My Grandpa’s Books….

Waktu saya masih kecil dan imut… (sampai sekarang masih imut kok…), ayah saya sering membawakan buku bacaan dari perpustakaan kakek saya. Bukan perpustakaan yang besar dan lengkap sih, tapi hanya sekedar lemari kaca tinggi berisi buku yang dikunci dengan kunci khusus lemari. Setiap kali ada yang mau meminjam buku barulah kunci itu dibuka.
Saya selalu penasaran dengan buku-buku yang ada dalam lemari itu, meski sebagian besar belum saya pahami dan tak menarik di mata saya waktu itu. Tapi ayah saya selalu bisa menemukan buku-buku yang menarik untuk bisa saya baca, mulai dari ensiklopedi anak-anak, profil tokoh-tokoh, dan buku cerita lainnya. Saya ingat ayah saya pernah membawakan buku biografi RA Kartini, Henry Dunant, buku cerita Tomtitot, ensiklopedi matematika, komik Mahabharata dalam versi ejaan lama, dan banyak lagi yang saya sudah lupa…

Kakek saya (dan tante-tante saya yang mengurus perpustakaan itu) sangat disiplin terhadap buku. Setiap orang yang mau pinjam buku (bahkan anak dan cucunya sendiri) harus menulis nama dan tanda tangannya di kartu buku serta mengisi buku peminjaman. Lalu setelah buku dikembalikan, kartu buku diselipkan kembali ke dalam buku setelah dilengkapi tanggal kembalinya. Saya ingat betapa rapinya buku-buku kakek saya. Ibu saya selalu mengingatkan untuk berhati-hati ketika membaca buku kakek saya, tak boleh melipat halaman, tak boleh membaca dengan tangan kotor, dan setelah selesai membaca harus ditaruh di tempat yang benar (ngga boleh ditaruh di tempat tidur).

Karena rumah kami jauh dari rumah kakek dan kami tak terlalu sering ke rumah kakek, alhasil momen pinjam meminjam buku juga tak bisa terlalu sering dilakukan. Kadang ayah saya meminjam buku dalam jumlah cukup banyak untuk bacaan saya selama beberapa bulan berikutnya. Kadang saya malah malas membaca buku, soalnya ngga full colour atau eye catching sih.. hehehe.. Saya sempat penasaran dengan komik Mahabharata karena banyak gambarnya, tapi saya menyerah karena ejaannya masih oe, dj, tj yang bikin bingung. Hmm.. itulah pertama kalinya saya mengenal apa yang disebut ejaan lama.

Ketika saya duduk di bangku kelas 2 SD, kakek saya sering masuk rumah sakit, sehingga kunjungan-kunjungan kami lebih sering ke rumah sakit dan bukan ke rumah beliau di Kampung Duri (lokasinya dekat Stasiun Duri). Ayah saya semakin jarang meminjam buku, apalagi setelah kakek meninggal ketika saya kelas 3 SD. Mejelang kepergian beliau, rumah Kampung Duri terkena penggusuran, sehingga kakek terpaksa mencari rumah baru di kawasan Cengkareng untuk tempat tinggal beliau bersama kedua anak perempuannya yang belum menikah. Tapi belum sempat kakek merasakan rumah baru itu, Tuhan sudah memanggil beliau pulang. Setelah kakek meninggal, kami semakin jarang berkunjung ke rumah yang sekarang ditempati oleh adik-adik perempuan ayah saya. Kamipun seolah lupa dengan perpustakaan kakek yang sebetulnya masih ada meskipun kini kurang terawat.

