Setelah Peristiwa Itu…

Catatan Celina : Tulisan ini bukan dimaksudkan sebagai rekaman sejarah, mohon maklum atas ketidakakuratan yang timbul di dalamnya.

Perjalanan berdua dengan ayah saya selalu membuka banyak cerita. Saya selalu tertarik mendengar cerita panjang keluarga kami, khususnya keluarga ayah yang pernah bersinggungan dengan sejarah gelap negeri ini.

Sabtu lalu, tema pembicaraan kami cukup berat. Ayah saya seperti biasa membiarkan anak perempuannya yang bawel ini bercerita duluan, barulah ia menanggapi dan melengkapinya. Saya bercerita tentang film yang saya tonton beberapa hari sebelumnya, yakni “Surat Dari Praha”. Pada film itu diceritakan seorang mantan mahasiswa Indonesia yang disekolahkan di Praha sekitar tahun 1962-1963. Pemerintah Indonesia ketika itu memberikan beasiswa kepada banyak mahasiswa untuk melanjutkan sekolah mereka di luar negeri, dan setelah lulus mereka harus mengabdi negara dengan menjalani ikatan dinas selama 6 tahun. Para mahasiswa ini dikenal dengan istilah “Mahid”, alias Mahasiswa Ikatan Dinas. Sebagian besar dari mereka disekolahkan di negara-negara Eropa Timur seperti Hungaria, Cekoslovakia, dan Uni Soviet, meskipun ada pula yang disekolahkan ke Jepang dan Amerika Serikat.

Peristiwa 1 Oktober 1965 mengubah hidup mereka, termasuk tokoh utama dalam film itu. Mereka “dipaksa” memilih apakah mereka mau taat dan mendukung pemerintahan yang baru (yang kita kenal sebagai Orde Baru), jika ya mereka masih memiliki hak sebagai warga negara Indonesia, namun jika mereka tak mau, maka nasib mereka menjadi stateless. Para mahasiswa di Praha yang memilih tidak mau mendukung pemerintahan orde baru akhirnya tak bisa pulang lagi ke Indonesia. Mereka dicap komunis meskipun tak semua dari mereka berhaluan kiri.

Bagi saya, yang paling menohok dari film itu adalah karena sang tokoh utama harus berpisah dengan kekasihnya hingga kekasihnya “terpaksa” menikah dengan pria lain, dan ia hanya menerima berita kematian orang tuanya hanya dengan dua kata, “Bapak mati”, dan “Ibu mati”. Bahkan sebuah surat yang dikirimkan ke tanah air bisa membuat sang penerima surat dibui tanpa diadili karena dianggap telah tertular mereka yang berpaham komunis. Betapa mahalnya sebuah keyakinan dan idealisme!

Ternyata tema tentang Mahid ini telah dibahas juga pada acara Mata Najwa, dan kini giliran ayah yang bercerita tentang apa yang dikisahkan dalam acara itu. Para mahasiswa di Praha ternyata terbagi menjadi dua kubu, sebagian menerima orde baru, dan sebagian lagi menolak. Bagi mereka yang menerima, tentu saja tak ada masalah dengan status kewarganegaraan mereka. Mereka yang menolak terpaksa harus menerima kenyataan passport Indonesia mereka tak bisa diperpanjang lagi dan mereka menjadi stateless, tanpa kewarganegaraan. Beruntung pemerintah Cekoslovakia mensupport mereka. Mereka tetap diizinkan menyelesaikan kuliah mereka tanpa biaya dan tetap memberikan uang beasiswa mereka yang memang jumlahnya tak terlalu banyak. Setelah puluhan tahun kemudian mereka akhirnya mulai mencari kewarganegaraan baru, ada yang mengajukan permohonan menjadi warga negara Cekoslovakia (dan langsung disetujui tanpa birokrasi yang sulit), ada pula yang mendapatkan kewarganegaraan dari Jerman Barat.

Pada masa peralihan itu, keluarga mereka di tanah air “dipaksa” untuk mengingkari ikatan keluarga dengan para mahasiswa stateless itu. Istri dipaksa mengingkari suaminya, bahkan terpaksa menikah dengan orang lain untuk menghilangkan jejak suaminya yang dianggap pro komunis itu. Anak-anak diberikan silsilah yang baru, dan para orang tua terpaksa tidak mengakui anaknya yang ada di negeri berhaluan kiri.

