Mengampuni Masa Lalu

Saya berasal dari keluarga broken home. Orang tua saya bercerai ketika saya berusia enam tahun. Ayah saya pergi keluar dari rumah, dan saya tinggal bersama mama dan kakak tertua saya. Saya melihat mama saya bekerja keras supaya saya dan kakak bisa hidup..

Kalimat itu terlontar dari bibir seorang teman ketika kami makan siang bersama siang beberapa hari yang lalu. Ucapannya itu membuat sajian di piring saya menjadi tak menarik lagi. Saya terkejut, tak menyangka ia tiba-tiba ia bercerita tentang kehidupan pribadinya.

Saya berjanji untuk bikin mama bangga dan membuktikan bahwa anak dari keluarga broken home tidak selalu berakhir jadi korban narkoba atau jadi orang yang nggak bener…

Ia melanjutkan ceritanya, dan kali ini saya sudah tak ingat lagi dengan makan siang saya. Saya memandang sepasang matanya yang tampak sendu dan berupaya untuk menjadi pendengar yang baik baginya.

Saya memilih untuk memaafkan semua kejadian yang menyedihkan itu. Saya tetap berhubungan baik dengan papa saya dan dengan kakak kedua saya yang tinggal bersama papa sejak mama dan papa bercerai..

Kami berpandangan dalam canggung hingga tanpa dikomando kami langsung kembali fokus pada piring kami masing-masing. Saya tak berani bertanya lebih jauh padanya. Ah, mungkin ia mendadak menyesal mengapa ia bisa tiba-tiba bercerita tentang keluarganya pada saya.

Saya lantas teringat sebuah kejadian beberapa bulan yang lalu, ketika saya dan teman-teman yang lain menginap di rumahnya. Saat itu saya sedang sendirian ketika ia menunjukkan foto kedua keponakannya, dan bercerita tentang mereka yang sedang tumbuh menjadi gadis kecil yang cantik. Ia juga menunjukkan foto ibu dan kedua kakaknya. Mereka berempat saling berangkulan dan tampak bahagia.
Saya agak tekejut ketika itu, karena saya menilai teman saya ini agak tertutup tentang kehidupannya dan keluarganya. Untung saja ketika itu saya tak keceplosan bertanya tentang ayahnya.

Suara sendok yang beradu dengan piring memecahkan keheningan yang timbul. Teman-teman yang lain seolah tak memperhatikan apa yang terjadi dengan kami berdua, mereka tetap asyik dengan obrolan masing-masing. Padahal saya membutuhkan orang lain untuk mencairkan suasana ini.

Saya nggak mau ada orang lain merasakan kesusahan yang saya rasakan. Saya hanya ingin supaya bisa membahagiakan semua orang yang dekat dengan saya.”

Bahagia. Kebahagiaan. Membahagiakan.
Kata-kata itu yang selalu ia sampaikan kepada kami dalam setiap kesempatan. Kadang keinginannya untuk membahagiakan setiap orang menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Ia selalu merasa dirinya terlalu keras, terlalu egois. Ia selalu merasa khawatir telah menyakiti orang lain tanpa ia sadari.

Kita ngga bisa terus mendendam pada semua kejadian yang menyakitkan di masa lalu. Kita harus berani memaafkan dan melepaskan semuanya. Jika kita terus mendendam, kita malah jadi orang yang keras dan malah menyakiti lebih banyak orang dan itu akan membuat kita ngga bahagia..

Awalnya saya tak mengerti mengapa tiba-tiba ia bercerita tentang hal ini pada saya.
Namun sepertinya Tuhan sengaja mengirimkan orang ini ke meja saya siang itu untuk mengingatkan saya pada satu hal : BELAJAR MENGAMPUNI MASA LALU.

image


One thought on “Mengampuni Masa Lalu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s