Nyinyir

Saya sengaja tidak mencantumkan nama daerah dalam tulisan ini karena hal ini mungkin saja (pernah) terjadi di semua daerah di negeri kita yang tercinta ini. Maaf juga jika tulisan ini ditulis pake urat emosi.

Kemarin malam, seusai mengikuti Misa Jumat Pertama di kapel stasi, saya naik angkot untuk pulang menuju mess.
Baru saja angkot berjalan beberapa meter, ada seorang bapak tua yang melambaikan tangan. Setelah angkot kami berhenti, bapak itu menanyakan sebuah rute. Ah, ternyata ia salah menyetop angkot dan tidak jadi naik. Seingat saya bapak itu juga baru pulang dari kapel deh.

Tapi kejadian yang terjadi setelah itu sungguh mengagetkan saya dan memancing emosi. Seorang penumpang yang duduk tepat di sebelah saya berteriak dengan kencang sambil memajukan badannya, mungkin supaya teriakannya terdengar sampai batas propinsi, “……..
. (Maaf saya tidak tuliskan kalimat pertama beliau karena tak ingin menyinggung agama tertentu), ada orang Gereja disini.. GOBLOK!!”

Untung saja saya ngga punya refleks nabok orang. Reaksi pertama saya adalah ngelihatin orang itu sambil menganalisa berapa volume otaknya dan apa maksud kalimat yang barusan ia teriakkan. Kalau pandangan bisa menikam, mungkin orang itu udah terkapar di sudut angkot. Untung saja pandangan mata saya masih normal-normal saja.

Ketika akhirnya saya berhasil mengukur volume otak orang itu, saya pun mengalihkan pandangan ke depan, dan tatapan mata saya beradu dengan seorang ibu. Ibu itu tersenyum memandang muka dongkol saya, seolah menasehati saya untuk tenang dan memaklumi kejadian tadi.

Tatapan mata ibu itu mengingatkan saya tentang perkataan Yesus ketika hampir wafat, “Bapa, ampunilah mereka, karena mereka tak tahu apa yang mereka perbuat..”, dan entah kenapa bibir saya tanpa sadar mengulangi kalimat itu. Jujur susah sekali mengampuni dan melupakan kejadian itu, buktinya hari ini saya masih menulisan kejadian itu pakai emosi.

Tak lama kemudian orang itu turun dari angkot, dan sambil memandangi punggungnya saya mendadak teringat keluarga, sahabat-sahabat dan teman-teman saya.
Saya hidup dan tumbuh dalam keluarga yang beragam suku dan agama. Saya bersekolah, kuliah, kerja, dan berkomunitas dalam suasana penuh keragaman.
Saya bersyukur saya dikelilingi oleh orang-orang yang berpikiran maju dan terbuka yang tidak alergi dengan perbedaan.
Selama ini saya belum pernah mengalami dimusuhi atau dijauhi karena berbeda, bahkan sebagian besar sahabat saya berasal dari suku dan agama yang berbeda dengan saya. Terima kasih Tuhan karena mereka begitu hangat. Mereka mengajarkan dan memberikan saya banyak kebaikan. Semoga Tuhan selalu memberkati mereka semua.

Sabtu lalu saya dan seorang sahabat berbincang tentang diskriminasi, tentang kaum minoritas, dan tentang kesetaraan kesempatan. Kami berdiskusi sambil makan siang di sebuah warteg dan bagai melupakan bahwa kami sangat berbeda dalam banyak hal.
Kami awalnya membicarakan tentang apakah masih ada diskriminasi saat ini, lalu seperti apa bentuknya. Apa yang harus dilakukan untuk menyokong mereka yang menjadi objek diskriminasi itu. Kami juga saling berbagi pengalaman tentang diskriminasi dan preferensi.

Ia tertawa nyinyir saat bilang tak habis pikir mengapa harus muncul diskriminasi pada suku dan pemeluk agama tertentu. “Kita kan tak bisa memilih mau dilahirkan sebagai suku apa. Dan masalah agama. Agama itu kan berasal dari hati. Itu keyakinan yang muncul dalam hati kita dan tidak bisa dipaksakan..”

image

Ya.. Kita pasti menganggap agama yang kita anut sebagai agama yang paling benar. Tapi itu tak serta merta menjadi suatu kesimpulan bahwa agama orang lain tidak lebih benar daripada agama saya kan? Setiap orang berhak memilih keyakinannya sendiri, dan menurut pandangan saya kita tidak punya hak sama sekali untuk mengatakan bahwa orang yang tidak seiman dengan kita tidak akan diselamatkan. Kita bukan Tuhan!! Mengapa menghakimi orang lain ketika kita (termasuk saya) masih jauh sekali dari batas spesifikasi terendah untuk bisa masuk surga?
Mendingan instrospeksi diri dulu deh, jangan-jangan saya hanya ngaku beriman saja padahal perbuatan saya malah menjauh dari Sang Pemilik Hidup.

Saya percaya setiap agama mengajarkan hal yang benar. Jadi ketika ada ketidakbenaran itu bukan salah agamanya, tapi oknum tertentu saja. Termasuk si bapak yang tadi volume otaknya saya analisa.

Hmm… pernahkah membayangkan jika dunia ini hanya dihuni oleh manusia yang sama semua.. Baik wataknya, sukunya, agamanya, dan lain-lainnya. Saya yakin dunia seperti itu tak pernah mengalami situasi yang tenang dan damai..

Saya crop status facebook sahabat saya pada saat “Zero Discrimination Day”, 1 Maret lalu. Semoga bisa menjadi pengingat bagi kita semua.

image

Sudah tahun 2016.. Dunia semakin tua, begitu juga dengan kita. Ayolah… sudah saatnya kita semakin dewasa memandang perbedaan!!

Mari merayakan perbedaan!!


4 thoughts on “Nyinyir

  1. Hahahahaha Na… aku malah menggambarkan bagaimana dirimu saat itu. Komik banget deh situasinya. Matamu copot sampai keluar lapisan pisau2nya… tanganmu yang dua itu jadi banyak megangin senjata dan pedang buat bikin sashimi orang itu sambil kakimu jadi mesin giling kearah dia. Hehehe maaf ya Na.. tapi dirimu itu lucu banget siih… kabuur ah takut jadi sashimi juga.

      1. Widiiiii keren dong air segalonnya bisa nenangin langsung. Iya Na, masing-masing dari kita kan punya cara nenangin emosi, tapi lebih banyak orang yang ga ngerti mengelolanya, akhirnya malah jadi budak kemarahan itu, seperti orang dalam ceritamu di atas.

      2. Hehe… airnya udah dikasih kembang setaman dan mantra mbak.. *eh..kok jadi serem ya…
        Soalnya kalau tetep emosi juga rugi ya, mbak.. wong orangnya juga ga tau aku emosi ama dia… hehehe… ya udahlah dijadikan pelajaran untuk aku sendiri supaya jangan sampai begitu…aminnn…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s