Terdampar di Jawa Timur : Kediri

Pagi ini saya terbangun cukup pagi, seolah ada yang membangunkan dan mengingatkan saya untuk ke gereja.. Hari ini hari Minggu pertama di tahun 2016, so harus dateng ke rumah Tuhan donkss…
Tadinya kami semua mau berangkat ke gereja, tapi menjelang jam 7 baru saya doang yang siap ngacir, alhasil saya berangkat duluan dan yang lain (akhirnya) ngga jadi berangkat..
Dari penelusuran dengan google maps, gereja terdekat dari hotel kami adalah gereja Vincentius a Paulo dan gereja Santo Yoseph. Saya memilih ke Santo Yoseph karena jadwal misanya lebih siang (pk. 07.30) hehehe… teteup aja yah…

Di depan hotel ada banyak becak yang nongkrong tapi hanya ada satu tukang becak yang eksis. Saya lalu memintanya untuk mengantar saya ke “gereja di jalan Hasanudin”. Ternyata sodara-sodara.. jaraknya lumayan jauh… padahal kalau di peta kelihatan dekat.. Ternyata lagi di jalan itu ada dua gereja yang tepat lokasinya berseberangan, yaitu gereja Katolik Santo Yoseph dan gereja  Baptis. Anehnya si Pak Becak dengan yakin menurunkan saya di depan gereja Santo Yoseph, padahal saya nggak bilang mau ke gereja apa. Saya kan cuma bilang “gereja di Jalan Hasanudin”.. Weowe… Wow..

Saya sampai di gereja beberapa menit sebelum misa dimulai, dan disambut oleh para petugas gereja yang ramah sambil mengajak salaman. Untunglah misanya pakai Bahasa Indonesia dan bukan Bahasa Jawa.. legaaaa…

Nah, masalah muncul ketika saya mau kembali ke hotel. Di depan gereja ada banyak juga tukang becak yang mangkal, saya memilih salah satu dari mereka dan bilang “Raya Resort Yos Sudarso ya, Pak…” Si bapak sih ngangguk-ngangguk aja, jadi saya asumsikan dia udah tahu tujuan saya itu. Nah, beberapa puluh menit kemudian, dia berkata pakai bahasa Jawa. Awalnya sih saya ngga ngerti dia ngomong apa, tapi akhirnya saya berhasil menangkap maksudnya : Dia nggak tahu jalan Yos Sudarso dimana.. Oh My…

Saya dengan panik mengingat ciri-cirinya jalan Yos Sudarso dan menyampaikan ke beliau itu : dekat kelenteng, samping gereja (lupa pula nama gerejanya apa), dekat pertigaan kali Brantas. Eh,, dia teteup aja bingung.. Dan saya makin bingung… Akhirnya saya buka google maps dari hape darurat.. Alamaaaak… saya dibawa si Pak Becak ke arah yang menjauh dari Yos Sudarso.. Si Pak Becak dengan santainya menunjuk sebuah menara masjid dan berkata, “Itu alun-alun.. Kalau dari situ arahnya kemana, mbak?” *Mau pingsan deh,,, tapi kasihan si Pak Becak kalau harus nggotong saya…

So, saya memutuskan untuk turun di titik itu, dan berjalan kaki menuju hotel. Bermodalkan google maps hape darurat saya melangkah dan berhenti di setiap persimpangan jalan (maklum kemampuan saya untuk membaca peta tuh jongkok banget). Untunglah saya akhirnya menemukan ujung dari jalan Yos Sudarso. Nah.. hotel kami ada di ujung yang lain dari jalan itu. Jadi saya harus menyusuri jalan Yos Sudarso dari ujung ke ujung.

