini?! Yakin??
Setelah berpikir secepat kilat, kami mengubah rencana kami sesaat setelah menginjakkan kaki di Terminal Purabaya (Bungurasih). Nah kan… spontan sekali… *lama-lama mulai terbiasa juga dah,,,

Kami yang awalnya mau naik bus jurusan Kediri akhirnya malah naik bus jurusan Malang yang melewati Pandaan. Menurut peta sih, lokasi Pandaan ini cukup strategis, sepertinya lebih mudah menjangkau Mojokerto, Kediri, dan Malang.
O iya, terminal Purabaya yang sebenarnya berlokasi di Sidoarjo (bukan Surabaya) ini lumayan rapi lah. Area untuk menunggu bus luar kota dipisahkan dengan bus dalam kota, dan dilengkapi dengan papan petunjuk yang cukup informatif.

Singkat cerita kami naik bus patas jurusan Malang dengan tarif Rp. 25.000. Kami melewati tanggul lumpur Lapindo dan saya baru tahu bahwa tanggulnya tinggi.. Jika tanggul itu ambrol (amit-amit.. sambil getok kepala) berarti jalan raya yang kami lalui ini akan lenyap tenggelam. Saya melihat rumah-rumah dan sekolah di seberang tanggul yang sudah ditinggalkan pemiliknya. Menurut teman saya yang asli Arek Suroboyo, lumpur ini sudah jadi tempat kunjungan wisata lhoo.. Di salah satu bagian tanggul kini dipasangi tangga untuk naik ke puncak tanggul. Pengunjung cukup membayar Rp. 2.000 untuk melihat lumpur Lapindo itu. Hmm, dia juga cerita, rumah sepupunya yang di dekat situ sekarang sudah tak ada harganya. Miris banget dengarnya..

Beberapa saat kemudian ketika sampai di Terminal Pandaan, kami hanya bisa ternganga.. Ternyata terminal ini mungil bingitss… dan hanya disinggahi bus jurusan Surabaya-Malang-Surabaya, elf jurusan Tretes, dan ojek. Jiahhhh.. Strategis tapi tak ada angkutan.. Sama aja bohong…

Di kosan adek saya, kami mikir muter-muter kayak Casper… Mau kemana? Naik apa? Setelah lihat peta, kayaknya kami mending ke Trowulan – Mojokerto yang jaraknya terlihat dekat dan ada jalan pintas dari Gempol. Kami nggak milih rute Malang atau Tretes karena pasti macet.. Pas tahun baru gitu loh…

Masalah berikutnya : Naik apa?
Dengan nekad pake nyolot dan sotoy kami balik ke terminal, siapa tahu ada pencerahan harus naik apa kemana.. Resiko terburuk yah balik lagi ke Purabaya. Jiahhhhh…. I really need a hero, yang punya baling-baling bambu… Doraemon dongks…

Kamipun melangkah kembali ke terminal Pandaan, dan langsung dikerumuni para calo. Untunglah para calo ini beda ama calo-calo Jakarta yang hobby narik-narik tas. Calo disini helpful sekali dan mengajarkan kami cara untuk ke Mojokerto : naik bus ke arah Surabaya, turun di Japanan, lalu naik bus 3/4 warna kuning. Fyuhh… legaaa… beneran dapet pencerahan…

Kami mengikuti instruksi para calo tersebut dan turun di Japanan. Pas banget ada satu bus kuning yang lagi ngetem disana. Tapi ngetemnya luamaaaaaa banget… Bukan lamanya yang jadi masalah, tapi penumpangnya pada ngerokok.. bikin gerah dan pengap. Setelah menanti selama hampir 15 menit, akhirnya buspun mulai bergerak pelan. Kali ini saya beneran pakai ilmu pasrah dan tertidur dengan nyenyak walaupun busnya panas banget..