Mengapa mereka menolak untuk taat pada pemerintah Orde Baru? Saya pikir karena mereka mendengar berita yang lebih “jernih” di luar sana. Kita ingat bahwa di dalam negeri, media massa memberitakan kejadian GeStOk (Gerakan Satu Oktober) secara tak berimbang, dan menggiring opini masyarakat pada satu pihak. Mereka yang di luar sana mungkin mendengar berita yang lebih berimbang, termasuk kisah pembantaian yang dilakukan terhadap orang-orang yang tergabung dalam Partai Komunis Indonesia dan organisasi-organisasi yang terkait dengan partai ini. Seringkali kebenaran akan lebih terlihat dari kejauhan, dan orang-orang yang berada “di luar lingkaran” akan lebih mudah untuk melakukan analisa atas apa yang terjadi di dalam lingkaran. Mungkin itulah yang juga terjadi pada mahasiswa-mahasiswa itu sehingga mereka tak mau mendukung Orde Baru.

Saya teringat dengan buku “Segenggam Cinta dari Moskwa”. Salah satu bab dalam buku ini mengisahkan tentang para mantan mahasiswa yang bernasib serupa. Pasca peristiwa GeStOk, mereka dipanggil pulang. Ada yang tak menggubris karena merasa studinya belum selesai, dan akibatnya ia langsung dicap sebagai komunis. Ada pula yang pulang ke Indonesia dan diinterogasi untuk memastikan bahwa dirinya tak terkontaminasi ideologi komunis. Salah satu dari mereka yang pulang itu terpaksa kembali lagi ke Soviet karena anaknya sakit di negeri Beruang Merah itu, dan akibatnya? Ia dicap komunis oleh pemerintah Indonesia dan kehilangan kewarganegaraannya.

Ayah saya lalu berkomentar, “Pada masa itu memang terjadi paranoid dengan segala hal yang berbau komunis dan sosialis, yang berujung pada tindakan-tindakan yang membabi buta.” Pemerintah Indonesia belum mengakui secara gamblang tentang adanya pembantaian massal pasca kejadian GeStOk terhadap mereka yang dicap komunis. Padahal pengadilan rakyat internasional di Den Haag dalam putusan sementaranya telah menetapkan bahwa bukti-bukti menunjukkan adanya pelanggaran HAM berat pasca kejadian GeStOk.

Lantas, apa hubungannya dengan kisah keluarga kami?

Keluarga kami memang tak ada yang menjadi Mahid, tak ada yang menjadi anggota PKI, namun keluarga kami mengalami dampak dari kejadian GeStOk itu.

Pada tanggal 1 Oktober 1965, ayah baru saja berulang tahun yang ke-10, namun ia sudah bisa mengingat berbagai kejadian yang terjadi setelah peristiwa itu. Ayah masih ingat, pada 7 Oktober 1965 kakek pulang kerja dengan tergesa-gesa dan langsung memerintahkan anak-anaknya untuk mengumpulkan seluruh buku, koran, dan apapun yang di dalamnya terdapat aksara Cina. Ternyata di kantor kakek sudah beredar rumor santer, bahwa mereka yang menyimpan hal-hal yang berbau Cina akan langsung dianggap komunis dan kemudian ditangkap oleh tentara. Setelah semuanya terkumpul, malam itu juga mereka membakar seluruh barang cetakan itu.

Informasi yang didengar kakek ternyata sangat tepat, beberapa hari setelah mereka “membersihkan” rumah, datang sepasukan tentara yang mengepung kampung. Tentara itu menggeledah semua rumah di kampung, termasuk rumah kakek saya. Setiap sudut rumah diperiksa, bahkan tentara sampai membuka langit-langit rumah untuk memastikan tak ada orang yang bersembunyi disana. Untung saja kakek saya sudah bertindak tepat. Memang ketika itu dikatakan bahwa tentara bermaksud melakukan razia senjata, dokumen terkait PKI, dan segala hal yang di atasnya tertera lambang palu arit. Namun jika mereka menemukan barang cetakan yang mengandung aksara Cina, mereka tak segan-segan menggelandang pemiliknya.

