Terdampar di Jawa Timur : Malang dan Kediri – Akhirnya Kami Punya Itinerary

Setelah tiga hari perjalanan tanpa itinerary, akhirnya kami berembuk membuat rencana rute perjalanan sambil menunggu pesanan makan kami kemarin malam. Pada hari keempat ini kami akan ke Malang, bawa gembolan (penting banget yak buat disebut-sebut..hehe). Lalu malamnya kami akan naik kereta malam juk ijak ijuk ke Kediri (langsung booking tiket online kemarin malam juga). Hari kelima kami akan ke Gua Maria Puh Sarang Kediri, dan sorenya kembali ke Surabaya, menginap pakai free complimentnya WIN Hotel (nah kan bener free compliment ini nggak pergi kemana-mana, dan untungnya bisa langsung dikonfirmasi by phone ke hotelnya), dan terakhir di hari keenam : PULANG… Yeaaayy…. rasanya bahagia banget punya itinerary…

Selamat Pagi Pandaan…

Ini adalah hari keempat rangkaian dari rangkaian drama terdampar di Jawa Timur. Ketika saya terjaga pagi ini, kami semua masih tidur dalam posisi patung yang cantik, tanpa ada seorang pun yang terlempar ke lantai.

DSCN8082
Selamat Pagi, Pandaan…

Jam enam teng kami bergegas keluar dari kosan adik saya dan jalan kaki menuju terminal Pandaan. Kerasa banget udaranya masih brrrr… maklum kota ini ada di kaki Gunung Arjuna. Di terminal kami langsung dapat bus jurusan Malang yang non patas. Setelah membayar ongkos Rp. 7.500, saya yang udah duduk pewe di kursi pojok paling belakang langsung terlelap (saking nyenyaknya jidat saya sampe benjol terbentur dinding bus).

Sekitar pukul 7 kami tiba di Terminal bus Arjosari Malang. Awalnya kami berniat untuk naik angkutan umum saja ke Batu, karena menurut orang-orang angkutan umum di Malang agak banyak jika dibandingkan dengan Surabaya. Tapi akhirnya kami memilih untuk sewa taxi-taxian di terminal karena menurut tukang koran yang kami tanyai, untuk mencapai Batu harus dua kali ganti angkot dan nunggunya lama. Kami menggunakan jasa Pak No dan mobil carrynya yang meskipun sudah berumur 21 tahun namun masih kuat nanjak.

Sepanjang perjalanan Pak No bercerita tentang keluarganya. Beliau ini sekarang berusia 58 tahun, anaknya 7 orang dan tinggal satu yang belum menikah. Seluruh saudara kandung Pak No masuk dinas kemiliteran atau kepolisian, hanya dia yang membandel memilih hidup sebagai orang sipil. Pak No ini sabar banget dan sangat menolong. Beneran ngga nyesel deh menemukan Pak No di terminal Arjosari. Dan yang terpenting beliau ini secara tidak langsung mengajarkan saya tentang KERENDAHAN HATI. Serunya, Pak No hobby ngebut dan mendahului lewat bahu jalan.. hehehe…

Perjalanan kami dari Malang menuju Batu relatif lancar.. Kata Pak No ini karena kami berangkat pagi-pagi. Tujuan pertama kami adalah Taman Rekreasi Selecta. Sebetulnya ada banyak tempat wisata di Batu ini, antara lain Jatim Park 1, Jatim Park 2, Museum Angkut, serta Air Terjun Coban Rais dan Coban Rondo, tapi kami memilih Selecta, soalnya cocok untuk kondisi saya, nyak, dan babeh.. hehehe.. Yah, intinya sih kami berniat santai untuk menikmati udara segar Malang, jadi rasanya cocok deh kalau ke Selecta yang bentuknya mirip Taman Bunga Nusantara *eh bener ngga yah… soalnya saya belum pernah ke TBN.. hihi

DSCN8107

Beneran deh, tempat ini cocok buat saya yang ingin menenangkan pikiran dan hati, dan buat nyak babeh yang mau bernostalgia..

