Di Tepi Sungai Kapuas…

*Seluruh tokoh dalam kisah ini adalah fiktif belaka.

“Kamu dimana? Saya boleh jemput kamu jam sembilan?”, Sebuah pesan masuk di handphoneku.
“Aku masih di hotel, baru saja selesai mandi. Kamu dimana?”
“Masih ada waktu sekitar tiga jam sebelum mengantar kamu ke Supadio. Bagaimana jika saya antar kamu ke Tugu Khatulistiwa dan Alun-Alun Kapuas? Saya tunggu di lobby ya..”

Tepat jam sembilan aku sudah menyerahkan kunci kamarku ke resepsionis hotel, dan tak lama kemudian ia muncul di lobby dengan senyumnya yang khas itu. Senyum yang membuatku tak bisa tidur semalaman..

“Kamu ngga apa-apa ngga masuk kerja hari ini?”
“Kan kamu tak setiap hari datang ke Pontianak.. Santai saja lah.. Kita ke Tugu dulu ya..”, Ia mengambil ranselku dan mengaitkannya di depan kakinya.

Ia kemudian mengarahkan motornya melalui jalan Tanjung Pura dan mulai bercerita tentang kota ini.
“Jalan ini bisa dibilang adalah pusat bisnisnya Kota Pontianak. Banyak bank dan perkantoran di sepanjang jalan ini.”

Aku mulai terbiasa dengan logat bicaranya yang unik. Denganku ia selalu berbicara Bahasa Indonesia, namun logat Keknya masih terus terbawa. Aku sudah sering mendengarnya bicara bahasa Kek dengan teman-teman yang lain, dan biasanya aku hanya bisa diam kebingungan karena tak paham sedikitpun dengan apa yang mereka percakapkan.

Tak lama kemudian kami sudah melalui Jembatan Kapuas I dan Jembatan Tol Landak.
image

Perjalanan yang kami tempuh cukup panjang hingga akhirnya aku melihat Tugu Khatulistiwa yang menjulang dari kejauhan. Kami sempat kebingungan mencari pintu masuknya, hingga harus memutar balik dan bertanya pada penjual pisang di pinggir jalan.

“Saya juga baru kali ini lho masuk kesini..”
“Ah..masak sih? Aku ngga percaya..”
“Betul… saya serius…”
Ah.. aneh sekali.. Puluhan tahun tinggal disini dan sekalipun belum pernah ke Tugu Khatulistiwa… Hmm… aku jadi teringat seorang temanku di Jakarta yang belum pernah menginjakkan kaki di Monumen Nasional, hingga akhirnya ia mendapat kesempatan itu karena harus mengantar anaknya study tour.

image

“Hei… Tugu aslinya ada di dalam bangunan.. Bukan yang itu…”, katanya sambil tertawa lepas.
Ah.. Padahal aku sudah mencari sudut terbaik untuk bisa mengambil keseluruhan bagian tugu tersebut.

Di dalam bangunan, kami akhirnya melihat tugu yang asli dan mengetahui sejarah pembuatannya. Tugu ini pertama kali didirikan tahun 1928, awalnya hanya berbentuk panah dan tonggak untuk menunjukkan garis lintang nol derajat. Pada perkembangan berikutnya dilakukan penyempurnaan hingga tugunya tampak seperti yang ada di hadapan kami.

image

Tugu tiruan dan bangunan kubahnya ternyata baru didirikan tahun 1990 untuk melindungi tugu yang asli.

Petugas di dalam bangunan menjelaskan bahwa garis lintang nol derajat sebetulnya sudah bergeser sejauh 117 meter ke arah selatan, alias tugu ini terletak lebih utara daripada garis lintang yang sesungguhnya.. Hmm…apakah bumi kita yang bergeser? Atau.. mungkinkah para ilmuwan Belanda yang salah menetapkan posisi Tugu Khatulistiwa?

Petugas itu juga berkata, pada tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September bayangan kita akan menghilang karena matahari tepat berada di atas garis khatulistiwa.
Yaaah… ternyata kami datang terlalu cepat.. Masih kurang dua minggu dari momen istimewa itu..

“Terima kasih ya, karena mengantar kamu akhirnya saya bisa melihat tugu ini dengan mata saya sendiri..”
“Aku yang terima kasih banget.. Kalau kamu tak antar kesini, pasti aku juga ngga bakalan sampai disini. Apalagi kamu sampai bolos kerja segala..”
Dan lagi-lagi ia hanya tersenyum tersipu-sipu.

Aku teringat kunjungan kami tadi malam ke Rumah Betang. Meskipun kami sudah berkenalan selama beberapa bulan dan sering berbincang di BBM, tapi tetap saja tak mengubah fakta bahwa ia adalah sosok yang amat pendiam.

Ketika kami berpisah di parkiran hotel kemarin malam, tiba-tiba saja ia menanyakan jadwal pesawatku. Lalu dengan spontan ia utarakan niatnya untuk mengajakku mengelilingi kota kelahirannya ini. Aku terkejut dengan ajakannya itu sekaligus amat senang.. Sepanjang malam aku mencoba menganalisa mengapa tiba-tiba ia berubah sedrastis itu. Kemana tembok tinggi yang selama ini terlihat membentenginya?

Jam masih menunjukkan pukul 10.15. Ia lalu memacu motornya kembali ke arah pusat kota Pontianak menuju Alun-Alun Kapuas. Sungai Kapuas yang berwarna coklat dan alun-alunnya yang tertata rapi sudah terlihat dari kejauhan. Kami berjalan berdampingan menuju ke alun-alun yang saat itu cukup sepi karena masih jam kerja dan jam sekolah.

