Terdampar di Jawa Timur : Trowulan – Part 2

Akhirnya kami pun tiba di Museum Trowulan..

Saya terkejut melihat sebuah patung Buddha besar di depan pintu Museum Trowulan. Lho kok bisa ya ada patung Buddha? Majapahit tuh Kerajaan Hindu bukan?

Ternyata selama ini saya salah.. ya benar-benar salah.. salah benar-benar… Saya berpikir bahwa sebuah Kerajaan Hindu hanya akan memiliki peninggalan bercorak Hindu, dengan kata lain, saya menganggap bahwa peninggalan Majapahit ya pastinya berhubungan dengan agama Hindu. Hmm… dangkal banget ya pemikiran saya…. maafkan aku wahai para guru sejarahku… Semua kebodohan ini nantinya akan terjawab sedikit demi sedikit melalui sebuah proses yang seolah bagai kebetulan ditunjukkan di hadapan saya..

Oke, sekarang kita kembali dulu ke Museum Trowulan. Museum ini disebut juga sebagai Pusat Informasi Majapahit. Lokasinya tepat di seberang Kolam Segaran. Sejarah pendirian museum ini berawal dari kerjasama antara bupati Mojokerto, R.A.A. Kromodjojo Adinegoro dengan Henry Maclaine Pont, seorang arsitek Belanda pada tahun 1924. Mereka mendirikan OVM (Oudheeidkundige Vereeneging Majapahit) yang bertujuan untuk meneliti dan mengumpulkan peninggalan-peninggalan Majapahit. Untuk menampung artefak yang berhasil terkumpul, OVM menempati sebuah rumah sederhana di Trowulan, dan karena artefak yang dikumpulkan terus bertambah, mereka memutuskan untuk mendirikan sebuah museum yang akhirnya terealisasi pada tahun 1926. Salut sama Pak Kromodjojo yang di masa itu sudah berpikir tentang masa depan artefak-artefak peninggalan Majapahit.

Ketika Jepang menginvasi Indonesia, Maclaine Pont ditawan oleh Jepang, sehingga Museum Trowulan terpaksa ditutup. Setelah Indonesia merdeka, museum ini berpindah-pindah tangan hingga akhirnya dikelola oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Timur. Karena jumlah koleksi semakin banyak, museum dipindahkan ke area yang lebih luas, sekitar 2 km dari tempat aslinya.

dscn7979.jpg
Bagian Depan Museum Trowulan

Museum ini membagi koleksinya berdasarkan jenis materialnya, yaitu tanah liat, keramik, logam, dan batu. Sayang sekali di dalam museum dilarang untuk memotret. huhuhuhu…

Setelah terpaku di hadapan patung Buddha yang rasanya salah tempat itu (menurut saya…), saya kemudian berhadapan dengan sebuah potongan batu yang disebut sebagai Surya Majapahit. Saya tergoda banget untuk nyuri-nyuri motret batu ini, tapi kok ya nggak berhasil-berhasil… Kehalangan orang lah, kamera error lah.. Duh, batu ini emang ‘dilindungi’ kali ya supaya ngga bisa saya foto… Nih, supaya ngga penasaran saya fotoin aja dari bukunya…
image

Surya Majapahit ini adalah lambang yang sering ditemukan pada peninggalan-peninggalan Majapahit dan sepertinya digunakan sebagai lambang negara. Lambang ini adalah matahari bersudut delapan dengan lingkaran pada bagian tengah yang menampilkan dewa-dewa Hindu, yaitu : Siwa (tengah), Iswara (timur), Mahadewa (barat), Wisnu (utara), Brahma (selatan), Sambhu (timur laut), Sangkara (barat laut), Mahesora (tenggara), Rudra (barat daya). Sedangkan delapan sudut matahari melambangkan dewa-dewa pendamping lainnya, yakni : Indra (timur), Baruna (barat), Kuwera (utara), Isana (timur laut), Bayu (barat laut), Agni (tenggara), dan Nrtti (barat daya).

Setelah puas memandangi Surya Majapahit dan sekilas sejarah museum yang dipampang pada pintu masuk museum, saya masuk ke ruang pertama yang menampilkan koleksi logam, mulai dari alat-alat upacara, alat-alat musik, perhiasan, dan lain-lain. Ada pula penjelasan mengenai sumur warga Majapahit. Sayang…ngga boleh motret… *masih aja keukeuh pengen motret..
Di ruangan ini juga dijelaskan beberapa pengetahuan dasar tentang Majapahit, salah satunya adalah tentang agama-agama yang dianut oleh rakyat Majapahit. Tapi dodolnya saya ngga ngeh agama apa saja yang dituliskan, dan saya juga ngga sadar bahwa Majapahit bukanlah suatu kerajaan yang 100% Hindu. *Jadi keluar dari ruangan ini saya masih aja bodoh…

Kemudian saya memasuki ruang berikutnya, nah di antara patung-patung dewa-dewa Hindu, tiba-tiba saya tersentak dengan satu patung wanita yang diberi label Avalokitesvara yang berwujud seperti Dewi Kwan Im, nah.. kok ada Dewi Kwan Im disini? Inikan kerajaan Hindu, kenapa ada Buddha dan Dewi Kwan Im yah? Makin bingung deh.. Saya menyimpan rasa penasaran itu dalam hati saja, karena ngga tahu mau tanya ke siapa.. hehehe…

Tak disangka dan tak diduga, keesokan harinya, hampir tepat 24 jam setelah saya berbingung ria, seorang rekan blogger yang saya sapa Kak Gara memposting artikel terkait hal ini. Silakan buka tulisannya yang mencerahkan di http://mencarijejak.com/pulau-menjangan-4-sekali-lagi-bodhisatva-avalokitesvara/. Pas beneeer…

