Bersihin Jakarte Nyok…

Peluhku mengalir deras, nafasku mulai tersengal-sengal. Pinggang dan pahaku bagai berteriak memohon agar tak dipaksa bekerja lagi. Aduh, padahal baru sepuluh menit berlalu sejak aku memulai  tugas ini, tapi seluruh tubuhku sudah protes minta berhenti. Ya Tuhan, aku benar-benar bersalah karena telah menganggap enteng pekerjaan ini...

9 Februari 2016

“Guys, tgl 21 Feb ada Gerakan Hari Peduli Sampah Nasional. Akan ada puluhan komunitas yg berpartisipasi dan serentak mengadakan gerakan pungut sampah. ASEAN Youth Organization diundang untuk turut berpartisipasi, titik bersih sampahnya adalah MONAS. Kemungkinan acaranya tgl 21 pagi hari. Teman2 yang mau ikut berpartisipasi, tolong isi namanya di bawah ini. Paling lambat besok jam 8 malam yah.”

Pesan itu meluncur ke nomor kami semua yang tergabung dalam grup whatsapp “Member Benefit”. Tak sampai satu jam kemudian, ada tujuh orang yang resmi mendaftar, dan jumlah itu tetap bertahan hingga leader kami menutup pendaftaran.

Hmm… seumur-umur saya baru tahu ada Hari Peduli Sampah Nasional. Akhirnya saya bertanya pada Mbah Google untuk mendapatkan penjelasan tentang hari itu. Ternyata Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) dicanangkan pasca tragedi longsornya sampah di TPA Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat, pada 21 Februari 2005. Tragedi itu menewaskan 156 warga yang tinggal di sekitar TPA karena tertimbun longsoran sampah sebanyak 2,7 juta meter kubik (blog.ub.ac.id). Untuk memperingati tragedi itu, setiap tahunnya diadakan gerakan kerja bakti nasional serentak di seluruh Indonesia, mulai dari kawasan car free day, pelabuhan, sekolah, rumah penduduk, rel kereta api, kawasan wisata, pantai, sungai, hingga gunung (bergerak.bebassampah.id).

18 Februari 2016

“Teman2 yang ikut Gerakan Hari Peduli Sampah Nasional, kita ketemu di depan stasiun Sudirman jam 6 tepat yah. Mohon untuk bawa plastik kecil untuk membungkus tangan kalian, plastik sampah nanti saya yang sediakan. Lokasi yang kita bersihkan jadinya di stasiun Sudirman. Ada sekitar 40 komunitas yang hadir di Car Free Day. Ahok, Jokowi, dan Menteri KLH diperkirakan akan datang, jadi akan hectic banget, untuk itu koordinasinya lewat saya semua yah.”

Setalah lama tak bersuara, akhirnya leader kami mengirimkan update rencana bersih-bersih kami via whatsapp. Whatsapp itu kemudian disusul dengan info-info yang terkait dengan HPSN 2016, antara lain deklarasi Indonesia Bergerak untuk Bebas Sampah 2020 serta sosialisasi ujicoba penerapan kantong plastik berbayar di 22 kota besar di Indonesia.

Wuih… rasanya udah nggak sabar deh untuk langsung ikutan kerja bakti ramai-ramai ini.

21 Februari 2016

Dan disinilah kami.. Di depan pintu stasiun Sudirman, di bawah langit Jakarta yang tertutup mendung tebal disertai embusan angin yang sepertinya menandakan akan turun hujan. Bersenjatakan trash bag hitam dan sarung tangan kuning, kami siap berperang memungut sampah. Meski hanya berempat (dan terlambat), namun tak sedikitpun mengurangi keceriaan dan semangat kami pagi ini.

Setelah briefing singkat, kami bergerak ke arah selatan dan mulai memunguti sampah. Dua dari kami bertugas memungut sampah di jalan raya, sementara saya dan seorang teman yang lain bertugas memungut sampah di sepanjang trotoar.

IMG-20160221-WA0026

Awalnya pekerjaan ini tampak ringan, saya mulai mengumpulkan berbagai jenis sampah yang tersebar di trotoar. Ada puntung rokok, bungkus permen, cotton bud, sedotan, styrofoam, kaleng, tissue, gelas dan botol bekas minuman, bungkus makanan, berbagai jenis plastik, dan kardus. Lama kelamaan pekerjaan ini menjadi begitu melelahkan. Berkali-kali membungkuk, jongkok, berdiri, dan berjalan sambil jongkok, ternyata sukses membuat kami basah kuyup berkeringat. Terpaksa saya menyeka dahi saya dengan lengan kaos agar tak ada tetesannya yang masuk ke mata. Berkali-kali saya harus berdiri tegak untuk mengistirahatkan paha dan pinggang yang mulai protes serta untuk memastikan posisi teman-teman yang lain. Wah, pekerjaan ini sungguh tak ringan. Diulang : pekerjaan ini sungguh tak ringan. Berkali-kali pula saya harus berhenti untuk mengatur nafas yang sudah megap-megap.