Tapi sehabis hujan biasanya akan muncul formasi awan yang indah.. Begitu juga pagi itu.. Karena tersesat saya malah menemukan banyak hal.. Kalau nggak nyasar, saya selamanya nggak akan pernah melihat hal-hal itu. Di ujung jalan Yos Sudarso ada satu kelenteng besar sekali. Namanya Tjoe Hwie Kiong. Saya hanya sempat berdiri di depannya, memandang kemegahannya dan melihat betapa indahnya kelenteng itu dengan latar belakang Sungai Brantas dan Gunung (apa ya namanya..). Sayang saya tak punya waktu banyak untuk mampir dan memotret di dalamnya karena hari telah beranjak semakin siang. Karena tersesat itu pula saya menemukan kios-kios tahu pong asli Kediri di sepanjang jalan, dan deretan rumah-rumah tua ala China Town. Karena perut sudah memberontak, saya mampir di salah satu kios tahu pong untuk beli tahu dan bakpao (dan ternyata tetep aja masih lapar…. hihihi.. dasar perut karung..).

Semakin lama mentari semakin bersinar terik, dan kok rasanya jalan ini bagai tak berujung yah? *sambil megangin perut yang ngga berhenti bernyanyi… Ah, akhirnya saya melihat gedung gereja yang tepat di sebelah hotel (hotel kami emang sangat tidak eye catching).. Tadaaa… ternyata saya udah dibeliin sarapan… Horeee… ini sarapan ternikmat dalam beberapa hari ini..

Menurut mas resepsionis hotel, kalau mau ke Gua Maria Puh Sarang itu sebaiknya naik taxi aja, karena kalau naik angkot harus nyambung ojeg juga dari terminal Kediri..  Ya sudah kami akhirnya naik taxi menuju kesana. Kami order Dhoho Taxi yang sangat eksis se-antero Kediri. Nih nomornya : 0853 3579 5739, 0354-693333, 0354-680600.
Jalanan relatif sepi, sehingga dalam waktu kurang dari 30 menit kami sudah tiba disana. Kami mencatat nomor telepon drivernya dan janjian untuk menghubungi beliau jika kami akan pulang nanti.
image

Seharusnya jika kita mengunjungi suatu Gua Maria, hal pertama yang kita lakukan adalah menyusuri 14 perhentian Jalan Salib baru menuju ke Gua Maria, tapi kami malah terbalik.. Kami malah langsung mencari Guanya… hehehe.. ketahuan kan pemalasnya. Di sepanjang jalan menuju Gua Maria ada banyak kios yang menjual benda-benda rohani, nah kami menyempatkan mampir di salah satunya untuk membeli jerigen kecil buat menampung air suci.

Setelah mengisi jerigen kami dengan air yang mengalir dari batu, saya menyalakan lilin di depan patung Bunda sambil menyebutkan beberapa permohonan. Kemudian saya mencari posisi yang pas untuk bisa meluruskan kaki sambil berdoa Rosario.

Dan keajaiban pun terjadi ketika saya berdoa Rosario…
Baru saja saya mendaraskan peristiwa gembira yang kedua, saya mendengar suara dari dalam tas saya. Saya gelagapan mencari sumber suara tersebut, karena saya harus segera mematikannya agar tak mengganggu para peziarah yang sedang berdoa.
Eh… tunggu… kok suara itu… kayaknya itu suara alarm handphone saya yang lagi tewas yah? Saya membuka tempat pensil tempat handphone itu tersimpan selama ini, dan benar saja. Handphone saya menyala sendiri, lalu mengeluarkan suara alarm. Saking paniknya saya langsung memencet sembarang tempat di layarnya, yang penting dia bisa hening dulu sejenak.

DSCN8504

Dalam hati saya bingung dan bertanya-tanya, bagaimana tuh hape bisa ngerestart sendiri. Tapi saya ingat, doa rosario saya kan belum selesai, jadi saya mencoba mengusir pikiran-pikiran itu dari kepala saya, setidaknya sampai rangkaian rosario saya selesai.
Baru saja saya bisa konsentrasi lagi dalam doa rosario, handphone saya itu berbunyi lagi. Aih… ternyata tadi saya hanya men-snooze saja, bukan mematikan alarmnya. Jadilah saya ubek-ubek lagi tas saya untuk menghentikan alarm itu.
Dan lagi-lagi saya bertanya-tanya, kok hape saya bisa hidup lagi dan tetap menyala meskipun bodynya terasa panas?
Saya berupaya mengenyahkan pikiran itu lagi, dan mencoba untuk kembali fokus menyelesaikan rosario saya.