DSCN8127
Ikannya baris… hehehe

Ternyata taman ini sudah ada sejak tahun 1930, malah Bung Karno dan Bung Hatta pernah juga ke tempat ini. Lihat disini deh http://obyekwisataindonesia.com/selecta-malang/.

DSCN8151

Saya teringat percakapan saya dengan seorang sahabat beberapa waktu yang lalu. Ketika itu kami membicarakan tentang makna kebahagiaan. Menurutnya bahagia itu adalah makan bersama dengan orang-orang yang kita sayangi, tak perlu di tempat yang mewah, tak perlu makan makanan yang mahal, yang penting bersama dengan orang-orang yang kita sayangi.. Dia lalu bertanya, “Menurut kamu bahagia itu seperti apa?” Ketika itu saya tak bisa menjawabnya. Tapi kini saya punya sedikit definisi tentang bahagia : bahagia itu adalah ketika kita bisa tersenyum dan melihat orang yang kita sayangi tersenyum bahagia..

DSCN8168

Ternyata berada di alam terbuka dikelilingi oleh berbagai jenis bunga bisa menjadi terapi yang ampuh untuk hati.. *Harus mulai menanam bunga nih di rumah…

DSCN8276

Dan bahagia itu adalah bisa melihat bunga matahari secara langsung… yeayyy… norak..norak… Beneran deh, kalau disuruh pilih mau dikasih bunga mawar atau bunga matahari, saya akan pilih bunga matahari… *emang ada yang mau ngasih saya bunga gituh?? geer deh ah…

DSCN8259

Setelah puas berkeliling (dan nontonin orang-orang yang histeris naik flying fox), kami pun meninggalkan Selecta. Karena kami ngga kreatif, akhirnya kami memasrahkan sisa hari itu ke Pak No. Beliau kemudian mengajak kami ke Songgoriti, karena disini ada pemandian air panas. *Jadi terkenang Garut deh..
Ketika kami turun dari Selecta, ternyata jalur naik sudah macet banget. Terima kasih Tuhan kami sudah terhindar dari macet..

DSCN8324

Ternyata kami tak hanya menemukan kolam air panas, tapi juga candi. Jreng.. jreng.. surprise… Awalnya saya berpikir bahwa candi ini termasuk dalam peninggalan Kerajaan Majapahit. Saya ngga sadar kalau candi ini tersusun dari batu dan bukan dari bata merah seperti peninggalan Majapahit lainnya. Setelah mencari-cari, ternyata candi yang bernama asli Candi Supo ini adalah candi peninggalan Mpu Sindok, raja pertama dari Kerajaan Medang. Kemungkinan candi ini didirikan pada abad ke-9 atau 10, ketika pusat kerajaan pindah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur.
Pendirian candi ini tak lepas dari keinginan Mpu Sindok untuk membangun tempat peristirahatan bagi keluarga kerajaan yang dekat dengan mata air. Nama Supo berasal dari nama seorang pejabat yang diperintahkan untuk mencari dan membangun tempat tersebut. Konon sumber air yang mengalir disini awalnya adalah sumber air dingin, tapi karena sering dipakai untuk mencuci keris dan benda-benda bertuah lainnya, maka airnya berubah menjadi panas. Wow….

DSCN8328
Candi Supo a.k.a. Songgoriti

Perjalanan turun dari Batu menuju Malang ternyata harus kami lalui dengan penuh perjuangan.. Macet coy… parah bener… Untung Pak No jago nyalip-nyalip.. cihuy..

Kami sampai kota Malang ketika waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Kota Malang tuh rapi banget ya.. Banyak rumah-rumah tua.. Berasa jalan di kawasan Menteng Jakarta deh.