Partner saya di trotoar sempat bingung ketika menemukan wadah tanah liat berbentuk pot namun dipenuhi sampah. Jadi ini pot tanaman atau tempat sampah sih? Setelah melakukan identifikasi serta analisa, akhirnya kami menyimpulkan bahwa wadah itu sebetulnya adalah pot tanaman yang beralih fungsi menjadi tempat sampah. Ampun deh.. Miris sekali ya.. Padahal hanya beberapa meter dari situ ada tempat sampah yang resmi lho, kok orang-orang malah membuang sampahnya ke dalam pot sih?

Setelah 45 menit berfokus di sebelah selatan stasiun, kami memutuskan untuk bergerak ke arah utara (Bundaran HI) karena pengumpulan sampah dan deklarasi sudah berlangsung di Jalan Imam Bonjol. Ternyata jumlah anggota team sudah bertambah menjadi enam orang dan kami terpencar menjadi dua kelompok. Kami terpaksa berhenti dulu di titik semula untuk menunggu semua team berkumpul.

Setelah semuanya lengkap, kami berjalan menuju Bundaran HI sambil melawan arus para pejalan kaki. Fokus kami sekarang adalah sampah yang bertebaran di jalan raya termasuk di jalur bus Trans Jakarta. Ada banyak pejalan kaki yang “menitipkan” sampahnya kepada kami, namun ada pula yang seenaknya melemparkan sampahnya di jalan raya. Leader kami bercerita ada seorang ibu yang dengan santai menunjuk-nunjuk sampah dan menyuruhnya untuk segera memunguti sampah-sampah itu.

IMG-20160221-WA0021

Kami juga mengecek celah-celah antara pepohonan yang ditanam pada pembatas jalan dan kami menemukan banyak sekali sampah yang disembunyikan disana. Haduh, tepok jidat deh.. Kreatif sekali ya orang-orang itu..

Selain mengambil sampah, kami juga harus saling menjaga satu sama lain terutama dari resiko terserempet bus Trans Jakarta, tertabrak sepeda, tertabrak mereka yang berlari sambil bengong (karena takjub melihat kami yang keren-keren ini), atau tertabrak mereka yang mengendarai skate board dan tak bisa mengerem.

Sambil mengawasi keberadaan sampah di dekat kami, kami sempat berbagi cerita tentang sampah teraneh yang kami temukan. Leader kami menemukan cotton bud, dan kami tertawa geli membayangkan ada orang yang berjalan kaki sambil membersihkan telinga. Sampah teraneh yang saya temukan adalah gagang kacamata (jumlahnya tak hanya satu lho..), dan saya tak habis pikir bagaimana para gagang kacamata itu bisa berakhir menjadi sampah di atas jalan Sudirman.

Kami berenam satu suara ketika bercerita tentang jenis sampah yang paling banyak ditemukan. Yap, puntung rokok! Tak hanya di trotoar, kami juga menemukan puntung rokok di jalan raya, jalur Trans Jakarta, jalur hijau pemisah jalan, pot tanaman, tanah, dan terselip di antara dedaunan pohon. Ini limbah atau wabah?

Hmm.. Sepertinya perlu ada tempat sampah non permanen yang diletakkan di sepanjang rute car free day untuk memudahkan para pejalan kaki membuang sampahnya, supaya jangan menjadi alasan bagi mereka untuk membuang sampah ke jalanan karena tak ada tempat sampah. Para pejalan dan pelari mungkin membeli makanan atau minuman sepanjang jalan, dan kemudian menghasilkan limbah dari kemasan makanan atau minuman mereka. Mereka tak mau repot membawa sampah itu dan tak mau repot juga mencari keberadaan tempat sampah yang terletak di trotoar, hingga akhirnya mereka membuangnya ke jalan raya atau menyelipkannya di celah antara pepohonan. Tempat sampah itu harus bisa dipindahkan dengan mudah setelah kegiatan car free day berakhir pada pukul 11.00. Selain itu tempat sampah yang ada di trotoar juga perlu diperbanyak dan jaraknya dibuat saling berdekatan satu sama lain, supaya para pejalan kaki, para tukang ojek, dan orang-orang  yang hobi nongkrong di trotoar bisa membuang puntung rokok dan sampah-sampah lainnya di tempat yang semestinya.

Mendekati bundaran HI, kami menemukan kepadatan manusia yang semakin rapat. Leader kami yang tinggi besar pun bagai tenggelam di tengah lautan manusia. Kami lalu bergerak ke arah Jalan Imam Bonjol untuk menyetorkan sampah kami kepada panitia berseragam oranye. Sampah kami ditimbang dan totalnya hampir mencapai 20 kilogram. Hmm.. banyak juga ya.. Sampah kami lalu ditukar dengan reusable bag yang berisi bibit tanaman.