Setelah kami semua selesai berdoa, barulah kami menyusuri perhentian jalan salib. Hehehehe… *padahal malas… hihhihi… Patungnya berwarna emas dengan ukuran manusia sesungguhnya.
image

Karena kami ngga bawa buku panduan Jalan Salib, jadi di depan setiap perhentian kami hanya mendaraskan satu kali Bapa Kami, tiga kali Salam Maria, dan satu kali Kemuliaan.
image

Setelah mengakhiri Jalan Salib, saya melirik handphone saya… Dia masih hidup… Amazing banget…

Dalam perjalanan turun, saya menyempatkan mampir sejenak ke makam para uskup dan imam Keuskupan Surabaya yang letaknya hanya beberapa puluh meter dari Gua Maria.
DSCN8511

Sekitar pukul satu siang, kami memutuskan untuk pulang dan menelepon bapak driver taxi yang tadi pagi. Beliau mengiyakan dan meminta kami menunggu sekitar 15 menit. Kami menunggu beliau sambil duduk di trotoar seberang kompleks Puh Sarang.
image

Lima belas menit terlalui… Kami masih tertawa-tawa… Dua puluh menit terlalui.. Kami mulai resah… Tiga puluh menit… Kami bete…
Akhirnya driver taxi yang tadi pagi itu telepon, beliau ngga bisa menjemput kami… Arrrggghhhh… Ternyata kami lagi dikasih ujian kesabaran…
Setelah berdebat panjang kali lebar kali tinggi kali ngotot… Akhirnya kami putuskan untuk naik ojek dari terminal Kediri saja, lalu nanti dari terminal kami nyambung angkot atau apalah sampai ke hotel untuk ambil tas-tas kami yang masih dititip di hotel.

Lucunya, baru saja kami naik di atas jok ojek, hujan langsung turun tanpa ampun… Duh, Yang Di Atas kalau ngasih ujian suka nggak tanggung-tanggung ya… Kami berteduh sejenak di pertengahan jalan, tapi karena hujannya tak ada tanda-tanda akan reda, kami nekad bablas sampai terminal. Di seberang terminal barulah kami order taxi ke poolnya langsung. Jadilah kami bikin rute yang aneh plus tidak efektif : Terminal – ambil barang di hotel – terminal. Sigh…

Kami kembali lagi ke Terminal Kediri ketika jam sudah menujukkan pukul 15.30. Masalah muncul karena bus-bus tujuan Surabaya seluruhnya penuh. Tadaaaa… Maklum saja, hari itu adalah hari terakhir libur akhir tahun, jadi bisa dipastikan kami terjebak dalam arus balik yang menuju Surabaya. Satu bus datang dan kami cuekin karena penuh.. Bus berikutnya datang, dan lebih penuh daripada bus sebelumya. Menurut salah satu petugas terminal, semakin malam bus akan semakin penuh. So, ketika ada bus berikutnya muncul, kami langsung maksa naik. Itupun setelah main drama dulu di pintu bus.
Kenek : Ngadeg.. ngadeg… (maksudnya berdiri, karena tak ada bangku yang tersisa).
Babeh dan Nyak : Lho tadi tulisannya jurusan Trenggalek-Surabaya, kok sekarang bilangnya Nganjuk (kompak bener ya gak nyambungnya….)
Kenek : bingung…
Kami : makin bingung…
Beberapa detik kemudian saya baru ngeh (tuing…), pak kenek bilang ngadeg, bukan nganjuk… Halah… Mari kita naiiiiikkkkk….