Pak No kemudian mengantar kami ke Museum Brawijaya. Museum ini didirikan untuk mengenang perjuangan TKR (Tentara Keamanan Rakyat), TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar) dan rakyat Jawa Timur dalam melawan agresi militer Belanda I dan II. Sebenarnya sih kalau mau melengkapi pengetahuan tentang Majapahit sebaiknya datang ke Museum Mpu Purwa yang menampung artefak sejak kerajaan Kanjuruhan pada abad VIII hingga akhir era Majapahit, atau ke candi-candi peninggalan Kerajaan Singasari, antara lain Candi Kidal, Candi Singosari, dan Candi Jago.* Mari kita rencanakan untuk perjalanan berikutnya.. amin…

DSCN8350
Gerbong maut yang dipakai mengangkut 100 tahanan pejuang Indonesia dari Bondowoso menuju Surabaya. Hanya 12 orang yang bertahan hidup!!

Pak No lalu mengajak kami makan Soto Lombok.. Lho, di Malang kok makannya soto Lombok. Emangnya ngga ada soto asli Malang? Oalah,,, ternyata dinamakan soto Lombok karena kedainya terletak di Jalan Lombok.
Setelah perut kenyang kami langsung meluncur ke Stasiun Malang. Stasiun ini dibangun pada tahun 1941 dan berada pada ketinggian 444 mdpl.

DSCN8411
Stasiun Kotabaru Malang

Di depan stasiun saya menemukan patung seorang raksasa yang dikelilingi patung-patung kecil, ada patung pejuang, petani, ibu-ibu, bahkan anak-anak.

DSCN8414

Ternyata patung ini adalah patung Joeang 45! Raksasa itu menggambarkan penjajah Belanda, sedangkan patung-patung kecil menggambarkan seluruh rakyat Jawa Timur yang berhasil melumpuhkan penjajah itu. Eh iya, daerah di depan stasiun ini nyaman banget lho buat duduk-duduk melepas penat atau nongkrong bareng teman-teman. Beneran deh, kota ini asri, teduh, dan bikin betah..

Sebuah Cerita dari Stasiun Malang

Masih ada tiga jam yang harus kami lalui sebelum kereta kami meninggalkan Stasiun Malang. Karena sudah lelah, kami memutuskan untuk menunggu di lobby stasiun saja. Saya menemukan deretan stop kontak di dinding stasiun. Ah, pas banget ada satu lubang yang masih kosong. Saya langsung saja mencolok kabel charger saya untuk memberi makan handphone darurat saya yang sudah kelaparan. Tiba-tiba muncul seorang pria dan menyapa, “Mbak, punya mbak yang mana ya?” Dia membawa colokan “T”, jadi kami bisa sama-sama ngecharge pakai colokan “T” itu tanpa perlu rebutan stop kontak. Awalnya saya nggak tega meninggalkan hp saya sendirian di area charging itu, ada kali 30 menit saya berdiri disitu sampai akhirnya merasa pegel…

Saya akhirnya duduk.. Tepat di samping mas-mas yang tadi bawa colokan “T”. Kami membuka obrolan dengan pertanyaan standar : Darimana? Mau kemana? Asli mana? Sampai akhirnya kami sama-sama ngoceh Bahasa Sunda karena dia pernah kuliah di Bandung. Kami lalu ngobrolin gunung karena dia baru saja turun dari Gunung Semeru. Dia juga memperlihatkan foto-fotonya sepanjang perjalanan ke Semeru, bahkan dia memberikan motivasi supaya saya mencoba naik Semeru. Duh, foto-fotonya bikin ngiler dan bikin saya kangen Papandayan. Dia juga cerita tentang perjuangannya mencapai puncak Semeru, dimana dia melangkah sejauh 50 cm, dan harus terperosok lagi sejauh 20 cm. Kami mengobrol panjang hingga akhirnya petugas stasiun memperbolehkan kami masuk ke peron. Kami lalu berpisah jalan, saya menuju gerbong satu yang ada di sebelah kanan gerbang, sementara dia ke gerbong 4 yang ada di sisi kiri gerbang. Ketika duduk di peron, saya nyengir sendiri.. Kok udah ngobrol panjang lebar kesana kemari, tapi kami berdua nggak saling memperkenalkan diri yah? Hahaha.. Jadi ingat juga waktu menunggu pesawat delay di Supadio, saya ngobrol panjang lebar dengan seorang penumpang lainnya, tapi kami sama-sama nggak memperkenalkan diri… Hahaha.. inilah keajaiban dari sebuah proses menunggu…

