ILC Versi Kami…

Hmm.. gara-gara ILC semalam yang bertema LGBT, pagi ini jam kerja kami dimulai dengan diskusi hal yang sama.. Serasa ada ILC babak kedua deh, dalam skala QC-QA..

Bedanya, kami ngga membahas pro dan kontra tentang hal tersebut.. Kami malah sharing pengalaman kami masing-masing..
Atasan saya (cowok lhoo…) pernah dijadikan “guling” oleh kakak sepupunya.. Untung saja hanya dijadikan guling dan ngga sampe menjurus ke hal-hal yang lebih parah (karena atasan saya memaksakan diri untuk terjaga sepanjang malam dan memastikan kakak sepupunya tidak melakukan hal-hal gila lainnya). Sejak kejadian itu atasan saya sadar bahwa kakak sepupunya punya orientasi seksual yang menyimpang. Hingga hari ini, kakak sepupunya itu belum juga menikah, padahal usianya sudah 52 tahun. (Trus saya melototin beliau sambil bilang, “Emang kalau ngga nikah-nikah berarti punya kelainan gituh?!?”).

Senior saya yang juga seorang cowok pernah hampir “diapa-apakan” oleh seorang kerabat yang sudah ia anggap sebagai ayahnya sendiri. Untung saja ia berhasil kabur dengan segera, dan hingga kini ia tak pernah bersilaturahmi lagi dengan bapak itu. Anehnya, bapak itu sesungguhnya sudah punya istri dan anak-anak yang beranjak dewasa.. Lho, kok bisa begitu…

Senior perempuan saya, seorang ibu berputra tiga, bercerita hal yang membuat kami lebih merinding..
Ia bersekolah di sebuah politeknik milik perusahaan kami. Salah satu direktur politeknik tersebut ternyata punya kelainan dan sering memburu para mahasiswa, biasanya setelah apel penutup pada Sabtu petang. Awalnya senior saya hanya curiga, kenapa teman-teman prianya sering menghilang dengan mistis setelah apel sore itu. Hingga satu persatu cerita-cerita seram itu singgah dalam pendengarannya.

Seorang kawan prianya mengaku diajak oleh direktur itu ke butik terkenal dan ia boleh memilih baju apa saja.. Kawan prianya yang lain mendadak bisa lolos seleksi pendidikan di Jepang padahal nilainya tidak memenuhi syarat. Kawan prianya yang lain lagi mendadak bak orang stress pada suatu Senin pagi. Ia bagai paranoid melihat direktur itu dan meminta ditemani senior saya sepanjang hari. “Biar normal lagi..”, katanya pada senior saya. Senior saya hanya kebingungan melihat tingkah kawannya itu, namun tak sedikitpun penjelasan muncul dari bibirnya.

Hingga akhirnya senior saya tahu bahwa banyak teman-teman prianya yang sudah menjadi korban dari sang direktur. Direktur itu punya kuasa dan menentukan masa depan para mahasiswanya, so, para mahasiswa itu akhirnya terjebak dalam jebakan yang dibuat sang direktur. Itulah sebabnya mereka sering menghilang bagai makhluk gaib setelah apel sore… Mereka kabur segera agar tak menjadi target berikutnya..

Bertahun-tahun kemudian, senior saya yang mempunyai tiga orang anak, laki-laki semua, jadi punya kekhawatiran pada lingkungan anak-anaknya. Ia tak mau anak-anaknya menjadi korban kegilaan zaman, bahkan setiap minggu, senior saya sibuk memeriksa tubuh kedua anak laki-lakinya (anaknya yang sulung sekarang sudah bersekolah di luar kota), untuk memastikan bahwa mereka baik-baik saja. Selain itu, ia juga khawatir ketika anaknya dewasa akan terpengaruh dengan hal-hal yang buruk yang dengan mudah dipaparkan oleh media. Senior saya dan suaminya akhirnya mulai waspada dengan pergaulan putra-putra mereka. Kota tempat tinggal mereka memang cukup religius dan anak-anak mereka juga disekolahkan di sekolah Islam terpadu. Tapi senior saya tetap saja khawatir, “Semua itu bukan jaminan, Cik… Dunia sudah gila…”

Giliran saya bercerita..
Sambil lalu saya kisahkan sahabat saya, seseorang yang sangat baik, sangat peka, dan sangat perhatian, meskipun dia “berbeda”.. Entah apa yang membuat dia bisa menjadi seperti sekarang ini..
Dan berbagai analisa muncul dari kedua senior saya.. Yah, hal-hal itulah yang selama ini saya pikirkan dan saya tanyakan juga.
Apa yang menyebabkan ia menjadi seperti ini? Apa yang ia rasakan saat ini? Apakah ia bisa sembuh? Apakah keluarganya tahu? (Sepertinya tidak, karena neneknya pernah mengira saya sebagai pacarnya, dan tantenya bilang bahwa dulu ia pernah memperkenalkan seorang perempuan Jepang sebagai kekasihnya).

