Terdampar di Jawa Timur : See You Again, Surabaya..

Akhirnya tibalah kami (eh saya..) di penghujung drama terdampar ini.. Saya pengen pulang, pengen tidur di atas kasur sendiri yang walaupun panas dan ngga empuk tapi nyaman. Baru sekali ini deh saya merasa nggak nyaman travelling lama-lama, padahal biasanya malah nggak pengen pulang… Entah kenapa deh..

Kami check out dari WIN Hotel jam 11.30, mepet banget dengan batas check out.. Hehehe.. soalnya kami semua mager dah.. males gerak.. Coba kalau ngga ada batasan waktu check out, mungkin kami bakal selimutan lagi sampai menjelang boarding.. hehehe…

Setelah check out dan menitipkan barang-barang (yang berhasil diringkas jadi 3 ransel dan 3 jinjingan), kami meluncur ke daerah Pasar Genteng untuk nyari oleh-oleh. Ternyata lokasi Pasar Genteng ini dekat dengan daerah Tunjungan yang menyimpan kisah sejarah perjuangan kota ini di masa lampau. Kami memutuskan untuk berjalan kaki dari Pasar Genteng menuju Tunjungan Plaza, dan inilah yang kami temukan…

DSCN8560
Sudut Antara Jalan Tunjungan dan Pasar Genteng

Gedung yang ada di sudut ini dulunya adalah Apotek De Vriendschap (Persahabatan) milik Lucien van der Velde hingga 1933 (www.nederlandsindie.com).

DSCN8564
Masih tampak cantik meski terbengkalai

Gedung terbengkalai yang tampak pada foto di atas adalah eks Toko Kesenian Mattalitti yang dulunya menjual gramofon. (surabaya-dahulu-sekarang.blogspot.co.id).

Next stop : Hotel Majapahit

Siapa yang masih ingat tentang Insiden Hotel Yamato? Itu lho, ketika bendera Belanda yang berwarna merah putih biru disobek menjadi bendera merah putih..

Sejak hari pertama kami singgah di kota ini, salah satu tempat yang ingin kami kunjungi adalah Hotel Yamato ini. Tapi siapa sangka, tak banyak orang tahu hotel ini. Mereka lebih kenal nama baru dari hotel ini, yakni Hotel Majapahit. Hotel ini dibangun pada tahun 1910 oleh Sarkies bersaudara dari Armenia. Aslinya hotel ini bernama LMS, lalu berganti nama menjadi Hotel Oranje, Hotel Yamato, Hotel Hoteru, dan Hotel Majapahit.

DSCN8622
Tampak depan Hotel Majapahit. Kejadian insiden Yamato terjadi di atas menara bendera sebelah kiri.

Apa yang terjadi di tempat ini pada tahun 1945?

Pada tanggal 18 September 1945 sekitar pukul 21.00, orang-orang Belanda mengibarkan bendera Tiga Warna pertanda bahwa mereka ingin segera menguasai kembali Surabaya dan Indonesia. Aksi ini dipimpin oleh Mr. W.V.Ch Ploegman yang ditunjuk oleh kerajaan Belanda sebagai pemimpin administratif Belanda di Surabaya, padahal bendera Merah Putih telah berkibar di seluruh pelosok Surabaya semenjak tanggal 1 September sesuai maklumat Bung Karno agar bendera merah putih harus berkibar di seluruh pelosok nusantara.

Hal ini memancing kemarahan Rakyat Surabaya. Sehingga terjadi peristiwa bersejarah itu yaitu perobekan bendera merah putih biru oleh rakyat Surabaya pada keesokan harinya, yaitu tanggal 19 September 1945. Kejadian tersebut diabadikan dengan sangat baik oleh Pewarta Foto Antara Abdul Wahab Saleh. Dan dengan demikian foto-foto tersebut segera menyebar ke seluruh pelosok Nusantara dan juga sebagai alat propaganda pemerintah Indonesia untuk memperjuangkan kemerdekaan indonesia di mata Internasional. Bung Tomo, Abdul Wahab Saleh serta rekan-rekan wartawan yang lain saat itu berkantor di Tunjungan no. 100  (sekarang Monumen Pers Perjuangan Surabaya) berada di depan Hotel Yamato. (taken from http://www.kompasiana.com/wdhus_mbk/memperingati-peristiwa-penyobekan-bendera-di-hotel-yamato-serta-monumen-pers-perjuangan-surabaya-yang-terancam-runtuh-berita-foto_5517b31c8133119e689de427)

DSCN8574
Kisah singkat Insiden Hotel Yamato

Aslilah… merinding banget berdiri di depan hotel ini.. Kebayang banget betapa heroiknya para arek-arek Surabaya untuk mempertahankan kebanggaan negara kita : Sang Dwi Warna.