Hampir Dini Hari di Stasiun Kediri

DSCN8426

Hujan rintik menyambut kedatangan kami di Stasiun Kediri. Gerbang stasiun telah dikunci, hingga petugas terpaksa membukakan pintu kecil di samping stasiun. Di halaman stasiun tak ada angkot, taxi, ojek, dan disana hanya ada satu becak yang mangkal. Duh, mana otak belum loading pula gara-gara baru bangun tidur…

Kami lalu membagi rombongan menjadi dua. Saya dan babeh yang tersisa terpaksa menunggu tukang becak lain, tapi setelah hampir 10 menit tak ada tanda-tanda kami memutuskan untuk jalan kaki menuju jalan raya. Di ujung jalan kami menemukan tukang becak yang bersedia mengangkut kami berdua ke Raya Resort Hotel di Jalan Yos Sudarso. Menurut peta sih lokasinya tak terlalu jauh dari stasiun. Setelah nego harga, kami berdua berupaya menggunakan ilmu mengecilkan diri, yang ternyata tak terlalu berhasil dan tetep aja kelihatan overload dari luar. Baru beberapa meter jalan, tukang becak menyuruh kami turun, lho kok? Hmm.. ternyata ban becaknya kempes, jadi beliau akan tukar becak dengan temannya untuk sementara. Pak…kempesnya bukan karena kami kan? *merasa berdosa..

Baru saja kami duduk (nggak) manis dalam becak, dan si bapak baru mau mengayuh becaknya.. Eh becaknya malah nyusrug ke depan.. Astaga… copot dah jantungku… Untung kami bisa pakai ilmu kuda-kuda jadinya nggak ketiban becak.. Saat nulis ini sih saya ketawa-ketawa mengingat kejadian itu. Tapi malam itu.. boro-boro deh pengen ketawa… Suer.. jantung dag dig dug kayak mau copot. Sisa kantuk langsung lenyap ikutan nyusrug ke jalan. Lantas dengan upaya yang lebih keras, kami mencoba mengecilkan diri lebih kecil lagi, dan kali ini kami berhasil, kami bisa duduk manis di dalam becak.. Untung body becaknya ngga meletus karena overload… *lagi-lagi merasa berdosa..

Rasanya lega banget ketika kami akhirnya berhasil menemukan hotel kami.. Badan yang lelah membuat saya hanya ingin tidur dan tak ingin mendengar keluhan apapun dari siapapun.. Tapi nggak bisa..

Beneran yah.. belajar menerima itu susah banget.. Saya pengen pulang… sekarang juga..

 

Hai handphoneku… Hari ini aku hampir melupakanmu.. Aku jadi ingat cerita seorang teman yang pernah sekolah di pondok pesantren dan dipaksa hidup tanpa gadget apapun. Dia bilang hidup tanpa gadget itu kadang bisa menambah produktivitas. Mungkin dia benar ya.. Mungkin keadaanmu sekarang membawa suatu makna dan tujuan tertentu dalam hidupku.. Apapun itu.. Semoga aku bisa memahaminya..

 


15 thoughts on “Terdampar di Jawa Timur : Malang dan Kediri – Akhirnya Kami Punya Itinerary

  1. 1) Quoting *Jadi terkenang Garut deh… >>> Aku guling-guling ketawa ngakak ga berhenti wkwkwkwk… Okeh-okeh… Garut = airpanas yaa… ga ada yang lain… *devil’s laughter
    2) Kenalan dengan orang terus direkomen naik Semeru lalu terkenang Papandayan >>> Nah… aku harus komen apa lagi coba?? So crystal clear, dear… *senyum-senyumnakal
    3) Aku asli bengong dan membayangkan ketika kamu nyusrug itu. Sebab dimasa kecil duluuuu aku pun berkali-kali ngalamin hal itu, gara-gara untuk pulang ke rumah harus lewat jalan yang lobangnya segede-gede gaban. Kalo dibikin slowmotion itu… ada teriakan yang cetar membahana saat mulai nyusrug sampai akhirnya bener2 mencium permukaan tanah itu… itu adegannya pasti keren sekali hahahaha…