Kami turun di perhentian akhir bus kuning, yaitu Terminal Kertajaya, Mojokerto. Suasana terminal cukup ramai, mungkin karena tahun baru yaa.. Karena sudah siang, kami memutuskan untuk makan dulu di sebuah kios yang terletak di dalam terminal. Sambil menunggu pesanan kami datang, saya bertanya kepada seorang penjual kerupuk di terminal, kalau mau ke Trowulan naik apa? Dan dia bilang, naik bus yang ada di jalur ini (sambil nunjuk jalur di depannya, yang adalah tempat pemberhentian bus-bus tujuan Jombang, Ponorogo, Solo, Jogja) atau naik angkot line di luar terminal. Dia merekomendasikan untuk naik bus saja, dan ngga usah tanya apa-apa ke kenek busnya, langsung saja naik dan begitu keneknya nagih ongkos, baru deh bilang mau turun di Trowulan. Ongkosnya Rp. 3.000. Okelah kalau begitu..

Kembali ke kios makan, saya baru kepikiran, bus kuning itu ada sampai jam berapa ya? Mengingat saat itu mendekati pukul 2 siang, dan kami suka lupa daratan (lupa lautan… dan lupa segala-galanya) kalau sudah keliling lihat candi. Saya pun bertanya pada ibu pemilik kios, dan langsung kami mendapatkan banyak informasi dari ibu tersebut.

“Busnya ada sampai sekitar jam 6 sore. Kalau mau ke Trowulan, naik bus apa saja yang menuju Jombang atau Mojoagung. Ga usah bilang mau ke Trowulan, soalnya kalau lagi ramai begini mereka belagu, ngga mau naikin penumpang jarak dekat. Soalnya katanya rugi, jarak dekat, ongkosnya sedikit, tapi menuhin tempat.” Ooo.. jadi itu alasannya kenapa kami ga boleh ngaku mau ke Trowulan toh… Ketika kami selesai makan, sebuah bus jurusan Solo-Jogja masuk ke terminal, dan satu keluarga pemilik kios itu melepas keberangkatan kami sambil melambaikan tangan dan berpesan “Hati-hati di jalan yaa… ” huhuhu… terharu banget deh… Mereka kan baru aja kenal kami, tapi mereka memperlakukan kami seperti sudah kenal lama aja….

Sesuai pesan si ibu, kami langsung naik bus yang sudah penuh (tapi terus diisi sampe bener-bener ngga bisa gerak). Dalam kondisi terjepit ini, saya masih saja menemukan orang-orang yang peduli. Seorang ibu yang berdiri di dekat saya mengajak saya ngobrol pakai Bahasa Jawa (nah lho… nggak pake subtitle pula…), untungnya beliau akhirnya paham bahwa saya bukan orang Jawa, mungkin karena dia mulai kesal lihat saya yang cuma cengar cengir haha hehe dan ngga ngerespon apa-apa. Akhirnya kami malah ngobrol tentang ramainya rute perjalanan ini. Meski singkat namun terasa sekali aura bersahabat dari ibu berhijab itu. Dan sebelum saya turun, ia mewanti-wanti saya untuk hati-hati dan mendoakan saya agar selamat dalam perjalanan.

Saya seringkali tak menyadari betapa bermaknanya kalimat “Hati-hati yaa…” yang dilontarkan oleh orang-orang di sekitar saya. Namun hari ini, kalimat itu benar-benar memberi kesan dalam hati saya. Kalimat itu adalah suatu bentuk perhatian yang paling sederhana dari orang-orang yang baru saya kenal dalam perjalanan ini. Saya jadi introspeksi, pernah ngga sih saya ramah dan peduli pada orang-orang yang saya jumpai dalam perjalanan? Yang Di Atas sungguh-sungguh sedang memberikan pelajaran tentang makna keramahan dan kepedulian. Huh, langsung merasa nggak lulus deh..

Kembali ke pertigaan Trowulan.