Karena perut yang sudah tak bisa diajak kompromi, kami tidak mengikuti rangkaian acara sampai selesai. Kami berjalan kaki kembali ke arah stasiun Sudirman dan mampir sejenak di air mancur bundaran HI untuk foto bersama.

Mendadak teringat cerita ayah saya tentang Jakarta pada paruh pertama dekade 60an. Ketika itu Hotel Indonesia adalah gedung tertinggi di Jakarta yang didirikan untuk perhelatan Asian Games ke-4 pada tahun 1962. Untuk menyambut para duta olah raga, dibangun pula Monumen Selamat Datang yang hingga kini masih berdiri tegak di hadapan kami. Saya tertawa sendiri mengingat kisah ayah saya dan kakak lelakinya yang nekad menyelinap masuk ke Sarinah tanpa alas kaki, pada saat grand opening pusat perbelanjaan itu tahun 1963. Ayah saya juga bercerita bahwa Jakarta pada masa itu amat lengang, belum ada kemacetan karena jumlah kendaraan bermotor masih sangat sedikit. Ayah dan keluarganya selalu berjalan kaki kemana-mana, atau naik becak jika jarak yang ditempuh cukup jauh. Ah, saya jadi teringat pula sebuah foto tua yang pernah disharing di laman facebook seorang teman. Foto itu menggambarkan suasana bundaran HI yang sangat lengang. Entah tahun berapa foto itu diambil, mungkin akhir 1960an atau pada dekade 1970an.

Kota ini telah banyak berubah. Begitu juga dengan warganya. Mungkin sepuluh tahun yang lalu tak ada orang yang terpikir untuk berlari santai di tengah Jalan Sudirman- Thamrin. Tapi kini setiap Minggu, ada ribuan orang yang tumpah ruah di jalan ini, seolah merayakan kebebasan mereka sebagai pejalan kaki.

Warga Jakarta juga sudah semakin sadar dengan pola hidup sehat. Kegiatan Car Free Day secara tidak langsung menjadi salah satu cara warga Jakarta (dan sekitarnya) untuk berolah raga rutin minimal seminggu sekali, meskipun setelah jogging mereka langsung kalap untuk jajan dan makan.  Lapangan futsal dan fitness center juga semakin ramai, meskipun motivasinya belum tentu murni untuk berolahraga lho.. Ada banyak juga orang yang mulai memilih untuk mengkonsumsi bahan pangan organik yang bebas dari pupuk dan pestisida kimia.

Setelah mencapai kesadaran untuk hidup sehat, semoga saja warga Jakarta (dan seluruh bangsa Indonesia) bisa mencapai kesadaran untuk peduli lingkungan hidup. Tak ada lagi orang yang membuang sampah seenaknya, lalu orang-orang mulai beralih menggunakan transportasi umum yang ramah lingkungan, dan muncul kebiasaan baru untuk mengurangi, memilah, serta mengelola sampah.

Akan seperti apa wajah Jakarta dalam sepuluh atau dua puluh tahun ke depan? Semoga kita semua bisa membuat wajah Jakarta menjadi semakin ganteng dan semakin bersahabat yah…

22 Januari 2016

Tempo.co meluncurkan berita tentang pelaksanaan HPSN 2016 di Jakarta. Hasilnya membuat kami semua terkejut : 500 kilogram sampah terkumpul dari area Bundaran HI, GBK, dan Sarinah. Kami lebih kaget lagi ketika membaca pernyataan Wagub DKI, Bapak Djarot Saiful Hidayat : sampah yang terkumpul di seluruh Jakarta bisa mencapai 7 ton per hari, dan 15% dari total tersebut adalah sampah plastik.

Jadi, jangan tunda lagi!! Mari kita sama-sama berdiet plastik, tissue, dan kertas. Mulai hari ini juga gunakan tas belanja dan peralatan makan yang reuseable. Pilah sampah dan setorkan limbah yang masih bisa di-recycle ke bank sampah.

I’m starting with the man in the mirror.

I’m asking him to change his ways.

And no message could have been any clearer,

If you wanna make the world a better place, take a look at yourself and then make a change.  

(Michael Jackson – Man In The Mirror)

1-minggu-1-cerita


6 thoughts on “Bersihin Jakarte Nyok…

  1. Memungut sampah menurut saya seperti membuang sampah–sedikit-sedikit jadi bukit. Cuma ya orang yang memungut sampah lebih sedikit ketimbang yang membuang–jadinya sampah yang terbuang lebih banyak… padahal kalau orang-orang mau memungut sampah yang sudah mereka buang, pasti dunia ini jadi nirsampah :)).

    1. Hahaha…mba…jangan dibayangin… nanti kutunjukin foto dengan pose “nggak banget” itu deh… hehehehe
      Keramnya masih terngiang nih, mbak…untung ada teknologi super canggih bernama KOYO… hihihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s