Kedua senior saya berkata, pasti ia bisa sembuh.. Asal ada kemauan yang kuat dalam dirinya..
Seperti seseorang yang berupaya lepas dari kecanduan narkoba, rokok, bahkan perselingkuhan.. Jika ada niat dan keinginan yang kuat, pasti bisa sembuh… Jika ia mau mendekatkan diri pada Tuhan, pasti ia bisa terlepas, seperti yang kami baca pada buku Suamiku dan Pacar Lelakinya.
Tapi masalahnya apakah ia punya keinginan untuk sembuh? Apakah ia merasa bahagia dengan dirinya yang sekarang?

Hening… Hanya suara jari-jari yang mengetuk keyboard mengisi keheningan kami…

Akhirnya atasan saya berkata, “Kerja… kerja… udah jam 9 nih… Serius amat sih kalian, kayak besok mau perang lawan Jepang aja…”


4 thoughts on “ILC Versi Kami…

  1. Banyak yang bilang, kalo ada kemauan pasti bisa sembuh, atau malah ada yg yakin mereka pasti bisa sembuh. Seakan2 mereka pernah ngalaminnya sendiri termasuk menjalani penyembuhannya yah…😀
    Apakah semudah itu sembuh?
    Pertanyaanmu benar, apakah mereka bahagia dg kondisinya? Who knows?
    Bagaimana mereka bisa punya keinginan sembuh jika lingkungan (yg ngakunya straight dan normal) lebih memilih menghakimi dan menghindari mereka?
    Pertanyaannya kan juga harus ditujukan ke kita sendiri, bisa ga kita 100% menerima mereka, menjd lingkungan normal yg baik bagi mereka, melihat meŕeka sebagai manusia? Bagi saya Na, tetap saja, mereka manusia berjiwa yg bisa berbuat kebaikan dan bisa jadi kebaikannya melebihi dr kebaikan2 kita yg ‘normal’. Saya angkat topi deh buat keluarga2 yg anggotanya berkategori itu. Karena sangat ga mudah ngadepin lingkungan masyarakat kita.
    Pada akhirnya nanti di hadapan Tuhan, jika dilihat dari kemuliaan sbg manusia, tunjukin deh siapa yg merasa dirinya lebih hebat, lebih mulia dari mereka?
    Doa buat kita semua…. *hahahaha ini bisa jadi tulisan nih😀

    1. Mba…ayo dibikin satu tulisan… hehe
      Mba… aku sendiri ngga sampai hati nonton ILC atau baca berita terkait hal itu. Rasanya sedih dan sakit hati ngedenger opini2 masyarakat tentang mereka, mbak.. mereka dengan mudah menghakimi, tanpa pernah memikirkan perasaan orang2 itu.. bagaimana kalau anak mereka sendiri atau sahabat mereka sendiri yang ada dalam posisi LGBT itu…
      Entahlah mungkin aku sudah masuk ke kategori pro kali ya… aku cuma berusaha menempatkan diriku di posisi sahabatku.. menerima dia sebagaimana adanya.. mencoba merasakan kegelisahan dia yang nggak pernah dia ungkapkan ke kami..
      Hidup mereka juga ngga mudah pastinya, dengan stigma yang diberikan masyarakat kayak gitu..

      1. tapi hihihi… maaf ya, bukan berarti aku setuju lho, karena Tuhan menciptakan Adam dan Hawa/Eve kan? Tipe ‘bias’ itu kan tetap bukan berarti ga bisa dikontrol ya, ekstrimnya kalo sama pedofil (hihihi) iya kan? Poinnya aku, susahnya kita berperilaku dalam lingkungan sosial yang di dalamnya ada orang berkategori itu, apalagi semakin banyak ya. Pengendalian hasrat itu kan seharusnya ada di semua makhluk yang namanya manusia kan? Yang hetero aja susah, apalagi yang berbeda dari kebanyakan… *lhaa ini kok makin panjang… bertapa dulu ah…
        BTW, I’ve sent you something this afternoon to Bogor ya.. will arrive in 1 or 2 days…😀

      2. Mbak…tadi aku nyeletuk ke senioru (yang perempuan)..isi celetukannya sama dengan yg kuomongin di komen tadi.. eh..langsung deh aku diocehin, “Kamu belum punya anak sih, jadi bisa dengan entengnya ngomong begitu.. tau gak kayak gitu tuh bisa menyebar dan anak2 kita bisa jadi korban…”
        Wew… kena deh…
        Aduh… mbak… kirim apaan tuuuhhh…. repot2 sampe dikirim pos….. hatur nuhun pisan nya, mbak…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s