Sesaat setelah kami turun dari bus, kami langsung didatangi beberapa tukang ojek. Setelah nego, mereka mau mengantar kami ke beberapa objek peninggalan Majapahit, mulai dari Candi Tikus hingga ke Wihara Buddha Tidur, dengan tarif Rp. 100.000 per orang. Ya sudahlah, deal aja.. kayaknya rute yang ditawarkan juga relatif panjang. Tapi menurut beberapa orang, tarif itu kemahalan.. hiks..hiks..

Karena tak ada yang memandu, dan tak sempat baca-baca dulu sebelum kesini (nyesel banget deh…), akhirnya sepanjang jalan saya hanya sekedar memandangi, mengabadikan, dan mengingat-ingat. Setelah pulang baru deh saya ngubek-ngubek buku-buku lama dan mencoba memahami kisah-kisah di balik peninggalan Majapahit.

Menjelang akhir abad ke-13, Kerajaan Singhasari adalah kerajaan paling kuat seantero Jawa. Kejayaannya terdengar hingga ke telinga Kubilai Khan, penguasa Mongol, hingga ia menuntut upeti dari Singhasari. Kertanegara, raja Singhasari saat itu, menolak tuntutan Kubilai Khan, bahkan ia berani memotong telinga dan merusak wajah utusan Kubilai Khan. Kubilai Khan murka dan mengutus pasukan besar ke Jawa.

Tak lama kemudian, meletuslah pemberontakan Jayakatwang. Ia adalah penguasa karesidenan Kadiri yang merupakan bagian dari Kerajaan Singhasari. Kertanegara berhasil dibunuh oleh Jayakatwang dalam pemberontakan ini.

Raden Wijaya, menantu Kertanegara menyerahkan diri kepada Jayakatwang dan memperoleh pengampunan. Ia lalu diberikan lahan di Hutan Tarik dan kemudian mendirikan pemukiman disana bersama para pengikutnya yang berasal dari Madura. Ketika mereka kelaparan, mereka memakan buah maja yang rasanya pahit. Itulah asal mula nama Majapahit. 

Ketika pasukan Mongol tiba, Raden Wijaya bersekutu dengan mereka untuk melawan Jayakatwang, dan setelah berhasil, ia malah berbalik menyerang pasukan Mongol. Raden Wijaya kemudian dinobatkan menjadi Raja pada 10 November 1293 dengan gelar Kertaraja Jayawarddhana. Tanggal itu kemudian diperingati sebagai hari jadi Majapahit.

Hingga kini lokasi pasti Majapahit belum diketahui, namun menurut catatan Ma Huan dari Cina, ada sebuah kota di sisi barat daya Canggu yang diperkirakan adalah Trowulan pada masa sekarang. (https://id.wikipedia.org/wiki/Majapahit diakses 12 Januari 2016; Majalah National Geographic Indonesia edisi bulan September 2012).

Kami memulai perjalanan kami ke rute terjauh dulu, yakni Candi Tikus. Dari pertigaan jalan raya Mojokerto-Jombang, kami melalui Kolam Segaran (hanya melalui saja, ngga turun mampir). Meskipun cuaca sangat terik, namun banyak orang yang memancing di kolam ini. Kolam Segaran adalah salah satu dari 32 kolam kuno Majapahit yang ditemukan pertama oleh Henry Maclain Pont pada 1926. Konon katanya, pada masa Majapahit, kolam ini digunakan sebagai tempat rekreasi dan menjamu tamu asing. Ukuran kolam ini nggak tanggung-tanggung, yakni 6.5 hektar.. atau sekitar 6 kali luas lapangan bola.. Wow.. gede kan.. bayangin aja kalau disuruh lari ngelilingin kolam ini…