Aku tak menyangka tepi Kapuas ini amat rapi, karena di kampung halamanku aku selalu berhadapan dengan tepi sungai yang jorok, kumuh, bau, dan penuh sampah.
Dan aku tak menyangka bahwa Sungai Kapuas itu… sangat lebar…
Hmm… sepertinya aku sudah berpikir bahwa semua sungai sama dengan sungai di kampungku yang dangkal dan sempit.

“Sungainya lebar sekali ya..”, aku tak bisa menahan kekagumanku lagi.
“Ini belum seberapa lho.. Di hulu sana lebarnya bisa sampai tujuh ratus meter..”
Aku terbelalak. Tujuh ratus meter? Wow.. Segala sesuatu di kota ini selalu membuatku terpukau, mulai dari Rumah Betang, Sungai Kapuas, Masjid Raya Mujahidin, hingga Katedral Santo Yoseph..
image

“Kamu lihat kapal-kapal besar yang disana? Itu adalah Pelabuhan Dwikora..”
“Oh… Kapal-kapalnya tujuan mana saja?”
“Ada yang tujuan Jakarta, Surabaya, Semarang..”
“Hah…”, lagi-lagi aku terperangah.. Tadinya aku berpikir bahwa kapal-kapal yang bersandar disana hanyalah kapal-kapal yang digunakan untuk transportasi sepanjang Kapuas. Tapi ternyata aku salah besar.
“Jadi pelabuhan ini adalah pelabuhan antar pulau ya..”
Aduh… malu-maluin deh.. Ketahuan banget aku jarang baca berita.
image

Ia tertawa melihat ekspresiku. Aku senang melihatnya tertawa. Tawa itu bagai meruntuhkan benteng kecanggungan di antara kami. Sebuah tawa memang selalu menjadi jarak terdekat antara dua orang. Dan sebuah tawa adalah bahasa yang bisa dipahami oleh siapa saja.

Jika mengingat interaksi kami kemarin petang, rasanya perjalanan pagi ini bagaikan sebuah kemustahilan, yang ajaibnya malah menjelma menjadi kenyataan.. Rasanya bak bermimpi melihatnya ada di hadapanku saat ini.. Dan aku tak ingin terbangun dari mimpi ini.

“Hei.. jangan melamun.. Seberang sana adalah kawasan Siantan yang tadi kita datangi.. Kamu lihat bangunan besar di depan sana? Itu adalah pabrik karet.. ”

Ah.. aku tak melamun.. Aku hanya ingin menyimpan semuanya ini dalam benakku.
Langit biru, replika tugu Khatulistiwa, Sungai Kapuas, dan kapal-kapal besar. Semua itu membingkai dengan indah sosok di hadapanku ini.

image

“Nah, kalau yang di kanan sana adalah pelabuhan feri untuk penyeberangan ke Siantan. Tadinya truk-truk barang boleh melintasi tol Kapuas I yang tadi kita lalui. Tapi sejak tol itu ditabrak kapal ponton, semua truk tak boleh melewati tol lagi karena struktur jembatan yang semakin rapuh.”

Ia lalu bercerita bahwa jembatan itu baru selesai dibangun tahun 1982, dan awalnya memang merupakan jalan tol berbayar, hingga akhirnya digratiskan pada tahun 90an.

“Saya belum lahir. Kamu juga kan?”
Aku mengangguk seraya tertawa. Dan ia lagi-lagi tersenyum.. Senyum yang membuatku terpesona seperti kemarin malam di Rumah Betang.

“Sayang kamu harus pulang siang ini. Padahal tadinya saya mau ajak kamu ke Rumah Melayu dan Rumah Radakng. Nanti kamu pasti kembali lagi kesini kan?”
Aku mengangguk.
“Pasti.. Walau aku juga tak tahu kapan akan kembali ke kota ini..”

Ia merogoh saku celananya dan menunjukkan sepasang gantungan kunci kembar berbentuk perisai perang Suku Dayak. Perisai itu terbuat dari logam yang diukir dengan rapi dan detail.
“Buat kamu..”, Katanya sambil memberikan salah satu dari perisai itu.

Ingin sekali aku menatap matanya dan mengucapkan terima kasih. Tapi ia hanya menunduk bagai menyembunyikan semua yang dapat terbaca di matanya. Ia bahkan memalingkan wajahnya menatap sebuah kapal yang melintas di hadapan kami.

Lagi-lagi kami tenggelam dalam keheningan. Dan lagi-lagi aku kebingungan bagaimana memecahkan mantra ini, hingga akhirnya aku hanya bisa memandangi Sungai Kapuas yang mengalir dengan tenangnya. Sungai ini ternyata memiliki ketenangan yang sama dengan seseorang yang berdiri di sisiku saat ini. Tenang… namun menghanyutkan..

“Sudah jam 11.35. Kita pulang yuk..”, Katanya sambil menggandeng tanganku menuju parkiran.
Dan dia tersenyum lagi.. Senyum yang hangat dan penuh makna.. Meski aku belum bisa memahaminya..

================================

BBMnya siang tadi membuatku terkenang kembali saat-saat indah di tepi Kapuas itu.

Hari ini aku kehilangan bayanganku. Aku berharap ada kamu disini, supaya kita bisa sama-sama mencari kemana perginya bayangan kita.. Semoga saat ini bayanganku sedang bersama bayanganmu..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s