Suatu sore ketika saya kelas 4 SD, saya mengobrak-abrik lemari di bawah tempat tidur orang tua saya dan menemukan buku CATATAN SEORANG DEMONSTRAN. Buku itu bertanda tangan kakek saya, dilengkapi dengan tanggal pembeliannya pada tahun 1983. Ternyata buku itu dipinjam ayah saya sebelum kakek meninggal dan ayah saya sepertinya lupa mengembalikannya. Itulah perkenalan saya dengan sosok Soe Hok Gie yang keras kepala, vokal, dan berani mengatakan kebenaran, meskipun saya sendiri sebetulnya tak terlalu paham dengan apa yang ia perjuangkan. Saya senang membaca prolog yang ditulis Arief Budiman pada bagian awal buku itu, tentang seorang tukang peti mati yang menangis mendengar kematian Gie. Saya juga senang melihat foto-foto Gie di atas gunung, dan foto makamnya di Tanah Abang I. Hanya itu saja yang membuat saya tertarik pada buku itu. Hehehee.. Isi buku itu hanya saya baca beberapa halaman terdepan saja, karena rasanya berat sekali… Ketika ayah saya menemukan buku itu ada di meja belajar saya, ia langsung menyitanya dengan alasan buku itu terlalu berat untuk anak seumur saya.. (emberrrr…… bener banget….). Tapi beberapa tahun kemudian, buku itu pindah kembali ke kamar saya hingga hari ini.

Semakin dewasa saya semakin melupakan perpustakaan kakek saya. Kadang jika saya meminjam sebuah buku tua dari perpustakaan sekolah atau kampus, ayah saya suka nimbrung baca dan sering komentar, “Kayaknya dulu engkong (kakek) punya buku itu deh..Entah deh buku itu sekarang ada dimana..” Kadang perkataan ayah saya itu membuat saya penasaran dengan nasib buku-buku kakek saya setelah beliau meninggal. Namun penasaran itu tak terjawab karena kami memang jarang sekali datang ke rumah tante saya yang menyimpan lemari itu.

Ketika saya mulai bekerja dan punya gaji, saya terobsesi pada buku. Maklum ekonomi keluarga kami begitu kekurangan, hingga beli buku bukan menjadi prioritas dalam keluarga kami, meskipun saya dan ayah saya sangat senang membaca buku. Saya memuaskan hasrat membaca buku dengan meminjam dari perpustakaan sekolah dan kampus. Bahkan saya sampai bersahabat dengan para penjaga perpustakaan karena hal ini dan sangat bercita-cita menjadi seorang pustakawan (hingga hari ini).

Kadang ayah saya ikut membaca buku-buku yang saya beli, dan lagi-lagi berkomentar atau bercerita tentang koleksi buku ayahnya yang sangat berkualitas dan sekarang sudah tidak terbit lagi. Akhirnya saya memberanikan bertanya tentang perpustakaan kakek. Ayah saya hanya menggeleng, “Nggak tahu buku-bukunya masih disana (Cengkareng) atau tidak..” Suatu hari setelah kami melayat salah seorang keluarga yang meninggal, saya meminta ayah untuk mampir di rumah adiknya yang menyimpan lemari itu. Saya bermaksud mencari buku-buku yang sering ayah saya ceritakan : buku Perang Paderi, Mahabharata, Perang Eropa, Perang Pasifik, Siapa Kuat Siapa Lemah, Si Pietjek dan Si Laykon.” Tapi kami sangat kecewa.. karena ketika sampai disana kami mendapati kenyataan bahwa buku-buku kakek sudah dijual dan dikilokan oleh tante saya.

Ya Tuhan… Kok bisa sih… bukankah mereka semua adalah pencinta buku dan tahu betapa berartinya buku-buku itu untuk kakek saya. Kenapa  bisa buku itu dijual tante saya tanpa ada yang mencegah. Kenapa tak menghubungi anak-anaknya yang lain dulu sebelum ia memutuskan untuk menjual buku-buku itu. Saya emosi sekali, tapi saya tahu saya tak punya hak apa-apa untuk melarang mereka. Sejak hari itu saya jadi sering mampir ke tukang buku bekas, dimanapun itu. Saya jadi punya obsesi untuk menemukan kembali buku-buku kakek saya. Pernah satu kali saya ingin membuat suatu pengumuman di facebook dan di kaskus untuk mengumpulkan buku-buku kakek saya yang tersebar entah dimana rimbanya. Tapi saya urungkan niat itu, karena takut menyinggung saudara-saudara saya yang lain.