DSCN7998
Kolam Segaran… difoto dari atas motor

Setelah sekitar 10 menit perjalanan bermotor, kami pun sampai di Candi Tikus. Tunggu… jangan berpikir bentuk candinya mirip tikus yah, karena emang ngga mirip (hmm… sebenernya sih kalau dimirip-miripin secara paksa emang agak kelihatan kayak tikus… halah…). Nama Candi Tikus ini terkait erat dengan sejarah penemuannya pada tahun 1914. Ketika itu penduduk di Desa Temon terjangkit wabah tikus. Setelah diinvestigasi, tikus-tikus tersebut bersarang pada sebuah gundukan tanah, eh ketika gundukan itu dibongkar, ternyata di dalamnya terdapat sebuah candi. Jadilah candi ini dinamakan Candi Tikus.. sedih bener yaa,,,

DSCN7936
Candi Tikus

Ketika berdiri di depan candi ini, di bawah panas terik matahari yang begitu menusuk, saya teringat dua orang sahabat blogger yang seharusnya ada disini, saat ini. Mereka adalah para penggemar sejarah, yakni sang pencinta batu (batu candi lho, bukan batu akik…) dan sang pembaca relief. Pasti perjalanan ini akan sangat mengesankan bersama mereka berdua. Pasti ada banyak cerita yang menarik dari mereka. Huuuu… andaikan saya punya pintu kemana saja, langsung deh saya tarik-tarik mereka berdua supaya segera hadir disini menemani saya dalam perjalanan ini. *Semoga mereka sadar bahwa merekalah yang dimaksud dalam tulisan ini… huaaaa…..

DSCN7944

Setelah cukup meringis-meringis, marilah kita kembali ke Candi Tikus. Candi Tikus sesungguhnya adalah bangunan pertirtaan, yakni bangunan berbentuk kolam yang memiliki sistem pengairan di dalamnya. Bangunan candi berada di tengah kolam melambangkan Gunung Mahameru sebagai puncak kosmos dan sumber kehidupan, yang diwujudkan dengan air yang mengalir dari pancuran-pancuran yang terdapat di sepanjang kaki candi. Air ini dianggap sebagai air suci Amrta, sumber kehidupan. Tapi saya agak bete deh disini. Kenapa? Kan udah jelas ada tulisan dilarang menaiki candi, eh, masih aja ada orang tua yang naikin anaknya ke atas candi terus difoto. Gak bisa baca ya, Pak, Bu?!! Kalau semua orang terinspirasi kayak gitu lama-lama bangunan candinya makin tergerus tauk?!! Lagian kan bangunan ini dulunya merupakan pertirtaan suci, jadi nggak sopan banget diinjak-injak begitu!!

DSCN7937
Dilarang Naik!!!

Setelah saya puas kipas-kipas untuk meredakan panas dan esmosi, Pak Ojek (lupa nanya namanya siapa…hehe) lalu membawa kami ke Gapura Bajangratu yang lokasinya tak jauh dari Candi Tikus. Gapura ini tersusun dari bata merah dan membentuk pintu gerbang paduraksa, yaitu gapura yang memiliki atap.

DSCN7948
Gapuran Bajangratu

Sebelum berkisah tentang Gapura Bajangratu, saya ingin berbagi tentang makna gapura candi bentar (gapura tanpa atap) dan gapura paduraksa (gapura beratap). Dari tulisan yang tertera di dinding Museum Trowulan, gapura candi bentar bermakna bahwa dalam kehidupan di dunia ini, manusia memiliki kebaikan dan kejahatan, yang dilambangkan pada sisi kanan dan sisi kiri gapura. Sedangkan paduraksa bermakna bahwa seorang manusia harus menyatukan (dua sisi gapura yang disatukan dengan atap) seluruh pikirannya pada hal-hal baik saja jika hendak menghadap Yang Suci. Semoga saya tak salah memaknainya… Di atas paduraksa biasanya terdapat relief Kala, sang raksasa yang memiliki mata melotot yang siap menerkan roh jahat yang hendak memasuki tempat suci.. (Please correct me if I’m wrong yaaa…)