    1. Mbaaa… aku kan baru pernah nemu air panas di Garut doang… trus bar sekali2nya nginjek gunung ya si Papandayan itu… hehehee… *try to ngeles.. hahaha….
      Mba.. ya ampun…ternyata ada yg lebih sering nyusrug daripada aku… duh… mbak…pasti sampe punya variasi kuda2 deh biar ga ketiban becak…

      1. hahaha… sampe aku ahli menilai kemahiran abang becak dalam mengendalikan loh hahaha, ketauan mana yang masih baru dengan yang udah pengalaman hahaha… jaman dulu Na, adanya cuma becak (mamaku kasian kali ya sama aku kalo diajak jalan kaki melulu, padahal sih gedenya sama gilanya kalo jalan kaki)

      2. Hahaha… mbak… jangan2 abang becaknya dikasih nilai A,B,C,D juga ya.. trus setiap mau milih tukang becak, nilai itu muncul secara imaginer di atas kepala abang2nya… *kebanyakan nonton kartun deh ah…hehehe…
        Wah…nice memories, mbak…naik becak bareng mama…
        Eh…tapi nggak trauma naik becak kan, mbak… walaupun sekarang hobbynya jalan kaki…

      3. iya Na, tetapi pokoknya kalo sampe nyusrug ajaa dah ga lulus tuh abang2nya…
        trauma sih engga.. cuma rada mikir aja sih… terakhir masih naik becak pas di vietnam kemarin hehehe..

  2. Wah terima kasih buat info soal museum Mpu Purwa-nya ya Mbak… penasaran dengan peninggalan kerajaan di sana. Mudah-mudahan suatu hari nanti bisa ke sana :amin.
    Hee… Selecta memang bagus, bunga-bunganya banyak. Hati jadi segar kalau banyak melihata bunga. Mandi-mandi di sana pun konon seru sekali, saya belum pernah coba sih karena tidak bisa berenang :haha.
    Candi Songgoriti memang keren, kan? Songgoriti, Songgokerto, perdikannya para pandai besi (satu-satunya) yang ditahbiskan sebagai daerah suci… jangan macam-macam di sana kalau tak mau mendapat ganjaran, begitu kata prasastinya, yang konon terbukti sampai hari ini.

    1. Hahaha… waktu kesana kolam renangnya udah kayak mangkok cendol..hahaha.. Tapi aku ngga nafsu juga lihat kolam renangnya.. Soalnya sama, kak, ngga bisa renang…hahaha… Ah..aku juga pengen ke museum itu tuh kak… Eh.. Ada prasasti Songgoriti, kak? Kok aku ngga nemuin yaa…😦

      1. Saya juga belum ketemu prasastinya kok, kan adanya di Inggris :hehe. Saya di Batu kemarin cuma sempat datang ke rumah terakhir prasasti itu saja.
        Dan lain kali, kalau di Batu, mampir ke Makam Dinger Mbak… tidak jauh kok dari Selecta. Keterangan lengkap ada di blog saya :haha *promosi*.

      2. Huhuhu..iya, kak. Waktu itu pernah baca tulisan kakak tentang Makam Dinger itu.. Tapi nggak sadar bahwa itu ada di Malang.. Hiks.. Hiks.. Deket pula dari Selecta ya… Kapan balik lagi kesana, kak? Aku ikut dongg….
        *Oalah…. Di Inggris toh… Jauh pisan euy…

      3. Itu di Batu… bukan Malang :hehe.
        Kapan ya? Nunggu liburan dan dana dulu nih :haha, baru juga saya balik dari Sidoarjo :hoho.
        Iya, di Inggris… coba googling deh, banyak info soal prasasti ini :)).

      4. Eh..iya.. Maksudnya Batu… iya nih, ka.. Kapan ya kita dianugerahi cuti dan celengan unlimited.. Hehe. Wah..sempet lihat lumpur lapindo ga, kak? Keliling kemana aja?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s