Terdampar di Jawa Timur : Trowulan – Part 3

Wedeh.. Ternyata cerita tentang Trowulan ini panjang juga ya, sampe akhirnya (terpaksa) dibikin part ketiga. Soalnya kalau dijadiin satu bisa pedes matanya..

Oke, kembali ke Trowulan..
Next stop kami adalah Candi Brahu.. Untuk bisa mencapai tempat ini, kita harus kembali ke jalan raya Mojokerto-Jombang, lalu menyeberanginya. Setelah masuk ke sebuah jalan yang tidak terlalu lebar, akhirnya kami sampai di Candi Brahu yang lokasinya di Desa Bejijong. Menurut mbah wiki, Candi yang dibangun dengan bata merah ini diperkirakan dibangun pada abad ke-15 dan berfungsi sebagai krematorium jenazah para raja. Namun belum ada penelitian yang menemukan sisa abu jenazah dalam bilik candi. Sebetulnya di dekat Candi Brahu ada banyak candi-candi kecil lain dan juga Prasasti Alasantan, tapi kami ngga kesini, dan waktu di TKP itu kami ngga ngeh juga bahwa ada peninggalan lain di sekitar candi ini.

image
Candi Brahu

Di depan Candi ini kami sibuk merayu Pak Ojek untuk mengantar kami ke Makam Putri Champa dan Candi Minak Jinggo. Tapi sepertinya rayuan kami kurang gombal.. Mereka kompak satu suara menolak kami… Hiks.. hiks… Alasannya : jauh (padahal di depan museum hanya tertulis kurang dari 1 km), jalannya ditutup (entah deh beneran atau ngga), dan kesorean (padahal mau ampe malem juga bakal dijabanin deh…).

So… perjalanan kami diakhiri di Mahavihara Mojopahit. Ada apa disini? Disini ada patung Buddha Tidur dengan panjang 22 meter dan tinggi 4.5 meter. Katanya sih ini adalah patung Buddha tidur terbesar di Indonesia dan terbesar ketiga di dunia setelah Thailand dan Nepal. Sayangnya… seribu kali sayang… disini ruameee banget… dah gitu banyak banget pengunjung yang merokok.. nyebelin banget yak.. walaupun ruangannya terbuka, tapi tetep aja bikin kesel soalnya suasananya kan lagi padet..

image
Buddha Tidur di Mahavihara Mojopahit

Memandang wajah Buddha yang tenang seolah menegur saya untuk berhenti mengeluh.. Hmm.. sepanjang perjalanan ini saya udah banyak banget mengeluh.. Bahkan saya membuka tahun yang baru ini dengan keluhan dan kemarahan… Saya jadi ingat lagi pesan Natal tahun lalu : MENERIMA. Hiks..hiks..
image

Wajah teduh itu.. Meskipun matanya terpejam namun memberikan kedamaian yang hanya bisa dirasakan dalam hati dan tak bisa diungkapkan dengan kata-kata..
Petang mulai turun di Trowulan.. Saatnya kami pulang.. Pak Ojek tetap tak mau mengantar kami ke makam Putri Champa dan Candi Minak Jinggo.. Ya sudahlah, mungkin ini pertanda bahwa suatu hari harus balik lagi ke tempat ini.. Ingat : BELAJAR MENERIMA SITUASI (TANPA EMOSI)..

Setelah pulang, saya yang masih penasaran banget dengan Putri Champa mencari jawabannya dari mbah google.. Dan apa hasilnya? Tak ada jawaban yang jelas.. Ada yang bilang beliau ini memang putri asli kerajaan Champa, istri dari Raja Brawijaya V, ada juga yang berpendapat bahwa Champa adalah sebuah wilayah di Aceh yang bernama Jeumpa dan diucapkan sebagai Champa karena dialek Jawa. Ada yang bilang juga beliau putri dari Palembang. Ada yang bilang beliau ini adalah istri Sunan Giri, dan ada pula yang bilang Sunan Giri tidak pernah menanggapi cintanya. So? entahlah.. mungkin butuh mesin waktunya Doraemon kali ya untuk tahu kisah yang sesungguhnya dari putri ini… *temen sebelah saya langsung ngangguk-ngangguk.. “Pengen lihat Gajah Mada”, itu katanya.. Hmm… misterius sekali si Putri ini…

