Namanya Ramiang, Sayang…

Aku tersenyum melihat para pastor, frater dan umat yang sedang menari di halaman Wisma de Mazenod. Mereka bergantian berpantun seturut irama lagu Kayu Ara sambil mengelilingi halaman yang tak luas itu. Lagu Kayu Ara segera disambung dengan lagu Yun Ditayun, dan berlanjutlah pula pantun dan tarian mereka. Sungguh suasana siang itu amat menggembirakan.

Menurut sang pemain musik, kedua lagu itu adalah lagu dari pedalaman Kalimantan. Hmm.. pantas saja iramanya khas sekali. Setelah kutanya ke Mbah Google, ternyata kedua lagu itu adalah lagu dari Kalimantan Barat.. Ahh,,, lagi-lagi aku mendapatkan pengetahuan baru tentang Suku Dayak.

Yun Di Tayun Di Tayun  
Ana Di Pegaek Di Pegaek Di Pegaek 
Ana Ngemedieh Pangan 

Semakin lama irama lagu itu bagai  menghipnotisku. Aih, meski aku tak paham maknanya namun tak ayal lagu itu mengingatkanku pada seseorang di seberang pulau sana. Hmm… mungkin aku rindu…

Sebuah tugas sensus Legio Maria beberapa bulan yang lalu membuatku mengenal dirinya, seorang ibu dari Begori, yakni sebuah stasi di Nanga Serawai Kalimantan Barat. Ibu itu bernama Ibu Rufina. Meski kami hanya bisa bercakap lewat telepon, namun kami berbagi banyak kisah tentang keluarga, tentang gereja, dan tentang betapa beratnya medan yang harus beliau tempuh untuk melakukan karya pelayanan. Tak hanya bercakap dengan beliau saja, tapi aku akhirnya bisa berkomunikasi juga dengan para ibu dari Sintang, Serawai dan Nanga Pinoh. Uniknya hampir semua ibu itu membahasakan diri mereka sebagai “Mama”, dan menyapaku dengan sebutan “Nak”.

Dari antara mereka semua, hanya Bu Rufina yang paling intens berkomunikasi denganku. Beliau menceritakan kesulitan umat Katolik disana untuk memperoleh rosario dan buku-buku rohani, sehingga beliau memintaku untuk membawakan benda-benda itu pada acara reuni tahunan Legio Maria di Pontianak pada akhir November 2015. Dan kami sekarang punya panggilan sayang. Bu Rufina selalu menyapaku “anak mama”, dan aku menyapa beliau dengan “mama”.

Singkat cerita, kamipun akhirnya berjumpa pada reuni tahunan di Kota Pontianak. Meski kami berada dalam acara yang sama, namun tak mudah bagi kami untuk saling menemukan. Menjelang akhir acara, Mama Rufina menarikku ke sisi luar aula pertemuan. Beliau lalu mengeluarkan sebuah gelang manik-manik dari dompetnya, mendoakannya dan lalu memasangnya di tangan kananku. Beliau bilang, aku sudah resmi jadi anak beliau dan anak Dayak. Ya Tuhan, jadi selama ini beliau serius menganggapku sebagai anaknya? Beliau lalu memberkati dan membuat tanda salib di dahiku… Aku tak bisa berkata-kata dan mulai merasakan air mata mengaburkan pandangan mataku. Aku hanya bisa menundukkan kepala menyaksikan beliau mengikatkan gelang itu di pergelangan tanganku. Gelang itu tersusun dari dua batu manik-manik berwarna merah dan beberapa manik kuning dan orange yang dirangkai pada sebuah serat tanaman.

Ketika aku menengadahkan wajah, ternyata ada seorang pastor yang sedang memperhatikan kami. Beliau bilang, “wah, Mbak.. tinggal potong ayam saja tuh biar resmi..” Mama Rufina lalu menyampaikan bahwa “Bapak” adalah seorang Dayak campuran Tionghoa, lalu aku diajak berkeliling untuk diperkenalkan dengan “saudara-saudara” yang lain. Wah… wah… aku sampai kehabisan kata-kata..

image

“Slamat jalan, anak mama, sampai jumpa lagi, semoga perjuangan hidupmu diberkati Tuhan.”, SMS beliau kuterima ketika aku menunggu pesawat di Bandara Supadio sambil memandang gelang di tanganku dengan takjub. Karena takut putus, akhirnya gelang itu kulepaskan dari tangan dan kusimpan di sebuah tempat aman di dalam dompetku.

Arghhhh… Bodohnya aku, aku lupa menanyakan nama gelang itu pada mama. Menurut salah satu teman facebookku yang asli Dayak (namun dari Kalimantan Timur), orang yang menerima gelang itu adalah orang yang istimewa bahkan sudah dianggap menjadi bagian hidup dari sang pemberi gelang. Wew.. berat sekali yah… Sedangkan menurut kakak rohaniku yang asli Dayak Sintang, gelang ini menandakan aku sudah pernah bertemu orang Dayak. Hmm.. entah apapun maknanya, tapi aku menganggap gelang ini sangat istimewa..

Meski penasaran, namun aku tak menanyakan nama gelang itu pada Mama, padahal kami saling kontak ketika Natal dan Tahun Baru kemarin. Aku menanyakan pada seorang tetanggaku yang juga asli Dayak Pontianak, eh dia malah tak tahu sama sekali tentang gelang itu.. Akhirnya minggu lalu kuberanikan diri bertanya pada mama tentang nama gelang ini.

O iya, namanya Ramiang, sayang.

Itu jawaban sms dari mama. Menurut penelusuran kesana kemari, ramiang adalah batu merah khas Dayak yang berfungsi sebagai pelindung dari roh jahat.. wow.. makin wow kan… jadi ramiang ini tak hanya sekedar gelang penghias saja.. Gelang ini memang sangat istimewa…

Yun Di Tayun Di Tayun  
Ana Di Pegaek Di Pegaek Di Pegaek 
Ana Ngemedieh Pangan 

Aku membuka dompetku dan memandang gelang ramiang yang masih tersimpan aman disana.. Aku terkenang seorang mama di seberang pulau sana. Nanti akan aku tanyakan apa makna dari lagu Kayu Ara dan Yun Ditayun ini pada mama. Sekaligus aku ingin tahu, mama berasal dari suku Dayak apa ya? Aaah… Ada banyak hal yang aku ingin pahami tentang keluarga baruku ini..


2 thoughts on “Namanya Ramiang, Sayang…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s