Tahun-tahun berjalan, saya kini berteman dengan para penjual buku bekas di facebook. Saya sering kalap jika menemukan buku-buku lama, apalagi yang berkaitan dengan kisah-kisah sejarah atau biografi seorang tokoh masa lampau. Tak hanya terobsesi untuk menemukan buku-buku kakek saya, namun sepertinya kakek saya sudah mewariskan kegemarannya itu pada saya. Kadang saya masih suka iseng bertanya pada tante-tante saya yang lain tentang dimana sebenarnya buku-buku kakek saya, apakah semuanya sudah dijual tanpa ada yang diselamatkan? Akhirnya saya tahu, sebagian buku kakek terselamatkan oleh tante-tante saya yang lain. Ada rasa bahagia mendengar kabar ini, meski saya sadar bahwa akses ke buku-buku itu kini menjadi sangat terbatas karena artinya buku-buku itu bukan lagi milik kakek saya. Tapi setidaknya buku itu tak bermuara di tukang loak atau tong sampah.. And I feel much better..

Sayapun kemudian tahu bahwa lemari besar itu kini sudah berpindah tempat ke rumah kakak ayah saya yang paling tua. Saya sudah tak bertanya lagi dimana buku-bukunya, karena sepengamatan saya, lemari itu tak lagi berisi buku-buku kakek saya. Bertanya tentang buku-buku itu sepertinya hanya akan menyakitkan hati saja. Saya hanya sering membatin, untung saja ayah saya lupa mengembalikan buku CATATAN SEORANG DEMONSTRAN itu, jadi buku itu berhasil terselamatkan dan tak berakhir di tukang loak. Buku itu adalah cetakan pertama yang diterbitkan oleh LP3ES tahun 1983, jadi kebayang kan sedihnya kalau buku itu terdampar entah dimana.

Waktu berlalu hingga satu minggu yang lalu, adik ayah saya yang paling bungsu menghubungi saya. Beliau menanyakan apakah saya mau menampung buku-buku Kampung Duri? Eh? Saya agak surprise juga, kok tante saya mau melimpahkan buku-buku itu ke saya?
Tante saya memberi syarat : Buku-buku itu tak boleh dihibahkan ke orang lain. Saya langsung mengiyakan, karena buku-buku “Kampung Duri” berarti buku-buku dari lemari kakek saya yang pastinya adalah buku berkualitas seperti yang sering ayah saya ceritakan. Buku-buku ini adalah sebagian yang berhasil ia selamatkan dan tak sampai dikilokan, termasuk buku-buku pribadinya yang ia beli ketika ia belum menikah.

Ternyata tante saya itu baru saja beres-beres rumah, dan karena buku-buku itu sudah lama tak disentuh, akhirnya beliau memutuskan untuk menghibahkan buku-buku itu pada ayah saya dan saya. Buku-buku itu diikat dan dimasukkan ke dalam sebuah keranjang besar. Aroma lemari kakek saya menguar dari buku-buku itu dan bagaikan membawa kembali kenangan masa kecil saya. Saya begitu takjub memandang keranjang itu dan sempat terdiam mematung di depannya. Akhirnya sebagian dari buku-buku kakek saya sekarang ada di hadapan saya… Sesampainya kami di rumah, saya langsung membongkar buku-buku itu meskipun hari telah larut dan saya harus bangun pagi keesokan harinya. Saya bagaikan membongkar sebuah tumpukan harta karun…