Kalau tentang Candi Minak Jinggo, menurut mbah google candi ini paling unik karena ia satu-satunya candi yang tersusun dari batu andesit, sedangkan yang lain tersusun dari bata merah. Hebatnya lagi batu andesitnya berukir lho. Menurut sejarah, Minak Jinggo adalah raja Blambangan yang sakti namun jahat. Minak Jinggo ini menaruh hati pada Ratu Kencana Wungu, tapi bertepuk sebelah tangan. Ratu Kencana Wungu lalu memerintahkan Damarwulan, seorang pemuda sakti untuk mengalahkan Minak Jinggo, dan ia akhirnya tewas dipenggal Damarwulan.. Hmm.. tokoh antagonis kan.. tumben banget ya ada candi yang didirikan dengan nama seorang tokoh antagonis dalam sejarah…

Ternyata dari penelusuran di dunia maya, saya menemukan penjelasan yang agak masuk akal dari web kebudayaan.kemendikbud.go.id/bpcbtrowulan (diakses tanggal 14 Januari 2016). Pada reruntuhan candi yang terletak di sebelah timur kolam Segaran, ditemukan dua buah arca dan hiasan Kala Makara. Salah satu arca menggambarkan Mahakala sebagai raksasa bermata melotot, bertaring, dan tangan kanannya memegang pisau belati. Penduduk menyebut arca itu sebagai arca Minak Jinggo karena sosok Minak Jinggo dikenal sebagai sosok raksasa jahat bersayap yang kurang lebih penggambarannya mirip dengan Mahakala itu. Alhasil candi itu akhirnya disebut candi Minak Jinggo oleh warga sekitar… jiah… begitu toh ceritanya…

Setelah kami sampai di tepi jalan Mojokerto-Jombang, kami langsung menghentikan bus jurusan Surabaya. Karena miskom dan mis mis mis yang lain, kami malah ikut bus itu sampai Purabaya dan ngga berhenti di terminal Kertajaya Mojokerto seperti rute ketika berangkat. Kalau diibaratkan dengan sisi segitiga, kami malah menyusuri sisi panjang dan sisi tinggi, bukannya lewat sisi miring yang lebih pendek.. Hmmmpppphhh… Udahlah daripada bete mending menikmati perjalanan sambil baca novel…

Dari Terminal Purabaya kami naik bus biasa menuju Malang via Pandaan, tarifnya jauh lebih murah daripada bus patas, yakni Rp. 7.500, padahal sama-sama pakai AC. Seorang pengamen ikut naik bus dari terminal, dan beberapa saat setelah bus lepas landas pengamen itu mulai menyanyikan lagunya Ebiet G Ade yang diimprovisasi sehingga agak-agak aneh nadanya..
Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan.. Sayang engkau tak duduk di sampingku, kawan..
Yaelah… biasanya saya denger lagu ini biasa aja, tapi entah kenapa kali ini saya begitu mello sampai saya merasakan mata saya mulai basah.
Banyak cerita yang mestinya kau saksikan, di tanah kering bebatuan..
Duh, gimana ini, kenapa pipi saya mulai basah… dan saya mulai sibuk mengeringkan wajah saya dari jejak air mata..
Tuhan… kok daku mello begini yaa… *Butuh sandaran buat nangis…

Kami tiba di Pandaan setelah malam menjelang dan memutuskan untuk makan dulu di dekat terminal. Sambil menunggu pesanan datang, saya mampir ke Masjid Cheng Ho yang terletak persis di seberang persimpangan terminal. Masjid ini betul-betul unik, karena bangunannya bergaya bangunan Cina. Cantik banget, ada lampionnya, dan ornamen jendelanya juga oriental banget.. Sayangnya saya kesana sudah malam dan pas bagian depan masjid tertutup tenda karena akan ada acara. Waktu itu saya mampir menjelang sholat Isya jadi suasana masjid agak ramai. Seorang penjaga dengan ramah mengizinkan saya untuk memotret. Uh, saya salah kostum, masak mampir ke masjid pakai celana pendek (selutut sih… cuma kan tetep aja masih dalam kategori yang kurang sopan). Saya masuk ke pintu utama masjid dan menemukan sesuatu yang bikin saya speechless.. Ini masjid atau kelenteng ya? Nuansanya merah sekali…
image