DSCN7951

Gapura Bajangratu memiliki tinggi 16.5 meter dengan dasar berukuran segi empat berdimensi 11.5 m x 10.5 m.  Gapura ini diduga merupakan pintu masuk ke sebuah bangunan suci untuk memperingati wafatnya Raja Jayanegara pada 1250 Saka (1328 M), dugaan ini diperkuat dengan adanya relief Sri Tanjung dan Sayap Garuda yang bermakna pelepasan. Bajang Ratu dalam Bahasa Jawa berarti raja/bangsawan yang kecil atau cacat. Nama ini dikaitkan dengan Raja Jayanegara, karena ketika ia dinobatkan menjadi raja usianya masih sangat muda (kecil). Namun legenda setempat mengatakan bahwa ketika kecil Raja Jayanegara pernah jatuh hingga mengakibatkan cacat pada tubuhnya. Hmm… entah apakah legenda tersebut nyata atau sekedar cerita yaa…

DSCN7972

Rute kami selanjutnya adalah ke Museum Trowulan..

Tunggu.. dalam perjalanan ke museum saya terpikir tentang sesuatu.. Waktu sekolah dulu, kita diajarkan bahwa Majapahit adalah Kerajaan Hindu kan? Nah, ternyata tanpa saya sadari, di dalam otak saya bercokol pemikiran bahwa peninggalan sebuah kerajaan Hindu haruslah semua yang bernafaskan Hindu, dan saya juga berpikir bahwa hampir seluruh warga kerajaan ini pasti beragama Hindu.

Ternyata saya salah… benar-benar salah..

Salah sesalah-salahnya…

Pasti guru sejarah saya kecewa banget sama muridnya ini… *hiks…hiks..

 


6 thoughts on “Terdampar di Jawa Timur : Trowulan – Part 1

    1. Huaaaaaaaaaa…. aku juga berharap mbak ada disana… andaikan ada pintu kemana saja, langsung aku culik dah dirimu…
      aslilah mbak, ini perjalanan paling nge-blank seumur-umur….
      rasanya kayak gini, mbak… pengen wisata santai, tapi berhadapan ama candi (ngga mungkin santai donk….), tapi dibilang wisata serius juga nggak, karena aku ngga fokus sama apa yang ada di depanku… beneran serba salah…. I really need both of you there….

      1. wkwkwkwkwk… ilmu idung itu masih juga akurat dan terpercaya ya, mbak…..*harus melatih hidungku dulu… buka kelas training hidung ngga mbak? hihihihihihihi

  1. Setelah dilihat dari sini, memang Candi Tikus itu menggambarkan lima puncah Mahameru dengan sangat baik. Ah, betapa irinya saya dengan semua orang yang pernah menjejakkan kaki di Trowulan, duh saya pengen banget tapi apa daya semesta belum mendukung… semoga dalam waktu dekat ini bisa ke sana :amin. Tapi ada hikmahnya juga sih sebetulnya :haha. Saya mesti baca ini dulu, soalnya ada petunjuk transportasi ke Trowulan yang lengkap banget Mbak. Terima kasih banyak ya… di sini juga saya makin membuktikan kalau semesta memang mendukung, maka yang paling tidak mungkin pun akan menjadi mungkin :hehe.
    Kenalin dong Mbak dengan dua teman bloggernya ituu… :hehe, siapa tahu saya bisa banyak tanya-tanya juga dengan mereka berdua, pecinta candi dan pembaca relief, pasti mereka punya banyak ilmu yang bisa dibagi :hehe.

    1. Amin… Semoga aku juga bisa nebeng ikutan.. Hahaha… *ngarep…
      Kak.. Kak Gara kenal kok sama mereka berdua… Mereka berdua itu yang November kemarin travelling ke Angkor… Hehehe…

      Yup…. Mba Riyanti dan Kak Gara…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s