DSCN8583
Di tempat ini, 70 Tahun yang lalu.

Monumen Pers Perjuangan Surabaya

Di persimpangan antara Jalan Tunjungan dan Embong Malang, atau tepat di pintu masuk Tunjungan Plaza, terdapat suatu gedung tua yang bernama Monumen Pers Perjuangan Surabaya. Di tempat inilah pada 1 September 1945 didirikan kantor berita Antara oleh Bung Tomo dan kawan-kawannya, setelah menutup kantor berita Domei  milik Jepang. Inilah base camp mereka ketika terjadi insiden Hotel Yamato, dan dari sinilah mereka menyebarkan berita itu ke penjuru negeri.

DSCN8608
Monumen Pers Perjuangan Surabaya alias Gedung Antara

Hmm… kok kayaknya gedung ini dijadikan toko jam ya?

DSCN8620

Gedung-gedung tua berikutnya…

DSCN8597

Gedung di atas adalah gedung Apotek Simpang (rumah obat Simpangsche Apotheek) yang didirikan tahun 1855, lalu diubah pada tahun 1918 dan 1930. Selain apotek disini juga terdapat toko mobil Occasion dan toko olah raga Atal Sports.(wikimapia.com)

DSCN8600
Hingga hari ini saya ngga tahu nama gedung ini…
DSCN8630
Graha Tunjungan
DSCN8631
Gedung Rabobank

Sampai hari ini saya masih berupaya mengumpulkan kisah sejarah dari gedung-gedung di atas nih…

Saatnya pulang…

Dari ujung jalan Tunjungan, kami kembali ke arah Pasar Genteng untuk mengambil titipan belanjaan kami. Jalan Tunjungan siang itu ramai sekali dan kami agak bingung bagaimana menyeberanginya. Eh, ternyata ada traffic light untuk penyeberang jalan.. Awalnya sih kami pesimis lampu ini bisa digunakan. Kami coba tekan tombolnya dan ternyata langsung keluar bunyi heboh. Kendaraan yang sedang melaju di Jalan Tunjungan seketika berhenti sebelum zebra cross… Whoaaaa… ternyata lampunya berfungsi dan para pengendara di kota ini taat aturan… Kami pun menyeberang dengan tenang nggak pake lari-lari…hehehe… *langsung terpukau.. Kapan ya di Bogor ada yang beginian?

Setelah mengambil titipan belanjaan dan titipan tas, kami langsung cabut ke Bandara Juanda… yeayy…saatnya pulaangg…. Tapi sebelum pulang saya masih harus menghadapi satu kejadian lagi yang bikin deg-degan…

Jadi begini… Di Plaza Tunjungan saya sempat belanja kebaya (tumben banget ada yang jual kebaya ukuran gede..), dan ibu saya beli sepatu (yang lagi diskon separuh harga), lalu kedua belanjaan kami digabung jadi satu dalam paper bag. Sayalah yang kebagian tugas untuk bawa paper bag itu.

Sepanjang perjalanan dari pasar Genteng, WIN Hotel hingga Bandara, paper bag itu saya letakkan di dekat kaki saya yang duduk di samping sopir taxi yang sedang bekerja… Dan paper bag itu ketinggalan saat saya turun di Juanda.. *getokin kepala…

Awalnya saya nggak ngeh paper bag itu ketinggalan dan dengan santainya nyari minum sesaat setelah turun taxi. Sementara nyak babeh nunggu di ruang tunggu depan bandara. Ternyata setelah saya pergi, mereka melihat seorang driver taxi yang membawa paper bag mirip dengan paper bag punya kami itu. Driver itu agak bingung seperti mencari-cari orang. Nah, pas saya balik dari beli minum, barulah ibu saya nanya, “Mana paper bag yang tadi?”