Setiap buku yang saya sentuh memberikan ekspresi sendiri bagi saya. Tumpukan teratas adalah kaset-kaset TOEFL dan pelajaran Bahasa Inggris yang selama ini dicari-cari ayah yang dulu ingin kami pinjam untuk membantu kami belajar. Bundel berikutnya adalah buku-buku resep dan buku puisi milik tante saya yang paling tua. Lalu saya menemukan buku-buku sejarah milik paman saya yang paling tua yang entah dimana rimbanya sekarang. Ada buku Perang Eropa yang selama ini sering disebut-sebut ayah saya, dan saya punya vesi cetakan barunya. Lalu ada buku-buku milik tante-tante saya yang lain, yakni novel-novel Bahasa Inggris, novel-novel Pujangga Baru, novelnya Marga T, dan lain-lain. Yang paling emosional adalah ketika membuka buku-buku kakek saya. Saya menemukan buku Perang Pasifik, Perang Paderi, buku-buku tentang Soekarno, dan buku-buku lain tentang sejarah, budaya, novel, dan berbagai genre lainnya. Sebagian besar buku itu sudah berusia lebih dari 50 tahun namun tak ada yang rusak parah, paling hanya jilidnya saja yang lepas dan kertasnya menguning. Kakek saya memang apik sekali, dan ini menurun pada kami, anak-anak dan cucunya, Tanda tangan kakek saya dalam berbagai bentuk terukir di setiap halaman pertama  buku-buku itu. Ternyata kakek, paman, tante, ayah saya, dan saya sendiri punya kebiasaan yang sama : menandatangani setiap buku yang baru kami beli, dan menuliskan tanggal pembeliannya disitu (walaupun hanya kakek saya dan saya yang rutin melakukannya pada setiap buku). Dari cap-cap di halaman buku itu, saya bagai menapak tilas perjalanan kakek saya yang pernah bekerja di Kupang, singgah di Bali, pernah masuk casino di Genting (jiah…), hunting buku di berbagai toko di Jakarta. Saya juga akhirnya “bertemu” dengan kakak laki-laki tertua dari ayah saya, yang tak pernah saya kenal dan tak pernah berjumpa dengan saya. Saya bertemu dengan buku-buku koleksinya, memandangi tanda tangannya, dan membayangkan seperti apa sosok beliau itu.

image
My uncle's, my grandpa's, and mine

Ayah saya ternyata jadi ikutan emosional juga memandang buku-buku tua itu… Walaupun tak seheboh saya sih…
Kami sekeluarga ternyata punya benang merah yang sama : senang mengumpulkan buku, senang membaca buku, hampir selalu menyampul buku-buku sebelum dibaca, merawat buku dengan apik, dan kebiasaan-kebiasaan lain yang serupa. Buah memang tak jatuh jauh dari pohonnya ya…
Jadi ingat salah seorang kakak sepupu saya yang juga senang membaca buku. Kami hanya boleh membaca bukunya di rumahnya saja, ngga boleh dibawa pulang, lalu membaca bukunya harus pelan-pelan, buku tak boleh dibuka lebar-lebar karena nanti akan merusak jilidnya. Dia tak segan-segan memarahi kami jika kami berbuat semena-mena terhadap bukunya.

image
My aunty's and mine

Next things to do : membersihkan buku-buku itu dari debu, memperbaiki jilid dan halaman yang lepas, dan menyampul ulang… Yeayyyyy.. I Love books….
Thank you Grandpa, uncle, aunty, daddy…
Suatu hari aku akan punya perpustakaanku sendiri…


5 thoughts on “My Grandpa’s Books….

  1. Cerita yang luar biasa Na, engga heran, ke toko buku merupakan satu hal yang harus dilakukan dalam setiap trip hahaha… semoga perpustakaanmu bisa terwujud dengan cepat karena semangat kecintaanmu pada buku yang ditularkan oleh kakek dan ayahmu ya… Amin.
    Di rumah orangtuaku juga masih ada buku-buku dalam berbagai bahasa (coba bacanya gimana?ngertinya aja engga haha) sayangnya dulu sebagian besar kebanjiran sehingga harus dibuang termasuk novel-novel heroic kayak Musashi, Taiko dll .😥

    1. Amin, Mbak… walaupun orang rumah pada komplain gara2 kamarku penuh sama buku… terkenang beli buku kalap di Bohr’s book… hehehe..
      Wah, mbak… itu bikin dilema tuh… pengen baca tapi ngga ngerti bahasanya… *berharap ada yang mau nerjemahin secara sukarela dah…hahaha…
      Mbak…bukunya yg kebanjiran kenapa ngga dijemur aja…..hiks,,,hiks….

    2. hiks…komen yang di atas ini ngga sengaja ke-delete, mbak… maaf

      huaaaaaaaaa……. jadi bubur????? *langsung histeris ngebayangin sedihnya yang punya buku lihat bukunya jadi bubur…. duh nyesek banget…. mana bukunya bagus-bagus pulaaa….. *ga relaaaaa…….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s