Pada buku 700 Tahun Majapahit (Suatu Bunga Rampai), dikatakan bahwa bukti-bukti sejarah dan arkeologi menunjukkan bahwa pada masa Majapahit telah hidup dan berkembang berbagai kepercayaan dan agama dengan berbagai alirannya secara berdampingan. Ada beberapa kelompok agama dan kepercayaan yang berkembang pada masa itu, yakni Siwa (Hindu), Buddha, Karsyan, kepercayaan Jawa asli, dan Islam. Menurut kitab Nagarakrtagama dan Arjuna Wijaya, di kerajaan Majapahit ada tiga pejabat pemerintah yang mengurus agama, yaitu Dharmadhyaksa Kasewan yang mengurus agama Siwa, Dharmaddhyaksa Kasogatan yang mengurus agama Buddha, dan Menteri Herhaji yang mengurus aliran Karsyan. Menurut Stuterheim, sebetulnya di antara rakyat Majapahit kepercayaan Jawa Kuno adalah yang paling dominan, sementara agama Hindu hanya sebagai selubung. Agama Hindu yang sebenarnya hanya terdapat di keraton dan biara.

Jadi, ditinjau dari segi agama dan kepercayaan, masyarakat Majapahit merupakan masyarakat majemuk. Silakan baca tulisannya Kak Gara yang di atas tadi yah tentang pembahasan Siwa-Buddha dan Bhinekka Tunggal Ika. Kern dalam tulisannya Civa dan Buddha menyatakan bahwa di Jawa pernah terjadi percampuran antara agama Siwa (Hindu) dan Buddha, namun dengan catatan bahwa kedua agama tersebut masih bisa dibedakan satu sama lain. Ini terjadi karena asal-usul kedua agama tersebut sama-sama dari India, dimana pertautan kedua agama tersebut lebih dulu terjadi. Nah, karena itulah ditemukan peninggalan yang bercorak Hindu juga Buddha dari Majapahit. Memang sih. pada puncak kejayaan Majapahit, agama Hindu dijadikan agama negara.

Selain itu, disini juga ditemukan peninggalan bercorak Islam. Islam telah berkembang di pusat Majapahit sejak masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk (1350-1389 M), jadi salah sekali jika dikatakan bahwa Islam muncul pada masa akhir Majapahit.

Pas saya cerita tentang penemuan-penemuan saya ini, teman kerja saya (yang adalah fansnya Gajah Mada) langsung bilang, “Makanya baca dong buku Gajah Mada karya Langit Kresna Haryadi… Walaupun dia menulis fiksi, tapi dia mendasarkan ceritanya atas kejadian sejarah… ” *merasa semakin bodoh… maaf bukan iklan… tapi asli tadi saya abis dicela-cela gara-gara ini..

Udah pusing? Tenang… saya juga udah pusing. Mari kita nikmati saja perjalanan di dalam museum Trowulan. Saya sangat mengagumi koleksi-koleksi tanah liat seperti terakota yang berbentuk wajah, tiang, replika rumah, jambangan, dan celengan. Bentuknya unik dan lucu, dan dibuat dengan detail sekali.. Duh, sayang sekali ngga boleh dipotret yah…

Di bagian luar museum terdapat situs sisa pemukiman. Uniknya, ukuran rumah orang Majapahit mini banget lho, hanya berukuran 5.2 m x 2.15 m. Ternyata fungsi rumah pada masa itu hanya untuk tidur. Dapur dan tempat air semuanya ada di luar rumah.

DSCN7987
Situs Pemukiman Majapahit

Di halaman belakang museum ini banyak sekali patung-patung baik yang utuh maupun yang sudah hancur, relief-relief yang terpahat pada batu, serta nisan-nisan dengan berbagai bentuk.

DSCN7989

Saat kami hendak pulang, kami menemukan papan petunjuk arah di halaman depan museum. Disitu tertulis arah menuju Makam Putri Champa dan Candi Minak Jinggo. Nah… dua situs ini nih yang bikin penasaran. Putri Champa? Champa kan sebuah kerajaan yang pernah menguasai area area selatan dan tengah Vietnam. Jadi putri itu dari Vietnam?

Lalu Minak Jinggo? Saya ingat sosok ini pernah dikisahkan dalam sebuah film nasional sekian belas tahun yang lalu. Kalau tak salah beliau ini adalah tokoh antagonis dalam film itu.. Meski nama ini familiar namun saya sendiri tak tahu apa sepak terjangnya dalam sejarah Majapahit.

Hmm.. beneran jadi penasaran nih. Menurut papan petunjuk jaraknya hanya sekitar 1 km dari museum. Deket lah ya… Pak Ojek mau ngga ya ngantar kami ke kedua situs itu?


6 thoughts on “Terdampar di Jawa Timur : Trowulan – Part 2

  1. Sampai hari ini, saya masih mengenal tritunggal Siwa-Sogata itu dalam pemuka agama tinggi (Pedanda). Ada Pedanda Siwa, Pedanda Buddha (dengan lontar pokok Sang Hyang Kamahayanikan-nya), dan Rsi Bujangga. Mereka disebut “Tri Sadhaka”. Tapi aih, ternyata konsepsi penjaga mata angin sebagaimana kebudayaan Hindu Khmer dikenal pula di sini? Itu baru info baru. Terima kasih, ya.
    Nah ini, tahu kalau di dalam sana tidak boleh memotret makin membuat saya penasaran untuk berkunjung ke Museum Trowulan :aaak. Semoga bisa, semoga bisa…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s