Dan Tuhan.. dengan nama apapun kau menyapaNya.. dengan cara apapun kau menyembahNya.. di tempat apapun kau beribadah padaNya… Dia tetaplah Tuhan yang Esa. Ketika kau membuka hatimu untuk kehadiranNya, Ia akan membuat hatimu merasa tenang dan damai..
image

Ketika saya terpaku di depan papan berwarna merah yang mengisahkan sejarah berdirinya masjid ini, terdengar suara dari speaker masjid. Meski saya tak paham (dan bukan suara adzan), namun saya rasa sebentar lagi pasti sudah saatnya shalat Isya. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak masuk lebih dalam lagi ke masjid.
image

Episode terdampar hari ketiga pun akhirnya berakhir…
Malam itu terjadi drama tidur bagai patung.. senggol dikit nyusrug ke ubin…
Mari kita lihat, besok pagi siapa yang sudah mendarat dengan manis di lantai…

Hai, handphone… Maaf ya, hari ini aku sama sekali tak menyentuhmu..
Kuizinkan dirimu beristirahat sejenak di dalam tempat pensilku..
Mungkin aku sudah putus asa, tapi aku berjanji setelah pulang nanti, kamu akan kubawa ke rumah servis terdekat..
Tenanglah handphoneku, aku tak akan menggantimu dengan yang lain karena kenangan kebersamaan kita terlalu banyak.. Dan aku tak rela untuk melepaskan semua itu..


9 thoughts on “Terdampar di Jawa Timur : Trowulan – Part 3

  1. Candi Brahu ini memang kalau kata orang adalah bangunan bersejarah tertua yang ada di Trowulan ya… saya suka dengan bagaimana ada efek garis-garis di sana, kayaknya ada maksudnya tersendiri, begitu :hehe.
    Saya sarankan baca bukunya George Coedes berjudul “Asia Tenggara Masa Hindu Buddha” kalau ingin tahu lebih lanjut soal hubungan Jawa dan Champa dan Angkor. Ada di bab-bab awal, tapi jangan kaget ya bacanya :hehe. Saya tahu kalau penjelasan Pak Coedes bisa membuat jantungan tapi memang demikianlah adanya :)).
    Masjidnya bagus… terus pas difoto banyak orbs-nya… *mulai lagi spekulasi*. Katanya orbs itu tanda kalau di sana ada makhluk astral (menurut acara TV uji nyali ala-ala yang suka saya tontonin :haha).

    1. Kak, setelah baca-baca lagi, ternyata ada dua versi cerita tentang candi ini ya,,, yang pertama bilang dari hasil uji karbon 14, diketahui bahwa Candi ini dibuat antara tahun 1410 hingga 1646. Struktur bata kaki bagian dalam dan badan candi ternyata dibangun pada masa yang berbeda. Yang kedua bilang candi ini dibangun pada masa Mpu Sindok sekitar abad 10, eh, tapi kok bangunannya tersusun dari bata ya bukan dari batu…
      Terus ternyata sebagian tubuh candi merupakan susunan batu bata baru yang dipasang pada masa pemerintahan Belanda.

      Eh, iya juga ya, kalau diperhatikan badannya kayak disusun dari lapisan-lapisan tipis yaa… mirip kue lapis..

      Hmm.. tentang yang foto masjid, sampai aku pelototin lagi, kak.. dan hmmm.. iya yah.. ada titik-titik kecil putih… itu orbs yaa, kak… wedeh.. pernah kejadian juga waktu motret Gereja Blenduk… *mendadak merinding… pas malam Jumat pulaa…

      1. Waaah ternyata oh ternyata. Hmm… :hehe.
        Iyaaa, itu yang menurut saya membuatnya beda dengan candi lain, ilusi optiknya.
        Eh itu kata orang sih… tapi saya mah tidak begitu percaya, selain buat seseruan saja :hehe. Yah kalau memang ada ya mungkin mereka ingin dikenal :)).

      2. Kak, pagi ini di facebooknya Penggiat Buku dishare link download ebook “A Record Of The Buddhist Religion as Practised in India and The Malay Archipelago” karya Takakusu. Siapa tahu Kak Gara berminat.. maaf ngga bisa share linknya disini..soalnya bingung cara ngopy linknya… hehehe

      1. Iya, memang agak susah dicerna. Tapi setelah selesai baca, nanti-nantinya pasti buku itu akan jadi rujukan utama, terutama buat Angkor dan Champa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s