Jreng.. jreng.. baru deh saya ngeh… Adoooh… Paper bagnya ketinggalan di lantai taxi.. Haduhhh…  Begimana ini…. Udah mau pulang masih ada ajah yang aneh-aneh begini…

Saya mencoba mencari pak driver hingga ke gerbang keberangkatan, dan hasilnya nihil. Mau gak mau saya nyari telepon pool si Burung Biru dari mbah google dan langsung telepon kesana. Duh…saya ngga hafal pula nomor body taxinya.. Lengkaplah sudah…

Anehnya, saya nggak (terlalu) panik.. Tumben banget deh.. Saya pikir kalau memang paper bag itu hilang, ya nasib lah, berarti barang-barang itu bukan jodoh kami. Selain itu di dalam hati saya masih tersimpan suatu optimisme Pak Driver akan mengembalikannya pada kami (meskipun saya ngga tahu bagaimana caranya, dan mungkin juga si Pak Driver malahan sudah putus asa dan akhirnya meninggalkan Juanda…).

Saya menelepon pool Burung Biru, menjelaskan rute kami, mencoba mengingat nama driver tadi (kalau tak salah namanya Bapak Muhammad Mamenan),  lalu memberikan data diri saya. Belum selesai percakapan kami di telepon, eh Pak Driver muncul di depan hidung saya.. Dan beliau langsung ngeh bahwa sayalah si penumpang ceroboh yang meninggalkan paper bag itu di lantai taxinya.

Hiks…hiks…saya terharu menerima paper bag itu dari beliau. Sambil terburu-buru ia menjelaskan bahwa ia sempat lari masuk ke area keberangkatan untuk mencari saya. Ya Tuhan… Hari ini sempurna sekali Kau tunjukkan, masih ada banyak orang baik dan jujur di dunia ini yang mau berupaya keras untuk memudahkan kehidupan orang lain. Padahal aku sering sekali menolak jika Kau tugaskan untuk menjadi orang baik bagi orang lain..

Saya hanya sempat mengucapkan terima kasih karena Pak Driver langsung pergi meninggalkan saya yang masih bengong di depan pintu keberangkatan. Ketika saya balik ke tempat nyak babeh nunggu, mereka sampe ngga percaya melihat tangan saya yang memegang paper bag itu..

Saya cuma bisa memohon semoga Tuhan mencatat kebaikan hati beliau…

 

Akhirnya… Kami pulang… Setelah kena delay 50 menit..

Terima kasih Tuhan… Kami bisa kembali ke rumah dengan selamat..

Terima kasih Tuhan… Atas pengalaman-pengalaman berharga yang Kau izinkan kami untuk alami…

Sekarang percaya kan nggak ada yang kebetulan di dunia ini? Semua sungguh sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa..

Please read this post : https://celina2609.wordpress.com/2016/01/04/tulisan-nggak-penting/


5 thoughts on “Terdampar di Jawa Timur : See You Again, Surabaya..

  1. Aduh pak sopirnya baik sekali, aku mengamini untuk doamu untuk beliau… semoga semakin berkah kehidupannya.
    btw, merinding ya di majapahit hotel…? hahaha jadi inget apa yang dialami adikku, dia kan pake sepatu pantofel dan waktu jalan ke kamar kan bunyi pletak-pletok-pletak-pletok gitu… ternyata di belakang dia juga ada suara itu, tapi pas diliat ga ada trus dia jalan lagi, eh bunyi lagi hahaha…. asli langsung pindah hotel hahaha….

  2. Daerah Tunjungan itu memang bersejarah banget ya Mbak… ah sayang sekali saya belum pernah begitu detail menjelajah Surabaya, kayaknya suatu hari nanti mesti diagendakan nih, agar tak hanya bisa terkagum-kagum membaca cerita dan menatap foto-foto dalam postingan ini :hehe. Itu yang apotek sayang banget, sampai ditumbuhi rumput di atas gedungnya. Padahal beberapa gedung di sana, dari lengkung-lengkungnya, ada aksen art deco…

    1. Kak..kalau ke surabaya sekalian ke Jalan Darmo… disini juga banyak bangunan dan rumah2 tua… aku ngga sempet kesana, cuma bisa ngelihat dr jauh… beberapa tahun yg lalu sempat santer bangunan2 tua di Tunjungan akan dibongkar, dan memang sudah banyak yg hilang.. tapi entah apakah sekarang sdh jadi kawasan yang dilindungi atau tidak… sayang banget, kak…banyak yang terbengkalai dan dibiarkan runtuh…

      1. Iya, dulu saya menginap di dekat Darmo dan di sana banyak bangunan tua, tapi belum sempat eksplorasi :haha.
        Memang sayang sekali…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s