Meskipun sedikit lebih manusiawi daripada bus sebelumnya, kami tetap tak dapat duduk. Mana bawaan kami udah sama kayak rombongan pemudik pula… Untung teringat kemarin kami sempat beli koran.. Nah, kan lumayan bisa ngampar di lantai toh.. Jadilah saya duduk di samping pak sopir yang sedang bekerja mengendarai bus supaya baik jalannya… hei.. Eh, bukan di samping deh.. Tepatnya di samping bawah pak sopir…
Beberapa menit pertama saya masih merasa nyaman-nyaman saja dengan posisi ini… Lama-lama mulai pegal.. Lalu mencari pengalihan konsentrasi dan saya mulai membaca novel. Eh…kok tiba-tiba ngantuk yah… Saya pun tertidur dalam pose ajaib ini… zzzz….

Entah berapa lama saya terlelap, tapi ketika terbangun badan saya sudah bersandar dengan manisnya ke kaki seorang pria yang duduk di samping atas saya… Haish… maaf ya, Mas… terima kasih atas sandarannya yaa.. Si mas itu sih lagi tidur… hmm… semoga aja dia nggak sadar kakinya sudah jadi sandaran gratis.. hehe…

Hmm… pose apa ya yang bisa bikin nyaman? Miring kiri salah, miring kanan juga… Mau berdiri susah juga… Punggung mulai sakit, dan bokong ini (maaf…) rasanya sudah tak ada di tempatnya (udah ngga ngerasain apa-apa…). Derita yang berikutnya langsung tersaji di hadapan mata : jalanan macet parah… Mulai dari Jombang, Mojokerto, hingga Sidoarjo.. Jadi saya melantai sekitar 4 jam lebih… Saya baru bisa selonjoran setelah memasuki kota Sidoarjo.. Tapi ini tak mengurangi derita bokong saya yang sudah baal bagai tak berbentuk…

Akhirnya sekitar pukul 9 malam kami tiba di WIN Hotel yang sejak sore sudah resah dan gelisah menantikan kedatangan kami (ciyeee….). Tugas masih menumpuk : bagaimana meringkas bawaan kami yang sudah beranak pinak (bahkan bercucu) supaya bisa masuk dalam tiga ransel dan tiga tas jinjing.

Fyuhhhh… Selamat malam….
Besok kita pulang ke Bogor…

Hai, handphoneku… Selamat datang kembali…
Aku tak menyangka bahwa Bunda kita bisa menyembuhkan segala hal… Sakit fisik, luka hati, dan kini aku tahu Ia bisa menyembuhkan kamu juga… Hari ini kIta benar-benar menjadi saksi bahwa mujizat itu nyata…
image


2 thoughts on “Terdampar di Jawa Timur : Kediri

  1. Aih, keajaiban yang sangat manis ya Mbak. Syukurlah kalau ponselnya sudah menyala, bagaimana sekarang, apa baik-baik saja?
    Saya sekarang mulai percaya, semua kejadian tersesat, semua kejadian salah jalan, itu pasti buat suatu maksud, karena Tuhan sudah menentukan tempat-tempat apa yang harus kita lihat, dan tempat apa yang sama sekali tak boleh kita datangi. Semua akan datang pada waktu yang tepat :hehe.
    Di Kediri ada Gua Selomangleng… saya pengen sekali ke sana :haha. Sori sori, ini soal candi lagi :hihi.

    1. iya, Kak…. benar2 ajaib… Puji Tuhan sampai hari ini dia sehat walafiat dan ngga jadi masuk ke RS… semoga dia sehat selalu…. hehehe…
      Kak, betul banget ya.. ngga ada kebetulan di dunia ini.. TanganNya sudah mengatur sedemikian rupa tanpa kita sadari.. Kadang aku masihb suka takjub pada momen-momen yang kalau dibahasakan tuh “pas beneeeerrrr…”
      Hehehe…tuh kan… udah cocok deh dapet predikat pencinta batu dan pembaca relief.. ayo, kak, ditargetin, sekalian candi2 Singasari yg di Malang juga…. *ditunggu ceritanya… hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s