Suatu pagi, ayah dan saudara-saudaranya yang lain hendak berangkat sekolah ketika mereka menyaksikan tetangga mereka, seorang tukang buah, ditampar dengan sangat keras oleh tentara. Karena apa? Karena ia membawa golok di keranjang buahnya. Ayah saya tertawa miris mengingat kejadian itu. Dan saya hanya bisa berkomentar “Gila!!!!”.

Bulan-bulan awal setelah Oktober 1965, ayah saya sering melihat desingan peluru jika ia berdiri di balkon rumah kakek. Salah seorang tetangganya yang memang anggota PKI tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Suasana mencekam, jam malam diberlakukan, dan untungnya mereka sekeluarga masih bisa sekolah. Satu hal yang paling mengerikan adalah, masa-masa kritis itu dimanfaatkan oleh sejumlah orang yang punya dendam atau bersaing dengan orang tertentu. Mudah sekali untuk bisa “menyingkirkan” orang yang dianggap musuh. Cukup laporkan ia sebagai “antek komunis” kepada tentara, dan dalam hitungan hari sang musuh itu akan lenyap tanpa jejak.

Lagi-lagi saya hanya bisa bengong dan berkomentar “Gila!!!!”

Bertahun-tahun setelah peristiwa itu, entah bagaimana mulanya, muncullah kebijakan-kebijakan diskriminatif bagi kami WARGA NEGARA INDONESIA KETURUNAN CINA. Mulai dari larangan merayakan imlek, larangan media berbahasa Mandarin, penutupan sekolah-sekolah Cina, dan entah siapa yang menghembuskan dan bagaimana mulanya, keturunan Cina selalu dikaitkan dengan PKI dan dianggap bukan Warga Negara Indonesia yang resmi. Padahal kakek sekeluarga telah menyatakan keterangan “MELEPASKAN KEWARGANEGARAAN REPUBLIK RAKYAT TIONGKOK untuk TETAP MENJADI WARGA NEGARA REPUBLIK INDONESIA” pada tahun 1960. Tapi semua itu tak ada maknanya lagi.

Seluruh anak kakek diberi nama dengan nama Cina yang terdiri dari tiga suku kata, meskipun pada akta lahir mereka sudah tertulis dengan aksara Latin. Pada tahun 1967 terbit Keppres no. 240 yang berbunyi “Khusus terhadap Warga Negara Indonesia Keturunan Asing jang masih memakai nama Cina diandjurkan mengganti nama-namanja dengan nama Indonesia sesuai dengan ketentuan jang berlaku.” (http://www.hukumonline.com/klinik/detail/cl491/memberi-nama-cina-untuk-anak). Kakek langsung mengurus ganti nama bagi mereka sekeluarga meskipun Keppres tersebut hanya bersifat “anjuran”. Maka ketika lahir cucu laki-laki dari anak laki-lakinya (pada warga Tionghoa masih berlaku sistem patrilineal, dimana garis keturunan diturunkan dari pihak laki-laki. Jadi keturunan laki-laki akan membawa nama marga keluarga), kakek tak memaksa memberikan nama Cina, karena beliau berpendapat nama Cina akan membawa kesulitan bagi generasi yang lahir dalam pemerintahan orde baru, salah satunya adalah peluang mengalami diskriminasi. Akibatnya? Generasi saya dan sepupu-sepupu saya sudah tak ada yang punya nama Cina lagi.

Kakek juga harus menerima kenyataan pahit ketika salah satu putranya yang paling cerdas mendapat diskriminasi saat mendaftar di sebuah perguruan tinggi negeri. Ketika putranya itu membawa berkas pendaftaran, ia disambut panitia dengan tatapan sinis dan perkataan yang menusuk, “Kamu Cina ya?’ Hasilnya bisa ditebak, putranya itu tak diterima. Kakek hanya bisa menerima itu semua sebagai sebuah ketidakberuntungan. Bahkan anak-anak kakek sempat ragu untuk menyekolahkan kami ke sekolah negeri. Mereka takut kejadian itu akan menimpa generasi kami juga.

