Last Saturday

9 Januari 2015

Halte Busway Dukuh Atas
20.01
Angin yang membawa udara panas menyapu wajahku. Jakarta hari ini panas sekali. Aku baru sadar bahwa cuaca panas bisa membuatku tak berdaya, membawaku pada kondisi tak mampu berpikir, dan membawa emosiku ke perbatasan yang paling kritis.
Aku melangkahkan kaki menuju Stasiun Sudirman. Sial! Mataku tak bisa kukendalikan dan langsung memandang halte di atas tempatku berjalan. Pikiranku ikut-ikutan melayang, mengingat apa yang pernah terjadi di tempat itu.

Lorong Stasiun Sudirman
20.04
Siapa yang membuat lorong stasiun ini menjadi cantik dengan untaian tali kur berwarna-warni? Harusnya aku tersenyum melihat keindahan yang tersaji di depan mataku ini. Tapi, seperti tadi siang, sudut bibirku tak mau diatur untuk tersenyum. Mungkinkan cuaca panas ini bisa membuat syaraf-syaraf di wajahku menjadi begitu kaku?

Stasiun Sudirman
20.08
Aku merapat ke area charging di dinding stasiun dan langsung mencharge handphoneku yang sudah kelaparan sejak tadi siang. Di telingaku mengalun suara merdu Maudy Ayunda yang seolah menyuruhku untuk tahu diri. Bukannya mengganti dengan lagu yang lebih menenangkan, aku malah terpaku menghayati setiap kata dari lagu itu.

Bye, selamat berpisah lagi
Meski masih ingin memandangimu
Lebih baik kau tiada disini..

Stasiun Sudirman
20.10
Suara seorang perempuan memecahkan lamunanku. Ia berkata kereta commuter  line tujuan Bogor sudah meninggalkan Stasiun Tanah Abang. Berarti dalam lima menit kereta itu akan tiba di stasiun ini.

Meradang menjadi yang di sisimu
Membenci nasibku yang tak berubah

Masih saja suara merdu Maudy Ayunda menyayat-nyayat hatiku.

Stasiun Sudirman
20.11
Aku bertanya pada hatiku, “Kamu mau menunggu berapa lama lagi?”
“Sampai kau bisa memutuskan untuk berhenti menunggu.”, Aku terkejut mendengar jawabannya.

Stasiun Sudirman
20.14
Aku menarik kabel chargerku dan melangkah menuju peron paling depan. Semoga aku masih bisa mendapat tempat duduk di gerbong khusus wanita.
Kenapa dadaku terasa sesak, bagai ingin berteriak.
Tapi tak mungkin pula aku berteriak di tengah keramaian ini.

Commuter Line Tujuan Bogor
20.16
Syukurlah masih ada tempat duduk tersisa untuk meluruskan kaki ini.
Aku mencoba memejamkan mata untuk mengusir segala hal yang sedang berlarian dan berteriak di kepalaku.
Tapi semakin aku berusaha, semakin rusuh rasanya kepalaku.

Commuter Line Tujuan Bogor
20.20
Kereta masih tertahan tak bisa masuk Stasiun Manggarai. Aku menghela napas bagai bisa mendorong kereta maju ke depan.
Mengapa perasaan ini terasa begitu berat?

Stasiun Manggarai
20.25
“Saya nggak egois kan?”
Ah, kata-kata itu terus menggema di pikiranku sepanjang hari ini.
Apa yang membuat dia merasa dirinya egois?
Bukankah dia tahu bahwa mempertahankan prinsip tidak sama dengan egois?

Stasiun Manggarai
20.27
Aku mengingat-ingat kapan ia pernah berbuat egois padaku..

Stasiun Tebet
20.29
Aku semakin yakin bahwa jawabanku kemarin malam tak salah.
“Aku belum pernah mengalami versi egois dari kamu..”

Stasiun Bogor
21.30
Aku memandang langit yang mendung dan berdoa, “Tuhan, apakah aku boleh mengharapkan mujizatMu?”

Rumah
21.57
Aku membuka pagar rumah yang belum dikunci. Perasaan sesak itu masih terasa menghimpit dada.
Padahal aku tahu hujan baru saja reda di kota ini. Angin dingin menyapaku bagai ingin membuatku sedikit lega. Tapi ia gagal total.
Jadi bukan cuaca panas yang membuat perasaan buruk itu bercokol sepanjang hari ini.
Aku hanya bisa membatin dalam hati, “Apalagi yang harus kulakukan?”


2 thoughts on “Last Saturday

  1. Er… bersyukur? :hehe. Saya tidak bisa bicara banyak soal ini tapi semua orang pasti punya masalah dan paling tidak kita mesti bersyukur masih diberi kesempatan merasakan masalah itu, karena tidak ada masalah berarti kita cuma hidup sendiri dan saya beri tahu, sendiri dan jadi figuran dalam kehidupan semua orang itu sama sekali tidak nyaman… loh kok saya malah curcol :haha.

  2. Iya, kak…setelah kurenungkan (ehm…) ternyata menghadapi masalah itu memberikan aku pelajaran tentang hidup, bagaimana menerima suatu kondisi yang kadang memang hanya bisa diterima aja…ga bisa diubah…
    Bener, kak… jadi figuran itu ngga enak…hehehe..mending jadi yang megangin layar aja deh… *eh..ikutan curpan… curhat panjang…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s