Kemarin siang, saya melanjutkan sampul menyampul buku kakek. Ah, saya baru sadar, pantas saja ada dua versi tanda tangan kakek saya yang tercantum di halaman depan buku-bukunya. Tanda tangan yang pertama terbaca sebagai nama Cinanya, sedangkan tanda tangan yang kedua adalah nama Indonesianya. Pasti ini akibat dari penggantian nama beliau.

Dalam tumpukan buku-buku kakek, saya menemukan buku-buku karya Pramoedya Ananta Toer dan buku Sarinah karya Bung Karno. Saya amati tanggal-tanggal yang tertera pada buku itu. Buku Panggil Aku Kartini Saja dibeli kakek pada bulan Desember 1962, sedangkan buku Sarinah dibeli kakek pada 1 November 1965. Saya cukup terkejut mendapati kenyataan bahwa buku ini bisa selamat dalam badai revolusi 1965 dan sesudahnya. Setahu saya Pram pernah menjadi tapol tanpa diadili, dan dibuang ke Pulau Buru hanya karena ia adalah anggota Lekra, salah satu organisasi seniman yang berafiliasi dengan PKI.

Hmm.. Kok bisa buku Pram tidak terkena razia oleh tentara pada bulan Oktober 1965? Menurut ayah saya, buku ini bisa selamat karena tentara tidak fokus pada buku-buku sastra berbahasa Indonesia, dan mungkin tentara sendiri tidak sadar bahwa Pram sudah masuk daftar hitam dan tulisannya dianggap berbahaya.

Lalu buku Sarinah itu? Kok masih bisa beredar pada bulan November 1965? Oo… ternyata saat itu belum timbul sentimen anti Soekarno. Jadi buku-buku karya Bung Karno masih bebas beredar di pasaran.

Membongkar lebih dalam, saya menemukan berbagai buku biografi Soekarno yang dibeli kakek sekitar tahun 1979 hingga 1984. Hmm.. kok buku-buku tentang Soekarno masih bisa terbit tahun segini? Menurut ayah, kemungkinan karena Soekarno telah meninggal tahun 1970, dan sentimen anti Soekarno sudah memudar pasca kematian Soekarno. Tapi isinya mungkin sudah diedit dan disensor sedemikian rupa oleh pemerintah. Who knows?

Saya tersenyum sendiri ketika memandang buku-buku tentang Soekarno itu. Sepertinya kakek saya juga seorang Soekarnois, namun beliau menyimpan kekagumannya hanya dalam hati saja. Mungkin juga kakek seperti para Mahid itu yang menolak orde baru, namun kakek tidak menunjukkan secara terang-terangan?

Ah, ini kan hanya spekulasi cucunya saja..

Andai saja kakek masih hidup untuk menceritakan semuanya dan menjawab rasa penasaran ini…

 

 


2 thoughts on “Setelah Peristiwa Itu…

  1. Waah keluarga ibu saya juga pernah mengalami nasib yang hampir mirip. Apalagi kejadiannya di Bali yang memang kalau bahas 1965 di Bali itu pasti jadi agak heboh karena pembunuhan terbanyak ada di pulau itu. Betul sih yang dirimu bilang Mbak, banyak yang mengail di air keruh, jadi legal orang membunuh dengan alasan yang tak masuk akal asal ada label “komunis” di sana. Ini cerita panjang, sejarahnya juga jadi menyakitkan, kalau mau masuk ke sini mesti siap-siap mental banget :hehe.

    Tapi mudah-mudahanlah tidak terulang lagi kejadian serupa di masa depan.

    1. Amin…amin… semoga generasi kita bisa hidup dalam kedamaian ya.. sehingga ngga ada lagi kejadian mengerikan seperti ini..
      Jujur aku ngga pernah tahu bahwa ada pembantaian massal seperti ini di Indonesia, sampai ketika aku nonton Gie, dan disana ada adegan sahabatnya Gie dibunuh di sebuah pantai yang secara tersirat digambarkan berlokasi di Bali. Wah, baru deh saya melek…ada kejadian separah ini disini..
      Kak, kalau boleh request… Dishare pengalamannya keluarganya Ibu di Bali, kak…
      Terima kasih… tetap semangaattt..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s